
"kamu di usir?"tanya Raya tidak percaya.
Dyfa mengangguk,setelah keluar dari rumah orang tuanya.dia memutuskan untuk pergi ke Toko kue milik nya.
"sekarang bagaimana?".tanya Raya lagi
Dyfa mengangkat bahu "Ya,begitulah".
"kamu ga ke kafe?".
Dyfa menatap wajah sahabatnya itu "dari Tadi nanya terus".
Raya mendengus kesal "kamu tuh...aku kan khawatir".sambil duduk di samping Dyfa.
Dyfa meletakkan kepalanya di bahu Raya "terima kasih udah peduli sama aku".ucapnya lirih.dia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Raya.
"Aku juga berterima kasih sama kamu karena kamu mau berteman sama aku disaat semua orang menjauhiku".
Jika sudah seperti itu maka mereka akan berakhir dengan berpelukan.
Setelah mencurahkan isi hatinya pada Raya, Dyfa memutuskan untuk ke dapur dan mencoba membuat beberapa resep kue baru.
Dengan berkutat di dapur dia bisa melupakan sejenak masalah dan kesedihannya.
Tak berselang lama Ratna masuk kedapur.
"Mbak,di depan ada pelanggan yang mau pesan langsung Sama mbak".kata Ratna memberitahukan.
"suruh tunggu sebentar ya".sahut Dyfa lalu mencuci tangannya.
Dyfapun keluar menemui pelanggan yang sedang duduk di kursi yang di sediakan di tokonya untuk para pelanggan yang ingin mencicipi kue di tempat langsung.
"Maaf sudah membuat anda menunggu".ucap Dyfa dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pelanggan.
Pelanggan itupun tersenyum "tidak masalah saya sudah terbiasa menunggu anda".jawab pelanggan tersebut.
Dyfa tersenyum kikuk mendengar jawaban pelanggannya tersebut "jadi anda mau pesan kue berapa banyak?"
"berapapun yang kamu buat".
Hah...Dyfa melongo mendengar ucapan pria yang ada di hadapannya itu "maksud anda??".
__ADS_1
"sebentar lagi hari ulang tahun keponakan saya,jadi saya ingin memesan 2 kue ulang tahun untuk anak laki2 dan juga 100 buah kue muffin".jelas pria itu mengalihkan pembicaraan.
Dengan cepat Dyfa menulis pesanan sang pelanggan "keponakan anda suka karakter apa?".
"dia suka kartun car".
"untuk hari apa?".
"Hari Sabtu besok dan saya harap anda sendiri yang membuat kuenya".kata pria itu tanpa melepaskan pandangannya dari Dyfa.
"Apa ada permintaan khusus untuk kue ini?" tanya Dyfa lagi.
Pria itu bangkit dari tempatnya duduk "Anda pasti tau cara membuat pelanggan puas." lalu dia mengambil sebuah kartu nama dan menyodorkannya pada Dyfa.
"Baik kalau begitu."Dyfa mengambil kartu nama tersebut.
"sampai jumpa hari Sabtu."Pria itu tersenyum "Assalamualaikum."
Dyfa mengangguk "Waalaikumsalam".
Pria itupun pergi meninggalkan toko kue dan Dyfa kini sedang membaca nama yang tertera di kartu nama yang ada di tangannya "Asgar Wirayudha....".
Ratna dan Indah tertawa pelan melihat pemilik toko kue tempat mereka bekerja terlihat kesal setelah melihat kartu nama yang ada di tangannya.
Dyfa menoleh pada kedua pegawainya "Ada apa?" tanyanya heran karena keduanya sedang cekikikan tidak jelas.
Indah menggelengkan kepala "Mbak lucu. tadi biasa aja ehh sekarang kesal ga jelas".
Wajah Dyfa langsung memerah "saya mau balik ke dapur dulu" ucap Dyfa yang malu karena dari kedua pegawainya memperhatikan dia.
****
Sementara itu kehidupan rumah tangga Ardi tidak lebih baik bersama Riana. dia yang sudah terbiasa di layani saat melakukan hal2 kecil oleh Dyfa dulu kini dia harus melakukannya sendiri jika tidak asisten rumah tangga yang melakukannya.
Sedangkan Riana dia yang tidak terbiasa hanya bisa menyerahkan semua urusan rumah dan juga pakaian serta makan suaminya pada asisten rumah tangga.
Seperti hari itu saat Ardi meminta tolong di ambilkan tas kerjanya yang tertinggal di kamar,Riana malah menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengambilkan tas suaminya.
Ardi hanya menghela nafas "Ri, apa kamu tidak bisa sedikit saja memperhatikan kebutuhanku yang tak begitu banyak".
Riana tersenyum sambil meminum jus mangga nya "untuk apa kita membayar ART jika kita harus mengerjakan segalanya di rumah?".dia malah balik bertanya.
__ADS_1
Ardi mengambil tasnya yang sudah di bawakan ART nya,setelah mengecup kening istrinya dia pun pamit pergi bekerja.
Riana pun segera menyelesaikan sarapannya dan pergi untuk melakukan rutinitasnya yang tidak terlalu penting.
****
Selesai makan siang Dyfa memutuskan untuk pergi ke kofeksi miliknya.
"Maaf jika saya baru bisa datang kemari".ucap Dyfa pada para pegawai di konfeksinya.
"tidak apa - apa mbak,kami ngerti kok".sahut salah satu pegawainya.
"Baiklah kalau begitu saya temui Deni dulu".Dyfa pun keluar dari ruangan untuk menjahit dan beranjak untuk menemui Deni orang kepercayaannya di konfeksi tersebut.
Deni yang baru saja mengepak pesanan seragam pelanggan tersenyum senang karena sepupu sekaligus bosnya itu akhirnya datang.
"Neng,apa kabar?"sapa Deni mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan sepupunya.
Dyfa menyambut uluran tangan Deni "Alhamdulillah baik kang,akang sendiri?".
"Alhamdulillah seperti yang éneng lihat".
"Sukur atuh Ari gitu mah".Dyfa melihat tumpukan pakaian di belakang Deni "Wah,banyak pesanan ya?".
"Alhamdulillah Neng,banyak pesanan belakangan ini".Jawab Deni sumringah.
Dyfa bersyukur karena semua usahanya berjalan dengan baik walaupun dulu dia sempat jatuh bangun untuk membuka semua usahanya dari toko kue hingga atas usul Raya dia membuka konfeksi.
Setelah memeriksa pembukuan,dia pun mengajak Deni bicara di lantai dua tempat istirahat para '..
"Ada yang salah ya sama pembukuannya?" Tanya Deni khawatir.
Dyfa menggeleng pelan "Engga Kang, saya mau tanya, apa ada yang tau ga.kalo saya yang punya konfeksi ini?".
"Sesuai pembicaraan kita dulu,Akang selalu bilang ini konfeksi milik teman akang".jelas Deni.
"terima kasih ya kang,saya belum bisa ngasih tau orang tua dan saudara saya tentang usaha milik saya ini".
"Ya,akang ngerti sama sifat paman sama bibi neng".
dari banyaknya saudara yang dia punya hanya Deni dan istrinya yang bisa dia percaya Karena Dyfa serta Deni sama - sama tinggal dan tumbuh di rumah neneknya.
__ADS_1