
"Eve, aku ingin menjelaskan kejadian waktu dulu, waktu itu aku pergi keluar negeri untuk mengobati penyakitku. Waktu sebelum aku berangkat, aku ada datang kerumahmu, tapi Kakakmu Cici, bilang kamu sedang keluar jadi aku menitip pesan padanya untuk memberitaukannya pada dirimu."
Lynn diam tidak menjawab dia hanya diam mendengarkan apa yang Arga katakan.
"Aku menderita penyakit pneumonia jadi aku harus melakukan operasi di luar negeri. Baru tiba dibandara ponselku terjatuh dan tidak bisa menyala, begitu aku tiba diluar negeri aku membeli ponsel baru. Aku mencoba menghubungimu tapi kamu tidak menerima pesan." Jelas Arga panjang lebar, ada rawut kekecewaan dan penyesalan.
"Ponselku disita sama Mama Aila, dan Cici membantingnya kelantai setelah melihat Mama Aila memberikannya lagi padaku." Lynn menjelaskan situasinya sendiri pada saat itu.
Arga terdiam, sekarang dia mengerti kenapa panggilannya tidak masuk. Itu bukan karena Lynn mengabaikannya tapi karena ponselnya rusak, Arga tersenyum tipis seolah ada harapan kecil didalam hatinya.
"Lalu bagaimana dengan kondisimu sekarang?" Tanya Lynn.
"Sekarang aku sudah sembuh, jadi tidak ada masalah lagi." Jawab Arga ceria.
Lynn mengangguk paham, tidak ada lagi pertanyaan yang melintas dipikiran Lynn. Lynn mengira kalau dirinya berduaan bersama Arga jantungnya akan berdetak kembali seperti dulu.
Tapi siapa sangka kalau tidak terjadi apa-apa, Lynn merasa dirinya normal seperti biasanya. Lantas kenapa waktu dirinya pertama kali bertemu Arga, setelah sekian lamanya jantungnya berdetak tidak normal? Layaknya orang yang jatuh cinta.
__ADS_1
Arga memegang tangan Lynn yang terletak dikursi, Lynn yang merasakan ada sentuhan terkejut menatap Arga dengan matanya bulatnya.
"Aku tau! Aku sudah melakukan kesalahan dengan pergi tanpa berbicara denganmu terlebih dahulu. Mungkin perkataanku tadi terdengar seperti alasan tapi begitulah faktanya. Tapi Eve,
apa kita bisa memulai lagi seperti dulu? Tidak mari kita mulai lagi dari awal!" Arga menggenggam erat tangan Lynn.
Lynn menatap tangannya lalu tatapan itu naik menuju wajah Arga yang terlihat putus asa, seperti tangannya adalah salah satu tali harapan yang bisa membawanya keluar dari kegelapan.
Lynn melepaskan genggaman tangan Arga dari tangannya, menaruh kembali tangan Arga ke posisi awal. Arga sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan Lynn dari tindakan yang dilakukan Lynn.
"Maaf Arga, tapi aku tidak bisa memulai lagi denganmu. Kau tau aku takut mengalami luka yang sama, luka lama belum sembuh dengan sempurna, dan sekarang, kamu hanyalah orang asing yang tahu segala rahasia-rahasiaku." Tolak Lynn dengan tegas.
Suasana seketika menjadi canggung Lynn tidak tau harus mengatakan apa lagi, setelah mengungkapkan semuanya hatinya terasa lega, beban yang ada dipundaknya terangkat.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Kata Lynn bangun dari kursinya.
"Tunggu!" Arga meraih tangan Lynn menghentikan Lynn pergi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau berteman?" Tanya Arga masih berharap pada Lynn.
"Eem... Baiklah mari berteman." Jawab Lynn.
"Tapi dengan satu syarat. Kita hanya sebatas teman tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Jangan pernah melewati batasan seorang teman, jika kamu melewati batas maka sampai situlah pertemanan kita." Lynn memegang wajah tegas.
Lynn mematahkan semua rantai harapan yang Arga gantungkan pada dirinya, dia tidak mau memberikan Arga harapan palsu dan pada akhirnya hanya akan menyakiti dirinya sendiri dan juga Arga.
"Baiklah aku menyetujui syaratmu." Lirih Arga tersenyum penuh kekecewaan dan kesedihan.
"Aku pergi dulu teman." Lynn tersenyum cerah, melepaskan tangan Arga dan berjalan meninggalkan taman.
Arga menatap punggung Lynn menjauh dan menjauh dari pandangannya, kepala Agga tertunduk tersenyum kecut sambil melihat tangannya yang baru saja menyentuh tangan Lynn.
"Yah... Tidak masalah kalau kita menjadi teman asalkan aku masih bisa berada disisimu." Gumam Arga memegang dadanya, sesak.
Arga mengangkat kepalanya menatap keatas langit, tidak ada langit biru. Banyak sekali awan hitam menutupi langit biru.
__ADS_1
Tik... Tik...
Hujan mulai berjatuhan membasahi wajah dan pakaian Arga, langit turut serta meratapi nasibnya yang ditolak cinta pertamanya. Air hujan mengalir dari mata Arga dan jatuh kebawah tanah.