Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 76 : Belajar Memasak


__ADS_3

Kau pernah tidak? Memiliki perasaan kepada seseorang yang terlihat sangat sulit untuk digapai...


Seperti bintang, dia selalu hadir mengisi waktu malam ku, dia selalu hadir di mimpiku, memberikan kenangan indah yang tidak bisa terjadi di dunia nyata.


Dia layaknya kerlipan bintang yang kukagumi, selalu ingin kugapai tapi tidak pernah bisa ku capai...


Padahal sudah lewat satu tahun dari waktu yang sudah dijanjikan, tapi dia tidak jua memberikan kepastian, aku selalu digantungkan dalam perasaan rindu yang tertahan.


Aku meringkuk sendirian di kasur yang selama ini jadi tempat ternyaman untukku mengingat sosoknya yang tidak memberikan sedikitpun kabar, terkadang aku menjadi sangat khawatir disaat segel ikatan abadi ini menyala dengan sendirinya.


Aku menghela nafas berat, sudah lama aku tidak kembali ke kediaman Duke Kethzie, karena sekarang aku menjadi putri sementara di istana kerajaan Frost yang ayahku pimpin.


Tetapi justru karena ini, Pangeran Zio dan aku menjadi semakin dekat seperti dua orang saudara, tetapi dia sekarang bahkan sudah jauh lebih tinggi melampauiku.


Ayahku sendiri sudah melakukan perkembangan yang cukup pesat dan berhasil mempertahankan kerajaan Frost setelah penyerangan mengerikan tiga tahun yang lalu.


Ku langkahkan kakiku keluar kamar untuk segera melakukan rutinitas harian yang membosankan kemudian aku malah dikejutkan oleh pelayan yang selalu bikin heboh, yaitu Chaser, setiap dia lewat pasti beberapa orang akan mengerumuninya seperti fans yang mengerumuni idolanya.


"Haii Nonaaa aku datang memberikan kabar gembira untuk andaaaaaa!" Kata Chaser dengan wajah yang ceria.


"Ada apaa?" Tanyaku malas.


"Ini tentang Pangeran Shun! Dia akan kesini dalam waktu dekat!" Kata Chaser langsung.


"APAAAAAAAAA?!!!!" Pekikku langsung panik.


Tidak tidak!!... Kenapa ini terlalu tiba-tiba, aku belum belajar masak, aku belum bisa dandan sendiri dan aku masih kekanak-kanakan... Huaa pasti dia mau melamarku jadi permaisurinya... ohh tidak, aku tidak boleh mengacaukan rencananya!! Batinku panik.


"Elaine dimana?" Tanyaku tergesa-gesa.


"Di dapur istana," jawab Chaser.


"Aku datang Elaine!!!" Kataku langsung berlari sekuat tenaga ke arah dapur istana.


"Leca!" Panggil Pangeran Zio yang kebetulan baru keluar dari ruangan yang aku lewati.


Seketika aku langsung mengerem langkahku lalu melirik kearahnya, "Kenapa?" Tanyaku heran.


"Kenapa kau selalu ceroboh dengan memakai pakaikan dalam saja saat keluar," kata Pangeran Zio berbicara tanpa ekspresi apapun.


"Omaigeet!!!! Kenapa baru bilang?!!" Kataku langsung berlari lagi ke kamarku, ya aku terlalu ceroboh hanya memakai celana pendek dan baju lengan pendek keluar kamar. Dan anehnya itu mereka sebut pakaian dalam?!


Tapi... kalau Pangeran Shun melihatku seperti ini, hancurlah semuanya.... Dia pasti akan batal untuk melamarku huhuu...


Beberapa menit kemudian aku sudah siap lalu kembali lagi jalan ke dapur istana dengan langkah yang anggun dan wajah yang sumringah.


"Dengan begini pasti aku akan cocok..." Batinku bangga.


Ah itu dia Elissa! Dia sedang membawa banyak barang yang habis dicuci ke dapur istana. Aku akan membantunya!.


"Elissa apa kau perlu ku bantu?" Tanyaku lembut padanya.

__ADS_1


"Tidak perlu nona, saya bisa sendiri, lagian ini bukan apa-apa," tolak Elissa santai.


Setelah mendapat jawaban itu aku tetap mengekori Elissa di belakangnya. Elissa pun menaruh barang-barang yang dia angkut tadi ke tempat yang seharusnya, kemudian dia menghadapku sambil tersenyum tipis, "Ada apa Nona?" Tanya Elissa pelan.


"Ajarin aku masak!!" Kataku sambil tersenyum lebar.


Elissa terlihat agak ragu namun dia akhirnya mengangguk, "Baiklah... Kurasa tidak ada salahnya nona Alexa belajar memasak,"


"Huaaa makasih Elissa!!" Teriakku keras sambil memeluk Elissa.


"Nonaa anda sudah besar, tidak perlu teriak-teriak lagi, lagian anda sudah masuk akademi senior tingkat 2 C,"


"Ehhh sebenarnya aku bisa lulus karena bantuan Chun, walaupun itu agak curang tapi yasudah itu tidak dilarang jadi tidak masalah,"


"Baiklah, pertama-tama nona harus memakai celemek," ucap Elissa sambil memberikan sebuah celemek untukku.


Aku langsung memakai celemek itu lalu mencuci tanganku agar masakan yang kubuat nanti bersih dan higienis.


"Baiklah Nona, kau ingin membuat apa?"


"Kueee kuee kering manis," jawabku langsung. Karena dulu aku mengingat Pangeran Shun memberiku dan menyuapiku kue kering saat umurnya masih berumur sepuluh tahun, sedangkan aku kini sudah berumur enam belas tahun.


"Wahh baiklah aku akan mengambil bahan yang akan kita gunakan, kau menyalakan kompornya yah nonaa, ingat jangan gunakan kompor listrik yang berada di sana," kata Elissa menunjuk ke arah belakangku.


"Baiklah," Jawabku lalu segera beranjak mengambil beberapa kayu lalu memasukkannya ke dalam kompor tanah liat yang besar.


Ingat! jangan gunakan kompor listrik... kenapa?!!! sepertinya Elissa mau menyusahkanku! 🤧


"Aduhh ngapain sih nyalain kompor dulu bukan buat adonan kuenya huh, lagian aku juga gak tau mau buat kue apa," gerutuku kesal.


Sungguh diluar dugaan api tersebut membesar dengan cepat membuatku reflek langsung mundur beberapa langkah.


"Ke-kebakann!!!" Teriakku panik.


Sepertinya aku harus segera mengambil air, ya air aku harus segera mengambilnya!.


"Ah disini!" Ucapku senang saat melihat sebuah gentong besar berisi air jernih.


Aku segera mengambil gayung lalu menyiramkan api itu dengan air yang ku bawa dalam gayung. Sayangnya api itu terlalu besar hingga membuat tindakanku tidak berpengaruh.


Aku menelan salivaku kasar, lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Kemudian aku tidak sengaja menyenggol sesuatu yang ternyata adalah minyak tanah, sontak aku membelalakkan mataku karena telah lalai menaruh benda itu hingga membuatnya tersenggol dan tumpah berceceran di lantai.


Seperti yang kubayangkan, api itu langsung merambat cepat kearahku tanpa memberi jeda untukku menghindar.


Tidak aku tidak ingin mati konyol seperti ini... aku belum menyelesaikan misiku hikssss...


"KYAAAAAAA!!!" Jeritku histeris penuh ketakutan.


"Leca!!" Teriak seseorang yang mengejutkanku, dia langsung memelukku dan dengan sigap membawaku menjauh dari tempat itu.


Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa orang itu, ternyata oh ternyata dia adalah pangeran Zio. Agak mengecewakan sih, tapi dia sudah menyelamatkanku jadi aku harus senang.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan raut wajah khawatir, itu adalah ekspresi yang hanya satu-satunya aku lihat darinya saat aku melakukan kecerobohan.


Aku menggelengkan kepalaku pelan, api itu sama sekali belum sempat menyentuh kulitku, jadi tidak ada masalah apa-apa.


Pangeran Zio menghela nafas lega kemudian dia langsung menggunakan sihirnya untuk meredam api besar tersebut.


"Te-terimakasih Pangeran..." Ucapku sambil menundukkan kepalaku karena merasa bersalah.


"Sama-sama, lain kali kau harus berhati-hati," katanya sambil memegang daguku dan langsung membuatku tersentak karena dihadapkan dengan wajahnya yang begitu dekat.


Kejadian seperti ini... Mirip seperti Pangeran Shun saat itu... Tidak tidak! Pangeran Zio pasti tidak akan melakukan hal seperti itu di saat seperti ini... Ayolah ini sangat konyol, bahkan sebagian wajahku pasti ada yang terkena gosong.


Pangeran Zio memejamkan matanya lalu mendekat ke arahku, sontak membuatku reflek membekap mulutku dengan tanganku sendiri, lalu menjedukkan dahiku ke kepalanya dengan keras.


"Adududuhh sakit!" Pekiknya sambil memegangi keningnya.


"Pangeran Zio mau jahil!" Protesku kesal kemudian menginjak kakinya keras. Dia hanya meringis kesakitan dan tidak membalas perlakuanku lagi.


"Habisnya... Kau sangat cantik saat memakai celemek." Katanya sambil mengelus rambutku pelan.


Aku menahan nafasku berusaha untuk tidak berteriak karena merasa tersipu malu. Namun siapa sih yang tidak merasa melayang tinggi saat dipuji? Apalagi sama seorang lelaki... Hufft...


"Yaampun Nonaaa!!" Pekik Elissa kaget melihat keadaan dapur istana yang sudah seperti kapal pecah.


Pangeran Zio terperanjat melihat Elisa yang sudah berdiri diambang pintu.


"O ow..." Kataku sambil tersenyum kikuk melihat ekspresi gadis itu yang syok berat.


"Nonaaa sepertinya anda sangat pintar dalam memasak," Pujinya langsung mendelik kearahku, mengisyaratkan kalau dia mengatakan hal yang sebaliknya.


"Hehehe Elissa sebenarnya aku..."


"Sudahlah, nona kau tidak perlu beralasan... sepertinya aku harus bertanggung jawab karena membiarkanmu menyalakan api sendirian," kata Elissa dengan nada pasrah.


"Tapi tidak sepenuhnya itu kesalahanmu," ucap Pangeran Zio.


"Yahh karena seperti itu maka kalian juga kebagian hukumannya, kalian berdua harus carikan bahan-bahan baru untuk makan siang ini yahh, sekarang juga..." Kata Elisa berbicara dengan penuh tekanan yang berarti perintahnya itu wajib kami lakukan.


"Ba-baiklah..." Jawab kami serempak.


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2