
Tidak terasa sudah seminggu berlalu sejak aku kembali masuk ke akademi Aldric kerajaan Frost ini. Aku tidak memiliki kesulitan apapun dalam pelajaranku karena buku sakti yang dibuat oleh Pangeran Zio, entah apa yang ditambahkan sebagai bumbu dalam tulisannya, tapi aku langsung paham dengan materi yang dituliskan olehnya.
Aku menghela napas berat karena tiba-tiba saja teringat kalau hari ini adalah hari dimana aku dan yang lainnya akan melakukan pengetesan bakat sihir yang dimiliki oleh kami.
Ahh rasanya jantungku tidak mau berdetak dengan normal. Aku terlalu tegang dan tidak siap terhadap apa yang akan terjadi nanti. Yahh meskipun kurang lebih aku tahu bahwa aku akan memiliki sihir kuat seperti ayah dan kakakku.
Tiba-tiba saja aku teringat akan ucapan Natte saat dimana mereka memberi tahu ku tentang hari ini "Aku rasa jika Alexa yang memiliki sihir yang kuat akan hancur dunia dalam sekejap" kata Natte sambil menatap ku sinis.
Ternyata ucapannya itu jika diingat-ingat malah membuat ku merasa frustasi dan pesimis. Awas saja kalau ucapannya itu benar akan ku cincang dia seperti sate ayam.
" lecaaaa Kurrr kurr" Aku langsung menatap kearah sumber suara yang membuat ku tersentak dan membuyarkan lamunanku tadi. Setelah mengetahui si pemilik suara aku langsung terperangah tidak percaya kemudian langsung menghampirinya.
"Pangeran berhentilah memanggil ku seperti memanggil anak ayam! Terlebih lagi kamu datang ke kelasku..." Protes ku padanya.
Aku melihat situasi di sekeliling kami yang ramai dan saat ini kami seketika sudah menjadi pusat perhatian teman-temanku. Ini pertama kalinya aku dikunjungi oleh Pangeran Shun. Biasanya akulah yang selalu menemuinya meskipun bukan langsung ke kelasnya seperti yang dia lakukan.
"Ehh tidak boleh ya.. yaudah" Pangeran membalikkan badannya untuk berlalu,namun aku segera meraihnya baju bawahnya agar menahannya untuk pergi. Lalu Pangeran Shun menghadapku dan memukul kepalaku pelan. Ouchh!.. tidak sakit.
"Sebenarnya hari ini aku akan mengawasi kelas kalian" Ucapnya yang langsung membuat alisku tertaut saat mendengar perkataannya.
"Maksudnya?"
"Yap, kami akan melihat bakat kalian dan mendokumentasikannya lalu kalian akan diimbau untuk mendapatkan pelatihan khusus sesuai kemampuan masing-masing"
"Contohnya, kamu memiliki bakat dapat menggunakan senjata pusaka Heirloom weapons seperti ku , selain belajar di kelas kamu juga akan mendapatkan pelajaran tambahan tentang jenis sihir yang dapat kamu lakukan atau cocok dengan mu sesuai keahlian sihir yang kau miliki" jelas Erdwan yang tiba-tiba muncul entah darimana.
"Ohh begitu" jawabku sambil kan mulutku dan menatap nya malas.
Menurut informasi yang ku dengar, laki-laki yang ku lihat saat ini adalah satu-satunya orang yang memiliki bakat selain sihir yang dapat mengendalikan semua jenis senjata pusaka dengan profesional tanpa harus susah payah menaklukan terlebih dahulu roh penghuni senjata tersebut. Artinya dia memiliki bakat hebat yang cukup langka.
___________________________
Saat mendengar namaku dipanggil, akupun segera maju ke depan banyak orang dan berdiri di depan sebuah bola aneh yang ukurannya sebesar tengkorak manusia dewasa. Rasa gugup dan keringat dingin pun mulai membasahi telapak tangan ku.
Tanganku kini di letakkan di atas sebuah bola bening transparan tersebut. Bola itu akan berubah warna tergantung sihir penggunanya ataupun kemampuan khusus lainnya yang dimiliki oleh orang yang meletakkan tangannya disitu. Jika tidak memiliki bakat apapun maka bola tersebut tidak akan bereaksi apa-apa saat seseorang meletakkan tangan diatasnya.
Seseorang mulai membacakan mantra aneh dan memegang puncak kepalaku dengan pelan. Perlahan aku menutup mataku untuk berkonsentrasi terhadap apa yang diucapkan oleh orang itu. Selang beberapa saat akhirnya dia menghentikan ritual anehnya itu dan akupun dapat membuka mataku kembali.
Bola kristal itu mulai bereaksi sebentar kemudian tidak menghasilkan warna apapun, hanya saja, bola itu sedikit bercahaya namun masih tidak berwarna apapun. Tubuhku mulai lemas saat mengetahui reaksi bola tersebut, "tidak mungkin!" Teriakku tidak percaya.
Kenapa aku sangat tidak ingin semua hal ini terjadi? Pasalnya semua keluarga ketzhie dapat menggunakan sihir, lalu kenapa aku tidak bisa? Bagaimana kalau aku dicurigai dan tidak diakui oleh mereka?. Batinku terus mengelak.
Aku menggenggam dan menjambak erat rambut ku karena depresi. Semuanya kini terasa kabur dipandanganku. Apa-apaan ini, apakah aku akan pingsan?.. pikirku.
"Leca!!"
Aku mendengar teriakan beberapa orang yang panik sembari memanggil namaku.
.
.
.
__ADS_1
Saat aku tersadar aku sudah berada di ruangan yang asing. Ini pastinya masih di wilayah istana. mungkin saja bisa dibilang sebagai UKS kerajaan?. Ohh ayolah aku juga tidak tahu.
Aku mengalihkan pandanganku ke beberapa sisi dan mendapati kakakku yang sudah ada di samping ku untuk menjagaku."Leca! kamu baik-baik saja?" Tanya kakaku. Dia mencubit pipi kiriku untuk memastikan keadaan ku. Sedangkan aku hanya dapat menatap nya dengan wajah datar.
"Aww" aku mengelus pipi ku yang terasa sakit karena cubitan nya.
Dia tersenyum simpul melihat reaksi ku kemudian menundukkan pandangannya. "Aku tidak menyangka bahwa kamu tidak bisa menggunakan sihir,... yaah tapi itu bukan masalah untukku" katanya sambil tersenyum kearahnya ku. Kakak yang satu ini memang selalu penuh kejutan yang menyebalkan.
Kemudian aku menatap kakakku dengan tatapan sendu karena teringat kejadian yang baru saja terjadi tadi.
"Hei tersenyumlah, seperti ini" ucap kakak ku sambil mengukir sebuah senyum di wajah ku dengan kedua jarinya. Aku pun terharu dengan kelakuannya saat ini.
"SROOOT....hikss" aku menangis dan mengelap cairan yang keluar dari hidung ku pada baju kakakku tanpa sadar. Sedangkan kakaku mulai menatap ku dengan tatapan membunuh saat ini dan menatap pakaian nya jijik.
"ALEXA! lIHAT SAJA KUBUNUH KAUUU..." Ucap nya dengan senyuman yang mencekam.
"hwehehehe ampun tuan putri..ampun!" Kataku sambil terkekeh melihat tingkah menyeramkan nya.Kakakku akhirnya hanya menggelitik perutku hingga membuat ku kewalahan.
"Yahh padahal gaun ini adalah gaun kesukaan ku, terpaksaaku harus ganti lagi" dia tampak sedih dibuat-buat.
Aku mulai merasa bersalah. "Maaf..".
"Lain kali kalau kamu melakukan nya aku akan membunuhmu dan memutilasi tubuhmu hingga 125 bagian" ucapnya seraya bangkit dan pergi begitu saja. Tanpa kusadari bulu kudukku sudah berdiri sedari tadi. "serem banget" gumamku pelan pada diri sendiri.
.
.
.
"Apa itu?!" Aku mencium aroma manis keluar dari kotak yang baru saja dibawanya.
"Coba tebak "
"Kuee kuee ya kan?" Jawabku sambil menatap nya berseri-seri.
"Tepat sekali, ternyata hidung mu tajam seperti anjing" ucapnya sambil tersenyum kecil.
Bisa-bisanya dia menyebutku anjing! Sambil tersenyum seperti itu sebagai pujian!! Tapi yasudah lah...aku tidak peduli.
"Bukalah mulutmu aaaa.." perintah nya padaku sambil mengambil sebuah kue dari kotak itu dan hendak menyuapkannya padaku. Melihatnya saja membuat ku kesal dan menggembungkan pipiku untuk menolak kelakuan nya.
Ini keterlaluan! aku malah diserang oleh sikap romantisnya! aku jadi pengen sakit selamanya aja! Tapi kemudian aku membuka mulutku dan ia pun menyuapkan kue rasa coklat itu kedalamnya. Enak sekali!
"Pangeran bagaimana kau tau kalau aku suka kue rasa coklat?" Tanyaku heran padanya.
"Aku bertanya pada seseorang..."
Aku mengangguk singkat lalu mengambil kue yang lain di kotak itu dan menyuapkan padanya. Tapi dia malah memalingkan wajahnya. Itu membuatku bertanya-tanya, aku saja mau, kenapa dia tidak mau..?.
"???"
"Aku ti_tidak mau memakannya, untukmu saja" tolaknya kemudian bergeser ia menjauh dariku. Melihat itu mulutku terbuka lebar karena takjub. OMG Damage imutnya.!!!!💘 Seperti nya dia malu karena disuapin sama anak kecil. Pfffftttt Aku terkekeh geli membayangkannya.
__ADS_1
"Tenang saja Pangeran,aku akan lebih cepat dewasa demi kamu" aku mengedipkan sebelah mataku hingga membuatnya salah tingkah.
Pangeran lalu segera beranjak juga dari sini, seperti nya dia tidak betah berlama-lama dengan ku. Dia ingin menghindari ku? Ehh jika iya seperti itu, aku bakalan kesepian tanpa dirinya. Aku turun dari ranjang tempat tidur ku untuk membuntutinya pergi.
"Ughh" pekik seorang wanita yang hendak masuk ke ruangan ini. Dia bertabrakan dengan pangeran Shun! dan lebih parahnya lagi, dia kini di pegang perutnya agar tidakjatuh kelantai. Tunggu dulu itu adalah Lily Collans! Lagi-lagi hal seperti itu terjadi dihadapan ku.
╥﹏╥
"Te_terimakasih" Ucapnya sambil menegakkan posisinya kembali
"Ehh bukannya kita pernah bertemu?!" Kata pangeran Shun saat melihat Lily.
"Ahh iya?" Lily pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang berbicara dengannya. Kemudian senyuman indah merekah dibibir mungilnya itu. Dia kemudian mengangguk singkat.
"Terimakasih ya, karena ternyata pilihan mu benar-benar tepat" ucap Pangeran Shun kepadanya sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama... Oh iya yang dulu juga terimakasih telah menolong ku Pangeran" jawab Lily masih dengan senyuman yang sama tertera dibibir nya namun sambil membungkuk hormat kepada Pangeran Shun.
Ini buruk! Seperti nya mereka sudah saling kenal... Terlebih lagi saat ini Lily terlihat sedang tersipu karena melihat senyuman Pangeran shun..Oohh noo..
"Duhh" ucapku pura-pura jatuh untuk mengalihkan perhatian mereka.
"Leca!!"
"Alexa!"
Mereka mengucapkan nya secara bersamaan.
Pangeran Shun menggendong ku untuk membawaku kembali ke kasur tadi, namun aku menarik dasinya berkali-kali sehingga dia menatapku heran.
"Pangeran,.. seperti nya aku akan mati..."
"Haaa? Kamu ngomong apasih" dia terlihat tidak percaya dengan ucapan ku. Duhh tinggal ngikutin dramaku aja susah banget sih nih orang.
"Yang sakit tuh disini, disini... Sakit sekali..." Aku menunjuk dadaku yang yang sungguh sangat rata dan datar seperti amplas. Pangeran Shun pun menatap ku dengan pandangan ilfilnya.
"Kamu lucu sekali nona Alexa" Lily tertawa kecil melihat tingkah ku. Apa-apaan itu. Itu sungguh terlihat sangat manis di mataku yang notabene nya adalah seorang wanita. Apalagi dimata pria. Apakah dia berniat menikung Pangeran Shun dariku? Benar saja kan! Aku melihat Pangeran Shun terpaku menatap Lily begitu lama. Menyebalkan sekali...!
Aku langsung mencubit pipi Pangeran Shun dan menarik pandangannya agar kembali menghadapku. Kemudian aku menatapnya dengan sebal setengah mati.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....