Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 82 : Tenggelam


__ADS_3

"Tapi Leca, Saran tetaplah saran, aku hanya akan melakukannya kalau aku mau, jadi semua itu adalah murni karena keinginku, jangan berpikiran yang tidak-tidak," ucapnya sambil tersenyum lembut.


Hahh... Lagi-lagi dia menenangkan kegundahan hatiku. Aku rasa aku ingin meleleh lagi saat ini. Mungkin ramalan dalam gulungan biru itu benar, kami adalah pasangan beruntung yang saling melengkapi.


"Pangeran, aku ingin melakukan sesuatu padamu boleh?" Tanyaku ragu.


Aihh kok rasanya aku tidak punya malu yah. Bertanya seperti ini kepada seorang pria. Tapi aku ingin melakukannya, hanya sekali saja, plisss boleh yaa Pangeran Shun jawab boleh yaaa.


"Boleh emang mau apa,"


Aku menaik nafas lega.


"Anuu.... Sebenarnya aku ingin membuat ****** di lehermu," ujarkan yang langsung merasa seluruh isi kepalaku keluar asap terutama dari telingaku.


"******?... ohh kau ingin menaruh ikan ****** di leherku?" Tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan... bukan ****** yang itu,"


"Jadi apa itu?" Tanyanya lagi.


"Semacam ciuman yang memberikan bekas di leher," terangku sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku.


Wajahnya seketika ikut memerah, "Ohh itu, Boleh kok." ucapnya sambil membuka kancing bajunya perlahan lalu membukanya sedikit. Hingga memperlihatkan bagian leher dan dadanya yang tidak bisa aku jelaskan keindahannya.


"Ha-hanya satu kali kok!" Ucapku gagap.


"Yeaah." Jawabnya langsung menutupi sebagian wajahnya dengan tangan.


Baiklah, saat ini aku mendekat ke arahnya hingga bersandar ke dada bidangnya namun aku berhenti ketika hampir menyentuhkan bibirku ke kulitnya.


Waduhhh gawat Leca! Aku tidak tahu cara membuat ****** itu gimana? Soalnya aku belum pernah melakukan sebelumnya huaa... Gimana nih.


Tapi aku tidak boleh terlihat cupu dan harus provesional, aku harus tetap melakukannya.


Aku menahan nafasku kemudian membuka mulutku lalu menggigitnya keras.


KRAUKK


"Aghhhhh stop Leca! Kau mau menciumku atau membunuhku!" Teriak Pangeran Shun sambil menahan kedua bahuku.


"Hehehe sebenarnya... Aku gak tau caranya. Jadi ku gigit aja keras-keras, tuh buktinya udah ada merah-merahnya, berarti aku berhasil kan?" ucapku sambil nyengir kuda.


Pangeran Shun langsung menutup kembali bajunya kemudian memegangi luka dilehernya. "Huhuhuhu sakit banget Leca, kau tega, pasti Erdwan langsung mengejekku setelah melihat bekas ini" keluh Pangeran Shun sambil merengut.


"Maaf Pangeran heheh maaf banget, gak lagi-lagi deh," ujarku sambil menelungkupkan kedua tanganku di depan wajah untuk meminta maaf.


"Tidak apa-apa, lain kali akan ku ajarkan deh, tapi lain kali," ujar Pangeran Shun sambil meringis kesakitan.


Aku hanya bisa menatapnya kasian kemudian langsung mengambil pita yang mengait di pinggangku.


"Diam sebentar Pangeran," ucapku yang langsung dituruti olehnya.


Ku buka sebagian kerah bajunya dengan pelan lalu mengikat pita itu dilehernya dengan pelan menutupi luka tadi.

__ADS_1


"Dengan begini kan comel," ucapku sambil berbinar menatapnya. Dia sangat imut dengan ikatan pita yang melekat cantik dilehernya... Ii jadi gemezz deh.


Wajah Pangeran Shun berubah pias, "Aihh... Terserahlah," ujarnya pasrah.


Senyumku memudar ketika melihat sesuatu, "Pangeran..." Lirihku.


"Kenapa dibahumu ada bekas gigitan?" Tanyaku lagi masih dengan ekspresi tidak percaya.


"Enggak tau,"


"Kok bisa enggak tahu,"


"Karena pas aku sadar, tanda ini sudah ada," ucapnya sambil menunjukan bekas gigitan dibahunya.


"Aku yakin, kalau ini adalah gigitan vampir,"


"Emang ada vampir? Ku dengar itu hanyalah makhluk mitologi,"


Aku menggelengkan kepalaku, "Familiar kakak ku juga adalah seorang vampir, jadi vampir bukanlah makhluk legenda saja tapi benar-benar nyata,"


"Benarkah?"


"Iyaaa,"


"Dan aku juga mendengar sesuatu tentang keberadaan Magise, katanya dia adalah Dewi alam yang ditakdirkan bersama Saint untuk memimpin dunia,"


Pangeran Shun membelalakkan matanya, lalu wajahnya terlihat sangat berseri-seri "Kau juga mendengar tentang itu Leca?"


Aku mengangguk, "Tapi Pangeran, hanya saja aku meragukan keberadaan Magise,"


"Istri? Bukannya kau sudah punya aku," Tanyaku sambil menggembungkan pipiku kesal.


"Aku membutuhkannya untuk memperpanjang usiaku, karena dia terlahir dengan keabadian, jadi aku membutuhkannya," kata Pangeran Shun sambil menundukkan kepalanya.


"Tapi jika kau tidak setuju, aku hanya akan mencarinya untuk memintaku hidup lebih lama lagi setidaknya sampai cita-citaku tercapai," ucapnya lagi sambil tersenyum miris.


"Pangeran. Sebenarnya aku tidak melarangmu untuk menikahi gadis Magise, hanya saja..." Ucapanku terhenti ketika tiba-tiba saja sesuatu mengejutkanku.


BRAKKK


BYURRR


Perahu yang kami naiki langsung terbalik karena sesuatu yang mengejutkan itu.


Aku langsung terjatuh bebas ke air danau tanpa sempat memegang bagian perahu itu.


Aku merasa sangat panik dan berusaha untuk berenang, tapi aku sama sekali tidak bisa berenang dan hanya dapat memberi sinyal dan meminta tolong agar aku tidak tenggelam.


"Tolong! Hhhhh." Ucapku berusaha mengambil nafas namun malah air yang kuhirup dan otomatis membuat seluruh kepalaku merasa sangat pusing sebelum akhirnya aku benar-benar tenggelam.


"Leca!!" Teriak Pangeran Shun memanggilku lalu berenang cepat ke arahku.


Hahhh Blupp Blupp Blupp...

__ADS_1


Apa ini? Pangeran Shun mencoba untuk meraih tanganku tapi aku tidak bisa menggapainya. Kenapa?


Dengan cepat aku tenggelam karena sesuatu menarikku dari bawah air.


Semuanya menjadi sangat gelap dan dingin. Aku tidak bisa merasakan apa-apa selain rasa sakit dikepalaku dan sesak di dadaku.


.


.


.


.


Aku tersentak dan langsung mengerjapkan mataku berkali-kali. Barusaja aku bermimpi? Tidak tidak itu pasti nyata.


Aku menghela nafasku pelan lalu turun dari kasur tapi aku tiba-tiba tertegun saat melihat kasur itu seperti sebuah goa yang penuh dengan dekorasi tanaman air dan kerang.


"Ehhhhhhh. Ini di mana?" Teriakku panik sambil memegangi dadaku yang tiba-tiba menjadi sesak.


Tunggu, padahal sebelumnya aku tenggelam, tapi kok masih hidup? Apa mungkin ini surga. Iya pasti ini yang namanya surga.


Aku langsung berputar ria sampai gaunku mengembangkan di udara. "Aku merasa... Sejuk," gumamku sambil menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.


sedetik kemudian aku menghentikan kegiatanku, lalu menggelengkan kepalaku, "Tidak Leca, sepertinya ini bukanlah seperti yang kupikirkan, bisa saja ini adalah penculikan!" pekikku langsung panik.


Setelah itu aku membuka gorden putih yang jadi penutup pintu di kamar tadi lalu berjalan tergesa-gesa di lorong kecil yang berdinding batu-batu kerikil berlapis emas.


Langkahku terhenti ketika melihat seseorang yang aku kenali jauh di depanku.


"Pangeran Shun..." Lirihku ketika melihat seorang pria yang dirantai dengan tembaga.


"Apa-apaan ini? Ini penculikan! Lepaskan aku!" Teriak Pangeran Shun sambil berontak.


Di hadapan Pangeran Shun sendiri terdapat seorang wanita bergaun biru dan bermahkota mutiara yang tengah duduk di singgasana megahnya.


Ia membawa pecut panjang di tangannya yang bisa saja ia gunakan kapanpun, melihat penderitaan orang di hadapannya yang tengah terikat oleh banyak rantai dia tidak berniat mendengarkan teriakannya, melainkan hanya diam sambil mengeluarkan seringai jahat di bibirnya.


"Bunuh dia!" Titahnya kepada para pengikutnya sambil menunjuk tegas ke arah Pangeran Shun.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2