Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 101 : Dummy Yang Terbaikan


__ADS_3

"Kau harus membayarnya! tidak perlu banyak bicara!" Kesalku lalu menarik senjata itu dan menusukkannya ke arah Lavender.


Namun tiba-tiba pedang itu malah bergeser dan menancap ke sisi Lavender tanpa melukainya sedikitpun.


Lavender yang sempat terpejam lalu membuka matanya perlahan melihatku dengan tatapan mata bertanya-tanya.


"Kenapa kau tidak membunuhku,"


Aku terdiam lalu melirik ke arah Duke Claoudie.


Sepertinya dialah yang membuatku tidak jadi membunuhnya.


Ayahanda terlihat panik karena menyaksikan kedua anaknya itu bertengkar di hadapannya.


"Aku tidak akan membiarkan kedua putriku bertikai, lagian Lavender melakukan itu atas perintahku jadi yang lebih pantas untuk dibunuh adalah aku," kata ayahanda membuatku langsung terdiam.


"Ayah...," Lirih Lavender dengan sedikit terisak, karena dia menangis.


"Aku berjanji akan memberimu kasih sayang bukan? Walaupun sebelumnya aku berbohong tapi sekarang aku tidak layak untuk melakukan hal itu," jawab Duke Claoudie mendekat ke arahku.


"Kau bisa membunuhku," kata ayahanda sambil memegang mata pedang yang tadi tertancap di tanah.


"A-ayah," gumamku lemas.


Dia memegang pedang tajam itu dengan keras sehingga membuat tangannya dipenuhi darah, sedangkan gagangnya diarahkan ke arahku untuk segera memegangnya.


"Lagian aku ingin segera bertemu ibumu,"


"Tidak ayah," kataku pelan.


Aku langsung beranjak kerahnya dengan cepat dan melepaskan tangannya yang menggenggam erat pedang itu.


"Jangan lukai dirimu sendiri," ungkapku sambil memeluknya.


"Nanti ibu akan membenciku," imbuhku lagi.


Lavender yang masih terbaring lemas hanya bisa menutupi wajahnya yang juga sedang menangis.


"Padahal aku sangat merindukan ibu, alasanku ikut kesini adalah demi bertemu dengannya," ucapnya dengan nada yang bergetar.


Aku berbalik unggul melihat Lavender lalu mengulurkan tanganku agar dia segera bangkit dan bergabung bersamaku.


"Leca...," Kata Lavender menatapku penuh haru.


Akhirnya dengan berat hati aku mengajak Lavender bergabung dengan ku dan ayah lalu kami saling menangis sambil berpelukan.


"Pangeran Shun... maafkan aku karena tidak bisa membunuh orang yang sudah melenyapkanmu, karena mereka adalah keluargaku," sesalku dalam hati.


Meskipun begitu, kehadiranmu membuatku seperti hidup walaupun sebelumnya aku tinggal di tengah kegelapan. Kau memberi cahaya untukku bisa terus bangkit. Mengingat kebaikanmu membuatku bisa memaafkan mereka. Namun begitu apakah kau memaafkannya juga?.

__ADS_1


Tanpa sadar hari itu kami mengabaikan seseorang yang tengah sekarat karena kehilangan banyak darah. Untung saja ada NekoShun yang datang menyelamatkan Dummy.


"Kau terabaikan lagi miaw~" kata NekoShun pada Dummy yang masih terpejam.


NekoShun langsung membawanya pergi ke tempat yang masih aman di dalam mansion lalu mengobatinya.


"Menyusahkan, pasti kau sangat tersiksa memiliki luka seperti ini tapi kau tidak bisa mati miaw~" kata NekoShun sambil menatap prihatin ke arah Dummy.


"Ahh kalau saja aku manusia aku pasti akan menyukaimu," kata NekoShun lalu melepaskan pakaian Dummy dan mulai membersihkan lukanya.


Aku mengalihkan mataku ke seluruh penjuru, kali ini saatnya aku untuk pulang tapi aku bahkan tidak melihat tubuh Dummy dan itu membuatku khawatir dengannya.


"Ayah, kau melihat Dummy?" Tanyaku pada Duke Claoudie.


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu," jawab ayahku yang masih kesal.


"Ayah... dia tidak bersalah loh," kataku sambil mencubit lengan ayahku.


"Baiklah aku sudah melupakan kejadian itu, mungkin dia sudah dibawa oleh pasukan sekte hitam, tapi percayalah mereka tidak berbahaya karena aku yang memerintah mereka sekarang, berbeda dengan penyerangan yang dulu,"


"Apa ayah melakukan sesuatu pada pemimpin sekte itu?" Tanyaku heran.


"Yahh aku hanya sedikit menggertaknya tapi mereka malah menjadikan aku sebagai pemimpin baru mereka.


Mendengar itu aku tertawa kecil, yahh wajar aja sih, selama Duke Claoudie memerintah semuanya terlihat menjadi lebih baik. Walaupun kebaikannya itu sangat horor.


"Aku akan mencari Dummy dulu sebelum pulang ayah," kataku sambil berlari meninggalkannya.


Aku masuk ke dalam mansion antik itu, kini semuanya terlihat sepi dan berantakan, seluruh pelayan juga sudah diungsikan atau bahkan ada yang kabur ketika pasukan sekte hitam itu baru saja datang.


"Dummy, NekoShun!" Panggilku pada mereka yang tiba-tiba menghilang.


"Aku disini miaw~" kata NekoShun yang datang ke arahku dengan wujud kucingnya.


"Dimana Dummy?" tanyaku pelan.


"Dia sedang koma miaw~"


"Aku ingin menjenguknya," kataku yang juga merasa bersalah.


Setelah NekoShun menggiringku ke kamar Dummy dia langsung merubah tampilannya menjadi wujud manusia lengkap dengan telinganya dan ekornya.


"Mungkin dia akan sadar setelah beberapa bulan miaw~"


Aku menggigit bibir bawahku karena melihat luka-luka di tubuhnya yang parah. Bagaimana bisa dia tidak meninggal setelah di lukai seperti ini? Pasti dia akan sangat kesakitan untuk menahannya.


"Aku ingin kalian tinggal bersama kami," kataku pada NekoShun.


NekoShun menggelengkan kepalanya cepat, "Kalau kau membawaku ke dalam rumahmu maka itu akan membawa kesialan pada keluarga kalian, karena aku memang sudah lahir dengan membawa kutukan kepada majikanku miaw~"

__ADS_1


Mendengar itu sontak membuatku langsung tertegun.


"Tuan Dummy tidak masalah tinggal denganku karena dia adalah seorang saint, sesial apapun dia, dia bisa mengatasinya dengan baik miaw~" kata NekoShun pelan, terdengar sejenak tadi bahwasanya dia sangat sedih karena majikannya terluka.


"Terus kau dan Dummy ingin tinggal dimana? Tempat ini sudah hancur," ucapku padanya sambil menatap puing-puing bangunan itu yang sebagiannya sudah rusak meskipun ada kamar-kamar yang masih utuh.


"Kami tetap kan tinggal disini karena ini adalah tempat yang berharga baginya, di rumah ini dia memiliki kenangan yang indah dengan nona Claire jadi dia tidak ingin pergi selamanya dari tempat ini miaw~"


Aku menghela nafas lalu menepuk pundak NekoShun.


"Baiklah, aku akan mengirimkan orang-orang untuk membantu kalian, dan merenovasi mansion ini, selain itu aku juga pasti akan datang kembali," ucapku sambil tersenyum.


NekoShun menatapku dengan tatapan berkaca-kaca.


"Menikahlah saja dengan tuanku miaw~" katanya sambil memelukku.


"Maaf aku tidak bisa,"


"Kenapa? Padahal orang itu sudah menggalkanmu terlebih dahulu miaw?"


"Karena bagiku dia masih hidup," jawabku lalu melepaskan pelukan NekoShun.


"Dia masih hidup di sini," imbuhku lagi sambil menunjuk ke arah dimana hatiku berada.


NekoShun terkejut lalu tersenyum kecil.


"Haa yaudah, terserah kau saja miaw," katanya pasrah untuk membujukku.


Setelah itu aku berpamitan dengan mereka sambil meninggalkan jepit rambut pemberian pangeran Shun yang aku selipkan pada rambut Dummy. Aku harap kebahagiaan dan ketenangan selalu berada di sisinya mulai saat ini dan seterusnya.


"Apa kau tidak apa-apa memberikan itu miaw?" tanya NekoShun.


Aku menggeleng cepat sambil tersenyum, "Tidak apa-apa."


Setelah itu kami pergi dan kembali ke istana, mungkin jika kami jujur kepada orang-orang mereka akan membenci keluargaku karena dari itu kami membuat sebuah kebohongan untuk melindungi keluarga kami.


Karena terkadang ada sebuah rahasia yang lebih baik tetap menjadi rahasia daripada diungkapkan sebab aku tidak ingin jika mereka mengetahui hal itu akan menimbulkan masalah baru.


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2