
Lynn berjalan sempoyongan menuruni tangga pesawat, menghabiskan satu hari didalam pesawat membuat Lynn mabuk udara. Lynn kebanyakan tidur sepanjang perjalanan dan bangun ketika waktu makan lalu kembali tertidur.
"Sekertaris Lynn, apa kamu baik-baik saja?" tanya Krisan khawatir.
Lynn mengelengkan kepalanya, dia baru merasakan kehidupan kembali pada dirinya begitu Lynn menginjakkan kakinya di tanah.
"Minum ini."
Lynn meraih botol mineral, meminumnya tanpa melihat siapa pemberi minuman. Lynn bernapas panjang, menghembuskannya secara perlahan-lahan.
"Apa ini baru namanya kehidupan?" gumam Lynn tersenyum senang.
Alfred mengambil botol mineral dari tangan Lynn, berjalan terlebih dahulu menuju taksi yang menunggu.
"Tunggu!" Lynn berlari mengejar Alfred.
Alfred membuka pintu mobil, Lynn melepaskan tangannya dari kopernya, menyelip masuk.
Lynn tersenyum manis sambil berkata, "makasih banyak udah bukain pintunya."
Alfred menatap Lynn dengan wajah datar, Lynn duduk manis, bersenandung pelan menoleh kesana kesini. Alfred menyerobot mendorong Lynn pindah dari tempat duduknya, Lynn melototkan matanya pada Alfred galak.
Alfred tidak menghiraukan Lynn, dia fokus menatap kedepan, mengambil posisi duduk yang nyaman, menyilangkan kaki panjangnya.
Lynn melipat tangannya, sebelah pipinya mengembung kesal. Lynn menatap keluar jendela mengamati bangunan menjulang tinggi dan taman mini yang berada ditengah jalan membelah arah jalur lalu lintas.
__ADS_1
Lynn turun dari taksi menatap bangunan hotel mewah didepannya, Lynn tidak bisa menebak berapa lantai dimiliki hotel ini tetapi hotel ini sangat tinggi, bahkan kaca hotel memantulkan cahaya kuning disetiap sisinya.
"Ayo!" ajak Alfred.
Lynn menurunkan pandangannya, mengikuti Alfred, pintu otomatis terbuka. Menampilkan dunia yang sangat berbeda dengan di luar sana, orang-orang berjalan kesana-kesini dengan kesibukan masing-masing.
Krisan pergi melakukan cek-in, sementara Alfred dan Lynn duduk di sofa melingkar. Kedua-duanya sibuk sendiri, Alfred bersama ponselnya dan Lynn sibuk mengamati hotel.
"Tenang Eve ... kamu harus tenang atau orang-orang akan menganggap dirimu itu aneh." batin Lynn, menundukkan kepalanya sedikit.
Lynn mencoba menahan rasa antusiasmenya meluap, kakinya ingin bergerak mengitari setiap tempat tetapi Lynn juga tidak mau mengambil risiko hilang apalagi dimana tempat dirinya tidak mengenal siapa pun.
Krisan berjalan menghampiri Lynn dan Alfred, Krisan tersenyum canggung keringat dingin terbentuk di dahi Krisan.
"Tuan Alfred, maafkan aku! Aku lupa untuk memesan satu kamar lebih lagi," jelas Krisan, menelan salivanya dengan kasar.
"Itu ... waktu itu, aku hanya memesan satu kamar saja karena aku pikir hanya ada kita berdua saja!"
"Lalu? Kenapa gak pesan satu kamar lagi?"
Lynn menganggukkan kepalanya setuju dengan pernyataan Alfred, menatap Krisan. Krisan mengaruk lehernya bingung, dia tidak berani menatap mata Lynn.
"Aku baru mau pesanan ... tetapi, resepsionisnya bilang kalau kamar kosong yang ada dihotel ini sudah penuh, karena festival yang sedang berlangsung di sini," jelas Krisan
"Apa! Hotel apa ini kenapa tidak punya kamar kosong!"
__ADS_1
"Aku juga tidak tau!! Mereka bilang kamar kosong akan tersedia besok pagi,"
Alfred menyentuh keningnya, dia tidak mungkin berpisah dengan Krisan karena jadwal perencanaan berada di tangan Krisan, sementara itu dia bisa membiarkan Lynn sendirian.
"Lalu aku tidur dimana dong?" Lynn menatap antara Alfred dan Krisan secara bergantian.
"Sekertaris Lynn bisa satu kamar denganku ... ."
Krisan menutup mulutnya, Alfred menatap dirinya dengan tatapan dingin dan tajam seolah-olah laser akan keluar dari mata Alfred dan membelah tubuhnya menjadi beberapa bagian.
"Atau kalian bisa satu kamar, Tuan Alfred dan Krisan dan aku sendiri," saran Lynn.
"Boleh."
"Tidak!"
Dua pendapat berbeda, Krisan dan Lynn menatap Alfred, Alfred berdehem pelan menghindari kontak mata dengan Lynn.
"Kenapa?" tanya Lynn bingung.
"Kalau kalian berdua tidak satu kamar, terus aku harus kemana?" Lynn menunjuk Alfred dan Krisan lalu beralih ke dirinya sendiri.
"Kamu bisa satu kamar denganku dan Krisan sendiri." Alfred berdehem lagi, menatap mata Lynn.
Krisan menutup mulutnya, menoleh ke belakang pura-pura tidak mendengar apa pun. Kening Lynn berkerut sebentar, Lynn menganggukkan kepalanya mengerti sesuatu.
__ADS_1
"Aah! aku tau kamu...