Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 89 : Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

Pagi hari setelah malam pertama mereka menginap di hutan karena perburuan. Angin berhembus begitu kencang dan cahaya matahari menyeruak masuk ke dalam hutan melewati celah-celah kecil di balik pepohonan yang rindang.


Seorang wanita cantik tampak duduk meringkuk di dalam tenda karena frustasi. Rambutnya hitamnya sedikit berantakan karena sesuatu. Namun kali ini dia hanya terdiam sambil menatap kosong ke arah luar tenda tanpa ada seseorang yang mengetahuinya.


Tiba-tiba seorang laki-laki berambut pirang masuk dan menyapa wanita itu, "Kau tidak apa-apa Nona Lavender?" Tanya laki-laki yang merupakan tunangannya.


Wanita itu diam saja dan tidak merespon pertanyaan tunangannya itu.


"Bagaimana?" Tanya seseorang yang merupakan temannya lavender dalam team itu.


Pangeran Kenn menggelengkan kepalanya pelan, rupanya tadi malam lavender berdebat dengan ayahnya dan mengakibatkannya menjadi seperti itu. Ia juga tidak tahu apa yang bisa membuat seorang wanita tegas bisa jadi lemah seperti saat ini.


"Hanya dua hal yang bisa membuatnya menjadi seperti itu, masalah yang dibicarakan mereka berdua tadi malam adalah tentang Nona Clairene atau tentang adiknya Alexa, wanita kejam itu tidak akan peduli kepada siapapun kecuali mereka berdua," ucap seseorang yang tiba-tiba berbicara dengan seringai di bibirnya.


"Ternyata kau si vampir," kaget Pangeran Kenn.


"Yeah,"


"Kau adalah Familiarnya jadi apakah kau akan melakukan sesuatu untuknya?" Tanya Pangeran Kenn.


"Tidak, biarkan saja dia seperti itu" jawab Adrain tidak peduli.


"Jika seperti itu terus bagaimana kita bisa melanjutkan perburuan?" Bingung Pangeran Kenn.


"Tidak usah melanjutkan perburuan juga tidak apa-apa, pada hakikatnya kita disini tidak dianggap, raja membuat perburuan ini adalah untuk menjebak seseorang masuk ke dalam perangkapnya, entah itu lavender atau bukan, yang jelas kita tidak ada kaitannya sama sekali,"


"Kau bercanda?! Lavender adalah tuanmu, kenapa kau terlihat santai saat nyawanya bisa saja dalam bahaya!" Geram Pangeran Kenn sambil mencengkram erat kerah baju milik Adrain.


"Diamlah kalian berdua," ucap seorang gadis yang baru saja bangkit dari duduknya. Dia adalah lavender, mata merahnya menyala penuh amarah, dengan tenang wanita itu menyibak rambut panjangnya pelan.


"Lavender kau sudah baik-baik saja?" Tanya Pangeran Kenn dengan wajah sumringah.


"Ya," jawab Lavender tegas.


Setelah itu lavender tersenyum sinis, "Kita tidak akan berburu, tapi hari ini kita akan mencegah team Alexa Kethzie untuk terus maju,"


"Kenapa?!" Tanya Pangeran Kenn.


"Karena merasa seharusnya tidak mengikuti perburuan ini, aku harus menyelamatkan Alexa secepatnya," kata Lavender sambil mengepalkan tangannya keras.


"Sebelum dia bertemu ayah," imbuhnya lagi.


.


.


.


Aku berjalan lemah di belakang tubuh Chaser, aku tidak ingin melihat para penghianat itu berjalan didekatku. Aku muak melihat sisi baik yang mereka tunjukkan di depanku. Mulai sekarang aku tidak akan tertipu oleh mereka lagi apapun itu.


Oh iya soal rambut dan penampilanku semuanya kembali seperti semula lagi setelah aku bangun dari tidurku.


"Leca kenapa kau terus berjalan di belakang Chaser, sini berjalanlah disampingku," ajak pangeran Shun sambil menarik tanganku.


Aku menepis tangan laki-laki itu dan menatapnya tajam, "Jangan sentuh!"


Senyum di wajahnya seketika memudar, dia menatapku dengan topeng polosnya dan itu membuatku semakin muak dengan sandiwaranya.


"Kenapa Nona Alexa?" Tanya Erdwan sambil memegang dahiku.

__ADS_1


"Iya, biasanya kamu selalu tergila-gila pada Pangeran Shun," kata Chaser lagi.


Pangeran Shun mengangguk, "Sebaiknya kalau kau punya keluhan atau masalah katakan saja padaku Leca," jelas Pangeran Shun.


"Tidak, tidak perlu dikatakan apa-apa lagi, semuanya sudah jelas, Pangeran Shun aku membencimu, ayo kita akhiri saja hubungan kita!" Ketusku tanpa pikir panjang.


Sontak mereka semua menghentikan langkahnya karena terkejut mendengar ucapanku tiba-tiba.


"Tunggu dulu Leca kau kalau bercanda? tidak lucu deh," ucap Pangeran Shun sambil tertawa kecil.


"Aku tidak bercanda, aku serius, sejak kapan aku bercanda," ucapku lagi.


"Kenapa kau sangat kekanak-kanakan? Ayolah Leca bersikaplah dewasa jika mengenai ini,"


"Hah? Dewasa? Berarti kau menyuruhku untuk dewasa? Lagian emang ada orang dewasa yang masih akan bertahan setelah tahu kau hianati?!"


"hah apaan sih, kok penghianatan segala,"


Aku menggigit bibir bawahku, "Coba katakan apa yang kau lakukan saat kita terjatuh! Jika kau benar maka aku akan mencabut semua perkataanku dan menanggap bahwa aku tidak melihat apapun semalam,"


Aku sudah menyiapkan untuk tidak malu dengan menahan nafasku kali ini.


Pangeran Shun menghela nafas kemudian tersenyum kecil, "Bukankah pernah aku katakan? Kalau aku jatuh bersamamu lalu aku tidak ingat apa-apa lagi?"


Jawaban yang dilontarkan dari mulutnya itu membuatku merasa sangat kecewa, dia sedang berbohong, "Salah!" Teriakku kesal.


"Katakan apa yang kau lakukan semalam saat di tenda!" Teriakku pada pangeran Shun.


Lily tiba-tiba tertegun mendengar perkataanku, terlihat jelas dia sangat gugup namun berbeda dengan pangeran Shun yang tetap terlihat tenang, sepertinya dia pandai menyembunyikan sesuatu dari banyak orang.


"Mungkin aku tidur," jawabnya membuatku dan Lily tiba-tiba membulatkan mata lebar-lebar.


"Ternyata kau pembohong, aku tidak mencintai orang pembohong, sama sekali tidak mencintainya" Tangisku kesal sambil memeluknya.


Aku tidak ingin melihatnya lagi tapi tanganku terus gemetar bila membayangkan dia tidak ada di sisiku. Bahkan jika Pangeran Shun berbohong, maka aku hanya harus percaya pada kebohongannya.


"Kenapa Leca? Emangnya ada apa denganmu?" Tanya Pangeran Shun heran.


Aku menggelengkan kepalaku sekuat tenaga, lalu menundukkan kepalaku dalam.


"Gak jadi deh, Aku gak mau putus, aku akan tetap disisimu walaupun kau adalah orang jahat sekalipun," Ucapku lagi.


"Yaampun, bikin khawatir saja," gumam Erdwan dan Chaser bersamaan.


Aku tersentak kemudian melirik tajam ke arah Lily, bibirku sedikit tertarik ke atas melihat raut wajah tegang yang dikeluarkannya.


Benar, aku hanya akan membenci gadis itu saja, aku hanya perlu menyingkirkannya dari tempat ini dan membuatnya berada jauh dari pangeran Shun.


Pangeran Shun tersenyum sambil membelai rambutku, "Bikin khawatir saja," bisiknya pelan.


Tidak lama setelah itu Pangeran Shun membuat sebuah lingkaran sihir untuk memanggil binatang peliharaan miliknya.


"Poni, Maxima, Seline, Rull," gumam Pangeran Shun lalu muncullah empat ekor kuda dari lingkaran sihir itu.


Salah satunya adalah kuda putih milik Pangeran Shun yang biasa ia pakai untuk berkendara.


"Rull!" Seru Pangeran Shun dengan wajah sumringah lalu mengelus manja kepala kuda putih itu.


Ngiiiiiii

__ADS_1


Kuda itu membalas perlakuan Pangeran Shun dengan dua kali lebih senang.


"Naiklah, Leca," ajak pangeran Shun padaku sambil mengulurkan tangannya.


"Ehh emang boleh memanggil kendaraan yah?"


"Boleh kok," balasnya singkat.


Aku melirik ke arah samping dan melihat lily menunggangi kuda sendirian, aku hanya bisa menatap puas ke arah Lily yang kini tersenyum kikuk ke arahku.


Pangeran Shun menarik kendali kuda itu dan kuda putih itu pun mulai berlari pelan menyusuri hutan.


Tiba-tiba kuda Lily terhenti dan ia kelihatan sulit untuk mengendalikannya.


"Ohh ayolah Seline, berjalanlah dengan baik," titahnya pada kuda itu. Tapi si kuda tak mendengarkan dan malah terlihat berontak, seketika kuda itu menjadi liar dan berlari kesana kemari.


Ngiiiiiii!!


"Tolong!" Pekik Lily yang panik menunggangi kuda liar itu.


Pangeran Shun, Erdwan dan Chaser menghentikan kudanya untuk menolong Lily.


"Tidak, jangan..." Gumamku pelan pada pangeran Shun yang hendak membantu Lily, tapi dia tidak mendengarkan ku.


Erdwan langsung menghadang jalan kuda itu dari sisi depan sedangkan Pangeran Shun segera berlari turun kudanya untuk menyelamatkan Lily dengan mengambil alih kendali kuda liar itu.


"Terimakasih pangeran," ucap Lily sambil memegangi dadanya yang serasa hampir copot jantungnya.


pangeran Shun yang berada belakang punggung Lily pun hanya tersenyum tipis.


Aku menundukkan kepalaku, pangeran Shun dan Lily barusaja berkuda bersama, dia meninggalkanku.


"Leca," panggil pangeran Shun sambil tersenyum, padahal keringat terlihat jelas mengalir dari keningnya, dia lelah.


"Pangeran, love you," Ucapku sambil memeluknya.


"???"


"Aku cinta kamu, karena itu aku takut kehilanganmu,"


Mendengar itu pangeran Shun langsung terdiam, sekilas terlihat jelas rona merah muncul di pipinya, dia tersipu malu.


Sejak saat itu aku terus mengawasi Lily di setiap perjalanan hingga tak terasa kami sudah melewati gunung es yang besar itu dengan jalan memutar yang sangat jauh.


Malam pun tiba, ini adalah hari kedua, kami besok harus sudah sampai di hutan tempat para peri hutan itu berada, aku sungguh tidak sabar. Semoga ayahanda mau mendengarkan permintaanku setelah ini.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2