
Setelah hujan mereda, matahari yang tadinya tertutupi awan pun akhirnya kembali muncul tapi tentunya kini sudah agak condong ke arah barat.
Aku dan Dummy yang tadinya berteduh di dalam goa kecil yang terdapat disana pun pergi melanjutkan perjalanan melewati hutan setapak, kali ini bukan hutan maple tapi hutan bambu yang ketika ditiup angin maka bambu-bambu itu akan bergoyang menimbulkan suara yang indah seolah-olah mereka bernyanyi.
Mendengar suara itu membuatku merasa sangat tertekan seolah-olah nyanyian itu adalah nyanyian kesedihanku karena pisah dengan pangeran Shun.
"Kau tahu, aku yang merasuki tubuh pangeran Shun dan melepaskan segel Magise ditubuh mu dan aku jugalah yang memasangnya dulu," ujarnya sambil tetap memfokuskan pandangannya ke arah depan.
Mendengar itu sontak membuatku merasa sangat terkejut, aku merasa bersalah karena menuduh pangeran Shun yang aneh-aneh padahal dia tidak tahu apa-apa. Satu hal lagi, ternyata pria itu dulu pernah bertemu denganku dan otomatis dia jauh lebih tua dariku, hanya saja kok bisa dia memiliki wajah yang baby face di saat umurnya sudah tua seperti itu.
"Ohh jadi kau sudah tua yah," balasku.
"Hah tua? tidak lah palingan aku hanya beda 50 tahunan dari mu,"
Mendengar itu membuatku merasa semakin syok, masa iya aku akan menikah dengan seorang pria yang 50 tahun lebih tua dariku. Ini berarti jarak usianya 10 kali lipat dibandingkan aku dan pangeran Shun yang cuma berjarak 5 tahun.
"Apa jangan-jangan dia pedofil?" cibirku tanpa sadar.
Dummy tertawa kecil, "Usia seperti itu masih dibilang wajar, soalnya bahkan ada orang yang terpaut jarak 100-200 tahun menikah loh," terangnya sambil tertawa kecil.
"Ohh iyaa aku baru inget kalau usia di sini dan bumiku itu berbeda," gumamku lagi.
"Bumiku?" katanya heran.
"Tidak apa-apa lagian bagaimana bisa kau memilih wajah seperti anak usia 17 tahunan," tanyaku pelan.
"Karena aku awet muda,"
"Sudahlah tidak ada gunanya aku berdebat denganmu." ujarku malas lalu kembali terdiam.
Setelah agak lama berjalan kami sampai di sebuah lapangan yang penuh dengan rumput hijau dan jarang pepohonan.
Dummy pun merapalkan sihir teleportasinya setelah itu sebuah Arrai berbentuk lingkaran tercipta dan kami pun berpindah tempat ke sebuah mansion tua yang terlihat sangat antik terapi disitu semuanya terlihat tertata dengan rapi.
Dummy mempersilahkan aku masuk karena memang harinya juga sudah gelap kemudian dia langsung menunjukkan kamar yang akan kupakai. Dikamar itu didominasi dengan warna emas dan peach yang sangat cantik membuatku merasa nyaman untuk tinggal di sana. Tapi tentu saja kenyataannya tidak.
"Kau terlihat kelelahan, silahkan tidur saja dulu," ujarnya yang datang sambil membawa segelas teh.
"Kamu juga," ucapku malas.
"Terimakasih karena sudah pengertian," katanya sambil tersenyum tipis.
"Hari ini hanya ada kita berdua tapi mulai besok aku akan menyewa beberapa pelayan untuk menjagamu," katanya lalu pamit pergi dari kamarku sekarang.
Aku menghela nafas lega lalu membaringkan tubuhku diatas kasur.
"Emangnya... Abis menikah itu ngapain yah, kok ngebet banget pengen nikah sama aku," pikirku mencoba untuk mencari tahu.
Beberapa detik kemudian aku baru sadar, "Abis menikah itu yah bikin anak begoo," jawabku sendiri yang langsung syok setengah mati.
"Ngak ngak! yang bener aja! masa aku melakukan hal itu selain dengan pangeran Shun, aku mah gak mau, gak sudi, gak ikhlas... huaaa gimana dong!"
__ADS_1
"Lagian kalau punya anak nanti bakalan ngapain? dibuang? huehuehue aku gak mau, ibuu ayahhh! aku diculik orang ganteng!." Teriakku keras sambil merengek dan berguling-guling di kasur.
Beberapa detik kemudian pintu kamar langsung terbuka membuatku sontak terkejut.
"Kenapa? Apa ada kecoak yang mengganggumu lagi?" tanyanya panik sambil menghampiriku.
Mengganggumu lagi? wah sepertinya dia benar-benar pernah tinggal dengan seorang wanita. Batinku curiga.
"Ahh iyaa ada kecoak tadi," jawabku langsung memperbaiki posisiku menjadi duduk di samping ranjang.
Dummy menggapai kakiku lalu menaruhnya di pipinya, dia tersenyum lembut. "Tidak apa-apa selama aku disini kau akan baik-baik saja, aku berjanji itu," ucapnya.
Omgg kakiku masa ditaruh di mukanya, apa dia masokis? apa mungkin dulunya ceweknya itu galak sama dia?. batinku lagi.
Aku menggeleng cepat lalu menarik kakiku.
"Tidak ada kecoak sama sekali disini! sebaiknya kau pergi saJa!" kesalku lalu pura-pura tertidur.
"Kenapa kau kesal?" tanyanya dengan wajah polos.
"Tidak apa-apa,"
"Bener tidak apa-apa nih kalau ku tinggal?"
"Iyaa,"
"Asal kau tahu saja yah mansion ini sudah tidak kutinggali lagi sejak 5 tahun yang lalu,"
Ok. Sekarang jawabannya membuatku merinding. Mansionnya ditinggal selama 5 tahun tapi kok tetep bersih dan rapih kek dihuni seseorang. Sontak aku langsung terduduk sambil memegang tangannya.
Dummy tersenyum kecil lalu menepuk puncak kepalaku, "Tenang saja, jika kita udah menikah kau tidak akan lagi sendirian,"
"Maksudnya apa yah?" tanyaku tidak mengerti.
"Yahh kita akan main bareng, mandi bareng, tidur bareng, semuanya bareng,"
Membayangkan semua kalimat yang barusaja dilontarkannya saja langsung membuatku jijik.
"Maaf tapi aku tidak ingin menikah denganmu, aku hanya mau ikut denganmu aja," jawabku ketus.
Dummy menyeringai, "Kalau begitu kita bisa melakukannya tanpa ikatan pernikahan,"
"Najis!"
Dummy tertawa kecil lalu melangkah ke arah pintu, kemudian dia berbalik sambil melambaikan tangannya.
"Panggil saja aku kalau kau butuh ok?"
"Tidak akan! Aku bisa sendiri!" kesalku kemudian langsung tertidur setelah beberapa saat mengatakan itu.
***
__ADS_1
Keesokan paginya aku dikejutkan oleh beberapa orang yang sudah ada didekat ku sambil merapihkan dan menyiapkan ini dan itu.
Aku yang barusaja terbangun hanya bisa melongo melihat orang-orang berpakaian maid itu sudah ada pagi ini. Ternyata Dummy terlalu cepat atau mungkin sebelumnya sudah ada rencana buat memanggil mereka hari ini.
"Selamat pagi nyonya..." Ucap mereka semua membuatku jadi salting sendiri.
Biasanya aku dipanggil nona tapi kok sekarang nyonya, padahal kami belum menikah. Haihh sudahlah aku tidak peduli.
"Nyonya hari ini aku menyiapkan pakaian yang cantik untuk dipakai anda saat ini,"
"Baiklah-baiklah nanti ku pakai setelah mandi,"
"Nyonya apakah kau ingin saya menggosok punggung anda?"
"Tidak terimakasih,"
"Nyonya apakah kau ingin mandi air panas atau air dingin?"
"Tidak keduanya,"
"Baiklah, Nyonya kau ingin makan apa pagi ini?"
"Apa aja,"
Ahh yaampun lama-lama aku risih juga dengan pelayan-pelayan ini. Aku ingin segera keluar dari mereka. Akupun beranjak dari sana namun tetap saja mereka tetap mengerumuni aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang merepotkan.
Tiba-tiba Dummy yang barusaja lewat kemudian melihatku langsung menghampiriku dan merangkul ku ke sisinya.
"Nyonya kalian akan ku pinjam dulu, biar aku saja yang mengurusnya," ucap Dummy sambil tersenyum.
Aku terdiam sambil menatap kepergian pelayan-pelayan itu yang masih saja sama heboh dengan sebelumnya.
Akhirnya Dummy mengajakku untuk duduk sebentar lalu dia menyuguhkan susu hangat pagi ini.
"Bagaimana? kau tidak merasa sendirian lagi kan dengan adanya mereka?" tanya Dummy.
"Tidak sih tapi... mereka bukan temanku," lirihku lalu beranjak dari sana untuk membersihkan diri.
Sejenak tadi aku melihat ekpresi Dummy yang menatapku dengan tatapan hampanya. Aku benci tatapan seperti itu, membuatku merasa ingin membantu mengisi kekosongan orang itu.
.
.
.
****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...