
Xinyi membuka ke dua matanya,dia melihat ke sekelilingnya.Dia tidur di ranjang,dia berpikir mungkin Jansen yang membawa dirinya ke kamar.Dia langsung duduk,namun rasanya lehernya begitu sakit saat ini.
"Apa aku salah tidur."Gumam Xinyi,merasa tidak bisa menengok ke sebelah kanan.
Xinyi merintih kesakitan,karena lehernya begitu sakit saat ini.Xinyi memilih menidurkan dirinya kembali,dia begitu bingung saat ini harus bagaimana.Dia tidak bisa bergerak bebas saat ini,apalagi lehernya begitu menyakitkan.
Jansen yang sudah menyiapkan makanan untuk mereka,dia masuk ke dalam kamar mencoba membangunkan Xinyi.Dia melihat Xinyi yang sudah bangun,namun dia heran dengan Xinyi yang tidak keluar dari kamar.
"Ayo kita makan."Ajak Jansen,dia mendekat ke arah Xinyi.
"Leher aku sakit,sepertinya aku salah tidur."Balas Xinyi,dia menatap Jansen dengan rasa sakit di lehernya.
"Yasudah,kamu bangun dulu."Perintah Jansen,dia mengulurkan tangannya terhadap Xinyi.
Xinyi menerima uluran tangan Jansen,dia langsung bangun.Namun saat ini,dia merasa lehernya begitu sakit.Dia tidak tau harus berbuat apa,karena lehernya benar-benar sakit saat ini.
"Sakit."Rintih Xinyi,dia memegang lehernya.
Jansen langsung duduk di belakang Xinyi,dia memegang leher Xinyi dan memijatnya.Jansen mendengar rintihan Xinyi yang kesakitan,dia merasa tidak tega dengan rintihan kesakitan Xinyi.Bagaimanapun,dia sedang mengobati Xinyi saat ini.
"Masih sakit?"Tanya Jansen,dia menghentikan pijatannya.
"Tidak terlalu sakit seperti tadi,terimakasih."Balas Xinyi,merasa lehernya baik-baik saja saat ini.
"Apa kamu tidak merindukan aku?"Tanya Jansen,dia memeluk Juli dari belakang.
"Kenapa aku harus merindukan kamu?"Tanya balik Xinyi,dia merasa tidak enak di peluk Jansen dari belakang.
"Karena aku orang yang mencintai kamu,jadi kamu harus merindukan aku."Balas Jansen di telinga Xinyi,membuat bulu kuduk Xinyi berdiri.
"Kamu ada-ada saja."Ucap Xinyi,dia melepaskan pelukan Jansen.
"Ayo kita makan."Ajak Jansen,dia berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Yasudah,ayo."Balas Xinyi,dia langsung ikut berdiri menuruti Jansen.
Mereka langsung keluar dari kamar,mereka duduk dan menyantap makanan yang sudah di siapkan Jansen.Mereka makan dengan tenang,hingga makanan habis di makan oleh mereka.
"Jansen."Panggil Xinyi,dia menatap Jansen saat ini.
"Kenapa?"Tanya Jansen,karena Xinyi menatap dirinya begitu intens.
"Maaf,bisakah kamu tidak jatuh cinta dengan aku? Aku merasa ini tidak adil untuk kamu,lagi pula aku sudah memiliki suami saat ini.Aku tidak ingin,kamu patah hati olehku."Ucap Xinyi,melupakan isi hatinya.
"Aku tidak bisa membuang rasa cinta aku terhadap kamu Xin,kamu harus tau satu hal Xin."Balas Jansen,namun langsung di potong pembicaraannya oleh Xinyi.
"Satu hal apa?"Tanya Xinyi,dia begitu bingung dengan ucapan Jansen.
"Kamu harus tau,perasaanku tulus terhadap kamu.Aku tidak bisa membuangnya begitu saja,aku harap kamu mengerti dengan ucapanku."Balas Jansen,dia langsung membersihkan bekas makanan mereka.
Jansen meninggalkan Xinyi,dia akan menyimpan peralatan bekas makan dirinya di dapur.Tidak lama,Jansen melihat merpati yang di kirim kakeknya.Jansen langsung membacanya,dia tidak tau dengan nama Xintian.Dia akan bertanya terhadap Xinyi,dia langsung bergegas masuk untuk menemui Xinyi.
...****************...
"Dia kakak aku,ada apa kamu menanyakannya? Apakah kalian bermusuhan?"Tanya Xinyi bertubi-tubi,menatap ke arah Jansen.
"Dia sedang mencari kamu,sekarang dia berada di kediaman kakek aku."Balas Jansen,dia menatap Xinyi.
Xinyi yang mendengarnya begitu senang,dia tau kakaknya pasti mengkhawatirkan dirinya.Dia mencoba menanyakan lagi,agar dia tidak salah dengar.
"Kamu serius kak Xintian mencariku?"Tanya Xinyi,dia menatap intens Jansen.
"Aku serius,ini buktinya."Balas Jansen,dia menyerahkan selembar kertas yang di kirim kakeknya.
Xinyi menerima kertas yang di berikan Jansen,dia membaca pesan yang di kirim kakek Jansen.Dia begitu senang saat membacanya,dia langsung memeluk Jansen yang ada di hadapannya.
"Cepat kamu kirim balasan terhadap kakek,suruh kak Xintian menemui kita."Ucap Xinyi,dia begitu bahagia mendengar kakaknya sedang mencari dirinya.
__ADS_1
"Kamu yakin?"Tanya Jansen,dia melepaskan pelukan Xinyi.
"Aku sangat yakin,lagipula kakak aku tidak akan membawa aku pergi untuk kembali ke istana.Justru dia menyuruh aku pergi dari istana,agar hidupku bebas."Balas Xinyi,menjelaskan tentang kakaknya.
Jansen yang mendengar ucapan Xinyi senang,dia dengan senang hati akan membalas pesan kakeknya.Selagi Xinyi tidak di bawa pergi darinya,dia akan merasa tenang.
"Baiklah,aku akan membalas pesan kakek."Ucap Jansen,dia akan menuruti perkataan Xinyi.
"Bisakah,jika aku yang membalas pesan kakek?"Tanya Xinyi,dia ragu-ragu dengan permintaannya.
"Boleh,aku ambilkan dulu peralatannya."Balas Jansen,dia langsung mencari kertas dan alat tulis yang bisa mereka gunakan.
Xinyi hanya melihat Jansen yang sibuk mencari alat untuk mereka bertukar pesan,dia tersenyum ke arah Jansen.Baru kali ini,dia melihat laki-laki yang begitu perduli terhadap dirinya.
"Ini tulislah,aku tunggu kamu di luar."Ucap Jansen,dia langsung meninggalkan Xinyi di kamarnya.
Xinyi langsung menuliskan pesan untuk kakaknya,dia sudah tidak sabar untuk bertemu kakaknya.Dia langsung ke luar dari kamarnya dan memberikan gulungan kertas terhadap Jansen.
"Tolong ikat dengan baik,aku takut gulungan kertasnya terlepas."Pinta Xinyi,melihat Jansen mengikat gulungan kertas miliknya.
"Tenang saja,aku akan mengikatnya dengan baik."Balas Jansen,dia langsung memberikan merpatinya terhadap Xinyi.
"Aku yang terbangkan?"Tanya Xinyi,dia bingung dengan merpati yang di berikan Jansen terhadapnya.
"Iya,kamu terbangkan.Agar pesan kamu sampai di tangan kakak kamu."Balas Jansen,tersenyum ke arah Xinyi.
"Baiklah."Ucap Xinyi,dia langsung menerbangkan merpati di tangannya.
"Ayo kita istirahat."Ajak Jansen,karena dia begitu lelah saat ini.
"Ayo,kamu tidur di dalam kamar saja."Balas Xinyi,menatap tulus ke arah Jansen.
"Baiklah,aku akan tidur di kamar."Ucap Jansen,dia langsung berjalan ke kamar.
__ADS_1
Jansen langsung membaringkan tubuhnya,dia begitu lelah saat ini.Dia langsung menutup ke dua matanya hingga tidur,sedangkan Xinyi dia memilih tidur di luar ruangan.Lagi pula,dia merasa tidak enak harus tidur berduaan di kamar bersama Jansen.Sehingga,dia memilih untuk tidur di luar kamar saja.
Xinyi langsung memejamkan matanya,agar dirinya bisa tidur.Xinyi berharap,jika besok dirinya akan mendapat kabar baik.Xinyi langsung tertidur begitu saja,apalagi dirinya merasakan lelah di tubuhnya dan dia tidur begitu lelap.