Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 12 : Gara-gara Ulat


__ADS_3

"Saint adalah iblis?" Lirihku.


Aku tidak bisa tidak berhenti memikirkan tentang perkataan itu. Semuanya masih terasa jelas dan melekat di pikiran ku. Aku mulai menepuk pipiku dengan kedua tanganku.


'jangan melamun Leca!' batinku.


"Leca sini!" Seru Kecha padaku yang berhasil membuatku ku tersentak.


Aku melirik asal sumber suara itu. Ahh akhirnya aku menemukan orang itu. Daritadi aku hanya keliling bangku taman saja dan ternyata yang dicari malah duduk di bawah pohon. Anehnya pohon sebesar itu bahkan tidak kelihatan dimataku. Aku segera menuju ke tempat dimana Kecha sedang duduk, di bawahnya di gelar sebuah karpet untuk alas duduk dan 2 cangkir teh.


Apakah ini mau pesta minum teh?


"Kamu kemana saja? Daritadi aku nyariin lohh" kataku sambil menuangkan secangkir teh yang kini ku pegang.


"Ehh benar kah? Bukannya kamu yang bilang kalau kita bertemu di taman utama?... Hmmm, yaa aku lebih memilih disini karena duduk di bawah pohon itu sejuk dan tenang...ohh yaa daritadi aku liat kamu keliling sambil tergesa-gesa, kenapa?"


"Aku...akuu jelas saja kan mencari mu" Aku malas memberi tahu yang sebenarnya,karena itu aku bingung memilah kata apa yang harus ku ucapkan. Mulut kecilnya Kecha pun membundar membentuk huruf O.


Sejenak keheningan berlangsung di antara kami. Aku sibuk memikirkan tema apa yang akan kubuat di dalam puisi ini. Namun kertas dihadapan ku ini sama sekali tidak tergores tinta pun oleh jariku.


"Kamu akan membuat puisi tentang apa?" Tanyanya padaku.


"Entahlah mungkin tentang langit..." jawabku.


"Wow, aku akan membuat puisi tentang hewan, contohnya ulat.. soalnya mereka itu menarik bagiku, mereka awalnya hanyalah ulat yang buruk rupa dan tidak disukai oleh banyak orang kemudian mereka ber evolusi menjadi kupu-kupu yang cantik dan disenangi banyak orang ketika dipandang, namun tetap saja akan ada makna tersirat dari puisi yang ku buat"


"Ahahah keren banget sih kamu, tapi aku gak ngerti maksudnya"


"Maksudnya itu_"


PLUK


"KYAAAA!!"


Tiba-tiba saja aku melihat ulat hijau jatuh di puncak kepala Kecha. Reflek aku menjauh darinya beberapa meter.


"Kenapa Leca?" Tanya Kecha padaku dengan raut wajah panik.


"ADA ULAAT HIJAU DIKEPALAMUUU!!" teriakku sambil berlari menjauh.


"Heeiii leca! Lelucon mu tidak lucu sama sekali!"


"Itu bukan lelucon kokk, benar-benar adaaaaaaaaa!"


"Huwaaa tolongin aku makannya! Jangan kabur!" Teriak Kecha padaku. Dia yang panik terus mencoba mendekati ku.


"Hush husshh! Jangan dekat-dekat aku dong nanti ulet nya nempel, gatel tau!" Tolakku.


Rupanya Kecha tidak menyerah untuk mendekati ku. Apakah dia mau menular kan ulat itu padaku?! Aku harus berlari secepat nya dari sini. Namun Kecha berhasil meraih tanganku. Percuma saja wajah memelas nya kini tidak akan ampuh padaku. Aku gak mau menyentuh ulat itu untuk mengusir dari rambutnya. Aku tidak akan mau terjangkit penyakit gatal-gatal gara-gara seekor ulat.


"Huwaaa leca tolongin aku.. aku udah mau mati nih, cepatetan kamu usir ulatnya!"

__ADS_1


"Gak mauu, jangan dekat-dekat aku, akutuh alergi ulat hijaau"


BRUKKK


Aku terjatuh karena menginjak gaunku lalu kemudian Kecha yang mengejar ku juga ikut terjatuh dan menimpa tubuhku. Kecha dengan sigap mulai membenarkan posisinya segera.


"Adududuh sakit" aku pun memegang bahuku. Dan alangkah terkejutnya aku melihat ulat itu menempel di bahu kananku. Seketika aku langsung panik.


"KYAAAAAAA!!! Tuh kan aku ketularan uletnya" Teriakku heboh sendiri.


"Leca!! Tenang saja aku akan menyelamatkan mu" Lalu Kecha segera pergi dan mengambil teko yang berisikan teh dan menyiramkanya padaku.


"Apaapaan aku malah basah gini! Tolongin dong uletnya malah jalan-jalan ihh"


"Seperti nya ini masalah serius! Aku harus pergi mengambil senjata!"


"Haaa ? Kecha kamu bercanda ya? Kamu mau bunuh aku?!"


"Ini serius!" Ucap Kecha yang langsung mengambil sebuah sendok teh.


Haa.. jadi itu senjata yang dimaksud? Dia pintar sekali!


"HAIYAA_" Kecha mulai berusaha untuk mencungkil ulat itu dari bahuku. Namun tidak berhasil, karena mentalnya dipenuhi dengan rasa takut.


"Aghhh aku sudah muak dengan kalian!" Ucap suara misterius yang entah darimana asalnya. Namun sumber nya dari atas pohon. Aku pun mendongakkan kepalaku.


Dan tiba-tiba seseorang lompat dari pohon dan menghampiri ku. Dia adalah_


CLICK


"Pangeran Zio!" Pekik Kecha.


"Eehh Zio?! Hei kenapa kamu bisa ada di atas pohon, Jangan bilang kamu mendengar percakapan kami!"


"Tentu saja dengar, hanya orang tuli yang tidak bisa mendengar kerusuhan kalian"


"Daritadi aku mau mengerjakan puisi ku tapi selalu terganggu dengan tingkah kalian, aku sempat tidak menghiraukan nya tapi tadi sudah terlampau lebaynya... Karena itu aku gak tahan lagi" tambahnya.


"Haaa! Lebay katamu!"


Aku tidak terima penghinaan ini. Aku adalah seorang putri Duke, tidak mungkin bertindak lebay. Itu sama saja dengan melecehkan harga diriku sendiri.


"Maaf tapi itu kenyataan nona, hanya karena ulat hijau yang tidak berbulu itu jatuh menempel di tubuh kalian, dan kalian malah heboh tidak jelas" jelasnya dengan tatapan mengejek.


"Kecha!" Panggil ku.


"Iya?!"


"Ayo kita pergi dari sini, kita harus mencari tempat lain yang lebih aman!"


"Okweehh"

__ADS_1


"Hei aku menyelamatkan kalian dari ulat itu dan kalian bahkan tidak berterima kasih padaku!"


"Terimakasih!" Ucapku lalu segera menyeret Kecha pergi dari situ.


"Te terimakasih Pangeran" Kecha tampak malu-malu. Mungkin dia berfikir bahwa Pangeran Zio itu gentleman? Ohh tentu tidak bagiku.


"Kecha kau harus hati-hati dengan orang seperti itu, dia bisa saja yang sengaja menjatuhkan ulat hijau itu ke atas kepalamu, Dia kan ada di atas pohon saat itu" omelku ketika kami sudah menjauh dari sana.


"Emm kita tidak boleh menyalahkan nya.. Yang lebih penting,... Sepertinya kau harus mengganti gaunmu yang kotor, Leca"


Aghhh iyaa gaunku kotor. Semua itu ulah wanita cilik yang berada di hadapan ku sekarang. Namun aku tidak bisa menyalahkan nya, karena saat itu dia berniat untuk menyelamatkan ku. Aku hanya dapat menghela nafas pasrah.


"Baiklah" Jawabku akhirnya.


.


.


.


***


.


.


.


"Anak-anak, kumpul kan kertas kalian, besok kalian harus membacanya di depan umum, senior juga akan menyaksikan puisi pertama buatan kalian itu, tidak masalah jika tidak bagus... Karena itu adalah latihan mental bagi kalian dan kalian harus membiasakan berbicara di depan orang banyak karena di masa depan kalian juga akan menjadi bangsawan terpandang yang harus memberikan arahan di hadapan orang banyak"


Aku menelan air liur ku dengan kasar. Dan hanya menatap kertas yang berisikan coretan saja di situ. Kemudian aku beralih menatap Kecha yang sama tegangan nya dengan diriku saat ini. Kami berdua saling tersenyum gugup. Keringat dingin mulai membasahi dahi kami. Kemudian kertas itu diambil paksa dan dijadikan satu dengan yang lainnya.


"Kecha.. punya mu sudah selesai?" Tanyaku padanya. Kecha tersenyum kecil.


"Tinggal sedikit lagi" jawabnya.


Aghhh berarti cuma aku yang belum menulis bait puisi sedikitpun dan malah membuat coretan tidak jelas di kertas... Semua itu adalah gara-gara ulat hijau sialan itu. Huhu karenanya aku tidak bisa menyelesaikan puisiku. Puisi yang seharusnya ku baca dengan nada yang indah dan rangkaian kata-kata yang menyentuh serta mengandung makna yang mendalam. Semua itu kini hanyalah ada di hayalan ku saja. Yahh memang pada dasarnya aku tidak bisa membuat puisi...


'padahal masih ada saja tadi waktu yang cukup untuk membuat nya, tapi di otakku tidak terlintas apapun!! Terus bagaimana besok aku harus menghadapi nyaaa?!'


.


.


.


******


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2