Aku Pasti Bisa

Aku Pasti Bisa
part 1


__ADS_3

Hari Baru untuk awal yang baru.setelah mendapatkan akta cerai,Dyfa memutuskan untuk merubah gaya rambutnya.


Dia yang biasa berpenampilan biasa dengan rambut panjangnya.kini dia pangkas hingga sebahu dan mengganti cara berpakaiannya dengan pakaian yang mengikuti trend saat ini tapi tetap santun.dan memoles sedikit wajahnya dengan makeup yang natural.


"selamat pagi".sapa Dyfa pada kelurganya yang sedang menikmati sarapan di meja makan.


"wah,penampilan baru nih".puji Dimas ."mau kemana?".


Dyfa menarik kursi yang ada di sam adiknya dan duduk disana"kerja."jawabnya singkat.


Dimas tertawa mengejek "Mau ngelamar jadi pembantu ga usah dandan kak".


Dyfa mengambil nasi goreng dan mulai memakannya tanpa mempedulikan kata-kata adiknya.


Tanpa keluarganya Tau,Dyfa bekerja di kafe milik temannya.saat dia Sudah selesai masa iddah.


selesai sarapan tak Lupa dia mencuci piring bekas makannya.lalu dia beranjak menghampiri kedua orang tuanya dan mencium tangan keduanya.


"Aku berangkat Ayah.....Ibu..."pamitnya.


"Hati-hati di Jalan".ucap ayahnya.


"cari kerja yang bagusan jangan cuma mau jadi pembantu aja".ucap Ibunya sedikit menyindir.


"ya.Assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam"jawab keduanya.


Dyfapun berangkat dengan mengendarai motor matic yang dia beli dari uang pemberian mantan suaminya sebelum resmi berpisah.


****


"Apa kau Sudah mendapat informasi soal Dyfa Aryani?"tanya seorang pria tampan pada bawahannya yang berdiri tak jauh dari tempat duduk pria tersebut.


sang bawahan pun menyerahkan sebuah map pada atasannya itu."semua ada di sini tuan".


Pria itu membaca dengan seksama lalu tersenyum puas"kerja bagus".


"Sudah beberapa minggu ini nona Dyfa bekerja di sebuah kafe dekat Universitas P".kata sang bawahan memberitahukan kabar terbaru pada sang atasan.


"Tunggu sebentar lagi,kita pasti bertemu".ucap pria itu sambil menatap foto Dyfa.


****


Sementara itu Dyfa mulai sibuk melayani para pelanggan kafe yang rata2 mahasiswa karena letaknya tak jauh dari kampus ternama.


Dengan ramah Dyfa menyapa setiap pengunjung yang datang dan dengan sigap menulis setiap pesanan mereka.


"kak,nasi goreng seafood 2 dan ice greentea satu,coffe late satu meja nomor 4".Dyfa memberitahukan koki pesanan selanjutnya.


"segera".sahut para koki di dapur.


Setelah mengantarkan pesanan,Dyfa membersihkan meja yang baru saja di tinggalkan pelanggan.

__ADS_1


Saat jam makan siang berakhir dan para pengunjung kafe mulai berkurang.para pegawai kafe bergiliran untuk istirahat.


Dyfapun bergabung dengan para pegawai lainnya di dapur untuk menikmati makan siang yang telah di sediakan,sambil sesekali mereka saling melontarkan sedikit guyonan untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka.


Selesai makan siang Dyfapun mulai melayani pengunjung kembali.


Winda pelayan Senior di cafe itu berjalan menghampiri Dyfa dan menepuk pelan pundaknya.


"Sudah jam empat Dyfa".Winda mengingatkan Dyfa bahwa jam kerjanya Sudah selesai.


Dyfa melihat jam yang ada di belakang kasir"Maaf kak,aku gak ngeh".Dyfa pun segera menyelesaikan pekerjaannya.


****


Sebelum pulang Dyfa mampir terlebih dahulu ke sebuah ruko.


Di ruko yang berlantai dua yang menjajakan berbagai macam kue dan Roti itu, Dyfa disambut hangat seorang wanita yang sedang melayani pembeli di dalam ruko tersebut.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"jawab semua orang yang ada disana.


Dyfa naik ke lantai dua dan masuk kesebuah ruangan.diapun duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan tersebut.


tak lama kemudian wanita yang tadipun masuk keruangan tersebut.


"kamu kemana aja?"tanya wanita yang bernama Raya itu.dia menyerahkan sebuah buku pada Dyfa.


"sekarang kamu bisa fokus dong.sama usaha kamu".


"Belum saatnya".sahut Dyfa.


"Maksud kamu?".Raya tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.


"Aku tidak mau keluargaku dan keluarga mantanku Tau kalau aku Memiliki beberapa usaha".jelas Dyfa.


Dulu sebelum menikah Dyfa mencoba membuka usaha kecil-kecilan.awalnya dia cuma iseng membuat kue di kontrakan Raya,setelah jadi kue tersebut mereka bagikan pada tetangga.


Respon yang di berikan oleh para tetangga sangat positif dan tak sedikit orang yang memesan untuk acara khusus.


Sedikit demi sedikit usahanya mulai berkembang dan dia berencana berhenti dari pekerjaannya yang hanya menjadi pembantu rumah tangga yang gajinya tak seberapa.


Namun sayang tanpa sepengetahuannya orang tua Dyfa menerima pinangan dari majikannya itu.untuk menikahkan Dyfa dengan putra mereka.


Dyfapun mengurungkan niatnya untuk memberitahu keluarganya tentang usaha yang dia rintis saat itu.


Hal yang sama dia lakukan pada suami dan keluarganya.karena Dyfa ingin memberitahukan mereka pada saat usahanya Sudah lebih maju.


Namun sayang semua itu tidak pernah terjadi karena takdir telah merubah segalanya.


Dan keluarganya masih sama selalu membedakan.apalagi setelah adiknya yang nomor dua menikah dengan seorang Manager,.


Selain Toko yang Memiliki 3 cabang,diapun Memiliki sebuah konfeksi yang baru satu tahun dia rintis.

__ADS_1


Dyfa menatap Raya dengan senyum puas"terima kasih"Ucapnya.


Raya mengernyitkan dahi"untuk......"


"semuanya"Dyfa memeluk sahabatnya itu"jika tidak ada kamu entah apa jadinya aku".


"Hei...."seru seseorang yang baru datang.


Dyfa dan Raya pun melepaskan pelukan mereka dan menoleh kearah suara Tadi.


"kalian benar-benar ya.."ucap Beni suami dari Raya.


"pinjam bentar Bang istrinya."kata Dyfa sambil duduk kembali.


Beni merangkul Raya dengan posesif"cuma Abang yang boleh peluk kamu".


"Abang malu"Raya mencoba melepas rangkulan tangan suaminya.


"Biasa aja kali".sahut Dyfa.


"kamu Sudah ke konfeksi?"tanya Beni.


Dyfa menggeleng"Belum Bang."


"Kenapa?"


"palingan besok,hari ini aku Cape kafe lumayan rame."jelas Dyfa.


"kamu itu ngapain kerja di kafe,usaha kamu sudah maju gini"ujar Beni tidak paham Akan pemikiran sahabat dari istrinya itu.


"Nanti kalo Raya dah hamil".celetuk Dyfa asal.


"Berarti sekarang Dong".ucap Raya penuh kemenangan.


Dyfa langsung mendongak dan melihat Raya dan Beni tersenyum bahagia."MasyaAlloh beneran?".


Raya mengangguk"5 minggu".


"Selamat ya".Dyfa ikut senang Atas kebahagiaan yang di dapatkan oleh sahabatnya itu.


Andai Dulu Ardi tidak penuh dengan kepura-puraan.mungkin saat ini dia tidak Akan keguguran.


Sebuah ketukan di pintu membuat Dyfa tersadar.


"Ada apa na?"tanya Raya pada Ratna salah satu karyawan di Toko kue mereka.


"Di bawah ada pelanggan yang mau pesan beberapa jenis kue untuk acara mbak"jawab Ratna.


Dyfa berdiri dan berjalan kearah pintu lalu menoleh pada Raya dan suaminya"biar aku aja yang menemui pelanggan"ucap Dyfa"kalian bisa puas kangen-kangenannya".


Beni pun mengacungkan jempol pada Dyfa tanda dia setuju.


"Abang ih"Raya memukul pelan lengan suaminya itu karena malu saat Dyfa dan Ratna tertawa cekikikan sambil berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.

__ADS_1


__ADS_2