
"Selanjutnya putri Alexa Kethzie, kau ingin meminta apa?" tanya Ayahanda padaku.
Aku tertegun lalu menundukkan wajahku lama. Aku tidak bisa mengatakannya lagi sekarang, karena dia sekarang sudah tiada lagi, sekarang aku harus bagaimana?....
"Katakan apa yang kau inginkan?" tanya ayahku lagi yang membuatku tersadar dari lamunanku.
"Aku... aku ingin kau merestui hubunganku dengan pangeran Shun," kataku setengah berteriak.
Setelah mengatakan itu aku mendengar banyak suara keributan yang tercipta di sekitar kami. Tentu saja, ini membuat bingung mereka yang baru pertamakali mendengarnya.
Ayahku dan kakakku terlibat dalam pembunuhan kekasihku yang merupakan anak dan adik mereka sendiri. Ini memang membingungkan tapi semua itu terjadi karena sebuah kesalahpahaman yang semula kecil, dibiarkan berlalu hingga bertahun-tahun dan menciptakan sebuah amarah dan dendam.
Sekarang banyak suara yang heboh membicarakan kami. Mulai dari rumor hingga kenyataan buruk pun dibicarakan oleh mereka dari mulut ke mulut dengan sangat cepat.
"Apa kau dengar? Pangeran Shun dibunuh oleh putri Lavender, tapi putri Lavender adalah kakaknya putri Alexa yang merupakan kekasihnya pangeran Shun,"
"Ini adalah masalah internal kerajaan, sebaiknya kita tidak ikut campur, biar mereka sendiri yang menyelesaikannya,"
"Tapi apa kau sadar, membunuh pangeran Shun itu berarti... kita akan perang dengan kerajaan Arrenthia lagi?"
"Ahh iya, aku tidak ingin ikut berperang,"
"Aku takut mati,"
"Aku tidak ingin ada darah lagi,"
"Aku takut pembantaian,"
Raja Claoudie berdiri sambil mengangkat tangannya. "Harap tenang semuanya, disini tidak akan ada lagi perang, aku janji akan hal itu, sebagai gantinya aku akan mengundurkan diri dari tahtaku dan putriku akan dihukum mati besok, selain itu kami juga akan mengirimkan permohonan maaf kami dengan tulus kepada kerajaan Arrenthia, semoga saja mereka menerima penyesalan kita," ujar Claoudie dengan tegas.
"Ayah..." Gumam Lavender yang terlihat tidak percaya.
"Selain itu, aku tetap akan memberikan restuku pada hubungan putriku dengan pangeran Shun meskipun sekarang sudah terlambat," kata raja Claoudie sambil tersenyum lembut.
Aku langsung terduduk lemas, entah kenapa tiba-tiba punggungku bergetar karena aku menangis, kali ini aku benar-benar merasa telah kehilangan. Pangeran Shun benar-benar sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku telah gagal menyelamatkannya, andai saja saat itu aku tidak pernah meninggalnya sendirian pasti ini tidak akan pernah terjadi pada kami.
"Putri Alexa..." Lirih Lily pelan sambil merengkuh bahuku.
"Lily... Aku sangat mencintainya, aku sangat merindukannya setiap kali kami berpisah, aku sangat-sangat menyukainya lebih dari apapun tapi dia pergi meninggalkanku lebih dahulu padahal aku berjanji akan melindunginya," ucapku di sela-sela tangisku.
"Ini adalah takdir kau tidak bisa melawannya," kata Lily pelan.
"Tapi takdir terlalu jahat untuk kami, ini adalah semua salah takdir, aku membenci takdir ini, andai saja aku bisa merubahnya, andai saja aku lebih kuat,"
"Sudahlah Nona Alexa, kau tidak perlu menyalahkan dirimu dan takdir, kau hanya harus menerimanya,"
Setelah itu aku dibawa ke kamarku untuk menenangkan diriku, bahkan saat ini aku tidak tahu bagaimana caranya untuk dapat tenang.
Lalu untuk apa aku ada? Kalau akhirnya tetap akan sama, dia dibunuh oleh kakakku sendiri? Aku membenci kenyataan ini.
***
Hari telah berganti tanpa menungguku sedetik saja untuk bersedih berduka namun sekarang duka baru akan muncul dalam kehidupanku. Yaitu kematian kakakku sendiri yang aku saksikan di hadapanku.
__ADS_1
Sebelum itu dia berkata padaku kalau dia sangat menyayangiku, meskipun begitu dia sulit mengatakannya kalau dia peduli padaku.
Selain itu peti mati ibuku juga akan dikuburkan hari ini bersamaan dengan kematian Lavender.
Sekarang yang memerintahkan adalah seseorang yang menjadi tunangan kakakku sendiri. Dia adalah raja baru, pangeran Kenn yang akan memerintahkan kepada algojo untuk membunuh kakakku.
Aku tahu pangeran Kenn mulai memiliki perasaan pada kakakku itu, tapi sekarang dia harus mengesampingkan perasaannya pada keadilan.
"Aku telah mengirimkan beberapa orang untuk mengirimkan pesan ke kerajaan Arrenthia, dan mereka setuju untuk memberikan hukuman mati pada putri Lavender," ujar pangeran Kenn yang berbicara dengan tanpa ekpresi.
Aku membalikkan badanku sambil memeluk ayahku. Aku tidak ingin melihat kakakku dihukum mati dihadapanku, bagiku itu mengerikan. Kematian itu menakutkan dan sangat menyakitkan.
"Ayah aku takut," gumamku pelan.
"Aku juga, tapi mau bagaimana lagi, ini karena dia yang membunuhnya,"
"Tapi kakak tidak sepenuhnya salah," lirihku pelan.
Pangeran Kenn memberi aba-aba dengan tangannya dan dia berdiri di hadapan tunangannya itu.
"Aku akan menghitungnya hitungan satu sampai tiga, jika ada pesan yang ingin kau sampaikan, sampaikanlah sekarang sebelum kamu mati," kata pangeran Kenn.
Lavender yang kedua tangannya di sekap tali lalu menengadah ke atas menghadap pangeran Kenn. Air matanya terlihat jelas, namun dia malah tersenyum menatap pria itu.
"Aku mencintaimu," lirihnya sebelum kemudian menundukkan kepalanya lagi.
Pangeran Kenn tersentak lalu menatap Lavender lekat.
"Aku juga," jawab pangeran Kenn pelan.
"Tiga...,"
Algojo yang memakai jubah disamping Lavender itu mengangkat pedangnya tinggi tinggi.
"Dua...,"
Pedang itu terlihat semakin tinggi, untuk mengumpulkan tenaganya sedangkan pangeran Kenn langsung mundur beberapa langkah dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Satu!!"
"Hentikan!" Teriak seseorang yang tiba-tiba datang dan berdiri di ujung tembok, tapi terlanjur pedang itu bahkan sudah mencapai tanah. Orang yang berteriak itu adalah Erdwan si pengawal setianya pangeran Shun.
Namun Lavender berhasil diselamatkan oleh seorang pria bertopeng yang dengan sigap memindahkan gadis itu ke sisinya sebelum pedang itu menyentuh mereka.
Lavender membuka matanya yang sedari tadi terpejam kuat.
Laki-laki bertopeng itu lalu membuka penutup wajahnya dan tersenyum singkat.
"Sudah cukup, kau tidak perlu menerima hukuman lebih dari itu, karena bagaimanapun kau akan menjadi kakak ipar ku nanti," ucapnya keras.
"Pangeran Shun?!" Lavender terperanjat.
Ahh bahkan aku sendiri tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Ini seperti mimpi di siang bolong.
__ADS_1
Tiba-tiba pangeran Zio datang lalu mencubit pipiku.
"Ouchh sakit!" kesalku lalu mengelus-elus pipiku.
"Ini bukan mimpi, jadi pergilah," kata pangeran Zio sambil tersenyum lebar.
"Yah kau benar, meskipun ini seperti tidak nyata tapi ini bukanlah mimpi," imbuh ayahanda.
Aku menatap mereka dengan tatapan haru. Lalu aku mengangguk dan turun dari tempat dudukku berlari ke arah pangeran Shun.
"Wah Nona Alexaaa!" Kata Erdwan senang sambil menengadahkan tangannya untuk menyambutku.
Namun sayangnya aku melewati dirinya dan berlari ke arah pangeran Shun lalu memeluknya.
Pangeran Shun tertawa kecil sambil membalas pelukanku.
"BODOH BODOH BODOHHH PANGERAN SHUN BODOH! aku mengkhawatirkanmu tapi kau pergi kemana saja! kau hampir membuatku gila karena terus memikirkan mu! Kau hampir membuatku putus aja!"
"Ahhhaha aku tidak menyangka bahwa lecaku khawatir sampai segitunya, banyak hal yang terjadi dan aku tidak bisa menjelaskannya dengan sederhana padamu,"
Pangeran Shun mencubit pipiku gemas lalu tersenyum tipis. Itu adalah senyuman yang tidak adil, karena senyuman itu membuatku tidak bisa marah kepadanya.
"Huaaaa!!" Teraikku sambil menangis seperti anak kecil. Aku tidak peduli dengan apa yang dilihat oleh mereka yang penting sekarang dia sudah ada di sisiku lagi saat ini.
Pangeran Shun terlihat bingung untuk membuatku diam karena dia merasa malu sudah dilihat oleh banyak orang.
"Leca, sudahi tangismu," gumamnya setengah berbisik.
Aku tidak menggubris dan tetap menangis sambil memeluknya seperti anak kecil.
"Kau bisa menciumnya untuk menghentikan suara berisik dari mulutnya," seloroh Lavender.
Seketika wajah pangeran Shun langsung memerah. "A-aku ti-tidak mau," jawabnya gagap.
Mendengar itu membuat tangisku makin mengeras. Ternyata pangeran Shun sudah membenciku selama ini hiks.
"Ahh baiklah-baiklah sebaiknya kau segera diam," kata pangeran Shun lalu menciumku lembut.
Aku langsung terdiam membeku. Tidak kusangka pangeran Shun benar-benar akan melakukannya. Rasanya ada kupu-kupu yang memenuhi seluruh perutku dan jantungku terus berdegup kencang seperti sorakan banyak orang yang memenuhi telingaku.
Pangeran Shun menyudahinya dengan senyuman lembut darinya lalu langsung memalingkan wajahnya sendiri. Sedangkan aku? Aku yakin aku sudah tidak bernyawa lagi.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...