Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 42 : Terjebak Dalam Labirin


__ADS_3

Aku menghela nafas panjang ketika mendengar langkah suara depakan kuda yang menarik kereta ini berhenti. Segera ku buka pintu kereta kemudian melangkahkan kaki keluar.


Sebuah senyuman tipis ku berikan pada si kusir sebagai ucapan rasa terimakasih ku padanya. Setelah itu hewan yang bernama Chun itu pun keluar mengikuti ku.


Aku memberi perintah kepada si kusir untuk tetap menungguku disana sampai latihan ku usai hari ini.


"Meskipun tidak diperintahkan saya tetap akan bersikeras menunggu Nona disini." Begitu jawabnya sambil tersenyum.


Aku hanya mengangguk singkat kemudian melangkah masuk ke gerbang sebuah bangunan yang masih merupakan bagian dari istana Frost ini.


Oh iya... sebenarnya aku bisa dengan mudah memasuki istana dan menjelajah ke setiap bagiannya satu persatu kecuali istana utama yang dijaga super ketat dan hanya keluarga kerajaan saja yang bebas memasukinya.


Hal semacam ini adalah hak otoritas yang diberikan raja oleh para bangsawan kerajaan, yah walaupun tidak semua bangsawan sih.


Oke kembali ke tempat dimana aku akan berlatih, nah bangunan yang ada di depanku inj terlihat seperti Dojo tempat latihan bela diri jepang dan tempat itu sepertinya cukup untuk menampung hingga ribuan orang sekaligus untuk berlatih berbagai macam bela diri.


Aku berdecak kagum karena baru pertama kali melihat tempat seperti ini di istana. Wajar sih bagiku yang hanya berputar-putar di bagian akademi taman dan tidak pernah ke bagian lainnya.


Aku pun berjalan memasuki bangunan itu namun sepertinya suasananya sepi dan tidak terdapat seorang pun disana. Ini sama saja seperti aku memasuki bangunan angker yang besar hiks... Tapi bedanya ini bersih, rapih dan setiap ruangannya memiliki interior yang bagus. Btw itu ku lihat dari beberapa ruangan yang terbuka begitu saja tanpa adanya pintu.


Aku terus berjalan melewati koridor hingga sampai ke ujung tempat itu dan tidak mendapatkan apa-apa hanya melihat pintu-pintu yang tertutup rapat dengan gembok dan rantai yang terbuat dari emas berkualitas.


Aku mendengus sebal kemudian memukul salah satu bagian bangunan itu hingga menghasilkan suara yang cukup menggema.


"Hei Chun heran sebenarnya kau sedang apa disini, teman-teman mu sedang berlatih diluar." Ucap Chun yang bagiku itu sebenarnya sangat terlambat untuk mengatakannya sekarang.


"Kenapa baru ngasih tau?!" Protesku kesal.


"Kamu gak nanya sama Chun! Lagian apa untungnya ngasih tau budak seperti mu,"


Bisa-bisanya seekor burung menjawab ketus seperti itu. Aku jadi makin gak tahan buat manggang dagingnya! Moga aja gak pahit seperti sifatnya.


"Ya setidaknya kamu gak jadi ku jadiin burung panggang malam ini!" Jawabku yang langsung memalingkan wajah dari hewan itu.


Rasanya aku benar-benar kesal setengah mati, aku sudah terlalu jauh berjalan masuk ke sini dan harus keluar lagi. Menyebalkan!


"Ayo balik lagi" kataku kemudian langsung menghentakkan kaki kasar kemudian pergi dari sana.


"Kenapa?"


"Jangan banyak nanya!"


"Dengerin Chun ngomong dulu dong dasar mahluk aneh!"


"Gak usah, aku tau kalau omongan seekor burung itu tidak berguna karena tidak punya akal sehat."


"Yaudah gak usah kasih tau nih, dasar menyebalkan!"


"Kamu lebih menyebalkan."


"Chun serius! Kalau kamu gak mau cape dengerin perintah majikan!"


"Blablabalaa."


"Yaudah Chun pergi kesana duluan!"


Aku mengalihkan pandanganku ke arah burung mungil itu yang ternyata sudah menghilang dari pandangan ku.


"Aihh gawat aku benar-benar kesepian dalam kesendirian yang mencekam ini..wahai Pangeranku selamat kan lah akuu." Gumamku sambil mencari-cari dimana keberadaan Chun.

__ADS_1


Tapi sepertinya dia sudah benar-benar lenyap ditelan bumi, meskipun begitu aku akan mencarinya sampai ke ujung bumi sekalipun untuk menyembelihnya.


"Heh kok ada tikungan ya disini, jangan-jangan..." aku meras curiga ini adalah jalan pintas yang dipakai Chun untuk pergi menghilang tadi.


Aku pun berbelok ke arah tikungan itu yang ternyata ada tikungan lagi kemudian berbelok lagi dan ada tikungan lagi begitu seterusnya.


"Ini mah sama aja kayak ngelewatin labirin! Menyusahkan dan melelahkan!" Cibirku.


Setelah lama aku menyusuri labirin yang tidak ada ujungnya itu kemudian aku memutuskan untuk kembali. Namun aku menghentikan langkahku karena tidak tahu jalan semula dan tempat kembali kesana.


Glekkkk..!


"Sebenarnya kenapa ada tempat seperti ini disini sih.." Gumamku sambil merasa sedikit takut. Tapi perlahan-lahan rasa takut itu bertambah hingga membuat perasaan ku makin kalut.


Aku memegang dinding untuk menetralisir perasaan takutku. Ku sandarkan tubuhku pada dinding itu kemudian aku memejamkan mataku.


'Kalau dipikir-pikir ruangan ini semakin gelap yaa..'


Sepertinya aku benar-benar sudah terjebak ke dalam kegelapan itu meskipun tidak benar-benar gelap tapi suasana disini terlihat temaram karena terdapat obor.


Kalau aku beneran anak kecil sih aku gak bakalan nekat masuk ke sini tadi, hanya saja aku adalah seorang wanita dewasa yang menempati tubuh anak kecil. Karena itu aku cukup berani melakukannya.


Sudahlah aku sepertinya akan memutuskan untuk mengikuti arah ruangan yang terlihat lebih terang. Tapi sialnya semuanya terlihat sama saja.


Ku putar badanku dan mulai melangkahkan kaki ku untuk berjalan kembali walaupun aku tidak mengetahui benar atau tidaknya arah yang kulalui. Namun aku masih punya harapan kalau benar Chun adalah kembaran Pangeran Shun maka dia akan datang menyelamatkanku kalau terjadi sesuatu lagi.


"AAAAAAaa...!!!" Teriakku ketika menginjak sesuatu yang sangat menjijikkan. Ya tidak lain tidak bukan itu adalah lintah.


Aku menatap jijik sekaligus kasian ke arah hewan itu, kemudian aku menengadahkan pandanganku kedepan yang ternyata masih banyak lagi hewan semacam itu.


Dari mulai sejenis lintah, bekicot, ular kecil hingga kelabang dan kaki seribu menghadang jalanku untuk terus maju.


Tidak.. Tidak boleh.. jika aku pingsan disini bisa gawat kalau aku dikerumuni oleh hewan najis dan menjijikkan seperti itu. Batinku.


"KYAAAAAAA!!"


Aku menoleh ke arah bawah dan mendapati seekor kelabang melewati kakiku kemudian mulai bergerak ke atas dengan cepat. Untungnya aku memakai sepatu, pakaian dan sarung tangan yang menutupi kulitku. Sehingga kelabang itu sama sekali tidak bisa menyengat dan menusukkan bisa beracunnya. Dengan cepat aku mengambil hewan itu dan membuangnya.


"TIDAKKK!!! Menjauh dariku!!" Teriakku sambil berlari secepatnya dari kumpulan hewan itu.


KREEKK!!


Tanpa sadar aku menginjak sebuah lantai kayu yang terlihat rapuh dan kemudian aku terjatuh kedalam lubang itu. Seketika aku merasa tubuhku melayang atau lebih tepatnya jatuh bebas ke bawah dan reflek berteriak sekeras-kerasnya yang kubisa.


Aku merasakan sakit di bagian belakang tubuhku terutama bahuku yang serasa tulangnya sudah rontok semua. Baru saja terjatuh dalam posisi tidur terlentang dan itu sangat menyakitkan. Kemudian aku menggerakkan tanganku berusaha untuk bangun menopang sebagian berat badanku.


Namun aku tersentak kaget hingga ku belalakkan mataku lebar-lebar dan terasa mau keluar dari tempatnya.


Sebenarnya aku terkejut karena melihat pemandangan yang sangat langka, Ugh.. aku melihat seekor serigala putih sedang berada dihadapan ku sekarang.


Dia terlihat seram dan mengeluarkan suara yang terdengar sangat menakutkan hingga menggeram buas.


Aku menoleh ke arah belakang, dan yang kudapati semuanya benar-benar hitam pekat, kemudian aku menoleh pagi ke arah serigala yang kini sedang berada diatas kaki ku.


Warnanya sedikit bercahaya dan itu membuat penerangan di sekitar kami, jujur saja justru itu yang membuat aku makin takut karen wajah seramnya makin terpapar jelas.


Serigala itu mendekat dan semakin mendekat ke wajahku hingga tubuhku lemas dan terjatuh kembali dengan posisi semula. Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Sepertinya ini akan menjadi akhir dari kehidupan ku di dunia ini.


Tidak ada celah untuk aku melawan dan kabur hingga akhirnya aku hanya pasrah saja. Mau bagaimana lagi, karena aku tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


Lagi-lagi aku merasakan sesuatu yang menghangat ditanganku dan perasaan itu menyeruak masuk kedalam aliran darahku, saat ini aku merasa seperti berada dalam pelukan seseorang atau seperti tengah berdiri disamping api unggun.


Ggggrr....Auuuuu Auuuuu!!


Srigala itu melolong tepat di atas tubuhku dan itu membuat rasa takutkuku makin menjadi-jadi. Jantungku berdegup kencang tak karuan aku benar-benar sangat kacau hingga tidak bisa memikirkan apapun apalagi untuk berfikir jernih.


Tes..


Tes...


Sepertinya aku sudah benar-benar sudah diambang batas, aku ketakutan hingga tubuhku bergetar dengan hebat. Air mataku terus mengalir deras hingga menimbulkan isakan.


Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran di kepalaku, kalau seekor hewan ini aneh, hingga sekarang belum melukai ku sama sekali, bahkan ia tidak mengoyak sedikitpun bagian tubuhku.


Aku membuka mataku kemudian melihat serigala itu mulai menjauh dariku. Bagiku ini adalah kesempatan yang tidak akan ku lewatkan.


Meskipun aku merasa tubuhku sakit dan hancur remuk, meskipun darah kini mengalir deras dari kepalaku yang lukanya terbuka. Aku berusaha untuk beranjak dan berlari.


Aku terus berlari hingga langkah ku terhenti, sejauh apapun aku berlari aku tetap tidak akan bisa berlari dari srigala itu. Namun hatiku menyuruhku untuk tetap melangkah menjauh dari sini.


"Tapi kemana aku harus berlari? Tempat ini begitu gelap! Aku tidak menyangka bahwa di istana ada tempat seperti ini!"


Grrrrgtt.... !!


Serigala itu berlari untuk mengejar ku dan itu terjadi sangat cepat hingga kini dia sudah melakukan tindakan yang sangat membahayakanku. Dia berusaha menerkam ku kalau aku tidak menghindar.


Aku menghentikan langkahku ketika melihat cahaya emas menyala terang dihadapan ku,tanpa pikir panjang aku meraih senjata panah yang menyala itu dari tempatnya kemudian mengambil busur yang berada didekatnya.


Sebelumnya aku tidak pernah menggunakan panah tapi sepertinya ini tidaklah mudah namun aku akan menggunakannya sebisaku.


Saat sosok serigala itu mulai terlihat di pandangan ku. Aku mencoba mengarahkan anak panah itu kearahnya. Ku tarik kuat-kuat tali dari busur panah itu kemudian hanya dalam hitungan detik anak panah tersebut sudah hilang dari genggaman ku menuju ke target yang kuincar.


Aku tidak menyangka ini, anak panah itu berhasil dihindarinya kemudian dia langsung berlari kearahku. Aku terjatuh lemas. Sambil menatap hampa ke arah serigala itu.


"Aku tidak siap... bahkan aku belum merasakan seperti apa rasanya kebahagiaan di dunia ini, aku masih ingin hidup..." Lirihku dengan nada putus asa.


Serigala itu kini berada di hadapan ku lagi sama seperti tadi, tapi ada yang berbeda, dia terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya.


"Dia marah?" Pikirku.


GGRRRR!!!!!!!!!..


Seketika dia meloncat ke arah ku, membuat ku tumbang dalam posisi dudukku. Aku terbaring dan dia mulai mendekatkan taring tajamnya ke arah wajahku, lebih tepatnya mungkin dia hendak memakan kepalaku lebih dulu.


Aku.....


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2