
Lynn menatap Arga sebentar, Arga menatapnya dengan tatapan khawatir dan juga Lynn bisa melihat kalau didalam mata Arga dia benar-benar tulus.
"Terserah." Jawab Lynn, memalingkan wajahhya.
Senyuman lebar langsung mekar menghiasi wajah Arga, Arga naik ke dalam mobil ambulans duduk disamping Lynn.
"Papa.. Kamu harus baik-baik saja!" Lirih Lynn mengenggam tangan Ayahnya kuat.
Lynn menyandarkan tangan yang di genggamnya ke keningnya, Lynn hanya bisa berdoa dan berharap kalau ayahnya bakal baik-baik saja. Arga memperhatikan setiap ekspresi wajah Lynn yang berubah setiap detik dengan seksama.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama ini?" Tanya Arga dalam hati kecilnya.
...🍒🍒🍒...
Mobil ambulas berhenti dibangunan serba putih dan berlambang tambah, mobil ambulans pun berhenti tidak jauh dari pintu rumah sakit. Petugas membuka pintu ambulans, mendorong brankar turun dari mobil keluar menuju kedalam rumah sakit.
Melihat para petugas berlarian buru-buru , Lynn dan Arga juga ikut berlari dibelakang mengejar brankar yang mengangkut Ayah Lynn.
Ayah Lynn langsung dibawa ke dalam ruang ICU dan diperiksa, Lynn yang mau berjalan masuk dihalangi petugas.
__ADS_1
"Maaf, Nona hanya pasien dan petugas yang boleh masuk." Kata Petugas itu.
"Oh..." Seru Lynn, langkah kakinya mundur dua langkah.
Lynn berdiri menatap pintu ruang ICU yang tertutup, kelopak mata Lynn tertutup sebentar. Rasanya hatinya sesak memikirkan kejadian terburuk yang akan menimpa Ayahnya, mata Lynn juga terasa sangat pedas dan berat.
Lynn tersadar saat ada sebuah kehangatan meraih tubuhnya, spontan mata Lynn terbuka lebar. Sebuah jaket biru menempel di pundaknya, Lynn menoleh ke samping, orang yang menaruh jaket itu adalah Arga.
"Cuaca sekarang sangat dingin, tetapi aku malah kepanasan." Kata Arga tersenyum tipis pada Lynn.
Arga menarik tangan Lynn agar menjauhi pintu, Arga menggunakan dagunya menyuruh Lynn, tetapi Lynn menatap dirinya akan kebingungan.
Arga memegang pundak Lynn dan mendorongnya duduk dibangku tungggu, Lynn yang disuruh duduk mau berdiri tapi Arga tidak membiarkan dia berdiri.
Lynn menatap lututnya yang berdarah, celana panjangnya bahkan sampai robek memperlihatkan kakinya. Lynn mengerutkan keningnya, lukanya berdarah tetapi dia bahkan tidak merasakan rasa sakit dari tadi.
"Itu mungkin tergores aspal saat aku hendak menolong anak laki-laki itu. Itu cuma goresan kecil jadi tidak apa-apa." Elak Lynn mengalihkan pandangannya.
"Walaupun begitu, itu tetap saja luka! Aku akan membelikan obat di apotek." Arga berdiri memperhatikan sekelilingnya.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana dan tunggu aku disini! Mengerti?" Arga tersenyum memamerkan gigi taringnya, mengacak rambut Lynn dan berjalan pergi.
Lynn memegang kepalanya, hatinya yang dingin terasa hangat, Lynn menggunakan punggung tangan kanannya menutupi hidung dan wajahnya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" Gumam Lynn pelan.
Arga berlari menghampiri Lynn sambil membawa sekantong perlengkapan obat dan juga sebotol air mineral. Lynn memainkan kedua jarinya, mencoba mengatur perasaannya yang kacau.
Sepasang sepatu coklat memasuki penglihatan Lynn, Lynn yang menunduk mengangkat kepalanya melihat siapa pemilik sepatu itu.
"Tadah~" Arga tersenyum lebar mengangkat kantong plastik yang ada di tangannya.
Lynn mengerucutkan bibirnya kesal, Arga duduk disamping Lynn merogoh kantong plastiknya. Mengeluarkan permen coklat dari kantong plastik, Arga memegang tangan Lynn dan menaruh permen itu di telapak tangan Lynn.
"Hehe... Saat di apotek aku melihat ada yang jual permen ini dan aku langsung kepikiran kalau kamu suka makan permen coklat." Arga tertawa sambil mengaruk kepalanya.
Lynn menatap permen yang ada ditangannya, mengepalkan tangannya, menggenggam permen coklat itu kuat-kuat.
"Kenapa?" Tanya Lynn, kepalanya masih tertunduk.
__ADS_1
"Ya?" Arga memiringkan kepalanya bingung.
"Kenapa kamu masih bersikap baik? Untuk apa kamu peduli?" Bentak Lynn galak.