Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 61


__ADS_3

"Lynn?  Kenapa gadis itu bisa berada disini?" Gumamku pelan, menatap kearah dimana Lynn  melayani permintaan Keanu dengan senyuman khas miliknya.


"Apa yang kau lihat?" Aaron menepuk pundakku, ikut melihat kearah dimana tatapan mataku tertuju.


"Oh... Gadis itu. Kamu tertarik padanya?" Tanya Aaron padaku.


Aku tidak tau bagaimana ekspresi wajahku hingga membuat Aaron terkekeh seolah itu lucu.


"Hehe... Syukurlah." Ucap Aaron penuh kesyukuran.


"Untuk apa kau bersyukur? Apa kamu tertarik padanya?" Aku tertawa dingin, mengoyangkan gelas berisi sampanye yang ada ditangan kananku.


"Bukan aku tapi Keanu. Apa kamu tidak melihat dari tadi dia terus mengoda gadis itu?" Aaron menggelengkan kepalanya tersenyum tipis.


Aku tidak menjawab pertanyaan Aaron, melirik kearah Lynn. Bisa dilihat kalau Keanu terus melemparkan godaan manisnya tapi Lynn tidak terlalu menanggapinya hanya tersenyum tipis.


Tatapan mataku tidak sengaja bertemu dengan tatapan mata Lynn, Lynn mengalihkan pandangannya secepat mungkin memilih melihat ketempat lain.


Sekarang aku tau apa penyebab Lynn terlihat kurang fokus dalam bekerja, ketiduran saat jam istirahat.


Aku meneguk sampanye satu teguk, sampanye yang melewati tenggerokan terasa sangat tidak enak, seperti menelan bola api padahal sampanye itu penuh dengan es batu.

__ADS_1


Aku bangun dari tempat duduk berjalan kearah Keanu dan Lynn, Keanu menatapku bingung pasalnya aku duduk disampingnya sambil menatap Lynn.


"Hei... Alfred apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Keanu wajahnya penuh kejengkelan.


Aku tidak menjawab, menatap name take yang bertuliskan nama Lily, berganti ke wajah Lynn. Aku bisa melihat kalau Lynn sedang tegang sekaligus gugup.


"Kurasa kita perlu bicara gadis kecil." Ucapku meneguk sampanye yang aku bawa seperti meminum air habis.


Aku bisa merasakan tatapan aneh dari Keanu, tapi aku tidaak peduli sama sekali.


"Baiklah. Sister Rika bisakah kamu gantikan aku sebentar disini?"


Tatapan mataku mengikuti lambaian tangan Lynn pada seorang wanita berambut merah pekat dan kulit putih pucat. Penampilannya mengingatkan aku akan Lidya ketika kami pertama kali bertemu.


Mendengar jawaban wanita bernama Rika itu, aku bangkit dari tempat dudukku berjalan keluar diikuti Lynn dibelakang.


Aku berhenti di tempat sepi dimana orang jalan lewat, Aku menatap Lynn dari atas karena perbedaan tinggi badan yang jauh.


"Kenapa aku tidak pernah tau kalau Sekretaris Lynn bekerja di sebuah bar?" Ucapku menatap Lynn dingin.


"Bukankah disurat perjanjian tertulis kalau kita tidak boleh  mencampuri urusan masing-masing?"

__ADS_1


"Sekarang kamu menuduh-ku melanggar perjanjian?" Aku menatap Lynn tajam.


"Aku tidak pernah bilang kalau anda melanggar perjanjian."


Sorotan mata Lynn padaku berubah menjadi tajam, sepertinya dia masih dendam dengan diriku.


"Apa kamu marah padaku karena perkataan Lidya?" Aku bisa melihat kerutan kecil di dahi Lynn.


"Untuk apa aku marah? Aku bukan siapa-siapa bagi dirimu dan kamu juga bukan siapa-siapa bagiku. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk marah pada anda."


Lynn menatap tepat kemataku, ini pertama kalinya aku menatap lurus kedalam matanya. Sekarang aku baru sadar kalau warna matanya itu bukan hitam melainkan hitam kecoklatan, matanya membuatku tengelam dalam sebuah pesona yang aneh.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin anda katakan saya permisi dulu."


Aku menatap punggung kecil Lynn berjalan menjauh, dia bahkan tidak mengalihkan pandangan kebelakang. Aku menyandarkan punggungku ke dinding, mengusap rambutku keatas agar tidak menutupi dahiku.


Apa yang dikatakan Lynn tadi adalah faktanya, aku tidak punya hak untuk mencampuri urusannya. Aku menghela nafas panjang berjalan masuk kedalam bar, duduk kembali ketempatku tadi.


"Satu gelas sampanye lagi." Ucapku memanggil barista yang ada didepan


Aku mengangkat gelas itu dan mengoyangkan gelas pelan melirik dimana Lynn berdiri.

__ADS_1


"Sialan..." Makiku mengangkat gelas dan meminumnya langsung seteguk.


Alfred Pov End


__ADS_2