Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 96 : Bukan Karena Suka


__ADS_3

Ini adalah hari kedua di mana aku tinggal di mansion milik Dummy. Aku sendiri masih tidak bisa membiasakan diri disini dan tetap merasa sunyi dan kesepian. Meskipun disini banyak orang tapi mereka semua hanyalah pelayanan.


Mereka terlalu menghormatiku ketika aku mengajak mereka untuk bicara, itu membuatku merasa sangat kaku dan canggung.


Terlebih lagi mereka terus menyebutku sebagai nyonya padahal kami sendiri belum mempunyai hubungan apa-apa. Lagian aku tidak menyukainya dan dia tidak menyukaiku, aku yakin itu.


Lalu pagi hari ini Dummy membiarkanku kue kering dari jahe yang katanya untuk menghangatkan hati dan tubuhku, meskipun begitu itu tidak bisa menyangkal perasaan kesepian ku.


Dan soal pernikahan aku ingat satu hal yang paling penting dan sudah aku lupakan. Padahal aku mengikuti kegiatan perburuan itu rencananya untuk mendapatkan restu untuk pernikahan ku dengan pangeran Shun dari ayahanda, tapi kok malah berakhir kesini dengan orang lain.


"Berhentilah mengabaikanku Alexa, karena aku Minggu depan akan menjadi suamimu,"


"Aku tidak peduli, lagian emang siapa coba walinya,"


"Aku punya banyak kenalan priest yang bisa menjadi wali kok,"


"Terserah, tapi aku tidak mau, lagian kenapa pemaksaan banget sih,"


"Yahh karena aku ingin segera punya anak,"


"Uhukk uhukk uhukkk!"


Perkataannya itu membuatku terkejut dan langsung memuncratkan semua teh yang tadi masih ada di mulutku.


"Ta-tapi kan aku masih di bawah umur,"


"Aku tidak peduli, yang aku tahu aku harus segera mendapatkan anak darimu,"


"Ini orang gila atau gilaaaa?" Cibirku kesal.


Aku langsung beranjak dari kursi lalu hendak pergi dari ruang tamu disitu. Tapi seruan Dummy menghentikan langkahku.


"Kau boleh berjalan-jalan kemanapun asal jangan ke ruang bawah tanah, soalnya di sana serem," katanya sambil tersenyum.


"Aihh oke-oke lagian siapa coba yang cari mati dengan bertemu hantu atau monster,"


Aku terus berjalan untuk meneliti sesuatu di sana tapi aku tidak menemukan apapun selain sungai kecil yang di situ terdapat banyak bunga Seroja berwarna merah muda. Ini sangat cantik dan harum memanjakan hidung dan mata setiap orang yang melihatnya.


"Nama Dummy itu, sepertinya terdengar familiar ditelinga ku," gumamku pelan.


"Tapi aku tidak mengingatnya,"


Aku pun segera beranjak untuk pergi dari sana dan segera kembali ke kamar, beginilah keseharian ku selama beberapa hari di mansion milik Dummy menunggu hari h dimana aku akan dijadikan sebagai nyonya tempat ini tanpa banyak penolakan dariku. Bahkan aku tak mengetahui apa nama keluarga laki-laki itu.


Aku menghela nafas kemudian kembali ke mansion tadi dan tiduran di sofa sambil bermain dengan kucing yang ada di sana.


"Mulai sekarang, namamu adalah Shun, nama yang indah bukan?" kataku pada kucing oranye itu.


"Miaw" jawab kucing itu sambil menggeliat manja di perutku.


Akupun tersenyum lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Aku harap kita bisa bertemu lagi, Shun," ucapku lirih.


Seandainya bertemu kembali pun aku mungkin sudah menjadi milik orang lain nanti, aku pasti akan sangat merindukan sosoknya nanti.


***


Hari ini Dummy datang sambil membawa sebuah perhiasan kecil di tangannya yang terlihat indah. Mungkin dia berencana untuk memberikannya kepadaku, dan benar saja dia benar-benar memberikannya.


"Aku harap kamu memakainya besok," ucapnya lalu kembali pergi bekerja dengan tumpukan buku yang tidak ku mengerti apa isinya.


Aku mengangguk mengiyakan kemudian menghampirinya dan bertanya untuk apa semua buku-buku itu dan lembaran aneh itu.


Dummy menghela nafasnya kemudian melirik kerahku, "Kau tahu? Sekarang kita berada di pedalaman kerajaan Avanxenia dan aku menjadi kepala desanya di sini, inilah pekerjaan ku setiap hari dan dokumen-dokumen ini adalah surat-surat perbaikan kota yang harus ku urus,"


Aku terdiam lalu berfikir sejenak, rasanya kerajaan Avanxenia pernah ku dengar, kalau tidak salah itu tempat tinggal putri Angela.


Aku menghembuskan nafas kasar lalu tertawa kecil, "Tugas kepala desa aja sebanyak ini apalagi kalau tugas seorang raja yah," ucapku tanpa sadar.


"Ini terjadi karena aku terus menundanya," ujarnya sedikit tertekan lalu meminum air putih di sampingnya.


Aku mengangguk ngangguk saja kemudian langsung terdiam memperhatikannya. Setelah bosan aku pun ingin bermain lagi dengan Shun si kucing tetapi Dummy tiba-tiba menarik tanganku lalu mendekatkan wajahnya kearahku dan reflek membuatku berbalik, mungkin dia berniat untuk menciumiku tapi aku tidak sudi dan langsung mendorongnya.


"Jangan macam-macam!" Kesalku lalu memeluk menggendong Shun pergi ke kasur.


"Menyebalkan, andai saja itu pangeran Shun, mau berapa kali pun akan ku berikan," kesalku sambil mengelus-elus Shun.


Dummy yang masih berkutik dengan tugasnya tadi malah menghampiriku dengan mengetuk pintu kamar, mau tidak mau aku membukanya dengan wajah jengah tetapi Dummy tiba-tiba menyerangku dan langsung mengecup bibirku pelan.


"Claire..." gumamnya pelan.


"Ahh maaf sepertinya aku terlalu banyak minum wine," ujarnya sambil memegang kepalanya.


"Bukannya kau tadi sedang kerja?" Ucapku heran setelah beberapa saat mematung karena terkejut tadi.


"Kurasa seseorang pelayan sengaja memberikan air minum yang salah kepadaku,"


"Ohhh," jawabku sambil membulatkan mulutku.


"Ahh aku lupa sesuatu, lain kali kalau aku meminum wine atau apapun yang bisa membuatku mabuk jangan berada di dekatku, soalnya aura magisemu membuatku menjadi sedikit lebih liar," ujarnya sambil menutup pintu kembali.


"Apakah seperti itu? Apakah pangeran Shun pernah mengalaminya? Lalu sebenarnya apakah dia melakukan itu bukan karena dia ingin tapi karena dia tidak sadar?... Shun kumohon beritahu aku." Ucapku pada si kucing Shun.


Dia hanya bisa bertingkah manja saat melihatku sedang sedih, tapi tidak lama kemudian seolah dia mengerti, dia terlihat seperti ingin menenangkan ku.


"Kalau saja ada Chun mungkin dia bisa sedikit menenangkan ku," lirihku pelan.


"Nona Alexa, aku turut prihatin dengan keadaan mu, karena dua hari lagi kamu akan menikah dengan tuan Dummy walaupun kau tidak mencintainya," ujar Shun si kucing.


Aku membelalakkan mataku lalu mengerjapkannya berkali-kali seperti yang biasa kulakukan saat terkejut.


"Kau bisa bicara?"

__ADS_1


"Tidak,"


"Terus yang bicara sama aku siapa?"


"Kucing,"


"Terus terus... Bagaimana aku bisa mengerti bahasa kucing?"


"Itu karena kau adalah seorang Magise, kau dicintai oleh banyak makhluk mitologi, dan aku juga adalah makhluk mitologi, orang-orang biasa menyebutku Nekomata,"


"Ne-neko mata?"


"Ya,"


"Apatuhhh,"


"Makhluk mitologi kucing yang bisa membangkitkan orang mati,"


"Huaaaa serem banget,"


"Yahh aku ingin memberi tahu satu hal tentangmu, kalau tuan Dummy atau tuan Liam itu memelihara ku karena dia punya maksud tersendiri,"


"Terus tumbalnya siapa?" Tanyaku sambil memiringkan kepalaku.


Kalau punya makhluk gaib di rumah pasti punya tumbal kan. Mungkin saja Dummy mengikuti aliran sekte aneh disini.


"Tidak, aku tidak meminta tumbal, aku hanya ingin diperlakukan dengan baik dan dikasih makanan yang enak-enak,"


Okeh sekarang jawaban itu membuatku sukses terperangah.


"Kalau kau ingin membatalkan pernikahan ini, sebaiknya kau bertindak dari sekarang untuk mencari alasan yang tepat," ujar si Shun kucing.


"Baiklah Neko Shun, aku akan mencari cara," jawabku yang merasa sedikit antusias.


"Semangat, aku tidak akan membantumu tapi aku bisa menemanimu,"


"Terimakasih NekoShun," ucapku sambil tersenyum.


"Sama-sama," jawab Shun.


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2