
Musim dingin telah tiba,Xinyi yang masih tidur dengan pulas.Dia merasa dingin menerpa tubuhnya,namun tubuhnya tiba-tiba merasakan kehangatan saat ini.Seseorang memeluk tubuhnya dan membuat dia merasakan kehangatan.Xinyi membuka ke dua matanya perlahan,dia terkejut saat ini melihat Jansen yang memeluknya begitu erat.
Xinyi tidak tau sama sekali tentang Damian yang tiba-tiba berada satu ranjang dengannya,dia merasakan sensasi panas di wajahnya saat ini.Karena Damian begitu sangat dekat dengan dirinya,Xinyi tersenyum karena Damian berada di dekatnya saat ini.Xinyi kini teringat dengan luka Damian,dia merubah ekspresinya saat ini.Xinyi tidak boleh luluh dengan Damian,dia harus membalaskan rasa sakitnya terhadap Damian.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"Tanya Xinyi,dia membangunkan Damian.
"Hmmm."Balas Damian yang masih memejamkan matanya.
"Kamu pergi dari sini,aku tidak ingin kamu ada di sini."Usir Xinyi,dia melepaskan pelukan Damian.
"Aku ingin di sini bersama istriku."Ucap Damian,dia masih memejamkan matanya saat ini.
"Kamu menggangguku,aku ingin tidur dengan nyenyak."Protes Xinyi,agara Damian pergi.
"Stt,diamlah.Kita tidur bersama,rasanya begitu dingin saat ini."Ucap Damian,merasa tubuhnya sangat dingin.
Xinyi malah di peluk Damian kembali,apalagi Damian memeluknya begitu erat saat ini.Xinyi benar-benar tidak bisa bergerak saat ini,rasanya dia begitu kesal dengan sikap Damian yang seenaknya.Xinyi menatap Damian yang masih memejamkan matanya dan dia saat ini hanya pasrah dengan sikap Damian yang seperti ini.
Xinyi memilih ikut memejamkan matanya,karena merasa suhu udaranya begitu dingin.Xinyi merasakan kehangatan dalam pelukan Damian,dia mulai terlelap dan tidur begitu saja di dalam pelukan Damian saat ini.
Damian yang tidak merasakan pergerakan Xinyi dalam pelukannya,dia membuka kedua matanya dan melihat Xinyi yang tidur kembali di dalam pelukannya.Damian tersenyum,karena Xinyi tidak mendorong dan memberontak sama sekali di dalam pelukannya saat ini.Damian memilih memejamkan matanya kembali dan mempererat pelukannya saat ini.
__ADS_1
Sedangkan di luar istana,mereka begitu sibuk membuat jalan agar terlihat.Karena jalanan terhalang dengan banyaknya salju,semua benar-benar begitu kedinginan saat ini.Mereka berjuang dengan keras menyelesaikan pekerjaannya,agar bisa masuk ke dalam dan mendapatkan kehangatan di tubuh mereka.
"Dingin banget."Ucap Jiwei,dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
"Kamu benar,andai saja tidak ada pekerjaan.Aku lebih baik tidur sekarang."Balas Xintian,dia sedang membagikan sandang dan pangan untuk rakyat saat ini.
"Kamu benar,ayo kita selesaikan semuanya.Aku ingin kembali ke istana dan berdiam di depan perapian."Ajak Jiwei,agar mereka menyelesaikan pekerjaannya.
Mereka bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka,setelah itu mereka kembali ke istana.Karena merasa butuh kehangatan dalam tubuh mereka saat ini,apalagi tubuh mereka begitu dingin saat ini.
...****************...
Jansen begitu merindukan Xinyi,andai Xinyi sudah menjadi miliknya.Mungkin,dia saat ini sedang menghangatkan tubuhnya bersama Xinyi.Jansen begitu rindu melihat wajah Xinyi,bahkan dia begitu rindu dengan tawa Xinyi saat ini.Jansen menghela nafasnya dengan kasar,dia bisa gila hanya membayangkan Xinyi saat ini.Jansen merasa harus bertemu Xinyi saat ini,dia tidak perduli dengan tumpukan salju saat ini.
"Pasti kakak memikirkan ratu Xinyi bukan?"Tanya Rose,dia tiba-tiba masuk ke kamar Jansen.
"Benar,lagi pula kakak begitu merindukannya saat ini."Jawab Jansen,dia blak-balakan mengungkapkan isi hatinya di depan sang adik.
"Jangan mengambil resiko dengan diri kakak saat ini,aku tidak setuju jika kakak punya pemikiran untuk bertemu dengan ratu Xinyi di saat jalanan di tumpuk salju saat ini."Ucap Rose,dia tidak ingin kakaknya bertindak bodoh.
"Tapi kakak merindukannya,siapa tau dia juga memikirkan aku."Balas Jansen dengan kekeuh.
__ADS_1
"Aish,aku tidak habis pikir dengan kakak.Aku perhatian dengan kakak,karena aku menyayangi kakak.Aku tidak ingin melihat kakak yang terluka lagi,jadi kakak lebih baik diam di istana untuk saat ini."Ujar Rose,dia tidak ingin kakaknya kenapa-kenapa.
"Kamu khawatir terhadap aku,bukan takut aku di jadikan sandera oleh negara lain kan."Ungkap Jansen dengan sarkas.
"Aku tidak takut sama sekali,lagi pula kakak bisa melindungi diri kakak sendiri.Aku iri dengan kakak yang bisa belajar bela diri,sedangkan aku hanya harus mengerjakan setumpuk lembaran kertas yang membuat diriku menderita."Balas Rose,mengungkapkan keluhannya di hadapan Jansen.
"Maaf,kakak tidak bermaksud seperti itu."Ucap Jansen,dia membuka kedua tangannya saat ini.
Rose masuk ke dalam pelukan kakaknya,dia begitu rindu dengan kelembutan sang kakak.Mereka sudah lama tidak berpelukan seperti ini,apalagi dirinya sibuk mengurus urusan negara.Sedangkan kakaknya,dia sibuk kabur dari istana.Rose berkaca-kaca saat ini,dia begitu merindukan masa kecilnya bersama Jansen saat ini.
"Aku rindu masa kecil kita."Ucap Rose,dia tiba-tiba menangis di dalam pelukan sang kakak.
"Hey,jangan menangis.Lagi pula,kita tidak bisa seperti dulu lagi.Kita sama-sama memiliki beban di pundak kita saat ini,kakak juga merindukan masa kecil kita saat itu.Apalagi,kakak ingin melihat kamu terjatuh saat berusaha naik ke atas pohon untuk mengambil sebuah buah di pohon."Ucap Jansen,dia mengingat kejadian adiknya saat itu.
"Sungguh memalukan,kenapa kakak harus mengingatkannya kembali sih."Protes Rose,dia melepaskan pelukannya.
"Kakak masih ingat kamu terjatuh dan menangis dengan kencang,bahkan posisi kamu terjatuh begitu membuat kakak terbahak-bahak saat itu."Ucap Jansen,dia mengingat Rose yang jatuh tersungkur ke tanah dan wajahnya kotor.Bahkan dia mengingat dengan jelas,ada rumput yang menempel di rambut adiknya saat itu.
"Sudahlah,kakak malah membuat aku kesal dengan mengingat kejadian seperti itu."Protes Rose,dia tidak ingin mengingat kejadian memalukan di hidupnya.
Jansen tertawa melihat sang adik yang marah saat ini,bahkan sang adik langsung pergi begitu saja di hadapannya.Jansen merasa senang melihat wajah adiknya yang kesal,dia terdiam untuk sesaat.Jansen merindukan mereka saat kecil,bahkan dia rindu dengan tawa hangat dalam diri mereka sekarang.Kini Jansen mendekat ke perapian,dia melepaskan rasa dinginnya saat ini.Membiarkan tubuhnya,merasakan kehangatan dengan api di dalam perapian.
__ADS_1