
keesokan harinya Arsen terbangun dengan kepalanya yang terasa pening karena minuman kemarin . Arsen pun masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air shower.
Bayangan Amara Kiara terus terngiang dipikiran Arsen. Namun Arsen yakin suatu saat Kiara akan luluh dan menerimanya kembali.
setelah siap Arsen pun ke bawah menemui bundanya untuk sarapan.
"nah Dateng juga " ucap bunda Ika ketika melihat putranya.
"ada apa bund?" tanya Arsen heran.
"kemarin bunda ketemu sama Darwin " ucap bunda Ika
"siapa Darwin ?" tanya Arsen heran.
"masa iya kamu nggak tau , darwin tu kakaknya Kiara , temen kamu itu loh. oh ya kemarin kamu bilang semua makanan disana kesukaan calon istri kamu , siapa ? kok belum dikenalin ke bunda ?" ucap bunda Ika panjang lebar.
"bunda sabar dulu ya , Ken pasti kenalin ke bunda " jawab Arsen meyakinkan
'ternyata bunda udah ketemu Kiara ? kok gue belum pernah ketemu sama yang namanya Darwin ' batin Arsen heran.
"oh ya , kamu minum ya kemarin ?" selidik bunda Ika
"hehehehe.....iya , maaf ya bunda " ucap Arsen nyengir.
"huhhhhh makanya kamu cepet nikah , biar ntar bunda nggak ngomelin kamu lagi " ucap bunda Ika dengan nada marahnya .
"ihhh bunda itu-itu aja yang dibahas. udah ah Ken mau berangkat dulu " ucap Arsen berpamitan dan mencium bundanya.
sesampainya didepan rumah ternyata sudah ada Ardan yang setia menunggu kedatangannya , wajah Ardan terlihat kesal karena ia sudah menunggu Arsen dari jam 8 pagi sampai sekarang jam 12 .
"Lo ngapain sih " ucap Ardan kesal
"gue baru bangun , udah ah ayo cepet " ucap Arsen mantap .
"*njay , gue yang capek nunggu sekarang Lo yang nggak sabaran , untung loo bosnya " ucap Ardan kesal.
Arsen hanya tertawa melihat sepupunya itu mengomelinya.
akhirnya mereka berdua berangkat menuju sirkuit , dan sampai disana mereka mendapat informasi bahwa meeting hari ini ditunda.
__ADS_1
"kita mau kemana ??" tanya Ardan polos
"ya kekantor lah , kerjaan masih banyak disana " jawab Arsen dengan nada kesal
"ya oke , Lo nggak usah ngegas gitu juga lah " ucap Ardan tak kalah kesal.
saat mereka akan kembali ke mobil tiba-tiba saja mereka bertemu dengan Kiara yang baru keluar dari sebuah ruangan , ya tepatnya ruang kerjanya dengan saudara-saudaranya .
dengan wajah cueknya Kiara melihat Arsen dan Ardan yang berada di hadapannya.
'huhh, ni orang bakalan buang waktu gue ' batin Kiara geram .
"Ara....." ucap Arsen ingin menggenggam tangan Kiara namun segera dihindari oleh Kiara.
"stop memanggilku dengan nama itu , telingaku panas mendengarnya " ucap Kiara dengan amarah memuncak.
"aku minta maaf , waktu itu aku di....." ucap Arsen menjelaskan dengan tulus.
"aku tidak peduli, yang jelas kau telah mengkhianati ku dan itu didepan mataku sendiri. aku MEMBENCIMU" teriak Kiara menggema
'apa yang sebenarnya terjadi ? siapa Ara ? ada apa sebenarnya dengan mereka berdua 'batin Ardan bingung .
"Ara...." ucap Arsen ingin memeluk Kiara namun segera dihindari oleh Kiara. ucapan Kiara sungguh mengiris hatinya .
"stop.....Kau pergi dari hadapanku , karena aku sangat membencimu" teriak Kiara lagi dengan amarah yang memuncak.
"nona Ale..." ucap Ardan ragu
"kau bawalah bos mu ini " ucap Kiara kepada Ardan sambil mengusap air matanya dan masuk kembali ke ruangannya.
Arsen menjatuhkan tubuhnya kasar , ia tak menyangka akan bertemu dengan Kiara seperti ini. air mata Arsen menetes membuat Ardan terkejut.
"ayo kita pulang " ucap Ardan lembut , karena ia tahu bahwa sepupu sekaligus atasannya itu sedang tidak baik-baik saja.
Arsen pun mengikuti ucapan Ardan , namun sebelum pergi ia melihat pintu ruangan Kiara dengan tatapan yang sulit diartikan .
didalam ruangannya Kiara menatap kosong sambil air mata terus mengalir di pipinya.
'lo nggak tau gimana menderitanya gue karena perbuatan Lo sen , gue nggak tau sampe kapan gue akan benci sama Lo .' batin Kiara menangis.
__ADS_1
Kiara segera menghapus air matanya dan menempelkan sesuatu kematanya agar tidak terlihat bengkak dan merah.
sesampainya di rumah , Arsen masih saja setia dengan tatapan kosongnya , bahkan ia tak menghiraukan keberadaan bunda Ika yang menatap heran dirinya karena pulang begitu cepat .
tanpa basa-basi Arsen masuk ke kamarnya , sedangkan Ardan ditahan oleh bunda Ika .
"ada apa ? kalian bertengkar lagi ?" tanya bunda Ika menyelidik Ardan .
"bunda tanya saja langsung sama Arsen , aku mau istirahat dulu " ucap Ardan langsung menuju kamar yang disediakan bunda Ika untuk dirinya.
karena sedikit demi sedikit Ardan paham dengan apa yang terjadi .
'ternyata Arsen sama nona Ale pernah punya hubungan . tapi kenapa nona Ale sangat membenci Arsen ' batin Ardan bertanya-tanya sambil merebahkan tubuhnya.
"ini kenapa sih ? apakah ara adalah panggilan Arsen ke nona Ale ? tapi aku tidak pernah tahu kalau Arsen pernah punya hubungan dengan yang namanya Ara . terus kenapa nona Ale sangat membenci Arsen , bahkan matanya sampai merah karena amarahnya , dan tadi nona Ale bilang penghujatan , terus penembakan . sebenarnya apa yang terjadi sih ???? ." ucap Ardan bertanya-tanya pada dirinya sendiri .
"tunggu-tunggu , Arsen kan Humaira dulu pernah koma karena tertembak setelah pulang dari kompetisi internasional itu " ucapnya lagi heran .
"dulu Arsen setim dengan wanita yang namanya Kiara Harvey , Kiara ,,haaaaa Ara adalah Kiara. " ucap Ardan terkejut dan langsung berlari menuju ruang kerja Arsen.
Ardan mencari-cari album foto yang pernah ditunjukkan oleh Arsen 6 tahun lalu.
"nah ketemu " ucap Ardan antusias.
Ardan membuka album foto itu dan ternyata isinya adalah kenang-kenangan dari the guns.
"tuh kan benar , nona Ale adalah Kiara . tapi disetiap foto mereka terlihat selalu bahagia tetapi kenapa hari ini aku melihat kebencian yang besar di mata nona Ale dan penyesalan dari Arsen . apa Arsen pernah hianati nona Ale ??" ucap Ardan bertanya-tanya.
Ardan pun kembali ke kamarnya dan melanjutkan istirahatnya , memikirkan hubungan nona Ale dengan Arsen membuatnya pusing.
Bunda Ika heran Dnegan tingkah kedua lelaki itu , ditambah lagi ia semakin heran ketika Ardan berlari menuju ruang kerja Arsen.
akhirnya bunda Ika pun memilih untuk menghampiri putranya , karena jika mereka berdua bertengkar , langkah yang tepat adalah menenangkan Arsen. karena Arsen memiliki emosi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Ardan .
Bunda Ika membuka pintu kamar Arsen yang tidak terkunci. Dari ambang pintu bunda Ika melihat Arsen sedang mer*k*k di balkon kamarnya sambil menyandarkan tubuhnya .
'nggak biasanya Ken seperti ini ' batin bunda Ika heran.
biasanya jika Arsen bertengkar dengan Ardan atau siapapun ia akan langsung tertidur untuk menenangkan pikirannya , namun sekarang berbeda.
__ADS_1
"Ken......