Aku Pasti Bisa

Aku Pasti Bisa
Awal


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan oleh Dyfa Aryani disaat dirinya berada pada titik terendah di dalam hidupnya,orang-orang yang dia pikir bisa memberikan penguatan ternyata tidak seperti yang dia bayangkan.


Dyfa menatap nanar kedua orang tua dan juga adiknya,dia tidak menyangka setelah kehilangan calon bayinya kemudian suami yang seharusnya menemani ketika dirinya berduka malah menjatuhkan Talak saat dia terbaring dirumah sakit.tidak ada sedikitpun rasa simpati yang di tunjukkan oleh mereka.


"seharusnya kalian tidak memperlakukanku seperti ini."ucap Dyfa lirih.


ibu Ami tersenyum sinis pada putri sulungnya itu"seharusnya kamu tuh memohon sama Ardi supaya dia tidak ceraikan kamu".


"Iya mbak,kalau kayak gini siapa yang bakal bantuin biaya kuliah aku".kata Dimas Artanto adik nomor duanya ikut menimpali.


"Aku Akan bekerja lagi bu."jawab Dyfa.


"Palingan jadi pembantu".kata Dimas dengan pelan tetapi masih bisa di dengar oleh semua orang yang ada di sana.


"Benar kata Dimas,kamu SMA pun tidak selesai.mau kerja apa kamu dengan ijazah SMP?".tanya Ibu Ami membenarkan perkataan putra kesayangannya.


Dyfa menghela nafas panjang,sekuat tenaga dia berusaha menahan airmatanya agar tidak keluar.dia melihat ayahnya yang sedari Tadi hanya diam.


"Aku tidak masalah menjadi pembantu".jawab Dyfa yakin,lalu menambahkan"asalkan aku tidak mengemis apalagi memohon kepada orang yang sudah mencampakkan aku."


Ibu Ami dan Dimas tertawa mengejek.


"Kamu itu......"ucapan Ibu Ami terputus saat Pak Doni mengangkat tangannya.


"Biarkan Dyfa melakukan apa yang MAu dia lakukan".kata Pak Doni lalu dia bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.


Dyfa pun ikut bangkit dan berkata"Aku pasti bisa mendapatkan pekerjaan walaupun dengan ijazah SMP".


Setelah mengatakan itu Dyfapun pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua.


Saat malam tiba Dyfa tidak turun untuk makan malam,dia malas jika harus berdebat dengan keluarganya lagi.walaupun begitu dia bersyukur di izinkan untuk tinggal oleh orangtuanya di rumah itu.


Jam menunjukkan pukul 10 malam.Dyfapun turun menuju dapur,jika bukan karena perutnya yang minta diisi dia enggan keluar dari kamarnya.


Dia membuka tudung saji dan tidak menemukan makanan di meja makan,lalu dia membuka kulkas tidak ada bahan makanan disana.diapun beranjak menuju lemari dapur dan Dyfa menemukan mie instan.

__ADS_1


Setelah perutnya terisi Dyfa memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di halaman belakang sambil menikmati langit yang cerah malam ini.


Tanpa terasa airmata mengalir deras di pipinya ,dia mengingat kembali saat dia mengalami keguguran.


Pada hari naas itu entah kenapa Dyfa ingin sekali pergi mengunjungi rumah mertuanya.namun suaminya Ardi melarang dengan alasan dia banyak pekerjaan di kantor jadi tidak bisa menemaninya dan bilang jika orangtuanya sedang sibuk.


Akan tetapi Dyfa merasa dia tetap harus pergi kerumah mertuanya.


sesampainya di rumah orangtua Ardi,Dyfa terkejut karena disana cukup ramai seperti sedang ada acara.dengan rasa penasaran diapun masuk.


Dan saat itu juga dirinya mendapat sebuah kejutan luar biasa ketika mendapati suaminya Ardi baru saja mengucapkan ijab kabul.


Sekuat tenaga dia berusaha menahan airmatanya dan mendekati kedua mempelai yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri.


"Mas....."


Mendengar suara yang sangat di kenalinya,Ardi menoleh dan terkejut.


Tak hanya Ardi seluruh kelurganya terkejut Akan kehadiran Dyfa.


Ibu Silva mertuanya langsung datang dan menarik Dyfa membawanya masuk ke kamarnya.


"Bu,Tadi Mas Ardi..."


"Ya,sekarang dia sudah menikah dengan Riana".kata Ibu Silva bangga"Riana itu lebih bisa saya banggakan dari pada kamu".


Airmatanya pun lirih seketika mendengar perkataan mertuanya yang merendahkan dirinya.dia tidak percaya bahwa suaminya tega menikah lagi saat dirinya sedang mengandung.


Tak lama kemudian Ardi masuk dan menatap tajam pada istrinya itu."Sudah ku bilang jangan kemari,tapi kenapa kamu tetap datang?".tanya Ardi sambil mengguncangkan bahu Dyfa.


Dyfa menghempaskan tangan Ardi "Seharusnya aku yang marah Mas".teriaknya.dia memukul dadanya sendiri sambil menahan rasa sesak yang luar biasa "Hatiku sakit melihatmu menikahi wanita Lain".


Ketika Ardi hendak pergi keluar,tiba-tiba Dyfa histeris dan langsung terjatuh dan pingsan.


Setelah beberapa jam tak sadarkan diri akhirnya dia membuka matanya.dan mendapati seorang perawat wanita yang tersenyum ramah padanya.

__ADS_1


"Selamat malam nyonya.anda butuh sesuatu?"


Dyfa merasakan perutnya yang masih terasa sakit"kandungan saya SUs?"tanyanya cemas.


"Maaf nyonya,anda keguguran".


"Siapa yang membawa saya kemari?".tanya Dyfa pada perawat itu dan berharap Ardi yang membawanya kerumah sakit serta menemaninya.


Perawat itupun tersenyum"Supir anda".


Dyfa memejamkan matanya dan menghela nafas pelan "tega kamu mas".tangannya mengepal menahan amarah dan kesedihan yang kini bercampur aduk.


Keesokkan paginya orang yang sedari malam dia nantikan akhirnya datang.namun Dyfa sangat kecewa saat suaminya datang bersama orangtuanya dan juga istri barunya.


"Mas,kenapa kamu membawa dia?"tanya Dyfa sambil menunjuk kearah Riana.


Ardi tidak menjawab pertanyaan Dyfa,dia menyerahkan sebuah map pada Dyfa."tanda tangan"perintahnya.


"Apa ini?".


"itu surat cerai"jawab Ibu Silva mendahului Ardi.


Degg...


Dyfa meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya"Kalian jahat,kalian tega"teriak Dyfa"Aku baru saja kehilangan anakku dan kamu mas...."Dyfa tak kuasa melanjutkan perkataannya.


"Maaf,Aku mencintai Riana".ucap Ardi tanpa ada rasa penyesalan walaupun dengan kondisi Dyfa yang begitu memprihatinkan.


Dengan tangan bergetar Dyfa menandatangani surat cerai itu.


Ardi mengambil surat cerai itu"Aku Ardi Pramudya menjatuhkan Talak 3 kepada Dyfa Aryani.mulai detik ini kita bukan suami istri lagi"Ucapnya dengan lancar.


Dyfa menggigit lidahnya agar tak menangis lagi di hadapan orang-orang yang Sudah sangat menyakitinya.


"ayo kita pergi.urusan kita Sudah selesai di sini."kata Ibu Silva sambil berlalu keluar dari kamar rawat Dyfa.

__ADS_1


"kau pulanglah kerumah kontrakan,aku Sudah membayar uang sewa Sampai bulan depan dan biaya rumah sakit Sudah aku lunasi".setelah mengatakan itu semua Ardi menyusul orangtuanya sambil menggenggam tangan Riana.


Dyfa menghapus airmata dengan kasar"Aku pasti bisa melewati ini semua,dan aku yakin aku bisa membuktikan pada mereka semua jika aku tidak bodoh".


__ADS_2