Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 59


__ADS_3

Lynn duduk diam didalam mobil Alfred, padahal tadi dia sudah berjalan cukup jauh. Lynn baru ingat Hana masih tinggal di Vila jadi mau tidak mau Lynn berbalik dan menghentikan mobil Alfred.


"Haa..." Helaan napas panjang mengalir keluar dari bibir Lynn, ini sebabnya dia tidak boleh sombong.


Lynn sendiri menjawab Alfred kalau dia mau pulang ke rumahnya tapi kini dirinya terjebak dengan Alfred lagi.


Tuk... tuk...


Lynn memukul jendela kaca, memandangi pemandangan malam, dimana lampu jalanan menerangi jalanan.


"Berhentilah membuat keributan." Sindir Alfred fokus menyetir.


Lynn menurunkan tangan mengerucutkan bibirnya ke depan, memilih diam saja.


Begitu mobil Alfred tiba, Lynn turun dari mobil berjalan masuk kedalam vila meninggalkan Alfred sendirian di mobil.


Alfred berdecak kesal mengunci mobilnya dan berjalan masuk. Lynn menaruh buket bunganya dan tiket pameran diatas meja, menaiki lantai atas menuju kamar Hana.


Alfred menghentikan langkah kakinya menatap buket bunga itu sebentar, melirik ke lantai atas dimana Lynn berada. Alfred menarik dasinya dan berjalan ke dapur.


Membuka kulkas, mengambil botol air. Alfred meminum air itu hingga setengah botol, mengeluarkan sebuah surat dari saku celananya.


Itu adalah surat yang Alfred ambil dari kotak coklat yang dibawa Pieter, Alfred meremas surat itu dan membuangnya ke dalam tong sampah.

__ADS_1


Alfred berjalan menuju ruang tamu dan duduk disofa tunggal, menyandarkan tubuhnya pada sofa. Tiba-tiba penglihatan Alfred berubah menjadi gelap karena sepasang tangan menutupi matanya.


Orang yang menutupi mata Alfred terkekeh pelan, ekspresi wajah Alfred berubah menjadi lembut.


"Lidya, kapan kamu tiba disini?" Tanya Alfred melepaskan tangan wanita itu dari wajahnya.


Wanita itu tersenyum manis, dia adalah Lidya pacar Alfred. Lidya menyentuh pipinya berpikir sejenak.


"Aku baru saja ti- Wow... Apa kamu mempersiapkan buket bunga ini untukku?" Kata. Lidya ceria, memeluk buket bunga lavender itu.


Lidya tersenyum makin lebar melihat tiket pameran blackstar yang sulit di dapat itu, dimana hanya ada seratus tiket saja dalam enam bulan sekali.


"Aku sangat menyukai kejutaanya." Lidya tersenyum bahagia.


"Lidya, itu b-"


Grep...


Lidya tiba-tiba memeluk Alfred, menyisipkan wajahnya di dada Alfred.


"Aku sangat-sangat menyukainya, Alfred." Ungkap Lidya.


"Mama Hana gak ad-"

__ADS_1


Ucapan Lynn tercekat dalam tenggorokan, Lynn berhenti berjalan menatap Alfred dan wanita asing dalam pelukkan Alfred.


Lidya mendengar ada suara orang lain melepaskan pelukkannya, menatap Lynn. Lidya melirik Alfred dan Lynn secara bergantian.


"Dia siapa?" Lidya mengaitkan tangannya ditangan Alfred, menatap Alfred.


"Oh... Aku tau dia pembantu baru di Vila, kan?" Seru Lidya, tersenyum lembut.


"Iya, dia pembantu baru disini." Jawab Alfred tanpa melihat Lynn. Lynn mengigit bibir bawahnya, hatinya terasa sesak.


"Kalau begitu kenapa dia bisa disini? Seharusnya kan dia sudah pulang?" Tanya Lidya, meminta penjelasan.


"Mungkin ada barangnya yang tertinggal." Jawab Alfred lembut sambil mengelus kepala Lidya.


"Kenapa dia masih berdiri disana bukannya pulang?" Lidya menunjuk Lynn sambil tersenyum polos.


Lynn tersentak kaget, menundukkan kepalanya. "Sa-saya pamit dulu." Gagap Lynn berjalan pergi.


"Kamu bilang dia ambil barang tapi kok gak bawa apa-apa? Buket bunga ini bukan punya dia, kan?" Lidya menyipitkan matanya.


"Bukan, tentu saja itu milikmu." Jawab Alfred.


Lynn bisa mendengar semua apa yang mereka berdua katakan, Lynn mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Dengar itu Eve, kamu hanya seorang pembantu. Jadi sadarlah." Gumam Lynn meremas dadanya pahit dan sesak.


__ADS_2