Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 85 : Ramalan di Balik Lukisan


__ADS_3

"Leca kumohon berhenti!"


Setelah sentakan darinya, aku pun langsung menghentikan langkahku lalu segera berbalik ke belakang untuk melihatnya dengan wajah super kesal.


GRAPP


Pangeran Shun memelukku pelan kemudian mencium keningku tiba-tiba, sontak aku membulatkan bola mataku dengan sempurna. Aku terkejut kenapa dia melakukan hal itu tiba-tiba, perlakuannya itu membuatku sedikit merasa tidak nyaman lalu mendorong dadanya kasar.


"Pangeran jangan, aku tidak menyukainya," tegasku mencoba untuk memberitahunya.


"Padahal dia hanya mencium keningmu loh Leca, lagipula kau kekasihnya tapi kenapa kau sangat sensitif," bela Chun.


Pangeran Shun hanya terdiam sambil menatapku dengan tatapan sendu. Melihatnya seperti itu membuatku merasa bersalah.


Dia terdiam sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain,"Aku hanya merasa khawatir padamu Leca, aku tidak ingin kehilanganmu, aku merasakan firasat yang sangat buruk, saat kau menjauh dariku," Ucapnya sambil menggaruk tengkuk belakangnya.


"Hahaha pangeran kau sangat berlebihan," kataku sambil tertawa hambar.


Aku menghela nafas panjang. Padahal aku melakukan hal ini demi dirinya, aku hanya ingin dia diakui oleh keluargaku.


Setelah perdebatan kecil itu Pangeran Shun memutuskan untuk tetap maju bersamaku untuk mengikuti perburuan peri ini.


Sejujurnya aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, sama seperti yang dirasakan Pangeran Shun, aku juga merasakan firasat buruk dan aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri apalagi dirinya.


"Tenang saja jangan berfikir buruk terus, kan ada Pangeran Shun yang merupakan S3 disini, jadi dia akan melindungi kita semua," Kata Lily bermaksud menenangkan.


*S3 : (Super Senior S)


"Yeaah Pangeran Shun gitu loh," jawabku sambil menyenggol lengan Pangeran. Namun saat aku melirik ke arah Pangeran Shun dia hanya menyunggingkan sedikit senyum tipisnya.


"Jadi untuk perburuan kali ini hanya ada 12 team yang ikut jadi peserta, 69 team lainnya memilih untuk mengundurkan diri,"


"Pertama-tama kalian harus memasuki hutan Cemara ini, dan kalian hanya harus terus berjalan lurus, jika jalan kalian benar, kalian akan bertemu dengan danau yang cukup besar lalu kalian harus menyebrangi danau itu dan selanjutnya kalian melewati jalan setapak lalu daki lah gunung es yang berada di sana, setelah itu kalian baru akan menemui hutan sejati, di dalam hutan sejati kalian bisa menemukan peri hutan sebanyak-banyaknya, semoga kalian beruntung." Jelas si pak pemandu yang langsung mengantarkan kami ke depan hutan Cemara itu.


"Wahh jauh banget kalau begitu, apa bisa kita selesaiin hanya dalam 3 hari?!" Pekik Erdwan.


"Bisa," jawab Pangeran Shun yakin.


"Tapi kita tidak boleh menggunakan sihir teleportasi jarak jauh," imbuh Lily.


"Yaudah berarti... tidak bisa," kata Pangeran Shun lemas.


"Ngomong-ngomong, kakakmu, Lavender Kethzie itu ternyata juga ikut dalam team yah," kata Erdwan.


"Yahhh aku juga tidak menyangka, terlebih lagi dia se-team sama Pangeran Kenn," Jawabku sambil menunjuk ke arah kakakku.


Kami semua sudah mulai dipandu masuk ke dalam hutan Cemara itu, setiap orang di sini membawa perlengkapan yang cukup banyak. Hanya Pangeran Shun saja yang terlihat membawa sebuah pedang dan jubah putihnya. Sepertinya dia tidak memiliki rencana yang matang untuk ikut bersamaku, dan aku terlalu memaksakan kehendaknya.


Aku menghentikan langkahku karena teringat kejadian masalalu, saat itu aku nekat mencari keberadaan Pangeran Shun ke dalam hutan itu. Sejak kejadian mengerikan saat itu aku tidak pernah berani melihat tempat ini lagi. Aku tidak membenci tempat ini, hanya saja aku tidak ingin mengingat awal mula kejadian itu lagi.


"Saya hanya bisa mengantarkan sampai disini, seterusnya kalian lanjutkan sendiri, ingat, saat kalian melewati batas ini berarti peraturan berburu sudah berlalu," ucap sang pemandu mengagetkanku.


Dugg


Aku sepertinya menabrak sesuatu. Aku mendongakkan kepalaku ke atas untuk melihat siapa yang kutabrak.


"Pangeran..."


"Leca, ikutlah sebentar bersamaku," kata Pangeran Zio sambil menarikku pergi dari sana.


"Ada apa Pangeran?"


"Sebelum aku memberitahu lebih lanjut maukah kamu memaafkanmu soal yang tadi?"


"Ya, sudah ku anggap itu hanya angin lalu saja,"


Pangeran Zio menatapku dengan serius kemudian ia mencari sesuatu dari tasnya. Setelah menemukannya dia tidak langsung membukanya.

__ADS_1


"Ini adalah sesuatu yang ingin aku bicarakan berdua denganmu tapi sayangnya ada seseorang yang menjadi penghalang kita,"


Pangeran Shun penghalangnya yah... Hiks tega banget dia bilang Pangeran Shun ku seorang penghalang.


"Jadi... Benda apa itu?"


"Ini adalah lukisan yang dibuat oleh kakakku beberapa tahun yang lalu, saat itu kau dan aku masih kecil jadi aku tidak begitu yakin kalau lukisan ini adalah gambar wajahmu, tapi aku menjadi sangat yakin ketika melihat sosokmu yang sudah tumbuh lebih dewasa sekarang,"


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Pangeran..."


"Kau mungkin adalah seorang legenda,"


"Hah?"


"Ya, aku serius berkata tentang ini, sejak dulu aku selalu berfikir tentang kemungkinan yang terjadi dan mencoba untuk menganalisa arti dari semua ini sendirian, meskipun aku tidak tahu pendapatku ini benar atau salah... Tapi kakakku akan menjadi seorang raja kelak dan kau selalu ada di mimpinya dulu, mungkin sekarang sudah tidak, meskipun begitu aku yakin itu adalah sebuah pertanda bahwa akan muncul legenda baru dalam sejarah, dan itu adalah kau."


"Pfttthhh Pangeran Zio kau membuatku tertawa hahaha,"


"Lecaa... Ini serius, aku tidak mengada-ngada,"


"Baiklah-baiklah,"


"Aku hanya ingin memberitahumu tentang itu, kau boleh pergi sekarang,"


"Aku tidak yakin Pangeran, sepertinya kau punya unek-unek lain deh,"


"Tidak ada,"


"Hooh begitu kahh... mencurigakan,"


"Tidak,"


"Ngomong-ngomong Pangeran Zio, gulungannya belum kau buka, aku ingin melihatnya boleh?"


Pangeran Zio tersadar dan langsung membuat gulungan kertas itu. Ternyata benar, dalam lukisan itu menampilkan sosok gadis cantik berambut silver dengan mata cantiknya memegang sebuah tongkat panjang berbentuk bulan sabit yang sangat indah. Di sekitarnya banyak Rukh yang berterbangan mengelilingi juga mahluk magis lainnya yang tentunya belum pernah sama sekali aku lihat seumur hidupku. Yang lebih penting, wajah yang ada pada lukisan itu adalah benar-benar wajah ku? Kok bisa begini.


"Pangeran, lukisan kakakmu benar-benar luar biasa! Aku menjadi sangat cantik seratus kali lipat disitu, hehe,"


"Yahh... Aku juga merasa begitu,"


"Tapi Pangeran, lukisan itu tidak sepenuhnya berbohong, karena sang legenda itu mungkin saja nyata, mungkin saja aku benar-benar terlahir dengan kekuatan itu dan aku suatu saat akan menjadi magise sang penyelamat hehe,"


"Magise?"


"Yeps,"


"Apa itu?"


"Ia adalah seorang wanita titisan Dewi Bulan yang datang ke bumi yang ditakdirkan untuk menjaga perdamaian beberapa negara yang memiliki pertikaian, bahkan katanya dia bisa hidup hingga ribuan tahun loh,"


"Ini tidak adil... Kau bahkan sudah lebih tahu dariku,"


"Yeahh aku diberitahu oleh seseorang, kalau bukan karena dia aku tidak mungkin sampai seyakin ini,"


Pangeran Zio mengembangkan senyumnya, "Kalau begitu sepanjang apapun waktu berlalu jangan lupakan aku yang pernah menjadi temanmu,"


Aku menggeleng pelan, "Kau bukan hanya sekedar teman, tapi kamu sudah menjadi bagian dari keluargaku,"


Pangeran Zio tertegun kemudian langsung memalingkan wajahnya dariku, "Lecaa... Maafkan aku sudah sempat meragukan ketulusanmu, dan sempat menganggapmu penghianat,"


"Tidak apa-apa," jawabku sambil tersenyum tipis.


"Ada satu hal lagi Leca, ini tentang Pangeran Felix, ternyata saat itu dia bukanlah orang jahat sepenuhnya, dia melakukan itu karena hasutan dari ibunya, aku sangat prihatin dengan kondisinya... Padahal dia adalah kakakku, keluargaku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk membantunya saja aku tidak bisa,"


"Ahh Soal itu aku tidak tahu apa-apa,"


"Dan... Sekte hitam yang sempat kakakku gunakan untuk memberontak di kerajaan Frost saat itu, ayahmu hari ini justru meminjam kekuatan dari beberapa orang anggota sekte hitam ke perburuan kali ini, ini tidak baik dan sangat gila, dia seperti merencanakan sesuatu dibalik semua ini, karena itu aku disini untuk menghentikanmu melanjutkan perburuan sebelum kau memulainya,"

__ADS_1


"Hahh, Benarkah sebahaya itu?"


"Itu benar,"


Aku menggigit bibir bawahku meskipun pangeran Zio mengatakan ini tapi tekatku sudah bulat.


"Tidak peduli jika aku harus mati, aku harus mengikutinya, aku ingin meminta sesuatu kepada ayahanda, aku hanya ingin dia mendengarkan satu keinginanku, jadi aku akan tetap melanjutkannya, tapi aku tidak akan melibatkan teman-temanku, aku tidak akan membuat mereka semua terluka, aku tidak ingin itu terjadi,"


"Lecaa... Kau sangat bodoh, kalau kau mati emang teman-teman yang menyayangmu bakalan senang? Mereka pasti berfikir lebih baik aku yang mati bukan kau, dengan begitu kau malah akan menyiksa mereka lebih dari apapun bahkan lebih sakit dari kematian itu sendiri,"


"Tapi Pangeran, aku harus melanjutkannya karena tekatku sudah bulat, jadi aku akan berusaha untuk tidak mati, bye byee," kataku langsung bersiap untuk berlari namun di tahan oleh pangeran Zio.


"Kau ini, sungguh berkepala batu," ucapnya dengan wajah datarnya.


"Hei kau! Keterlaluan, menculik nona Alexa kekasihnya Pangeran Shun, kau tahu seberapa khawatirnya dia sangat kau menculiknya?!" Geram Erdwan yang sudah datang dan mengancam Pangeran Zio dengan heirloom weaponnya.


"Ahh maaf aku tidak tahu kalau mereka berdua memiliki hubungan sedekat itu," jawab Pangeran Zio santai.


"Dasar kau bocil kep*rat!!" Geram Erdwan bersiap untuk menebas habis kepala Pangeran Zio.


"STOPP!" Teriakku mencegah pertikaian diantara mereka.


"Sekarang di mana Pangeran Shun?" Tanyaku pada Erdwan.


"Dia... Sudah memasuki area perburuan lebih dahulu dibanding kita, dia mengerahkanku untuk mencarimu bahkan kalau bisa membuatmu untuk tidak menyusulnya, dia melakukan ini demi mengabulkan keinginan egoismu nona Alexa Kethzie!"


Seketika aku membelalakkan mataku, kenapa Pangeran Shun segegabah ini dia bahkan tidak tahu apa dan siapa yang akan dia hadapi nanti dan memilih untuk berangkat seorang diri.


Dengan cepat aku kembali berlari ke tempat semula di mana aku sebelum berada, aku harus segera menyusulnya. Ku kerahkan seluruh tenaga pada setiap langkahku untuk berlari, aku tidak ingin dia menanggungnya sendirian lagi.


"Nona Alexa!!" Seru Chaser ketika melihat aku telah sampai di perbatasan.


"Dimana Pangeran Shun?"Tanyaku dengan raut wajah khawatir.


"Dia... Dia telah berangkat terlebih dahulu dan menyuruh kami untuk menunggumu di sini," jawab Lily.


"Kenapa kalian tidak mengikutinya?!" Kesalku pada mereka.


"Kami... Kami tidak bisa menentang perintahnya sama sekali," sesal Chaser.


Aku mendengus kesal kemudian segera masuk melewati area perburuan kemudian berlari secepat mungkin yang aku bisa.


"Nona! Tunggu kami!"


Hah...


Tidak.


Jangan lagi.


Kumohon jangan menghilang lagi.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2