
Krett...
Suara pintu kaca yang didorong, Alfred sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Tatapan matanya tetap fokus pada dokumen yang ada di hadapannya.
"Apa sekarang kamu mau mengundurkan diri? Yah... Itu keputusan yang sangat bagus, tidak sulit kamu bisa menulisnya dan menyerahkannya sekarang." Kata Alfred tanpa menatap orang yang ada di depannya.
"Tapi, sayangnya aku tidak bekerja disini, jadi bagaimana cara aku mengundurkan diri?"
Alfred mengangkat kepalanya melihat siapa sebenarnya pemilik suara bariton yang memenuhi gendang telinganya, Pieter berdecak pinggang tersenyum senang.
"Untuk apa kamu kesini?" Tanya Alfred sinis, memilih mengabaikan Pieter.
Pieter berjalan mendekati bangku sofa dan duduk disana. Meletakan kaki kanannya diatas kaki kirinya.
"Apa salahnya kalau sahabatmu ini berkunjung." Basa basi Pieter.
"Aku tidak memerlukan kunjunganmu." Bantah Alfred dingin, melototin Pieter.
"Ah... Maaf waktu itu aku tidak bisa menghadiri upacara pernikahanmu. biasa, aku ini banyak pekerjaan." Pieter tertawa pelan mengabaikan perkataan Alfred, mengambil bunga mawar merah yang ada divas.
"Aku sangat penasaran dengan penampilan istrimu." Pieter mengangkat bunga itu dan mencium aromanya.
Pieter tertawa pahit, dia seperti orang gila yang berbicara sendiri karena Alfred tidak merespon sedikit pun padanya.
"Ngomong-ngomong kenapa bisa ada bunga segar disini?" Pieter menaruh kembali bunga yang ada ditangannya.
__ADS_1
Alfred tersentak, dia tadi menyuruh Lynn menaruh bunga disana karena meja itu kosong tapi dia lupa untuk menyuruh Lynn membuangnya lagi, Alfred hanya ingin menganggu Lynn dan membuatnya berhenti sendiri tanpa harus turun tangan sendiri.
Alfred terdiam sebentar memikirkan beberapa alasan yang logis, tetapi dia tidak menemukan alasan itu dikepalanya.
"Itu bukan urusanmu, jangan menggangu pekerjaanku." Usir Alfred.
Krett...
Tatapan mata Alfred dan Pieter langsung terjutuh ke arah pintu, Lynn membawa kopi yang dipesan Alfred dengan hati-hati agar air panas tidak mengenai baju ataupun tubuhnya, Lynn tidak sadar akan tatapan mata itu.
"Tuan Alfred ini mau taruh dimana?" Tanya Lynn melirik ke kiri dan ke kanan.
Lynn terkejut melihat Pieter yang duduk di kursi tamu bahkan Pieter melambaikan tangannya pada Lynn, Lynn hanya bisa tersenyum canggung.
"Kenapa tuan Pieter ada disini?" Tanya Lynn dalam hatinya.
"Apa, saya buatkan sekarang saja?!" Kata Lynn mau berbalik sambil membawa nampan kopinya.
"Kamu tidak perlu membuatkan kopi lagi Nona Lynn, kamu tinggal memberikan kopi itu padaku." Kata Pieter menunjuk gelas kopi yang dibawa Lynn.
Lynn menatap Alfred dan Pieter saling bergantian tidak tau harus berbuat apa, jika dia memberikannya pada Tuan Pieter maka dia akan terkena omelan dari Alfred.
Tetapi jika dia memberikan ke pada Tuan Alfred maka tetap saja dirinya akan dimarahi karena tidak melayani tamu dengan baik. Lynn menatap Alfred menunggu perintah.
"Sekertaris Lynn kamu bisa memberikannya kepada tamu kita. Agar, setelah kopi ini habis dia bisa pulang ke kantornya dengan selamat."
__ADS_1
Lynn menganggukkan kepalanya paham, memberikan kopi yang dibawa nya pada Pieter. Pieter mengangkat gelasnya dan meminumnya perlahan-lahan
"Wah... Nona Lynn kopi buatanmu sangat enak. Sebagai tanda terima kasih, aku akan mentraktirmu makan siang nanti." Kata Pieter, tersenyum tampan, menyebarkan pesonanya dimana mana.
Lynn tersenyum canggung tidak tau menjawab apa sementara itu dirinya merasakan tatapan menyengat di punggungnya.
"Maaf Tuan Pieter sepertinya saya tidak bisa, saya banyak kerjakan, selamat menikmati hari anda." Lynn membungkuk hormat lalu berjalan keluar.
Alfred bisa melihat kalau tatapan mata Pieter tidak terahlikan terus tertuju pada punggu Lynn sampai punggung Lynn benar-benar tidak terlihat.
"Alfred, aku tidak tau kalau kamu mempunyai sekertaris baru." Kata Pieter penuh semangat.
"Apa kamu tidak bisa untuk tidak membuat keributan diruangan ini?" Alfred tersenyum sadis.
Pieter bergidik takut melihat senyuman itu, meneguk kopinya sampai habis.
"Baiklah, aku akan pergi dari sini." Pieter mengangkat tangannya tidak peduli dan berjalan pergi dari ruangan Alfred.
Alfred bernafas lega, menyandarkan tubuhnya pada kursi putra nya, Alfred juga tidak lupa menyuruh Lynn untuk membuang bunga mawar yang ada di meja.
Keesokan harinya Pieter datang menemui Alfred lagi dan dia datang pada jam yang sama seperti kemarin, dia hanya mengoceh tidak jelas lalu pergi setelah meminum kopi buatan Lynn sampai habis, dan keesokannya lagi Pieter datang lagi.
Sudah 3 hari berturut-turut Piete datang, Alfred merasa sangat risih dengan kehadiran Pieter, bukannya membantu dirinya yang ada hanya membawakan beban.
Keesokan harinya setelah 3 hari
__ADS_1
"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu terus kesini?" Tanya Alfred kesal, sudah ada kerutan diwajah.