Aku Pasti Bisa

Aku Pasti Bisa
part 9


__ADS_3

Keesokan harinya Dyfa memutuskan pergi sendiri ke rumah orang tuanya.meskipun Asgar memaksa untuk ikut tapi Dyfa meyakinkan kekasihnya itu bahwa masalah dirinya dan juga orang tua nya harus diselesaikan oleh mereka sendiri.


Dengan berat hati Asgar mengikuti keinginan Dyfa tapi dia percaya Dyfa mampu bersikap lebih dewasa.


Dyfa menghentikan sepeda motornya di depan rumah orang tuanya.dia menarik nafas dalam - dalam dan meyakinkan Diri sendiri semua akan baik - baik saja.


Dia berjalan ke arah pintu masuk yang sedikit terbuka dan mengetuk pintu serta mengucapkan salam.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"sahut semua yang sedang berkumpul di ruang depan.


Syfa membuka pintu dan mempersilahkan Dyfa masuk.


Dyfa duduk di salah satu kursi yang ada diruang tamu.


"kamu masih punya muka datang kemari".sindir ibu Ami.


Dyfa tersenyum kecut "apa salahnya Bu,jika seorang anak ingin mengunjungi orangtuanya".


"anak tuh ngunjungin orang tuanya bawa buah tangan kayak Syfa dan suaminya".kata ibu Ami yang selalu membandingkan Dyfa dengan Syfa.


Dyfa mengeluarkan Amplop coklat dari tasnya dan menyerahkan pada ibunya"maaf,aku tidak sempat berbelanja jadi ibu bisa membeli apa yang ibu mau".


Ibu Ami langsung melihat isi amplop itu dan terkejut melihat isinya.


"Bagaimana kabarmu Dyf?" tanya pak Doni pada putri sulungnya yang beberapa waktu tak berjumpa.


"Alhamdulillah baik pak"jawab Dyfa "apa ayah masih rutin berobat?".


"ya"


Syfa menatap heran pada ibunya "Bu,kenapa?".


Ibu Ami menunjukkan isi amplop yang diberikan oleh Dyfa "kamu bisa mendapatkan uang sebanyak ini dari mana?ga mungkin kan ini uang gaji kamu sedangkan kamu pergi dari rumah ini baru beberapa bulan".


"jangan- jangan teteh morotin Mas Asgar kan!"celetuk Syfa.


Dyfa menghela nafas "uang itu teteh dapatinnya dengan cara yang halal dan hasil kerja keras teteh selama ini".


"ga mungkin ah" kata Dimas yang sejak tadi diam sambil memainkan handphonenya.

__ADS_1


"sudah - sudah jangan bicara sembarangan"kata pak Doni mencoba mencairkan suasana.


"terserah kalian mau percaya atau tidak" ujar Dyfa lalu menatap Syfa "kemarin teteh kirimkan beberapa barang mudah - mudahan kamu suka".


"terima kasih teh" ucap Syfa dengan malas namun mendapat pelototan dari suaminya.


"teh,kata Asgar katanya dia mau ngelamar teteh secepatnya?" kata Irfan yang sedari Tadi diam.


"Bukannya Fitri suka sama Asgar?".tanya ibu Ami.


"cinta tidak bisa di paksakan bu".


"ya,tetep aja kan...".


"apa Ibu ga mau punya menantu yang seorang pengusaha?" tanya Dyfa mulai Geram pada Ibunya.


"Dyfa,kamu ga boleh jadi pelakor".


Dyfa bangkit dari duduknya dan menatap tajam pada Ibunya"cukup bu,Sudah cukup Ibu memperlakukan aku seperti anak tiri".


"kamu marah sama ibu?,ibu bicara Fakta".


"Faktanya Ibu cuma ingin hancurin hidup aku".pekik Dyfa "Ibu sejak Dulu selalu ngebedain aku sama Syfa dan Dimas,seolah - olah aku tuh bukan anak kalian".


"Assalamualaikum.maaf,jika saya kurang sopan masuk tanpa ijin" ujar Asgar pada orangtua Dyfa tanpa melepaskan pelukannya"tapi saya tidak suka melihat orang yang saya cintai terus di tekan".


Semua terkejut melihat Asgar masuk dan memeluk Dyfa tanpa permisi "nak Asgar Ibu cuma merasa keluarga kami tidak pantas saja" kata Ibu Ami.


"Ibu tidak berhak menentukan pantas atau tidak pantas siapapun untuk saya".Asgar mencoba tidak terbawa emosi.


Fitri yang baru tiba langsung menghampiri Asgar "Mas Asgar itu ga pantes sama perempuan kayak teH Dyfa".serunya "udah ga berpendidikan janda pula".


Dyfa semakin mengencangkan pelukannya pada Asgar mendengar hinaan dari Fitri,semakin sakitlah hatinya saat keluarganya tidak ada yang bersuara untuk membelanya.


"lalu kamu,berpendidikan tapi memiliki mulut sampah"ejek Asgar.


Fitri memegang lengan Asgar "Mas,aku yang lebih dulu suka sama kamu".


Dengan kesal Asgar menghempaskan tangan Fitri di lengannya "sia - sia kamu datang kemari Dyf"bisiknya pada Dyfa.


"sudah - sudah seharusnya kita tidak membicarakan hal ini" ucap pak Doni mencoba menenangkan emosi semuanya.

__ADS_1


"Tadinya saya ingin melamar Dyfa secara baik-baik hari ini namun sepertinya saya harus mengatakan ini pada kalian bahwa dengan atau tanpa restu kalian saya akan tetap menikahi Dyfa 3 Minggu dari sekarang dan saya tunggu kesiapan anda pak Deni sebagai wali ".ujar Asgar tegas.


"kami permisi Assalamualaikum"Asgarpun membawa Dyfa keluar dari rumah itu.


"motorku".kata Dyfa saat hendak masuk ke mobil Asgar.


Asgar menghela nafas kasar "aku ga bawa supir sayang".


Tanpa banyak bicara Dyfa naik ke atas motornya "aku akan pulang ke ruko". dia langsung menghidupkan mesin motor dan pergi mendahului Asgar.


"untung sayang"gumam Asgar sambil membuka pintu mobil dan menyusul kekasihnya itu.


sementara di dalam rumah Fitri marah - marah setelah mendengar bahwa mereka akan menikah.


"aku ga rela jika harus begini jadinya".


Syfa sebenarnya merasa senang kakaknya akhirnya mendapatkan seseorang yang baik seperti Asgar,akan tetapi dia tidak ingin bertentangan dengan keluarga suaminya.


Pak Denipun merasakan hal yang sama dengan Syfa dan berniat menemui Asgar secepatnya karena dia tidak tau tempat tinggal putri sulungnya itu sekarang.


"aku heran ya pak,kok nak Asgar segitunya ya sama Si Dyfa"kata ibu Ami masih memikirkan apa yang terjadi barusan.


Dimas mengangguk setuju" tapi bagaimana teh Dyfa bisa kenal sama Asgar ya"


"permisi saya mau istirahat" tanpa menunggu jawaban dari kedua mertuanya Irfan bangkit dan pergi ke kamar Syfa karena dia sudah malas ikut bergabung dalam pembicaraan keluarga istrinya itu.


"paman tolong dong bantu supaya teh Dyfa jauhin Mas Asgar"pinta Fitri memelas.


"cinta tidak bisa di paksakan"ujar Pak Deni sambil berlalu ke mna bingung harus bagaimana."ucap ibu Ami " beberapa hari yang lalu Ardi datang dan mengutarakan niatnya untuk rujuk sama Dyfa".


Fitri tersenyum mendengar penuturan dari ibu Ami" bagaimna kalo kita bikin teh Dyfa balikan sama Ardi?".usulnya.


"aku lelah mau istirahat"Syfa bangkit dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"bibi gimana?".tanya Fitri.


ibu Ami mengangguk setuju "lagipula dia kayaknya nyesel banget cerein si Dyfa gara- ibunya dia harus kehilangan anaknya"


Mereka berdua segera menyusun rencana supaya Dyfa dapat bertemu dengan Ardi secara kebetulan,ibu Ami membuka blokiran nomor ponsel Dyfa yang dia lakukan saat pengusiran waktu itu.


tanpa ada rasa penyesalan dari ibu Ami untuk membuat Dyfa dan Asgar berpisah padahal banyak yang sudah Dyfa lakukan untuk keluarganya termasuk membayar uang kuliah Dimas tanpa sepengetahuan mereka karena yang Mereka pikir itu uang kompensasi yang diberikan oleh Ardi dulu saat berpisah dengan Dyfa.

__ADS_1


Karena uang yang diberikan Ardi selain Dyfa belikan sepeda motor ,uang yang dia berikan pada orangtuanya tak sebanyak yang mereka pikirkan.


__ADS_2