
Sore hari Dyfa mendapatkan telepon dari ibunya yang mengabarkan bahwa ayahnya sedang sakit,Dyfa meminta ijin pada Ibu Misya untuk mengunjungi ayahnya sebentar.setelah mendapatkan ijin Dyfa pergi ke rumah orangtuanya dengan diantar oleh supir pribadi ibu Misya.
Sesampainya di rumah orangtuanya Dyfa terkejut karena ternyata disana ada Ardi dan ibu Silva.
"Ayah mana Bu?".tanya Dyfa pada ibunya.
"ayahmu lagi ke Bandung" jawab ibu Ami lalu menghampiri Dyfa dan membawanya untuk duduk di samping Ardi.
"Tadi ibu bilang ayah sakit"kata Dyfa pikirannya mulai tak tenang.
"kalau ibu ga bilang begitu mana mau kamu kemari".sungut ibu Ami.
Ibu Silva tersenyum sinis pada Dyfa"kamu itu so sibuk banget sih".
"aku memang sibuk Tante".timpal Dyfa rasa hormatnya sudah berkurang pada wanita yang ada di hadapannya itu.
"Dyfa,kamu yang sopan kalo bicara"tegur Ibu Ami.
Dyfapun bangkit"karena ayah tidak ada jadi aku pulang saja Bu".
Ibu Ami dengan cepat mencegah Dyfa pergi"kamu tuh ya ada tamu juga".
"mereka tamu ibu".
ibu Silva menatap marah pada Dyfa "kita ini datang Baik - baik kemari".
Ardi menghampiri ibunya dan mencoba menenangkannya "Bu,jangan emosi".
"masih bagus kamu mau rujuk sama dia,tapi malah ngelunjak".kata Ibu Silva marah.
"rujuk?" tanya Dyfa tidak percaya.
Ardi mengangguk "ya Dyf,kita mencoba lagi dari awal hubungan kita".
"Apa kalian pura - pura tidak tau?" tanya Dyfa yang kesal pada mereka yang ada di hadapannya ini "aku akan menikah tiga hari lagi".
"sudahlah Dyf,kalo kamu menikah dengan Asgar banyak yang akan kecewa".ujar Ibu Ami.
Dyfa tertawa "siapa yang kecewa Bu?".
"ya ibu,ibu Silva dan nak Ardi"jawab ibu Ami
Ardi meraih tangan Dyfa "beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua nya dan memulainya lagi dari awal".
Sebelum Dyfa menjawab seseorang bertepuk tangan melihat drama di dalam rumah tersebut.sontak semuanya menoleh.
Dyfa menghempaskan tangan Ardi dan berjalan menuju pintu dimana Asgar sedang menatap tajam pada dirinya "Mas".
Asgar mengangkat tangannya pada Dyfa agar tidak berbicara "jadi ini yang membuatmu datang kemari tanpa memberitahu ku".
Dyfa menggelengkan kepalanya "Maaf".
__ADS_1
Ibu Ami dengan gugup menghampiri Asgar dan Dyfa "nak,Asgar silahkan masuk".
"maaf kalo saya kurang sopan Bu,tapi saya datang kemari untuk menjemput calon istri saya"kata Asgar sambil melirik pada Ardi.
"begini nak Asgar"kata ibu Silva yang tau jika pria yang ada dihadapannya itu adalah pengusaha muda yang cukup sukses "kami hanya ingin bersilaturahmi dengan Dyfa dan ibunya".
Ardi menghela nafas panjang mendengar perkataan ibunya.
"apa kau akan tetap di sini?" tanya Asgar pada Dyfa yang berdiri di samping nya.
"tidak"Dyfa pun mengucapkan salam tanpa menoleh pada ibunya"Assalamualaikum"diapun keluar menuju mobil yang mengantarnya tadi.
"saya permisi Assalamualaikum"Asgar pun pergi menyusul Dyfa.
"Waalaikumsalam".
Ardi hanya bisa menatap kepergian Dyfa dengan tatapan sendu tanpa bisa mengejarnya dan kesempatan untuk rujuk pun benar - benar sudah tidak ada lagi,dia pun mengajak ibunya berpamitan pada ibu Ami. karena sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.
****
Dyfa kembali ke kediaman Wirayudha dengan sopir yang tadi mengantarnya sedangkan Asgar sendiri kini pulang ke rumah kakaknya dengan perasaan marah dan kesal.
"Assalamualaikum"Dyfa mengucapkan salam saat dia masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam"jawab ibu Misya yang baru keluar dari kamarnya lalu menghampiri Dyfa.
"Bunda".
Tanpa menjawab pertanyaan dari calon mertuanya,Dyfa langsung memeluk ibu Misya.
Ibu Misya mengusap pelan punggung Dyfa "Ada apa?."
"ngga apa - apa bunda,cuma pengen peluk bunda aja"jawab Dyfa.
"kamu sudah makan belum?."
"sudah bunda."Dyfa pun melepaskan Pelukannya.
"YA,sudah sekarang lebih baik kamu istirahat."
"ya bunda."
setelah membersihkan diri,Dyfa mengambil handphonenya lalu duduk di pinggir ranjang.diapun mencoba menghubungi Asgar,berkali - kali dia menghubungi pria itu namun tak juga di jawab.
Dyfa menyimpan handphonenya di atas nakas ,
matanya menatap lurus keluar jendela.dia sangat yakin jika Asgar pasti sedang marah sekarang.
Jika saja dia menghubungi ayahnya terlebih dahulu dan memastikan apa yang dikatakan oleh ibunya benar atau tidak, karena khawatir dia tidak berpikir ke arah sana.
Entah bagaimana caranya untuk bisa menjelaskan pada Asgar kalau dirinya tidak tau ibunya ternyata bohong hanya untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Asgar menatap handphonenya yang tak lagi menyala.dia sangat kecewa dengan sikap Dyfa yang tak mau memberitahunya terlebih dahulu saat akan ke rumah orangtuanya.
Asgar berjalan ke taman yang ada di belakang rumah kakaknya dan duduk di kursi taman.
Andai dia tak menyusul Dyfa mungkin dia takkan sekecewa ini melihat tangan Dyfa sedang dipegang oleh Ardi. tetapi jika tidak dia susul mungkin hati Dyfa akan goyah dan kembali rujuk pada mantan suaminya.
Dengan kesal dia mengacak - acak rambutnya, dia benar - benar frustasi dengan pemikirannya itu.
Asrul yang sejak tadi memperhatikan tingkah adiknya itu hanya bisa geleng kepala "dasar bodoh ."
"Siapa yang bodoh?."tanya Tiara yang menghampiri suaminya yang sedang berdiri di dekat jendela ruang keluarga.
"tuh" tunjuk Asrul ke arah taman "dari tadi kayak orang stres."
Tiara memukul pelan lengan suaminya "jangan ngatain adik sendiri stres."
"daripada lihat orang stres mending kita buat adik untuk Arka," bisik Asrul pada istrinya.
"masih sore juga" gumam Tiara dengan wajah yang memerah.
Asrul merangkul istrinya dan mengajaknya menuju kamar mereka.
Dan Asgar masih enggan beranjak dari taman,dia menengadahkan kepalanya dan memandang langit yang cerah dan membuang nafas kasar.
ponsel yang sedari tadi di p,3egangnya bergetar, dia tersenyum ketika nama calon istrinya yang muncul di layar ponselnya.
[*A*ssalamualaikum Mas]
"Waalaikumsalam" jawabnya dengan nada datar,dia tidak ingin Dyfa tau jika dirinya menunggu telepon darinya.
[Maaf jika aku mengganggu istirahat kamu Mas.]
"apa yang mau kamu bicarakan?."tanya Asgar to the point.
[apa kamu masih marah sama aku?.]
"marah?" ulang Asgar "kau pasti tau bagaimana perasaan ku dianggap tidak penting oleh orang yang aku cintai!." katanya dengan sedikit kesal.
[maaf, aku tidak bermaksud seperti itu]
"andai kamu bilang padaku mungkin kamu akan tau jika ayahmu baik - baik saja" jelas Asgar.
[Aku memang bodoh,maaf]
"tidak perlu meminta maaf lagi,sudah malam aku capek".
[kalau begitu selamat beristirahat.Assalamualaikum]
"Waalaikumsalam"jawab Asgar dan sambungan telepon pun terputus.dia memejamkan matanya seraya bergumam mengatai dirinya sendiri "bodoh."
Seharusnya dia tidak berkata seperti itu namun gengsinya terlalu tinggi.
__ADS_1