Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 84


__ADS_3

Lynn mengambil napas sebanyak mungkin yang bisa ditampung paru-parunya, begitu dirinya sampai di pos pertama. Lynn mengangkat kepalanya melihat berapa jarak antara dirinya dengan tujuannya.


Helaan napas panjang mengalir keluar dari bibir Lynn, perjalanannya masih cukup panjang sedangkan kakinya sudah mengalami getaran akibat beban dipundaknya.


"Kurasa aku akan berhenti disini! Aku sudah tidak sanggup lagi!"


"Iya... Aku juga ikut denganmu."


Keluh beberapa karyawan wanita dan yang lainnya ikut menganggukkan kepalanya setuju, masing-masing dari mereka mulai duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Kalau kalian sudah tidak sanggup lagi untuk mendaki lebih baik beristirahat saja di pos ini." Jelas Krisan.


"Siap pak! Kami akan menunggu kalian disini! Saya akan mendata siapa saja yang berada disini." Jawab Karyawan wanita itu dengan lantang.


Krisan mengangguk lemah melihat tidak ada semangat yang berkobar, tiba-tiba dia merasa sudah menanggung terlalu banyak beban.


Lynn termenung, menatap karyawan sedang sibuk entah membicarakan apa. Hampir separuh dari tim pendaki duduk nyaman di pos istirahat.


"Sekertaris Lynn, ayo!"


Panggilan Krisan membuyarkan lamunan Lynn, Lynn mengedipkan matanya bingung bagaimana harus menanggapi Krisan, dia tidak tau, mau melanjutkan atau berhenti disini.


"Tidak-tidak, kamu tidak boleh menyerah secepat itu!" Gumam Lynn dalam hatinya, mengelengkan kepalanya memutuskan pemikiran buruknya.


"Aku segera datang!" Teriak Lynn, berjalan mengejar Krisan.


Teriakan itu menarik perhatian, seolah tidak mau tertinggal dia mempercepat gerakkannya mengikuti dalam diam.


...🍒🍒🍒...

__ADS_1


Puncak gunung sangat memikat dan mempesona mata, dikejauhan terlihat laut membentang luas dan beberapa benda hitam serta hijau tersebar disekitarnya.


Perbedaan suhu jauh drastis, dimana udaranya cukup dingin walaupun matahari masih menyinsing diatas sana.


Lynn duduk bersila diatas rumput, dia tidak mau memperdulikan kondisi bajunya, kakinya sudah terlalu lemas untuk menyangga tubuhnya.


Mengangkat kepalanya menatap langit biru tanpa taburan awan, merasakan ada gerakan disampingnya. Lynn menoleh, tatapan mata Lynn terjalin dengan tatapan mata Alfred.


Seolah tersihir, Lynn tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Alfred sampai suara Krisan menyadarkan dirinya.


Puk... Puk..


Suara tepuk tangan, mengumpulkan perhatian setiap orang. Ketika semua perhatian mulai tertuju pada dirinya Krisan mulai membuka mulutnya.


"Oke... Karena kita sudah berusaha mendaki sampai setinggi ini, aku akan membagi beberapa tim agar pekerjaan kita cepat selesai. Jadi aku menyiapkan..."


Krisan merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah botol berbentuk bambu. Krisan tersenyum tipis membuka tutup botol dan menyuruh setiap orang mencabut kayu yang ada pada botol.


"Apa tujuanmu melakukan ini?" Tanya Lynn menatap botol bambu lalu berpindah ke wajah Krisan.


"Tenang saja sekertaris Lynn ini aman kok." Ujar Krisan sambil tersenyum tampan.


Lynn mencabut kayu, dia masih bingung kenapa Krisan memberikan kayu pada setiap orang. Alfred mengangkat salah satu alis matanya meminta penjelasan Krisan, Krisan lagi-lagi tersenyum.


Alfred berdecak kesal, mengambil kayu itu. Selesai membagikan kayu, Krisan mencabut satu dan mulai menjelaskan.


"Ehem... Disini saya akan menjelaskan, setiap ujung kayu memiliki warna yang berbeda. Dari warna inilah kita akan membagi tim, masing-masing warna berkumpul membentuk satu regu!"


Mendengar penjelasan Krisan, semua orang mulai berkumpul berdasarkan warnanya masing-masing. Lynn mendapatkan warna biru, menoleh mencari pemilik warna yang sama.

__ADS_1


Senyuman diwajah Lynn menghilang ketika dia melihat warna kayu ditangan Alfred sama berwarna biru.


"Astaga..." Gumam Lynn pelan.


"Baiklah... Sekarang tim merah bertugas menyiapkan makanan, tim biru bertugas mencari kayu bakar dan tim hijau bertugas membangun tenda. Kalau begitu... Ayo bekerja!" Jelas Krisan tersenyum lebar.


Tim yang ditunjuk mulai bekerja, Krisan tersenyum lebar menggosok hidungnya bangga dengan rencana yang dirinya siapkan.


"Bukankah begini lebih bagus? Kita bisa menyingkat waktu sebelum matahari terbenam nantinya." Ungkap Krisan.


"Iya... Aku rasa itu bukan ide buruk."


Lynn meratap pasrah, dia ingin menukar warnanya dengan warna lain asal dirinya tidak satu tim bersama Alfred.


"Ayo tim biru kita cari kayunya!" Krisan berseru senang.


Krisan berkobar dalam semangat membara, berjalan memimpin arah. Lynn mengikuti sambil mengelengkan kepalanya tidak tau berapa lama semangat itu akan bertahan nantinya.


"Sin, apa kamu mau bertukar denganku?"


"Eh..."


"Kita tukaran yah... Kamu mencari kayu dan aku akan memasak itu tidak beda jauh." Jelas wanita itu.


"Eeem.."


"Sudahlah, ini cuma untuk hari kok." Ujar wanita itu merebut kayu dan berlari pergi.


Senyuman manis mekar dibibirnya, dia mencoba mengendalikan ekspresi wajah sebisa mungkin tetapi rasa senang lebih kuat.

__ADS_1


"Lihat aku selalu beruntung, jadi tunggu aku!" Gumam Sinta menyeringai.


__ADS_2