
Asgar termenung sambil menatap handphone yang dia pegang sejak Tadi.
Yang ada di pikirannya saat ini Dyfa pasti marah dan kecewa karena dia pergi begitu saja tanpa berpamitan sama sekali,tapi seharusnya dia yang marah bukan!.
"Ah,sudahlah besok aku akan menemuinya ".gumam dia sambil berbaring di tempat tidur nya.Asgar memejamkan matanya dan berharap saat bangun pagi nanti pikirannya lebih segar.
****
Raya datang ke Toko pagi - pagi dan langsung menghampiri Dyfa yang sedang membuat adonan.
"Tau ga Dyf.."
"ga Tau" Ucapnya buru - buru memotong ucapan sahabatnya itu.
Raya memukul pelan lengan Dyfa Yang tertawa melihatnya memasang wajah cemberut."kamu ini".
"WAALAIKUMSALAM bumil" Dyfa mengingatkan sahabatnya yang lupa mengucapkan salam.
Raya terkekeh "Assalamu'alaikum".
"emangnya bawa gosip apa Sampai lupa salam?" tanya Dyfa.
"enak aja gosip".Raya menggerutu kesal namun sekian detik kemudian moodnya berubah "ini Fakta, si Ardi berencana gugat cerai si Riana".
"teruus..."
"katanya si Riana ketauan sama cowo dikamar hotel". ucap Raya.
"oh".
"kok cuma "oh" sih" Raya agak kesal pada sahabatnya itu.
"aku ga mau tau soal mereka".
"aku kemarin malam ga sengaja ketemu Ardi". kata Raya memberitahukan.
"apa hubungannya Dengan aku?".tanya Dyfa sambil menyimpan kue ke dalam oven.
"Dia nanyain kamu tinggal dimana sekarang".
"kamu beritahu dia?".
__ADS_1
"Engga lah,enak aja aku dan suamiku bilang ga tau".
Dyfa menyodorkan kue yang sudah matang pada Raya "cobain deh,resep baru".katanya mengalihkan pembicaraan soal mantan suaminya.
Raya langsung memakan kue itu dan bertepuk tangan "enak banget kuenya".
"itu kue khusus untuk aku bagikan di tanggal berdirinya toko kue".kata Dyfa,pikirannya menerawang bagaimana dulu saat dia masih menyewa ruko untuk toko kuenya,dia berkeliling menjajakan kuenya sehabis bekerja menjadi ART ke sekolahan,kampus,pabrik dan perumahan sambil mempromosikan toko kuenya.
Berbulan - bulan dia lakukan semua itu dgn bantuan sahabatnya yang bertugas menjaga toko kue saat dia berkeliling.
Raya memeluk Dyfa "sekarang kau sudah mendapatkan pencapaian yang luar biasa".
"tapi aku merasa kekosongan di hati ini".ucap Dyfa lirih.
"Aku yang akan mengisi hatimu dan pikiranmu" bukan Raya yang berbicara tetapi seseorang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kedua sahabat itu tanpa ingin menyela.
Dyfa dan Raya berbalik dan terkejut setelah dengan seseorang yang sedang berdiri di pintu dapur.
Raya mengambil piring yang ada di tangan Dyfa dan mengajak Tita yang baru selesai memanggang kue keluar.
Dyfa melanjutkan pekerjaannya dan mengacuhkan keberadaan Asgar.
"tidak" jawab Dyfa ketus.
"seharusnya aku yang marah".
Dyfa berbalik menghadap pria itu "kenapa kau marah padaku?".
"karena kau marah padaku".
Dyfa mengernyitkan dahi "Aku..."sebelum Dyfa melanjutkan perkataannya Asgar langsung membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya.
Asgar menarik tengkuk Dyfa dan ******* bibir wanita pujaannya itupun hanya sebentar lalu ia melepaskannya.
Dyfa pun berbalik dan menutup wajahnya yang malu dengan kedua tangannya yang di salah artikan oleh Asgar.
"maaf,aku bukan orang yang pintar merangkai kata cinta" kata Asgar sambil meraih tangan Dyfa membuat mereka berhadapan dan saling menatap satu sama lain "aku hanya ingin kamu tau aku sayang kamu dan aku peduli sama kamu".
Dyfa melihat kejujuran di mata Asgar yang membuat hatinya bergetar.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan mu setelah kejadian kemarin" ujar Asgar.
__ADS_1
"kamu bilang kamu peduli sama aku tapi kamu tidak bisa memahami isi hati ku".
Asgar menarik Dyfa ke dalam pelukannya "aku hanya ingin kau bisa berkumpul bersama keluarga mu".
Dyfa melingkar kan tangannya di pinggang pria itu"aku belum siap".
"baiklah aku tidak akan memaksa".
****
Setelah makan siang Asgar dan Dyfa pergi ke konfeksi untuk mengambil pakaian pesanan dari Ibu Misya.
"besok aku akan menjemputmu".
"Aku malu jika hadir di perayaan ulang tahun orang tua mu" Dyfa merasa tidak pantas berada diantara keluarga Wirayudha, dirinya yang hanyalah seorang wanita yang tidak berpendidikan dan keluarga Wirayudha yang terpandang.
Asgar tersenyum "kamu tidak perlu malu,kamu calon nyonya Asgar Wirayudha dan kamu juga seorang pengusaha yang memiliki beberapa toko kue dan sebuah konfeksi".
Dyfa menatap Asgar dengan kesal "siapa yang mau jadi nyonya Asgar?".
Asgar hanya tertawa melihat kekasihnya yang sedang kesal,semenjak kejadian di toko kue tadi dia memutuskan mulai hari ini mereka menjadi sepasang kekasih.
Setelah mengambil pesanan,Asgar membawa kekasihnya itu ke rumah orangtuanya.dan seperti biasa Dyfa langsung di bawa oleh Ibunya masuk kedalam rumah meninggalkan dirinya di depan rumah.
"yang anaknya itu aku atau Dyfa" gerutu nya.
Ibu Misya mengajak Dyfa untuk mencoba pakaian seragam khusus untuk acara nanti,Dyfa tidak menyangka ternyata Ibu Misya memesankan satu untuk nya.
"Mbak Dyfa,besok kita ke salon sama- sama ya" ajak Amira sambil mencoba seragam untuknya.
Seragam yang dibuat untuk pesta kali ini berupa kebaya modern dengan desain yang berbeda - beda dan Dyfa sangat bersyukur keluarga Wirayudha puas akan kerja konfeksinya.
'aku harus memberikan bonus untuk karyawan konfeksi'pikir Dyfa.
"kamu akan berangkat bersama kami".ucap Ibu Misya.
"Tapi Tante"…
Ibu Misya menggelengkan kepala tak ingin di bantah "harus".
Dyfa hanya bisa pasrah tapi hatinya di penuhi kebahagiaan karena dirinya diterima baik oleh keluarga Wirayudha.
__ADS_1