
Jantung Lynn berdetak sangat kencang, panggilan Alfred tidak mencapai telinganya. Otaknya terus memproses kecemasan dan ketakutan, Lynn tidak bisa mengendalikan pikirannya.
Tubuh Lynn tersentak kaget, sentuhan lembut menyentuh kepalan tangannya. Lynn menoleh kearah tangannya, kuku mengores kulit yang sudah terluka.
Darah merah segar menetes, Lynn tidak merasakan rasa sakit di telapak tangannya. Lynn membuka kepalan, menatap luka.
"Apa yang kau lakukan! Itu terus saja berdarah dari tadi? Apa kamu tidak merasakan sakit?"
Lynn menoleh kearah suara, Alfred tengah sibuk mencari obat dari kotak P3K. Lynn tidak mengerti apa alasan dirinya harus merasakan sakit, sementara luka-luka kecil ini bukanlah apa.
"Berikan tanganmu padaku, aku akan mengobatinya."
Alfred meminta tangan Lynn, Lynn menatap Alfred lalu menoleh kedepan, Krisan juga sedang menatap dirinya.
"Aku akan melakukannya sendiri." Kata Lynn mencoba merebut obat yang berada ditangan Alfred.
Alfred menghindari tangan Lynn, menggalkan upaya Lynn. Alfred mengerakan matanya meminta tangan Lynn lagi, Lynn mengerucutkan bibirnya kesal terpaksa mengulurkan tanganya.
"Sudah aku bilang, aku bisa melakukannya sendiri," Gerutu Lynn.
Alfred tidak menghiraukan perkataan Lynn, fokus mengoleskan alkohol pada luka Lynn.
"Aah... perih." Ringis Lynn menarik pergelangan tangannya, tapi tindakan kecilnya itu tidak menghasilkan apa pun.
Pergelangan tangan Lynn masih berada diposisi awalnya, Lynn melototi Alfred tidak suka. Alfred tersenyum tipis tanpa dia sadari, mengoleskan salep.
"Apa rasa takutmu sudah hilang?" Tanya Alfred membaluti tangan Lynn.
"Apa?" Ulang Lynn meminta penjelasan.
"Kamu takut pada ketinggian, itu sebabnya kamu tidak merasakan sakit."
"Aa-apa? Bagaimana kamu bisa tau?"
"Tindakanmu cukup untuk menjelaskannya."
Lynn terdiam tidak bisa membantah pernyataan Alfred, menundukkan kepalanya secara bertahap. Kain yang membaluti lukanya, tertata rapi dengan ikatan pita , Lynn terkekeh lucu.
__ADS_1
Mengangkat tatapannya melihat ke arah Alfred, dimana Alfred juga menatap dirinya dengan tatapan jengkel.
"Apa kamu sekarang sedang mengolokku?"
"Ti-tidak! Aku hanya, hanya merasakan ada sesuatu di tenggorokanku."
Lynn berdehem pelan, mengalihkan matanya kearah lain dengan mimik wajah tersenyum.
"Seharusnya kamu itu bersyukur, selama ini aku tidak pernah mengobati siapapun sepanjang hidupku," Ujar Alfred.
"Benarkah? Jangan bilang aku orang pertama yang kamu obati?" Goda Lynn dengan senyuman manis dibibirnya.
Alfred menatap mata Lynn, Lynn yang ditatap langsung gelagapan.
"Apa sekarang rasa takutmu sudah hilang? Kamu bahkan bisa tertawa." Goda Alfred balik.
"Sia-siapa bilang aku takut," Sanggah Lynn tidak mau kalah.
Alfred tertawa ringan melepaskan tangan Lynn, melihat keluar. Ujung telinga Lynn memerah karena malu, Lynn menutupi wajahnya.
"Haah!" Alfred tertawa sinis.
"Krisan putar balik," Perintah Alfred.
"Ya??"
Lynn menatap Alfred dan Krisan secara bergantian, tidak mengerti situasi.
"Cepat!" Bentak Alfred.
Krisan menepuk pundak pilot, baru kali ini Krisan tidak mengerti dengan ekspresi wajah Alfred padahal dia sudah cukup lama menjadi tangan kanan Alfred selama ini.
Dor
Tembakan meluncur ke udara, suara tembakan memberikan guncangan pada helikopter. Lynn menutupi kedua telinganya tanpa sadar, memejamkan matanya erat-erat.
"Hahaha... ternyata ini adalah tempat persembunyian mereka." Alfred tertawa senang, tetapi tatapan matanya sangat dingin.
__ADS_1
Dibawah pohon-pohon ada bayangan hitam yang berlari-lari menyelinap dari satu pohon ke satu pohon lainnya.
"Apa sekarang kamu mencoba mengancam atau ini hanya sebuah tantangan?" Kata Alfred dengan senyuman dingin diwajah tampannya.
Lynn melihat-lihat kebawah tapi bukannya menemukan sesuatu, kepalanya malah dibanjiri dengan rasa pusing dan mual, Alfred membantu Lynn menopang tubuhnya yang mulai melemas.
"Krisan, lacak lokasi."
Krisan mengangguk paham, mengeluarkan laptob yang entah berasal dari mana. Sementara itu helikopter terbang memutar lagi menuju arah yang berlawanan.
"Ayolah! Apa kamu itu pengecut?" Maki pria dengan luka panjang di pipinya.
"Tenanglah Mac, dia akan datang menemui kita, tentu saja dengan kakinya sendiri." Ujar pria pirang itu.
...🍒🍒🍒...
Sinta duduk manis ditempatnya, bersenandung senang sambil mengoleskan lipstik dibibirnya. Dia terlalu bahagia bercampur dengan kemenangan setelah mendengar kabar kalau Lynn cuti sakit hari ini.
"Hei Sinta, apa kamu memenangkan lotre? Kenapa hari ini wajahmu penuh sangat cerah tidak seperti biasanya?" Tanya karyawan wanita yang berada disebelah tempat duduk Sinta.
"Hohoho... Aku baru saja memenangkan lotre yang sangat mahal!" Sinta tersenyum lebar, mulutnya bahkan ternganga saking senangnya.
"Sinta, Tuan Alfred memanggilmu untuk menuju keruangannya."
"Beneran?" Sinta melebarkan matanya tidak percaya, buru-buru merapikan baju dan rambutnya.
"Kamu tidak berbohongkan? Kyaaa!! Aku tidak percaya ini." Jerit Sinta, berlari menuju ruangan Alfred.
Kedua karyawan wanita itu saling menatap, lalu mengangkat bahunya tidak peduli.
Tok tok
Pintu terbuka secara otomatis, ada Krisan yang membukakan pintu untuk dirinya. Sinta tersenyum canggung bergegas masuk kedalam.
"Tuan Alfred, kenapa kamu memanggilku?" Tanya Sinta dengan nada genit sambil memainkan ujung rambutnya.
"Kamu dipecat," Kata Alfred dingin tanpa melirik Sinta.
__ADS_1
"Apa? Ta-tapi kenapa?" Tanya Sinta tidak percaya.