
Keesokkan harinya Asgar dan Dyfa berangkat menuju kampung halaman neneknya setelah mengambil buah tangan yang dia pesan langsung dari konveksi nya dan juga toko kuenya dengan banyak drama terjadi karena Dyfa membayar semua yang dia pesan walaupun konveksi serta toko kue adalah miliknya sendiri.
Dyfa beralasan bahwa meskipun dirinya pemilik konveksi dan toko kue akan tetapi jika pakaian dan kue yang dia pesan tidak dia bayar maka akan mengurangi pemasukkan pada usahanya.
Asgar yang mengantar istrinya hanya diam menyimak perdebatan Dyfa dengan Deni dan juga Raya.dia hanya tersenyum tanpa mau ikut campur.
"Pantas usahamu berjalan dengan lancar dan memberikan keuntungan yang lumayan besar semua karena sifatmu" kata Asgar sambil menyetir sendiri kendaraannya.
Dyfa menoleh pada Asgar "memangnya sifatku seperti apa?."tanyanya.
"walaupun kamu pemilik konveksi dan toko kue itu tetapi kamu tidak mengambil sesuka hatimu."
"jika aku mengambil secara gratis apalagi dalam jumlah yang banyak,bagaimana aku memberi gaji pada semua karyawan ku." jelas Dyfa.
Asgar tersenyum sambil membelai lembut rambut istrinya "aku bangga sama kamu."
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana namun masih sangat terjaga keasrian nya,Asgar dan Dyfa pun turun dari mobil.
"Assalamualaikum" Asgar dan Dyfa mengucapkan salam bersamaan.
"Waalaikumsalam" jawab seorang wanita paruh baya dari dalam rumah membuka pintu "pengantin baru" pekik wanita itu sambil memeluk tubuh keponakannya.Wanita yang tak lain Bibinya itu begitu senang dengan kedatangan keponakannya itu.
"apa kabar Bi?"tanya Dyfa.
"Alhamdulillah bibi mah sehat, cuma si mamang Agak kacapean" jawab bibinya yang bernama Ibu Mirna "ayo masuk."
Mereka pun masuk ke dalam rumah setelah mengambil buah tangan yang ada di dalam mobil.
"kamu dan suami kamu istirahat dulu"kata Ibu Mirna.
"ya bi" jawab Dyfa lalu mengajak suaminya ke kamar yang dulu dia tempati saat masih tinggal bersama neneknya.
Di dalam kamar Asgar melihat beberapa foto yang ada di dinding.
__ADS_1
"Maaf kalau kamarnya kecil" Dyfa merasa tidak enak pada suaminya.
"aku senang akhirnya aku bisa tau kamar kamu dan kini aku tau apa yang tersimpan disini"goda Asgar sambil menunjuk sebuah foto yang ada dirinya.
Wajah Dyfa memerah dan dia menunduk malu karena ketahuan masih menyimpan foto Asgar waktu masih sekolah menengah pertama dulu.
Asgar sangat suka melihat Dyfa yang tersipu malu seperti itu "apa dulu aku begitu memikat ya?."
"pede"gumam Dyfa sambil membaringkan tubuhnya di ranjang "ah...aku sangat merindukan kamar ini."
Tanpa aba - aba Asgar langsung menindih tubuh Dyfa.
"Mas"seru Dyfa yang terkejut dengan kelakuan suaminya itu.
"bukankah kita harus berbagi tempat tidur" sahut Asgar yang sangat menyukai posisinya saat ini.
"ya,ga gini juga Mas" jawab Dyfa yang mulai merasakan sesuatu yang mulai mengeras di perutnya.
Dyfa memejamkan matanya saat Asgar mencium lehernya "ini masih siang Mas" kata Dyfa dengan nafas yang memburu.
Asgar membungkam mulut Dyfa Dengan mulutnya, dengan lembut dia ******* bibir Dyfa yang sudah menjadi candu untuk nya.
Dengan tidak sabar Dyfa membuka kancing kemeja yang Asgar kenakan dan membelai lembut dada bidang milik suaminya itu.
Asgar melepaskan ciumannya dan bangkit dari tempat tidur,diapun berjalan menuju untuk mengunci pintu kamar.
"Mas"
Asgar melepaskan pakaiannya dan menyisakan ****** ******** saja,hal yang sama dilakukan oleh Dyfa membuat Asgar tersenyum senang karena istrinya pun menginginkannya juga.
Dan terjadilah pergulatan panas di sore hari itu.
****
__ADS_1
"Mang,besok aku sama Mas Asgar mau nyekar ke makam nenek"kata Dyfa pada Paman dan bibinya yang juga orangtua dari sepupunya Deni.saat ini mereka sedang duduk di saung yang ada di depan rumah setelah selesai makan malam.
"mau Mang antar?"tanya Pak Dani.
Dyfa menggelengkan kepalanya "Mamang kan lagi ga enak badan jadi aku sama Mas Asgar aja kesanannya."
"Ya sudah kalau gitu mah."
Bu Mirna datang membawa nampan berisi minuman teh hangat dan juga ubi rebus dan menyimpan nya di tengah - tengah mereka.
"jadi ngerepotin" kata Asgar merasa tidak enak.
"Bibi mah senang kalo lagi ngumpul kayak gini pas lagi panen ubi" sahut Bu Mirna.
"Dina kemana bi?"tanya Dyfa.
"Dia lagi main ke pasar malam"jawab Pak Dani sambil menikmati ubi rebus.
Mata Dyfa langsung berbinar mendengar ada pasar malam "wah,kita kesana ya Mas."
"Ngapain?" tanya Asgar.
"main lah" jawab Dyfa.
"besok lagi aja Neng,ini kan udah malam palingan Dina bentar lagi pulang" ujar Bu Mirna.
Dyfa langsung memasang wajah cemberut "ya."
"jangan cemberut gitu ah" kata Asgar.
Dyfa menepis tangan Asgar yang hendak menarik bibirnya "apaan sih."
Pak Dani dan Bu Mirna sangat senang melihat keponakannya yang terlihat begitu bahagia dengan pernikahannya yang sekarang.mereka hanya bisa mendoakan agar Dyda dan Asgar langgeng sampai kakek dan nenek kelak.
__ADS_1