Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 45 : Kecurigaan Pangeran Zio


__ADS_3

Pangeran Zio sedang berdiri dalam diam sembari memperhatikan sikap kakaknya yang belakangan ini ia rasa agak mengherankan, bagaimana tidak? Dia selalu melihat kakaknya itu melukis seorang wanita cantik seperti bidadari yang sedang dikelilingi oleh Rukh atau mungkin makhluk aneh lainnya.


Setahu dia wanita cantik memanglah perhiasan yang indah bila dipandang, tetapi lebih baik jika dia memilikinya langsung, daripada memandang sesuatu yang hanya berbentuk seni rupa dua dimensi.


"Kakak kedua, apa gunanya kakak melakukan ini?" Tanya Zio kepada kakak Pangeran Kenn.


"Entahlah aku juga tidak mengerti dengan apa yang kulakukan, aku hanya menuangkan mimpiku selama beberapa hari ini yang terlihat sangat nyata seolah-olah itu benar-benar terjadi," Jawab Kenn dengan mata yang sedikit berbinar.


"Mimpi hanyalah mimpi dan tidak akan pernah terjadi kak, apalagi jika dengan peri seperti ini, sudah sejak lama ras Elf musnah dan tidak pernah muncul lagi ke permukaan bumi,"


"Yaa kan aku menuangkan dalam gambar, bukan meramal dengan adanya lukisan ini." Ucap Pangeran Kenn lagi sambil tersenyum jengkel ke arah adiknya yang banyak tanya itu. Padahal biasanya kerjaannya hanya diam sambil ikut menikmati lukisannya tapi sekarang malah bertanya-tanya.


Pangeran Zio lantas memejamkan matanya sebentar, setelah itu suasana menjadi sunyi dan kursi tempat melukis dihadapannya itu sudah kosong, tidak ada seseorang yang biasa disebutnya kakak lagi dan menemani hari-harinya.


Pangeran pertama juga merupakan kakaknya tetapi dia hanya sibuk dengan urusan perihal kenegaraannya dan jarang sekali memperhatikannya. Karena itu Pangeran Zio cenderung lebih dekat dengan pangeran Kenn.


Pangeran Zio pun membuka tirai putih yang menutup salah satu lukisan tersebut kemudian dalam waktu yang cukup lama dia menatap lukisan yang dibukanya itu.


Mungkin dia sekarang sedang merasakan rindu untuk segera bertemu kakaknya lagi dan mengajarinya banyak hal.


Pangeran Zio tampak sedikit tersentak karena melihat sesuatu yang berbeda dari lukisan itu. "Ti-tidak mungkin.." ucapnya terbata.


"Ini adalah Nona Alexa?" Sambungnya kemudian diiringi dengan anggukan kecil olehnya sendiri.


Tapi tidak mungkin juga sih, Alexa terlihat masih begitu kecil sedangkan dalam lukisan ini dia sudah dewasa, wajahnya agak berbeda namun tetap cantik seperti biasanya dan keimutannya itu tidak hilang meskipun sudah terlihat dewasa.


Tidak salah lagi...ini adalah Alexa, tapi bagaimana kakaknya bisa seringkali memimpikan dia?!!!!.


"Apakah kakakku benar-benar bisa melihat masa depan?! Jika benar begitu berarti aku tidak harus memutuskan hubungan pertunangan diantara kami, itu kalau dia benar-benar adalah sosok wanita dalam gambar ini."


Pangeran Zio kembali menutup rapih lukisan itu dengan menggunakan selendang putih. Dia mulai melangkahkan kakinya pergi ke luar untuk menemui kakak pertamanya. Setelah sampai dia langsung masuk ke dalam ruang kerja kakak pertamanya itu kemudian menghampirinya dengan tidak lupa memberi salam hormat.


"Raja aku ingin berbicara empat mata denganmu,"


"Ya silahkan saja adikku," jawab Dylan tanpa melirik sedikitpun ke arah adik kecilnya itu. Dia sudah dapat mengenali hanya dari suaranya saja.


Pangeran Zio memutar pandangannya dan melihat beberapa orang yang tampak sibuk membantu pekerjaan raja ataupun hanya seorang pelayan yang sedang bersih-bersih.


"Apakah tidak masalah jika aku membahasnya disini? Tapi menurutku ini agak sedikit privasi,"


"Yaudah kita bisa pindah tempat saja, tunggu sebentar yah kakak sedang sibuk,"


"Baiklah..."


Pangeran Zio keluar dari ruangan yang penuh dengan lembaran kertas itu, kemudian dia langsung bersender dibalik daun pintu.


Tidak lama kemudian sebuah guncangan sedang menggagalkan kegiatan melamunnya dan sontak mengagetkannya. Terlihat juga seorang pengawal istana datang terburu-buru kemudian menerobos masuk ke ruangan raja dengan menyingkirkan kasar tubuh Zio ke tepi. Pangeran Zio tidak menanggapi serius perlakuan kasar dari pengawalnya itu. Kemudian ikut berlari masuk ke dalam ruangan kakaknya.


"Apa yang barusaja terjadi?" Tanya Pangeran Zio kepada kakaknya.


"Tuan, senjata Heirloom Weapon milik raja pertama yang disimpan sekian lama telah menentukan pemilik barunya," lapor pengawal yang menabrak Pangeran Zio tadi.


"Hmmm menarik." Jawab Dylan sembari tersenyum misterius.


"Kerahkan beberapa prajurit kelas s untuk menangkap orang itu, ada kemungkinan si pemilik senjata itu bukanlah orang biasa yang lemah,"


"Hemmm apa yang terjadi kak? Aku tidak mengerti,"

__ADS_1


"Seseorang kini mengambil senjata yang konon katanya dibuat dan sempat dimiliki oleh makhluk yang disebut Centaur," jelas Dylan sambil hendak beranjak pergi meninggalkan istana utama. Pangeran Zio mengekorinya dari belakang karena merasa penasaran.


"Centaur?"


"Mungkin bisa kau bayangkan manusia berbadan kuda? Ku dengar sih keberadaannya sudah benar-benar punah,"


"Ohh..Tidak bisa, yang jelas rupanya pasti sangatlah buruk."


"Yaah kurasa itu tergantung bagaimana cara kamu menilainya," kata Pangeran Dylan sambil menggaruk tengkuknya sendiri.


Setelah agak lama melangkah karena jaraknya yang lumayan jauh, mereka akhirnya pun berhenti di sebuah tempat yang tentunya paling sering mereka kunjungi, itu adalah tempat pelatihan beladiri khusus.


Sebelum itu Pangeran Zio melihat kereta kuda dengan lambang yang sangat dikenalinya, itu adalah lambang keluarga Duke Kethzie.


'untuk apa keluarga Kethzie kesini?' pikir Pangeran Zio sebelum akhirnya fokus mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya.


Biasanya keluarga Kethzie sangat jarang datang kesini dan lebih memilih untuk latihan di mansion nya saja, kalaupun dia datang kesini maka orang itu adalah Duke Claoudie atau lavender Kethzie yang datang hanya untuk keperluan bertemu dengan Pangeran Kenn atau sekedar ingin melatih kemampuan.


.


.


.


"Sudah kuduga, mungkin orang itu bukanlah orang yang lemah," gumam Pangeran Dylan sambil mengeritkan dahinya dan mengelus-elus dagunya yang tidak berjenggot itu.


"Saya sudah memerintahkan kepada yang lainnya untuk menyelidiki penyebabnya dan ternyata benar saja, ada sebuah jalan rahasia dibelakang labirin yang menjadi tempat uji kelulusan bagi para siswa berkemampuan khusus,"


"Apakah ini ulah salahsatu siswa di akademi?" Tanya Pangeran Zio kepada Pangeran Dylan.


"Sepertinya... Mungkin mereka yang coba-coba untuk uji nyali dan tidak sengaja ke tempat itu" kata Pangeran Dylan.


"Baik raja,"


Tiba-tiba seorang pengawal wanita berlari kearahnya, dia dulunya adalah pengawal pribadinya Ken yang bernama Ren. "Raja kami juga menemukan mereka berempat yang katanya sempat berada di sini saat guncangan itu terjadi,"


Ren datang sembari diikuti oleh datangnya keempat wanita yang datang dengan ekspresi cemas, ketakutan dan kebingungan.


Pangeran Dylan langsung tau dari gelagat mereka yang terlihat tidak sama sekali mengambil sesuatu yang berharga dan atau habis melakukan penaklukan roh. Selain itu, tidak ada senjata apapun yang melekat di tubuh mereka, ditambah lagi mereka tergolong orang-orang yang tidak memiliki potensi sihir yang besar.


"Apakah kalian datang bersama orang lain?" Tanya Pangeran Dylan akhirnya.


Mereka berempat menggelengkan kepalanya menandakan bahwa mereka tidak tahu, namun sepertinya mereka tidak berkata jujur dan terlihat tidak ingin memberitahu apapun.


"Jujur saja, aku juga akan menjamin keselamatan kalian jika kalian diancam soalnya masalah ini cukup penting dan menyangkut keamanan kerajaan Frost" Tutur Pangeran Dylan tapi lagi-lagi mereka hanya bungkam sembari menggelengkan kepalanya kemudian menunduk.


Pangeran Dylan menghela nafas, sepertinya orang itu berbuat sesuatu terhadap mereka atau malah mungkin pelakunya adalah teman mereka yang berharga.


"Kakak, aku akan berkeliling sebentar." Kata Pangeran Zio yang langsung melangkah pergi setelah mendapat tanggapan persetujuan dari kakaknya itu.


Sebenarnya dia curiga jika Alexa Kethzie yang melakukan hal itu tapi dia menepis anggapannya karena Alexa tidak sama sekali memiliki potensi sihir, itu sama saja bunuh diri jika tiba-tiba menaklukkan roh senjata Heirloom.


Pandangan mata Pangeran Zio terpaku pada sebuah benda yang mengkilap terkena cahaya matahari, kemudian dia segera menghampiri benda itu dan mengambilnya.


Dia mengamati benda itu yang ternyata berupa bros putih dengan aksen batu permata ungu, nama batu yang digunakan ini adalah batu Alexandrit, warnanya sama seperti warna mata gadis kecil yang sangat dikenalinya, dan dia juga pernah melihat Alexa memakai bros ini saat ia datang ke tempat Alexa untuk bertunangan dengannya.


"Jangan-jangan dugaanku benar.." Katanya sambil berbicara sendiri, meskipun ia merasa terkejut namun dia tidak menunjukkan sedikitpun ekpresi di wajah datarnya.

__ADS_1


Dia pun segera kembali menemui kakaknya, tanpa basa-basi lagi dia langsung berniat memberitahukannya.


"Kakak, kurasa aku rasa aku tahu siapa pemilik baru dari herloom weapon itu," katanya saat mereka sedang berdua saja dibawah pohon maple besar yang daunnya sedang berguguran tertiup angin. Letak pohon itu sendiri diruang terbuka tidak jauh dari pintu masuk ruang pelatihan.


"Siapa?" Tanya Pangeran Zio tampak serius.


"Alexa Kethzie." Pangeran Zio menatap kakaknya itu dengan tatapan lebih dingin.


"Jangan sampai kau melakukan apapun terhadapnya." Sambungnya lagi kemudian beranjak pergi meninggalkan kakaknya yang hanya dapat terdiam melihat sikap adiknya.


Bagaimana mungkin?! Semua orang tahu kalau Alexa sendiri adalah seorang anak kecil yang tidak memiliki kemampuan khusus apapun, sangat mustahil baginya untuk bisa masuk menaklukkan roh senjata yang pernah menjadi milik nenek buyutnya yang merupakan seorang Arkhon.


Pangeran Zio menghentikan langkahnya di depan seorang kusir kemudian menyuruhnya untuk pulang.


"Sebaiknya kau pulang saja, tuanmu itu sepertinya sudah pulang duluan, dan juga aku ingin menitipkan ini padanya," ucap Pangeran Zio sambil menyerahkan sebuah perhiasan yang sudah langsung dikenali oleh kusirnya.


"Ini milik Nona Alexa, apakah dia benar-benar sudah pulang? Lalu dengan siapa dia pulang?"


"Aku juga tidak tahu, tapi percayalah tuanmu itu akan baik-baik saja," jawab Pangeran Zio.


"Baiklah..." Jawab sang kusir pasrah saja karena dia sudah lama menunggu tapi tidak melihat batang hidung tuannya itu sekalipun.


Si kusir membungkukkan badannya kemudian mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju kemudi bagian kemudi.


Setelah beberapa saat kereta kuda itupun bergerak pergi meninggalkan Pangeran Zio yang hanya diam memandang kepergian kereta itu.


.


.


.


Si burung mungil yang sedang tertidur di dalam kereta pun terlonjak kaget karena kasurnya itu mulai bergerak, dia mengepakkan sayapnya kemudian langsung terbang keluar.


"Apa yang terjadi? Kenapa budak Chun tidak datang?" Tanya Chun kepada sang kusir.


"Sepertinya nona sudah pulang duluan tuan," jawab kusir itu sambil tetap fokus menghadap jalan.


"Pik, sebenarnya dia diculik oleh seekor serigala berbadan manusia,"


Kusir itu membelalakkan matanya karena kaget mendengar ucapan Chun. "Hah benarkah?"


"Tentu saja... tidak." Jawab Chun kemudian masuk lagi ke kereta kuda.


'Bisa-bisanya seekor burung yang baru ditemukan nona males untuk terbang dan memilih santai di dalam.' pikir kusir itu.


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2