
"Aku ingin bilang kalau ... Ehem!" Alfred berdehem.
Alfred bangun, Lynn mengangkat kepalanya secara otomatis menatap Alfred yang tinggi.
"Datanglah besok keperusahaan tanpa alasan apapun dan aku akan memberitaukannya padamu."
Alfred berjalan pergi, Lynn memiringkan kepalanya menatap punggung Alfred yang lebar, begitu pintu tertutup tidak ada lagi bahu lebar itu.
"Apa yang mau dibicarakan?" batin Lynn.
Pintu memang sudah tertutup tapi, hati Lynn berdebar menantikan hari esok. Lynn memukul kedua pipinya menyadarkan dirinya agar jangan terlalu berharap.
"Sadar Eve, gak baik kalau terlalu berharap," tutur Lynn, beranjak pergi dari tempat duduknya.
Klak
Alfred menutup pintu, ada seseorang pria yang berdiri bersandar pada dinding berjarak lima centi dari pintu, Alfred tidak menghiraukan Arga, berjalan lewat.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Arga.
Pertanyaan Arga tidak menghentikan langkah kaki Alfred untuk maju kedepan, Arga meresa terabaikan. Meraih pundak Alfred, Alfred menepis tangan Arga dari pundaknya.
Menatap Arga dingin, Alfred tidak mau menciptakan keributan di depan apartemen dimana semua penghuninya pasti sudah tidur lelap.
"Kita bisa berbicara tapi tidak disini," tegas Alfred.
"Haah?! Apa kamu tipe orang yang peduli pada sekitarmu? Itu terdengar seperti bukan dirimu."
__ADS_1
"Apa sekarang kamu melatih kesabaran? Aku salut dengan kesabaranmu... oh, itu bukan kesabaran tetapi kesadaran!" tegas Arga.
"Tuan Alfred Kernes, biar aku pertegas. Tidak peduli Eve menikahimu, tetapi didalam hatiku, Eve belum menikah dan kamu bukan suami atau apapun itu, kamu hanyalah pria asing!"
Langkah kaki Alfred terhenti sebentar lalu kembali lagi bergerak, Arga mengeraskan rahangnya, kali ini emosinya sudah sampai pada batasnya.
...🍒🍒🍒...
Di kamar Alfred
Alfred berjalan keluar dari kamar mandi, butiran air berjatuhan dari rambut hitam Alfred, menaruh handuk yang dipakainya di sofa. Mengambil laptob hitam miliknya, Alfred memeriksa jadwal pekerjaannya besok.
"Tuan Alfred Kernes, biar aku pertegas. Tidak peduli Eve menikahimu, tetapi didalam hatiku, Eve belum menikah dan kamu bukan suami atau apapun itu, kamu hanyalah pria asing!"
Sudut bibir Alfred terangkat, perkataan itu bukanlah ancaman atau masalah bagi Alfred. Jika dia ingin, dia bisa menyingkirkan Arga dengan sekali jentikkan jari, tetapi Alfred tidak mau melakukannya karena dia tidak mau melihat wajah kecewa Lynn.
Alfred menutup laptobnya, membaringkan tubuhnya tenggelam dalam kelembutan kasur king size miliknya. Menaruh salah satu tangannya diatas kepala, Alfred memikirkan apa hadiah cocok untuk Lynn besok.
"Kenapa aku terus memikirkan gadis kecil itu?"
Alfred mengacak rambutnya kesal, membenamkan wajahnya kedalam bantal, wajah Lynn yang tersenyum muncul saat Alfred menutup matanya.
"Arghh!!" Teriak Alfred kesal, melambaikan tangannya menghapus bayangan wajah Lynn dari hadapannya.
...🍒🍒🍒...
Lynn turun dari bus, dia sedikit telat pagi ini karena pertunjukan drama antara Yasmin dan Mina saat mereka mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Yasmin melompat-lompat senang, sedangkan Mina menangis tersedu-sedu mengingat orang yang dia singgung ada boss ditempat dirinya bekerja.
Lynn terkekeh pelan, mata Mina bengkak dan Yasmin mengalami sakit perut pada akhirnya. Lynn baru mau duduk, kembali berdiri mendengar namanya dipanggil.
"Sekertaris Lynn, Tuan Alfred memanggilmu keruangannya."
"Sekertaris Krisan, hari ini kamu sangat pagi tidak seperti biasanya yah?" goda Lynn tersenyum manis.
"Yah... mau bagaimana lagi? Bos sudah ditempat dan aku sebagai sekertaris profesional harus menemaninya setiap saat," tutur Krisan meratapi nasibnya.
Lynn menangguk, memahami penderitaan Krisan, pasalnya bossnya ini kadang-kadang sangat baik dan juga licik.
Tok tok tok
Beberapa detik sudah berlalu, tetapi tidak ada juga izin masuk yang diberikan Alfred. Lynn melirik Krisan, Krisan masih merenung nasibnya.
"Aku masuk!"
Lynn mendorong pintu dan melangkah masuk, Dengan kepala bertumpu pada tangan yang terlipat, Alfred menatap tajam kedepan, memikirkan sesuatu.
"Kenapa kamu terus muncul dalam mimpiku?" tanya Alfred melontarkan pertanyaan yang baru saja melintas dibenaknya.
"Iya??"
"Tidak lupakan... Ehem, aku cuma mau bilang, selamat kamu diangkat menjadi sekertaris pribadi."
Lynn menganggukkan kepalanya paham sebanyak tiga kali, tiba-tiba mata Lynn melebar menatap Alfred.
__ADS_1
"A-apa??"