
Seminggu sebelum pernikahan,Dyfa masih disibukkan dengan usaha yang dia rintis.seperti hari ini,dia datang ke konveksi untuk memantau pekerjaan Di Sana.
Deni yang senang dengan kabar pernikahan sepupunya itu berharap semoga ini menjadi pernikahan terakhir untuk Dyfa.
Dyfa yang heran melihat sepupunya terdiam dihampirinya "kenapa kang?" tanyanya.
Deni menggelengkan kepalanya "akang senang Eneng mutusin buat nikah lagi".
"aku juga ga nyangka secepat ini"Kata Dyfa sambil terkekeh.
"namanya juga jodoh neng".
"Iya kang,andai nenek masih ada pasti nenek yang paling bahagia".
"doain aja biar nenek tenang dan di lapangkan kuburnya".
"Amin".
Setelah seharian berada di konfeksinya, dia pun berpamitan pada Deni dan karyawannya untuk pulang duluan.Namun saat dia keluar dan hendak menghidupkan sepeda motornya tiba - tiba ada seseorang yang memanggilnya.dia
yang hafal dengan suara itu diapun menoleh.
Ardi tersenyum sambil berjalan menghampiri mantan istrinya itu "Dyf".
"Mas Ardi".
"Apa kabar Dyf?".tanya Ardi.
"Alhamdulillah baik,Mas sendiri?".
"Alhamdulillah".Ardi melirik sebentar ke konfeksi yang ternyata Deni sedang berdiri memperhatikan mereka "kamu kerja disini?".
Dyfa tersenyum canggung "tidak,aku habis bertemu dengan sepupuku"jawab Dyfa menunjuk ke konfeksi karena Deni masih berdiri disana.
"oh,bisakah kita bicara?" tanya Ardi berharap Dyfa mau diajak berbicara.
"maaf Mas,sudah sore aku harus pulang".
Ardi berdiri di depan motor Dyfa mencoba menghalangi "sebentar saja".pintanya.
Deni yang sudah melihat Dyfa mulai tidak nyaman menghampiri mereka "Neng,ada apa?".
"saya hanya ingin bicara sebentar dengan Dyfa"
jelas Ardi yang menebak bahwa pria yang menghampiri mereka adalah sepupu Dyfa.
"Dyf".
Dyfa memberi isyarat pada sepupunya dan Deni langsung mengerti "aku ingin kang Deni ikut".
__ADS_1
Ardi menghela nafas kasar"baiklah".
Merekapun pergi ke Kafe yang tak jauh dari konfeksi.Ardi menawarkan untuk memesan makanan tapi Dyfa dan Deni hanya memesan minuman.
"sebenarnya apa yang Mas ingin bicarakan?" tanya Dyfa yang tak ingin berlama - lama.
Ardi meminum minumannya dengan santai dan tersenyum menatap mantan istrinya itu "Aku mendapatkan undangan pernikahan antara kamu dan Asgar Wirayudha".
"lalu?".
"Apa kamu yakin?".
Deni tertawa "lucu sekali pertanyaan anda".ejeknya "yakin atau tidak yakin bukan urusan anda,mantan suaminya Dyfa".
"Aku tidak tau kenapa kamu bertanya seperti itu tapi yang jelas aku menjalin hubungan dengan Asgar setelah bercerai denganmu dan masa Iddahku selesai"jelas Dyfa.
Ardi menghela nafas panjang "aku dengar sepupu dari Irfan sudah lama dekat dengan Asgar tapi kamu yang baru mengenalnya sudah akan menikah dengannya".
Dyfa mengangguk akhirnya dia mengerti arah pembicaraan Ardi dan dia bisa menebak bahwa ada yang memberi tahu kepada Ardi semuanya itu "aku dan Asgar berteman sejak SMP dan baru berjumpa beberapa waktu yang lalu jadi kami bukan baru bertemu".
"Apa kamu tidak merasa aneh dengan Asgar yang mengajakmu menikah secepat itu?".
Dyfa bangkit dengan diikuti Deni "kalau Mas penasaran tanya sendiri pada orangnya,permisi" Dyfa pun berbalik dan pergi meninggalkan kafe tersebut bersama Deni.
Ardi hanya bisa pasrah dan menatap sendu kepergian mantan istrinya tersebut.
Tiga hari menjelang pernikahannya,Dyfa menginap di Kediaman Wirayudha atas desakan Ibu Misya karena acara pernikahan akan diadakan disana dan ibu Misya pun khawatir Dyfa tidak akan memikirkan kesehatannya jika tinggal sendirian.
Dan sementara Asgar sendiri kini mengungsi ke rumah kakaknya Asrul,yang hanya berbeda blok saja dengan rumah orang tuanya.
Dyfa tidak diperbolehkan untuk beraktivitas di luar rumah namun dia masih bisa memantau toko kue dan konveksinya dari jauh,walaupun tidak biasa tapi Dyfa tetap melakukan nya.
Asgar sendiri masih melakukan rutinitasnya yang seperti biasa akan tetapi setiap kali dia pulang ke rumah orangtuanya,dia tidak bisa bertemu dengan Dyfa karena selalu dihalangi oleh ibu dan adiknya.
Asgar hanya bisa pasrah saat tau handphone Dyfapun dipegang oleh ibunya.
"kenapa kamu?" tanya Asrul pada adiknya yang baru pulang dengan lesu.
Asgar menghampiri kakaknya yang sedang duduk di ruang keluarga dan menghempaskan tubuhnya di samping kakaknya itu "aku habis dari rumah bunda".
"habis ketemu calon istri kok lesu" sindir Asrul.
"itu masalahnya Mas".
Asrul hanya mengernyitkan dahinya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya.
"Bunda melarang aku untuk menemui Dyfa".
Sontak saja Asrul tertawa "yaelah, Gar... Gar..
__ADS_1
kirain apaan".
"CK.. malah di ketawain".Asgar menggerutu.
"ya,lagian kan ada handphone Gar".
"handphone Dyfa di sita bunda".
"wah,bunda memang the best"puji Asrul pada ibunya dan dia tak berhenti tertawa.
"Mas,jangan gitu dong" ucap Tiara yang datang dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman untuk suami dan adik iparnya.
"seneng aja liat si Asgar yang seperti anak kecil kehilangan permen lolinya".jelas Asrul.
Asgar melempar bantal kecil yang ada di sofa pada kakaknya "bukan bantuin cari cara malah ngeledekin terus".
Tiara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat adik kakak itu bercanda "tadi Dyfa ijin keluar rumah"katanya memberitahu Asgar.
Asgar memperbaiki sikap duduknya dan siap mendengar penjelasan dari kakak iparnya itu "Dyfa mau kemana?".
"sebelum pergi Dyfa menerima telepon dari ibunya,mereka cukup lama berbicara di telepon setelah itu Dyfa meminta ijin keluar sebentar".jelas Tiara.
Asgar terdiam mendengar penjelasan Tiara dan mencoba menerka apa yang di bicarakan Dyfa dengan ibunya.
"kenapa Gar?".tanya Asrul yang melihat Adiknya itu sedang berpikir.
"aku tadi bicara dengan pak Doni dan dia sekarang sedang ada urusan di Bandung"ujar Asgar merasa ada yang tidak benar dengan Dyfa menerima telepon dari ibu nya.
"mungkin Dyfa ke ruko atau konveksi nya"tebak Asrul.
"Aku sudah meminta Raya Dan Deni jika ada yang mendesak untuk segera menghubungi ku juga".kata Asgar.
Tiarapun mulai khawatir"terus gimana dong kalau terjadi sesuatu pada Dyfa".
Asgar bangkit dan meraih kunci mobilnya "Aku pergi dulu Mas".
"Kamu mau kemana?".tanya Asrul.
"Aku mau susul Dyfa ke rumah orangtuanya"jawab Asgar sambil berlalu pergi tanpa bisa di cegah.
"Apa Dyfa pergi sendiri?"Tanya Asrul pada istrinya.
Tiara menggelengkan kepalanya "tadi Dyfa pergi naik mobil diantar sama pak Tono" ujarnya yang ikut khawatir.
"mudah - mudahan apa yang di khawatirkan oleh Asgar tidak terjadi".
"iya Mas,semoga".timpal Tiara.
Dan Asgar melajukan kendaraannya secepat yang ia bisa karena saat ini sudah jam pulang kantor,otomatis jalanan akan padat.dia hanya bisa berdoa di dalam hati berharap calon mertuanya tidak mengatakan sesuatu yang aneh - aneh dan merusak rencana pernikahan yang akan dilaksanakan pada 3 hari lagi.
__ADS_1