Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 13


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan?" Jerit Lynn dalam hatinya panik, ingin sekali Lynn menjambak rambutnya sendiri.


Tangan Alfred menyentuh dagu Lynn, Lynn makin panik melihat wajah Alfred semakin mendekat. Alfred memiringkan kepalanya hingga tinggal 1 inch lagi bibirnya dan bibir Lynn saling bertemu.


Lynn memejamkan matanya rapat-rapat, Alfred tertawa pelan melihat Lynn menutup kan matanya.


"Apa kamu berharap aku akan benar-benar mencium-mu?." Bisik Alfred pelan, mendengar bisikan Alfred mata Lynn langsung terbuka lebar-lebar.


"Sudahkan." Kata Alfred tersenyum, tangannya merangkul  pinggang Lynn dengan mesra. Lynn menutup bibirnya, wajahnya merona malu.


"Rasanya aku ingin bersembunyi dilubang tikus." Kata Lynn dalam hatinya, tangannya menyentuh dadanya yang terus berdetak kencang.


Semua orang mengucapkan selamat pada Lynn dan Alfred, Alfred tersenyum tipis. Dirinya tidak terlalu berharap banyak pada Lynn tapi siapa menyangka cukup dengan wajah Lynn yang merona dapat membantu dirinya lepas dari kecurigaan.


***


"Haaa..." Lynn menghela napas panjang, akhirnya semuanya sudah selesai dan kini Lynn tengah berbaring diatas kasur sambil memikirkan kejadian tadi.


Lynn berbaring terlentang memutarkan badannya menjadi telungkup, tangannya memukul kasur geram.


"Ini tidak adil, kenapa wajahnya begitu tampan?." Gerutu Lynn, setiap dia memikirkan kembali kejadian tadi, hal itu terus membuat jantungnya berdetak kencang.


"Jantung kamu kenapa begini? Aku gak mungkin punya penyakit jantung, kan ?." Gumam Lynn memegang dadanya, merasakan detak jantungnya berbunyi keras.


Drett..


Lynn melirik ponsel disampingnya, mengulurkan tangannya mengapai ponselnya.

__ADS_1


"Astaga aku lupa." Lynn dengan cepat menjawab panggilan video itu.


"Eve.. Kamu kok belum pulang sih.. Ini udah jam 11 malam tau, Mina ajah sampai ketiduran." Gerutu Yasmin dengan wajah mengantuk.


"Eh.. Aku engak bisa pulang, Mama Hana suruh aku menginap katanya udah terlalu malam buat pulang." Jelas Lynn.


Yasmin hampir tertidur, matanya langsung terbuka lebar menatap Lynn dengan tatapan penasaran.


"Eve.. Kamu ketemu calon mama mertu? Kamu kok gak cerita sih sama kita? Jangan bilang kalau itu cowok tadi yang meneleponmu yah?." Tanya Yasmin bertubi-tubi, suaranya terdengar penuh bersemangat.


"Gila.. Eve, itu gak benar kan? Berani banget tuh cowok merebut Eve dari kita." Kata Mina, merebut ponsel Yasmin.


"Loh? Mina, bukannya kamu lagi tidur?" Tanya Lynn bingung.


"He he.. Aku udah tidur tapi kebangun gara-gara aku dengar Yasmin bilang Mama mertua." Mina terkekeh menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eve, kamu kan udah janji bakal menikah samaaku, kok kamu tega sih menghianati diriku ini. Kurang apa coba aku?" Yasmin mulai melakukan dramanya.


"Min, kalian sekarang lagi dikamar aku kan?" Pertanyaan Lynn membuat kedua sahabatnya menjadi terdiam.


"Iya... Aku sama Yasmin gak bakal bikin berantakan kok, tenang ajah. Eve, ini udah malam kita tutup dulu yah. Selamat Malam girl." Kata Mina mengembalikan ponsel Yasmin.


"Jangan lupa mimpin aku." Yasmin mengedipkan sebelah matanya, mengoda Lynn seperti biasanya.


Panggilan langsung terputus, Lynn tersenyum tipis memandangi wallpaper ponselnya. Dimana dia dan kedua sahabatnya tengah tersenyum lebar.


"Semoga mimpi indah." Gumam Lynn, menaruh ponselnya diatas meja, membaringkan tubuhnya menuju alam mimpi.

__ADS_1


Pagi Harinya, di rumah Lynn.


Aila sibuk menyapu lantai, bibirnya komat-kamat menggerutu. Aila kesal pada Lynn, yang  tidak kunjung pulang kerumah, padahal banyak pekerjaan yang harus Lynn lakukan dan kini itu semua harus dikerjakan Aila sendiri


"Awas aja kalau anak itu pulang bakal aku kunci di gudang, gak bakal aku kasih makan selama seminggu." Gerutu Aila sambil menyapu lantai kotor.


"Siapa?" Suara bariton berat dan keras, Aila membalingkan wajahnya melihat siapa orang yang tengah berbicara.


Seorang pria dengan style rapi, berdiri ditengah pintu menatap Aila tajam, dia adalah Ray ayah kandung Lynn.


"R-Ray.. Kamu kok ada disini?" Aila tergagap-gagap, mengigit bibirnya takut.


"Kenapa? Ini rumahku jadi terserah aku mau ada dimana." Kata Ray dingin, kakinya panjang melangkah masuk dan duduk disofa memperhatikan Aila yang memegang sapu terlihat gugup.


"Pftt.. penyapu itu sangat cocok untukmu Aila." Sindir Ray tertawa sinis, Aila meletakkan penyapu dan berjalan pergi ke dapur mengambilkan air. Aila keluar dari dapur dengan segelas air putih, menaruh gelas itu dimeja.


"Oh.. Iya, Aila dimana putriku? Aku tidak melihatnya sama sekali." Kata Ray, Aila menelan salivanya  kasar.


"Maksudmu Cici?" Aila tersenyum kaku, Ray yang hendak minum terhenti. Menatap Aila sinis dan tajam wajah  datar Ray kini tambah dingin.


"Aku bilang putriku, bukan putrimu." Tegas Ray, membuat nyali Aila menciut tidak berani menjawab.


"Apa Lynn sedang pergi kuliah?" Ray tersenyum tipis, wajahnya tidak terlalu dingin lagi, Aila mengepalkan tangannya. Selalu saja begini, Ray selalu tersenyum jika dia membahas Lynn.


"Tapi hari ini hari minggu, tidak ada pelajaran." Gumam Ray pelan, mata tajamnya melirik ke lantai atas.


"Gadis sialan itu tidak ada disini, sudah dua hari dia gak pulang." Aila. menutup bibirnya, dia tidak sengaja mengatakan isi hatinya.

__ADS_1


Aila mengangkat kepalanya yang tertunduk melihat ekspresi apa yang terlukis diwajah Ray, bulu kuduk Aila langsung berdiri melihat wajah Ray berubah marah.


"Ah.. Ini semua salah Lynn, coba aja dia gak pergi dari rumah, kan aku gak perlu beres-beres. Kuku kesayanganku kan jadi rusak lagi." Cici memandangi kukunya, tidak sadar kalau Ray mendengar apa yang dia ucapkan.


__ADS_2