
"Aku pergi,aku harap kamu baik-baik saja."Ucap Jansen,dia menatap Xinyi saat ini.
"Terimakasih,karena kamu sudah mengantar aku kembali ke istana."Balas Xinyi,memberikan senyuman terhadap Jansen.
"Sama-sama,aku begitu tidak rela berpisah dengan kamu."Ujar Jansen,dia mengambil tangan Xinyi.
"Kamu berbicara seperti itu,aku merasa geli mendengarnya.Apalagi,kita bukan sepasang kekasih."Ucap Xinyi,dia tertawa dengan pelan di hadapan Jansen.
"Iya,tidak apa-apa.Lagipula,aku memang tidak rela berpisah dengan kamu."Balas Jansen,dia mencium telapak tangan Xinyi.
"Ayolah,jangan bersikap seperti ini.Aku sungguh tidak enak,berhadapan dengan kamu saat ini."Ujar Xinyi,dia merasa tidak enak hati terhadap Jansen.
"Maaf,jika aku membuat kamu tidak nyaman.Tapi,aku benar-benar tidak rela harus berpisah dengan kamu.Kamu saja sudah tau,bagaimana perasaanku terhadap kamu."Ucap Jansen,menatap Xinyi dengan intens.
"Sudahlah,kita tidak usah berlama-lama disini.Aku takut kamu ketahuan."Ujar Xinyi,dia mengalihkan pembicaraannya terhadap Jansen.
"Tidak akan ada yang melihat kita,lagipula kita tertutup seperti ini."Balas Jansen,tersenyum ke arah Xinyi.
"Sudahlah,aku mau masuk Ke dalam istana saja."Ucap Xinyi,dia melepaskan tangannya dan berbalik ingin keluar dari labirin.
Jansen langsung memeluk Xinyi,dia benar-benar tidak rela harus berpisah dengan Xinyi.Apalagi beberapa hari bersama Xinyi,dia begitu bahagia.
"Jansen lepaskan aku."Ronta Xinyi,dia mencoba melepaskan pelukan Jansen.
Jansen membalikan tubuh Xinyi,agar Xinyi berhadapan dengannya.Jansen langsung mencium bibir Xinyi,dia mengungkapkan isi hatinya terhadap Xinyi.Dia merasa ingin membawa Xinyi pergi lagi,dia tidak rela Xinyi kembali ke istana.
__ADS_1
"Kamu benar-benar di luar batas kesabaran aku."Ucap Xinyi,dia mengatur deru nafasnya.
"Maaf,aku sungguh minta maaf.Aku begitu enggan,jika harus membiarkan kamu masuk ke dalam istana."Balas Jansen,dia menarik pinggang Xinyi.
"Lepaskan tangan kamu."Perintah Xinyi,dia begitu kesal terhadap Jansen.
"Aku akan melepaskan kamu,namun aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku."Balas Jansen,dia mencium bibir Xinyi kembali.
Xinyi merasakan ciuman Jansen di bibirnya,dia merasa Jansen mengungkapkan rasa kecewa terhadap dirinya.Bahkan ciuman Jansen sekarang kasar,dia merasa ciuman Jansen tidak lembut lagi.Dia tau kekecewaan Jansen terhadap dirinya begitu besar,namun dia tidak bisa membawa perasaannya dalam balas dendam dirinya sendiri.Xinyi langsung melepaskan ciuman Jansen,dia langsung mendorong Jansen dan berlari meninggalkan Jansen sendirian.
"Kamu akan kembali terhadap aku,bahkan kamu akan menjadi ratuku satu-satunya.Aku akan menghancurkan negara Wei dan aku akan membawa kamu pergi dari negara Wei."Ucap Jansen,melihat punggung Xinyi yang sudah menjauh.
...****************...
Sedangkan di kediaman Xinjiang,ibu Xintian sedang berbicara dengan putranya.Bahkan dirinya begitu kekeuh ingin ketemu putrinya,namun di halangi oleh putranya.
"Tapi ibu ingin melihatnya,ibu ingin melihat dengan mata ibu sendiri.Jika memang putri ibu baik-baik saja,ibu sungguh takut dia kenapa-kenapa."Balas sang ibu,dia mengkhawatirkan putrinya.
"Ibu bicaranya jangan kencang-kencang,aku tidak mau ayah mendengarnya.Aku kasihan terhadap Xinyi,nanti Xinyi di jemput paksa ayah.Ibu tau sendiri ayah seperti apa,aku ingin membiarkan hati Xinyi tenang dulu."Ucap Xintian,agar ibunya berhati-hati.
"Putriku yang malang,aku tidak tau kondisinya seperti apa.Aku merasa kasihan dengan putriku sendiri,aku benar-benar tidak bisa melindunginya sama sekali."Ujar sang ibu,merasa dirinya tidak berguna sama sekali untuk anaknya.
"Ibu jangan berpikir seperti itu,anak-anak ibu sungguh di berkahi.Bahkan,kami merasa benar-benar di berkahi.Karena kami sudah terlahir dari rahim seorang ibu yang begitu penyayang."Ucap Xintian,dia menatap ibunya dengan tulus.
"Namun aku tidak bisa membantu kalian,bahkan kebahagiaan kalian di korbankan begitu saja oleh ayah kalian."Balas sang ibu,dia merasa menyesal menikahi seorang tiran yang tidak punya perasaan.
__ADS_1
"Sudahlah bu,ibu jangan menyalahkan diri ibu sendiri.Kami sebagai anak ibu,kami hanya berharap ibu bahagia.Kami tidak apa-apa menjadi korban keegoisan ayah,asal kami bisa melihat ibu bahagia dengan pengorbanan kami."Ucap Xintian,menggenggam tangan ibunya.
"Maafkan ibu dan ayah kamu,karena kami mengorbankan kebahagiaan kalian."Balas sang ibu,dia meneteskan air matanya di hadapan Xintian.
"Kenapa ibu harus menangis,kami tidak apa-apa.Kebahagiaan ibu,jelas lebih penting untuk kami.Ibu tidak usah bersedih untuk kami,bahkan kami tidak suka melihat ibu kami sendiri bersedih seperti ini."Ucap Xintian,dia menghapus air mata ibunya.
Sang ibu langsung memeluk putranya,dia merasa bersalah terhadap anak-anaknya.Dia hanya bisa berandai-andai untuk saat ini,karena dia juga tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi.
Xintian merasa sedih,karena ibunya menangis di hadapannya.Dia langsung mengelus punggung ibunya,agar ibunya merasa tenang dan meluapkan kesedihannya.
"Ibu tidak usah mengkhawatirkan Xinyi,lagi pula ada Jansen yang melindungi Xinyi.Xintian percaya terhadap Jansen,apalagi Jansen begitu mencintai Xinyi dan tidak mungkin menyakiti Xinyi."Ucap Jansen,dia melepaskan pelukan ibunya.
"Siapa Jansen?"Tanya sang ibu.
"Dia laki-laki yang mencintai Xinyi dengan tulus,apalagi Tian melihat mereka begitu bahagia.Namun Tian sudah berbicara dengan Jansen,agar dia melupakan perasaannya terhadap Xinyi.Tian memberitahu dia,jika Xinyi sudah menikah."Balas Xintian,dia menjelaskan perihal Jansen terhadap ibunya.
"Kamu yakin? Jika Jansen tidak akan melukai Xinyi?"Tanya sang ibu,dia mengkhawatirkan putrinya.
"Aku yakin bu,apalagi sudah terlihat dengan jelas Jansen mencintai Xinyi."Balas Xintian,dia menjawab pertanyaan ibunya dengan yakin.
"Ibu hanya takut,jika adik kamu kenapa-kenapa."Ucap sang ibu,begitu mengkhawatirkan kondisi putrinya.
"Dia juga pasti akan pulang,aku yakin Xinyi akan secepatnya pulang.Lagipula,tanggung jawabnya di negara Wei begitu berat.Bahkan negara Wei,membutuhkan kehadiran Xinyi saat ini.Sudahlah,ibu jangan berpikir aneh-aneh lagi.Ayo,ibu istirahat."Perintah Xintian,dia langsung berdiri mengulurkan tangannya terhadap sang ibu.
"Baiklah,ibu akan mendengarkan semua perkataan putra ibu."Balasnya,menerima uluran tangan putranya.
__ADS_1
Ibu Xintian langsung berjalan ke arah ranjangnya,dia bersyukur memiliki anak yang begitu perhatian terhadap dirinya.Dia langsung berbaring di ranjang,karena tubuhnya begitu lelah dan memejamkan kedua matanya.
Xintian melihat wajah sang ibu yang memejamkan matanya,setelah mengecek sang ibu tidur.Xintian memilih pergi meninggalkan ibunya beristirahat,karena dia tidak ingin mengganggu ibunya beristirahat.