
Aku bangun dari tempat tidur ku saat ini, kemudian bangkit dan berjalan menuju benda yang dapat memantulkan tiruan diriku.
" Ohh gawaat... Mataku terasa sangat berat dan berkantung sekarang. Duhh gimana nih, semalaman aku tidak dapat tidur karena memikirkan apa yang akan terjadi hari ini" Gumamku sambil mengacak-acak rambutku, sehingga membuat nya makin berantakan seperti sayur brokoli.
Segera aku mencari benda yang dapat merapikan rambut ku dan menyisirkanya dengan pelan. Setelah rapi aku kemudian mencuci wajah ku dengan air lalu mengganti bajuku.
Tidak lama setelah itu datang Elissa yang hendak menyadarkan ku dari alam mimpi. Namun aku sudah bangun terlebih dahulu sebelum dia melakukannya. Aku menyambut kedatangan nya dikamar ku dengan senyuman bangga.
"Eh nona sudah siap yaa, anda hebat sekali"
"Terimakasih tapi aku memang hebat dari dulu"
"Em... nona kalau begitu kita langsung segera berangkat saja"
"Okeehhh" kataku kemudian membuntutinya keluar kamarku.
Elissa membawa semua alat belajar yang dibutuhkan olehku kemudian menitipkan nya pada pelayan lain. Aku memutar pandangan ku untuk mencari sosok wanita cantik yang biasanya sudah siap terlebih dahulu dariku.
"Kakak dimana?" Tanyaku
"Dia mungkin masih mandi nona, jadi kita duluan saja"
"Ohhh..." Jawabku santai.
"Ehhhh mandi? Aku belum mandi tadi, duhh kok aku bisa lupa yaa.. " ucapku panik, saat sadar telah melewatkan sesuatu yang sangat penting. kemudian aku berlalu meninggalkan Elissa yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
Aku melangkah ke dalam kelas ku dengan merunduk dan berjalan pelan-pelan hingga tak mengeluarkan suara sedikitpun. Aku sengaja melakukan nya untuk bersembunyi dari seseorang.
"Nona, kita sedang apa?" Bisik Elissa yang berada tepat di belakang ku.
"Shhttt ! Jangan berisik, nanti kita dilihat orang.."
"Kita bukan pencuri nona, jadi tidak perlu bersembunyi seperti ini,lagian ini masih pagi nona, anak bangsawan lain belum pada datang" Kata Elissa sambil menarik baju belakang ku untuk menegakkan badanku.
Aku menarik nafas lega saat mendengar ucapannya itu. Yahh betul, kebanyakan mereka adalah orang pemalas, mereka selalu datang saat-saat mau masuk saja.
Akhirnya aku mengalihkan perhatianku padanya dan mengambil semua peralatan ku dari Elissa. Kemudian menyuruhnya pergi, ia pun melakukan nya tanpa berkata apapun untuk menolak.
Saat aku melangkahkan kakiku ke ruangan itu yang pertama kali ku lihat adalah orang yang paling ingin ku hindari. Tapi ya sudahlah. Dia juga sibuk dengan tumpukan buku yang ada dihadapannya.
Dengan muka yang masam aku duduk dihadapannya sekarang. Aku menyibukkan diriku untuk melakukan hal yang tidak berguna dan hanya mencoret-coret kertas yang berada di atas mejaku.
"Ini..." Ucap Zio yang sudah berada di hadapan ku.
"Ini apa? Kamu mau menyerahkan tugas ini semua padaku? Maaf Pangeran, tapi saya bukan orang pintar."
"Justru karena kamu bukan orang pintar, kamu harus melihatnya nona.."
"Gak mau"
__ADS_1
Pangeran Zio kemudian menghela nafas pelan. "Itu semua adalah rangkuman materi yang kubuat selama ini untuk mengejar ketertinggalan mu, meskipun kau tetap mengikuti pelajaran di rumah, tapi aku meragukan itu, itu sudah kubuat semudah mungkin agar kau bisa dengan mudah mengerti pelajaran nya"
"Kenapa kau mau melakukan ini?"Tanyaku heran. Tindakannya kali ini sangatlah mencurigakan, dia terlihat seperti orang yang tidak melakukan sesuatu tanpa ada maksud dari perbuatannya itu, pastilah ada udang dibalik bakwan.
"Aku disuruh..yaa kebetulan aku malas menolak"
"Heee aneh sekali alasan mu, tapi terimakasih ya" aku sengaja mengalah kali ini, karena sedang malas berdebat dan tidak ingin berbicara banyak dengan nya.
Setelah aku mengucapkan itu dia kembali sibuk dengan urusannya sendiri. Setelah beberapa saat kemudian, muncul Natte dan Kecha. Mereka tampak seperti patung saat ku tatap. Tubuh mereka sama sekali tidak bergerak sedikitpun namun mulut mereka terbuka lebar.
"Hai" sapa ku pada mereka.
"Kau benar Leca? Wahh... Sakit apa kau selama ini? Mananya yang sakit?" Tanya Kecha.
"Si siapa yang sakit?" Tanyaku pada mereka.
"Kamu" jawab Natte sambil melipat tangannya di depan dada dan menatap kearah ku.
"Haaa?"
"Yaa, kata mereka kamu sedang sakit parah"
"Waduh..."
"Menurut ku, yang sakit itu adalah hatinya, karena dia bertunangan dengan pangeran Zio, dia jadi tidak bisa bebas dekat dengan Pangeran Shun" Kata Natte dengan santainya.
"Kejam...mengapa kau mengingatkanku pada hal buruk itu, Natte"
"Sudahlah... Itu sudah terjadi, sebaiknya jangan di bahas terus" Kecha menengahi.
"I itu tidak benar" sanggah nya. Tapi sayangnya wajahnya itu dengan jelas menyatakan kebalikan dari ucapannya.
"Heee aku paham anak kecil seperti kalian seperti nya mulai memiliki cinta monyet" ucapku lagi diiringi dengan gelengan kepala dari Kecha.
Pembicaraan kami pun terhenti karena tiba-tiba saja Miss Adelle sudah masuk ke ruangan kami. Aku baru menyadari bahwa sudah terdapat banyak orang di ruangan ini. Terpaksa aku mulai mendengarkan pelajaran yang membosankan itu.
Hari ini kami sedang belajar sejarah dan yang kudapati saat membuka acak halaman buku yaitu tertera nama Duke Claoudie Kethzie. Ya dia adalah ayahku, namun yang membuat ku heran adalah dia merupakan seorang yang berjasa besar bagi kerajaan Frost ini. Perannya juga tidak dapat dibilang sedikit dan dia adalah seorang bangsawan yang paling disegani oleh raja.
Aku sengaja menjatuhkan buku itu karena ada rasa tidak suka yang mulai memenuhi hatiku. Melihatnya saja aku sudah merasakan ketakutan yang amat sangat. Namun aku tidak bisa membencinya karena dia belum pernah melakukan hal yang mencelakakan ku.
"Ada apa ananda Alexa?" Tanya Miss Adelle sambil memungut buku yang jatuh tersebut.
"Kenapa ada nama ayahku disitu, aku tidak suka melihatnya" ucapku sambil memalingkan wajahku dari guru itu.
"Harusnya sebagai anak anda harus menghargainya dan bangga karena ayahmu termasuk orang yang berjasa besar bagi kerajaan Frost"
Dia benar.. hanya saja aku mulai merasakan firasat buruk yang menghantui ku saat menatap lukisan monokrom ayahku dibuku itu. Akupun hanya dapat menundukkan kepalaku saja karena merasa bersalah yang memenuhi pikiranku. Suasana kelas pun hening untuk beberapa saat. Tidak ada seorang pun yang berani angkat bicara saat ini. Entah karena segan lantaran membahas soal ayahku, atau takut kepada wanita yang sedang mengajar mereka itu.
"Baiklah anak-anak cukup sampai situ saja, kita mulai lagi mengikuti pelajaran hari ini" ucap Miss Adelle memecah keheningan diantara mereka. Semua murid pun mulai memusatkan perhatian nya pada guru itu tidak terkecuali aku yang sudah terlelap tidur di sofaku yang empuk ini.
.
.
.
__ADS_1
"Alexa!, Alexa....! Hoiiii bangunn dasar kebo" seru Natte sambil menepuk-nepuk pipiku.
Aku segera mengerjapkan mataku dan mencoba mengumpulkan nyawaku yang telah terpencar entah kemana tadi.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku padanya.
"Kamu tertidur saat pelajaran Miss Adelle.. untungnya dia memaafkan mu saat itu, karena mengira kamu masih sakit"
"Apaaa? Tertidur?" Aku mulai menatap mereka tak percaya namun tak bisa dipungkiri memang itulah yang terjadi. Akhirnya aku hanya dapat menepuk jidatku sendiri karena merasa bodoh.
"Sekarang sudah saatnya pulang...kamu tertidur lama sekali tadi, kami tidak berani mengusik tidur nyenyak mu" ucap Kecha lagi. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian bersiap beranjak pergi meninggalkan mereka. Namun Natte menahan tangan ku kemudian melirik pada Kecha.
"Ohh yaa kami ingin memberi tahumu bahwa seminggu lagi kita akan mulai mengadakan pengetesan bakat... Ahh senangnya~"
"Pengetesan bakat? Apa itu?" Tanyaku dengan wajah polos. Seketika mereka langsung menatapku dengan tatapan datar.
"Kita akan mendapatkan kelas tambahan dan bisa tinggal di asrama akademik kerajaan Aldric jika kau memiliki bakat, karena kita akan tinggal 24 jam di istana ini" Kata Kecha sambil menunjuk sebuah gedung megah disamping akademi kerajaan. Ohh jadi itu adalah asrama yang Kecha maksud. Pikirku.
"Kalau tidak punya?"
"Kau bisa pulang dan istirahat dengan tenang" jawab Natte.
"Wahh bagus dong, kita gak bakalan sibuk kalau begitu"
" Bukan-bukan.. tapi untungnya bersekolah di akademi kerajaan Aldric adalah karena itu, kita akan mendapatkan hal-hal menyenangkan juga menyusahkan pada saat pelatihan.. nah itulah yang membuat kita semakin kuat. Jika suatu saat kekuatan mu digunakan untuk melindungi banyak orang, bisa saja kita akan dipandang baik oleh banyak orang dan masuk dalam daftar buku orang-orang yang berjasa besar bagi kerajaan, emm...bisa dibilang seperti keluarga Collans" jelas Kecha padaku dengan raut wajah berseri-seri. Sangat jelas bahwa anak itu berharap dia akan menjadi seorang pahlawan rakyat dimasa depan.
Aku terperangah saat membayangkan bahwa aku akan menjadi seseorang yang kuat dan memiliki sihir yang indah seperti kakakku, juga dapat melindungi orang-orang yang kusayangi dengan mudah tanpa susah payah. Setelah itu Pangeran Shun tunduk pada ku dan memujaku tiap hari sebagai dewinya. Hohoho..
"Itu pasti menyenangkan" Gumamku sambil tertawa menyeringai.
"Aku rasa jika Alexa yang memiliki sihir yang kuat akan hancur dunia dalam sekejap" kata Natte sambil menatap ku sinis.
"Ohh Ayolaahhh, kau merusak impianku dalam sekejap, hanya dengan kata-kata sarkasmu itu Natte" Kutekukan bibir ku kebawah dan menatap nya kesal.
"Tentu! Itu pasti menyenangkan.. tapi..." Ucapan Kecha terhenti karena tiba-tiba saat itu ada seorang yang sudah memanggil ku dan sudah berdiri di depan pintu menunggu aku menghampirinya.
"Nona Alexa.. sekarang sudah waktunya pulang" ucap Elissa sambil tersenyum dengan senyuman khasnya.
"Ahh baiklah" jawabku singkat kemudian aku menatap Natte dan Kecha lalu melambaikan tangan ke arah mereka.
Sepertinya ada yang salah dengan pandangan ku. Kecha tampak merasa bersedih? Anak itu seharusnya selalu tampak ceria dan anggun apapun keadaannya. Apakah yang membuatnya seperti itu...
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...