Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 21 : Keputusan


__ADS_3

"Akhirnya... Akhirnya aku melihatnya..." lirihku pada diriku sendiri. Sambil terus menerus menyeka air mata yang keluar tanpa aba-aba itu.


Beberapa hari tidak bertemu dengan Pangeran Shun terasa sudah bertahun tahun berpisah dengan nya. Meski hanya melihat dari jauh saja, aku sudah merasa bersyukur dan bahagia karena orang yang ingin ku lindungi ternyata baik-baik saja keadaannya.


"Nonaa Alexa~" Ucap seseorang yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku kini, entah sejak kapan. Dia tampak melihat ku sambil tersenyum jengkel.


"ELISSA! HUHUHU" Aku malah semakin mengeraskan suara tangisku dan berhambur memeluknya. Aku tidak sadar bahwa kami kini dikelilingi oleh banyak orang.


"Cup cup Nonaa.. apa yang terjadi padamu" tanyanya padaku sambil membalas pelan pelukan ku.


"Aku... Akuu--"


Belum sempat aku memberi tahunya tapi dia malah memotong pembicaraan ku.


"Nona sebaiknya kita segera pergi ke kereta kuda" tukasnya.


"Baiklah" Aku hanya pasrah dengan ucapannya, saat menyadari telah lama menjadi pusat perhatian orang-orang. Setelah ini aku harus bersembunyi membenamkan wajahku pada bantal. Aku benar-benar sangat malu. Hiks..


"Maaf yah ini kesalahan ku karena tidak mengawasi nya, dia jadi tersesat " Jelas Elissa kepada orang orang yang memperhatikan kami sedari tadi. Mereka pun tampak memaklumi dan kembali pada kesibukan masing-masing.


"Kasian sekali yaa nona kecil itu, karena pelayannya tidak becus dia jadi tersesat"


"Iyaa betul!"


Orang-orang itu masih sempat melontarkan prasangka buruk mereka kepada pelayan pribadi ku. Mendengar nya saja sudah ingin ku sumpal mulutnya menggunakan sepatu yang digunakan saat ini juga.


"Nona, kau darimana saja, saya terus mencari mu keliling butik tapi aku tidak menemukanmu, untungnya nona berada di toko sebelah, kalau tidak, pasti saya akan sangat kesusahan untuk mencari nona" Protes Elissa ketika kami sudah di dalam kereta kuda. Aku dapat melihat jelas raut wajah khawatir yang disamarkan olehnya.


"Maaf Elissa...itu memang salahku, aku tidak memberi tahumu dulu kalau aku hendak keluar"


Elissa merasa bersalah karena membuat ku sedih kemudian dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak...tidak nona, saya hanya khawatir kalau nona hilang, maafkan saya sudah berbicara kasar"


Aku menatapnya heran, dia sama sekali tidak berbicara kasar padaku untuk apa dia minta maaf.


"Nona, mengapa tadi menangis di toko kue, apakah kau ingin dibelikan kue?" Tanyanya padaku dengan raut wajah polos.


"Tidak, aku hanya terlalu senang bisa melihat seseorang yang kukagumi." jawabku sambil menatap sendu kearah toko kue itu yang kian menjauh dan perlahan menghilang dari pandanganku.


Elissa tampak merasa simpati kepadaku, tapi dia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak tahu akar masalahnya.


.


.


.


Sekarang aku sudah menyiapkan diriku untuk berolahraga lari lima kali keliling mansion ayahku. Aku sudah mengganti pakaian ku menggunakan satu set baju dan celana yang kami beli tadi. Aku pun mengukir sebuah senyuman kecil dibibir ku sebagai tanda puas karena baju yang dia beli begitu pas sesuai selera ku. Elissa tampaknya sudah paham betul soal selera berpakaian ku dalam waktu yang cukup singkat.


"Nona apakah kau mau kutemani lari?" Tanya Elissa yang juga sudah siap dengan pakaiannya.


"Hooh boleh" jawabku.


Akhirnya kami berdua lari keliling mansion tersebut, belum sampai satu putaran aku sudah merasa kakiku telah copot dari tempatnya. Aku menghentikan langkahnya kakiku dan beristirahat di kursi yang berada tak jauh dari tempat ku berdiri. Tidak demikian dengan Elissa yang masih terlihat mampu untuk berlari lagi. Namun dia jua turut berhenti karena melihat ku kelelahan.

__ADS_1


"Apa-apaan kok ada mansion sebesar ini, aku jadi merasa mengelilingi sebuah istana!" Protesku.


"Nona terlalu berlebihan, ini tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan istana" jawab Elissa sambil menyerahkan sebuah botol minum yang berisi air tawar padaku.


"Terimakasih" ucapku yang diikuti dengan anggukan nya.


Kemudian aku menatapnya sambil terperangah. Berarti istana Frost yang biasa ku kunjungi masih sebagian kecil dan terdapat banyak lagi ruangan serta bangunannya yang belum ku ketahui.


Aku bangkit dari tempat duduk ku yang ku duduki tadi. "Yossh!! Semangat! Aku harus menurunkan berat badan ku dan membuat bodyku terlihat bagus dan kuat untuk dapat melindungi Pangeran Shun!" Teriakku memotivasi diri sendiri.


Elissa hanya terkekeh melihat tingkah ku. Entah apa yang dipikirkannya aku sama sekali tidak peduli.


.


.


.


"Hiyaa... Hiyaaa!!" Teriakku sambil mengayunkan sembarang pedang kayu ke arah sebuah boneka yang terbuat dari kayu.


Lavender hanya menatap ku sambil menepuk jidatnya berkali-kali, sedangkan Elissa hanya terus tersenyum sambil menatap kearah ku.


"Lihat! nona Alexa bersemangat sekali yaa... Entah apa yang membuatnya seperti itu" ucap Elissa pada kakakku.


"Anak itu... Keras kepala" ucap Lavender sambil menepuk jidatnya lagi.


Aku terkikik melihat reaksi mereka berdua,namun aku tetap melanjutkan kegiatan ku. Kemudian setelah aku merasa lelah aku menghentikan aktivitas itu dan segera menghampiri mereka.


"Nonaa... Kau tidak perlu susah-susah belajar berpedang...kau hanya tinggal menggunakan sihir, itu akan lebih mudah" saran Elissa.


"Kalau begitu ajarilah aku sihir" jawabku santai.


"Emmm tapi sebelum itu, kita harus mengetahui apa nona memiliki potensi sihir atau tidak, tidak boleh sembarang belajar nonaa"


"Heee... Begitu yaa, kalau begitu tinggal cek saja, kan gampang"


Setelah mendengar ucapan ku itu keduanya saling bertatapan. Kemudian Lavender menyibak rambutnya sendiri dengan kasar dan menatap tajam ke arah ku.


"Itu memang mudah sih, tapi kamu harus kembali bersekolah kalau memang mau mengetahuinya, karena alat itu berada di sana, yahh kalau kau tidak mau tidak apa-apa.. kami tidak akan memaksa" ucapnya kemudian berlalu pergi.


Bersekolah lagi di akademi Aldric? Artinya aku akan bertemu dengan bocah sialan itu setiap hari. Usahaku saat ini untuk menghindarinya akan menjadi sia-sia saja. Tetapi kalau dipikir-pikir aku akan bertemu dengan pangeran impian ku lagi. Ahh bagaimana aku harus menjelaskan semua ini kepadanya... Dia pasti akan salah paham kemudian memutuskan hubungan kami...ohh my god~


Tidak! Apapun yang akan terjadi nanti, itu bukan masalah bagiku.. tapi masalah bagi Pangeran Shun>.<. Lagian kalau aku terus mengisolasi diri disini itu berarti alur cerita nya akan sama seperti novel menyebalkan itu. Sebagai pahlawan wanita yang hebat! aku harus menyelamatkan Pangeran ku. Aku pasti bisa melakukan nya...ya pasti bisa..! Hehehe


Elisa berkali-kali menggoyang goyangkan tangannya di depan wajahku sambil memanggil namaku, tapi aku tidak merespon nya sama sekali karena terlalu larut dalam pikiran ku.


"Nona Alexa.. Nona kenapa kau terus-terusan tersenyum menyeramkan seperti itu, kau jadi terlihat sangat jelek nona"


"Apa kau bilang? majikan mu sangat cantik dan seksi seperti ini, masa kau bilang jelek? Kau taruh dimana matamu Elissa?" Jawab ku reflek.Elissa menatap lekat puncak kepalaku sampai ujung kaki kemudian menggeleng cepat.


"Kau sangat gendut dan cebol nona"


"Elisaa seperti nya kau ingin di pecat sekarang ya!!" ucapku menatap nya jengkel. Bukannya takut, dia malah tertawa kecil melihat tingkah ku. Aku benar-benar jengkel melihat dia merespon tingkah ku seperti itu.

__ADS_1


"Senangnya ya.. sekarang nona sudah bisa marah-marah lagi"


"Hei hei aku itu baik hati dan lembut Elissa... seperti itu kah kau menilai nonamu?"


"Lembut.." Ucap Elissa dengan ekspresi dipaksakan.


"Ehem. Sudah ku putuskan besok aku akan mulai bersekolah lagi" ucapku mengalihkan pembicaraan sambil berpaling menahan malu. Elissa tampak terkejut karena perkataanku barusan, namun kemudian dia tersenyum senang.


"Kyaaa nona imut sekali saat malu"


Tunggu dulu. Dia senang karena aku malu?dasar Pelayan aneh!.Batinku.


"Elissa diam! Nanti ada orang yang denga-"


"Ehh nona Alexa dalam mode imut? Mana lihat lihat?" Ucap pelayanan yang lainnya tiba-tiba saja sudah mengerubungi ku sekarang. Sedangkan Elissa sudah pergi dan lepas tangan dari perbuatannya tadi.


Haduh bagaimana ini... Banyak orang berbadan lebih besar menutupi jalanku untuk kabur. Aihh tidak ada cara lain kecuali menuruti kemauan mereka.


"Anuu.. bisakah kakak-kakak cantik sedikit memberiku jalan?"


"Tentu Nona.. KYAAA!!"


Ketika mereka sedikit membuka jalan untukku aku sudah maraton meninggalkan mereka menuju pulau kapuk kesayangan ku.


Dasar wanita-wanita gila!. Mereka sangat menyeramkan dimataku lebih dari hantu sekalipun. Teriakkan mereka juga sangat menggangu pendengaran ku. Lain kali aku harus hati-hati menjaga ekspresi wajah ku.


.


.


.


.


Aku menatap dalam cermin dihadapan ku, memperhatikan setiap bagian yang memantulkan bayangan wajahku. Sesekali aku terperangah melihatnya dan berkali-kali menyentuh cermin dengan tidak percaya. Kenapa aku baru menyadarinya kalau Alexa ini sangat imut? Bahkan sepertinya ia kan menjadi gadis yang cantik melebihi lavender saat besar..hanya saja, tingkah ku sangat buruk hingga menutupi aura yang dimilikinya.


Setelah itu aku menyadari sesuatu.. ja jangan bilang kalau Pangeran Shun dulu menerima ku hanya karena tidak tega melihat anak imut ini merengek yang minta dia nikahi???!!!!


.


.


.


****


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2