Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 100 : Akhir Dari Kesalahpahaman


__ADS_3

Akhirnya dengan cepat sebuau pedang mengarah dam menusuk Dummy secara tiba-tiba membuat pria itu tidak bisa melawan dan tumbang.


Crash!


"Dummy!" Pekikku refleks.


Claire tersentak lalu menoleh ke belakang, dia membelalakkan matanya kaget seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Claoudie menyeringai lalu menarik Claire kesisinya sambil memegang dagunya Claire dia mengarahkan wanita itu ke arah Dummy yang sedang sekarat karena kehilangan banyak darah.


Air mata Claire langsung tumpah, dia tidak menyangka kalau Duke Claoudie melakukan hal sekejam ini kepada mereka.


"Lihatlah orang yang kau cintai mati dihadapanmu," ujarnya sambil tertawa jahat.


Seseorang yang melempar Dummy dengan senjata tajam tadi mendekat lalu menarik senjata itu dari tubuh Dummy.


Dummy mengeram kesakitan namun orang itu tidak tergubris dia malah menancapkan senjata itu lagi dan lagi.


"Tidakk!" Teriak Claire yang sudah sangat panik.


"Tenang saja, laki-laki itu akan menjadi temanmu karena senjata yang digunakan pembunuh itu adalah senjata heirloom weapon terkuat yang bisa membunuh siapapun,"


Claire langsung terduduk lemas sambil bersimpuh dihadapan suaminya. Air matanya terus mengalir, dia terlihat sangat tersiksa dengan apa yang diperbuat oleh suaminya itu.


"Kumohon hentikan, aku... Aku akan mengakuinya," ujar Claire lemas.


"Mengakui? Bukankah sekarang sudah berlambat?" sinis Claoudie.


"Iyaa aku tahu, tapi setidaknya tidak akan ada lagi salah faham diantara kita," kata Claire.


"Aku... Aku memasukkan obat perangsang pada minuman mu saat itu, mungkin kau saat itu tidak sadar, tapi aku tidak bisa terus diabaikan olehmu terus karena aku mencintaimu, itu menyakitkan kau tahu? Aku benar-benar kesepian," kata Claire sambil menangis sejadi-jadinya.


"Aku hanya ingin kau melihatku sekali saja semasa aku hidup, aku ingin kau mencintaiku sekali saja, aku benar-benar curang dan bodoh," kata Claire sambil menangis.


"Aku lah yang lebih jahat darimu karena menyebabkan mu salah faham tapi aku tidak menyukainya seseorang selain dirimu, jadi kumohon hentikan, biarkan dia hidup karena dia tidak bersalah," tangisnya lagi.


Duke Claoudie langsung menjatuhkan pedangnya dan dia juga ikut terduduk sambil memegang bahu Claire.


Wanita berjubah itu langsung menghentikan apa yang dia lakukan lalu melihat ke arah mereka dalam diam.


"Kenapa kau tidak mengatakan itu sebelumnya?" Tanya Claoudie dengan nada bergetar.


"Aku terlalu takut," jawab Claire masih sambil menangis.


"Kau tahu, gara-gara dirimu aku terus tumbuh dalam kebencian pada orang lain, aku membenci Alexa, aku membenci Lavender dan aku membencinya orang itu, sampai aku ingin melenyapkan mereka,"


Claire mengangguk, "Karena itulah aku yang jahat," ujar Claire.


Claoudie menggigit bibir bawahnya lalu memeluk Claire erat.


"Aku juga mencintaimu, aku tidak pernah mengakuinya selama ini, aku juga bersalah, aku terlalu buta dengan dendam yang ada," ujarnya membuatku langsung tersentuh oleh perkataannya.


Bayangkan saja, orang yang sudah bertahun-tahun berbuat jahat tapi ketika mereka mengakui kesalahannya akan langsung membuat citranya menjadi lebih baik.

__ADS_1


Claudie bangkit sambil memapah Claire yang lemas untuk berdiri tapi Claire menolak dan hanya menatap Claoudie sambil tersenyum.


"Aku tidak peduli apakah kau bohong lagi atau tidak, kali ini aku akan bahagia karena mendengar kalimat itu darimu, terimakasih telah mengatakannya," ungkap Claire lalu perlahan tubuhnya semakin melemah dan kulitnya menjadi menua.


Tidak lama kemudian berubah menjadi benda lembek yang berbau dan yang tersisa di depan Claoudie hanya ada tulang belulang manusia.


Claoudie sendiri belum sadar dari lamunannya, setelah itu dia tersentak sambil memeluk benda-benda itu.


Ayah tidak berkata apapun lagi tapi dia terlihat sangat menyesali perbuatannya. Lagipula bukannya tidak punya hati, tapi justru semua perbuatannya dia lakukan atas dasar cinta, meskipun dia berada di jalan yang salah.


"Lepaskan aku..." Lirihku pada orang yang sedari tadi menyekapku.


Dia pun melakukannya dan membebaskanku. Setelah itu aku langsung berlari menuju ayah dan menariknya lengannya.


"Ayah sadarlah ibu sudah tiada, tidak adalagi artinya jika kau terus menyesali perbuatanmu,"


Claoudie menatapku dengan tatapan hampanya lalu seketika ruangan itu tiba-tiba dipenuhi dengan cahaya berwarna keemasan. Lebih tepatnya itu adalah mana milik ayah yang keluar saking banyaknya hingga dapat terlihat.


Claoudie langsung menarikku ke dalam pelukannya lalu dia menyandarkan kepalanya di pundakku.


"Maafkan ayah," ungkapnya terdengar sangat menyesal.


"Tidak apa..."


"Maafkan ayah karena..." Ayahanda bahkan tidak bisa melanjutkan perkataannya lalu menatapku dengan tatapan yang tidak ku mengerti.


Ayah terlihat ingin menyalahkan dirinya sendiri karena telah berbuat buruk padaku meskipun udah kukatakan tadi bahwa hal itu sudah berlalu jadi tidak apa-apa.


Ku lihat ayah bersikeras ingin mengatakan sesuatu tapi dia selalu urung.


Tiba-tiba seorang wanita yang berjubah datang dari belakang ayahanda dan mencegahnya untuk mengatakan hal itu.


Masih dengan kondisinya yang dipenuhi darah wanita berjubah itu lalu membuka tudung kepala yang menutupinya dan terlihatlah seseorang yang sangat kukenali dengan mata merahnya yang tampak lebih gelap dan pekat disertai dengan kantung mata disekitarnya.


"Putri La-lavender," ucapku terbata.


"Aku telah membunuhnya," ungkap Lavender yang tadi menyerang Dummy.


Aku tersentak lalu menatap ke arah Dummy yang sudah tidak berkutik.


"Apakah dia bisa ku selamatkan? Apakah Dummy benar-benar mati?" Tanyaku panik pada Lavender.


"Tidak, Dummy masih hidup, dia hanya perlu waktu yang lama untuk memulihkan dirinya," terang Lavender.


Aku terdiam lalu menatap matanya yang benar-benar terlihat hampa sama seperti ayah. "Aku minta maaf," ucap Lavender lalu bersimpuh di depanku.


"Aku telah membunuh pangeran Shun..."


JEDARRRT


Tiba-tiba suasana di sekitarku menjadi absurt dan kacau sepeti ada badai petir yang terus menyambar dan getarannya mengguncangkan sebagian diriku.


Aku terduduk lemas sambil menatap lavender kesal, mendengar kabar ini membuatku hampir menangis. Aku tidak bisa terus menahan kekhawatiran ini lagi.

__ADS_1


"Aku telah membunuh pangeran Shun dan membakar habis jasadnya, setelah ini kau bisa menghukum ku dengan hukuman mati, karena aku memang berdosa telah membunuh banyak orang termasuk Chun dan pangeran Shun," sambung Lavender pasrah.


Aku menggigit bibir bawahku sambil menggelengkan kepalaku kencang, "Kau pasti bohong kan, cepat katakan padaku bahwa pangeran Shun masih hidup!" Teriakku yang langsung menyerang gadis iblis itu dengan tamparan keras.


Lavender hanya menundukkan kepalanya, "Maafkan aku..." Lirihnya yang membuat hatiku menjadi semakin dipenuhi dengan rasa sakit.


"Kau membunuhnya? Apa kau tahu kalau dia sedang terluka parah lalu kau mengambil kesempatan itu untuk membunuhnya? Atas dasar apa kau melakukannya! Padahal dia adalah orang yang baik! Kau tahu aku mencintainya, sangat mencintainya! Aku juga menyayangimu sebagai kakak tapi kau menghianati kepercayaan ku ternyata memang benar serigala tetaplah serigala dan tidak akan pernah menjadi domba, aku membencimu!" Teriakku sambil mendorong tubuhnya kasar dan dia tergeletak di tanah tanpa perlawanan.


Lalu aku meraih rambutnya dan menariknya keras hingga beberapa helai rambut indahnya itu berjatuhan di sekitarnya.


Dia tidak melawan dan hanya diam menerima perlakuanku yang sama kejamnya.


Nafasku memburu, aku benar-benar dipenuhi oleh amarah dan dendam pada saudariku sendiri karena telah membunuh pangeran Shun. Aku berfikir nyawa haruslah dibalas dengan nyawa dan aku sangat ingin membunuhnya, ingin menghabiskannya seperti dia menusuk nusuk Dummy tanpa ada perasaan kasian sedikitpun.


Lavender memegang pedang ditangannya dan langsung membuatku tersentak lalu memejamkan mataku. Aku yakin dia pasti akan membunuhku juga, karena dia adalah wanita yang tidak punya hati.


"Bunuhlah aku," titah Lavender sambil menyentuh tanganku dengan tangannya yang memegang pedang tadi.


Aku terkejut namun kemudian aku memegang pedang tersebut.


Aku memang membencinya, karena dia menghianati kepercayaanku. Aku mengira dia selama ini tidak akan membunuh pangeran Shun tapi ternyata takdir berkata lain. Pangeran Shun tetap akan mati di tangannya dan itu membuatku kesal.


"Baiklah jika itu maumu," ucapku dengan nada yang penuh penekanan, air mataku tidak pernah berhenti mengalir sejak memikirkan tentang pangeran Shun.


Karena dia telah membunuhnya maka aku hanya harus membalas perbuatannya, sesuatu yang setimpal bukan?.


"Kau tahu..." Gumam lavender sambil tersenyum.


"Aku hanya menginginkan cinta dalam hidupku, aku rela melakukan apapun demi menggapainya tapi takdir berkata lain, aku tidak pernah diberi cinta sekeras apapun aku melakukannya, tapi setiap perbuatanku malah melukai orang-orang yang seharusnya aku cintai," ungkap Lavender.


"Aku harap dengan kematian ku, hidupmu bisa tenang karena ayah kita sudah berubah, dia bukanlah seseorang yang dingin lagi, aku yakin itu," kata Lavender sambil menyentuh pipiku dengan senyuman tulus yang terukir di bibirnya.


Melihat itu membuatku ingin mengakhirinya dengan cepat, semua perlakuan Lavender hanya membuatku merasa tidak tega untuk menghukumnya.


"Kau harus membayarnya! Tidak perlu banyak bicara!" Kesalku lalu menarik senjata itu dan menusukkannya ke arah Lavender.


Kematian haruslah dibayar dengan kematian... terkadang keadilan memanglah kejam, tapi ini tetap harus kulakukan.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2