Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 87


__ADS_3

"Kamu tidak boleh mati!" Gumam Lynn cemas.


"Ughh... apa yang kamu lakukan?"


Lynn mengangkat kepalanya menatap Alfred, seketika senyuman menyungging diwajah Lynn. Kekhawatiran yang membanjiri dirinya lenyap begitu saja mendengar suara Alfred.


"Hikss..."


Alfred menoleh ke arah Lynn.


"Apa kamu menangis?" Tanya Alfred dengan wajah bingung.


Lynn menggosok matanya, menyembunyikan wajahnya kesamping, tanpa Lynn sadar ujung telinganya memerah.


"Ti-tidak! Untuk apa aku menangis? Ini hanya kemasukkan debu." Bantah Lynn.


"Yah... biasanya semakin orang tersebut memberikan alasan maka begitulah faktanya." Sarkas Alfred.


Lynn mengerucutkan bibirnya kesal, meniru gaya bicara Alfred. Alfred bangun dari tiduran mengamati sekelilingnya, hanya ada pohon dan pohon. Sekarang dirinya terjebak didalam hutan belantara, Alfred melirik ke arah Lynn.


"Kita harus mencari jalan keluar sebelum hari menjadi gelap." Kata Alfred bangkit.


"Akh!" Ringis Alfred terduduk kembali.


"Apa kamu tidak apa-apa? Bagian mana yang terluka? Tidak patah tulang, kan?" Lynn mengajukan banyak pertanyaan.

__ADS_1


"Ya... Aku rasa kakiku keseleo." Jawab Alfred cuek.


Alfred mendesis pelan, memeriksa kaki kanannya dimana rasa sakit berasal. Dan benar saja kaki Alfred keseleo, Lynn bingung tidak tau harus melakukan apa.


Alfred membetulkan letak tulang yang salah, lalu menghela napas kesal. Untuk apa dirinya melompat menyelamatkan Lynn? Tubuh Alfred bergerak lebih cepat dari pada pikirannya, dia memeluk tubuh Lynn dengan erat.


"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan? Ah... aku tau." Lynn menjawab sendiri pertanyaan yang dirinya ajukan.


Lynn memunguti kayu-kayu di sekeliling, Alfred mengerutkan keningnya bingung. Dia cuma bisa memantau Lynn, menggunakan kedua tangannya sebagai penyangga tubuh.


Lynn mendekati Alfred, berjongkok didepan kaki Alfred. Mengikati kayu dikaki Alfred menggunakan tanaman sejenis benalu berbentuk tali memanjang.


"Apa yang kamu lakukan? Jauhkan sampah itu dari kakiku." Protes Alfred tidak suka.


Lynn mengabaikan perkataan Alfred, fokus mengikat ranting kayu di kaki kanan Alfred.


"Haah? Apa itu akan bekerja?" Tanya Alfred meragukan.


Lynn mengulurkan tangannya, membantu Alfred berdiri dan itu seimbang. Tubuh Alfred tidak goyang bahkan kakinya tidak terlalu melakukan kontak dengan tanah.


"Bagaimana bisa?" Gumam Alfred tidak percaya.


"Tentu saja bisa." Sangah Lynn dengan penuh kebanggaan.


"Darimana kamu belajar melakukan ini?" Tanya Alfred menatap benda yang menempel di kakinya.

__ADS_1


Lynn menyentuh dagunya tertawa pelan, menatap Alfred, memamerkan gigi putihnya pada Alfred.


Tentu saja dari novel." Jawab Lynn.


Alfred memilih mengangguk paham saja, dia tidak mau mendengar ocehan Lynn terlalu panjang.


"Ayo pergi!." Ucap Alfred mengambil langkah maju.


Tetapi malah tidak seimbang dan membuat Alfred hendak terjatuh untung saja Lynn menahan tubuh Alfred dibelakang.


"Ini bukan produk sempurna yah..." Sindir Alfred.


"Aku akan menopangmu, menjadi kaki kananmu untuk sementara waktu." Lynn tersenyum cerah.


"Tidak... lebih baik kamu pergi dan tinggalkan aku sendirian disini, aku bisa mengurus diriku sendiri." Usir Alfred.


"Baiklah kalau begitu." Lynn melepaskan pegangan tangannya.


Tubuh Alfred mau terjatuh kebawah, Alfred menarik tangan Lynn agar tubuhnya tidak jatuh.


Lynn memandangi Alfred lalu tatapan itu bergerak ke tangan Alfred yang mencengkram ujungnya.


"Baiklah... Aku akan bersabar."


Jawaban Alfred membuat Lynn puas, Lynn mengalungkan tangan Alfred kepundaknya. Alfred memandang Lynn dari bawah hingga keatas, banyak sekali luka-luka kecil ditubuh Lynn.

__ADS_1


"Haa... aku tidak mungkin meninggalkan seorang anak kecil ditengah hutan belantara." Keluh Alfred memandangi Lynn dengan tatapan iba.


"Hei-hei... siapa yang kamu panggil anak kecil?"


__ADS_2