Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 57 : Tidak Bisa Hanya Diam Saja


__ADS_3

Aku termagu menatap ke arah benda mengerikan itu. Saking jijiknya aku sampai tak dapat mengeluarkan sepatah katapun dan hanya terbungkam saja. Semakin aku menatap lebih detail semakin membuatku merasa lemas tak berdaya dan rasa takut di benakku semakin menjadi-jadi. Takut akan kematian yang begitu mengerikan dan menyakitkan. Meskipun aku tahu pada akhirnya setiap orang juga akan mengalami hal tersebut dan itu juga sudah pernah terjadi padaku sebelumnya.


Namun ketakutan akan kematian tidak pernah hilang sedikitpun, beberapa orang juga terlihat begitu. Ada dari mereka yang lari sekuat tenaga untuk menjauh dari sini, tetapi mereka justru malah terbunuh dengan cepat. Menyaksikan hal mengerikan itu, beberapa orang memilih untuk diam di tempat sambil menjerit-jerit histeris.


Aku menggelengkan kepalaku sekuat tenaga untuk mengurangi rasa takutku dan melirik ke arah Natte yang terlihat syok, ia kini terduduk lemas di tanah, aku dapat merasakan tangannya yang begitu dingin dan gemetaran.


Perlahan kupapah tangan Natte di pundakku, namun ketika aku menundukkan kepalaku untuk melangkah menjauh dari mayat itu, aku menyadari bahwa sihir Pangeran Zio mulai menghilang dari pandangan kami.


"A- apa yang terjadi?...." Lirih Natte sambil menatap tak percaya ke arah depan. Dia menutupi wajahnya dengan sebelah tangan karena tidak ingin melihat sesuatu yang mengerikan.


"Natte..." Kataku sambil mencoba untuk menguatkan dirinya.


"Kita juga akan mati?!"


"Tidak Natte, tidak akan... Aku akan melindungimu," jawabku sambil menggigit bibir bawahku.


Perih rasanya, mengatakan hal itu justru semakin membuatku merasa menjadi pengecut karena telah berbohong kepada Natte. Dalam kondisi seperti ini bahkan aku tidak bisa melindungi apapun dan siapapun termasuk diriku sendiri.


"Kamu berbohong Leca..." ucap Natte sambil beranjak dari posisinya yang sempat syok.


"Tidak..."


"Kamu sangat berbohong, aku tahu itu bahkan hanya dari suaramu dan gaya bicaramu, kamu berbohong! Kita semua akan mati di sini!"


"Natte.. tenanglah, kenapa kamu bisa sepanik ini, aku tidak pernah melihatmu begini sebelumnya,"


Natte melepaskan tangannya dari pundakku lalu menatapku dengan tatapan mata penuh kekecewaan, "Ayahku... ayahku terbunuh dihadapanku karena penyerangan seperti ini, dia mencoba melindungiku, tetapi dia lenyap begitu saja dari hadapanku setelah mengatakan hal itu, aku tidak ingin melihat kejadian itu lagi, aku tidak ingin melihatmu mati..." Natte menetaskan air matanya sambil memelukku dengan erat.


Aku tertegun, tidak pernah kulihat Natte seperti ini, dia selalu berusaha untuk terlihat kuat dan angkuh, tetapi ternyata dia begitu lemah dan rapuh. Aku semakin merasa bersalah mengatakan hal yang malah membuatnya mengingat kejadian kelam yang menimpanya.


"Natte... Maafkan aku, kalau begitu kita berdua harus berusaha untuk saling melindungi," kataku sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Lecaa... Baiklah!" Kata Natte sambil menatapku prihatin.


Natte mencoba menjernihkan pikirannya yang sempat kacau. Dia menghela nafasnya berat sambil memegang dadanya yang terus berdegup kencang karena merasakan takut yang luar biasa.


Sedangkan aku hanya dapat diam saja sambil memperhatikan yang lainnya dengan tatapan iba. Mereka semua panik, saling meyakinkan satu sama lainnya. Tetapi beberapa juga dari mereka menangis karena melihat orang yang disayanginya pergi untuk selamanya dari hadapannya.


"Ibuu, bangunlah... ibuuu... Ibuuu," tangis seorang anak kecil sambil terus mengguncangkan mayat seorang wanita yang pertama terbunuh di dekatku.


"Ibuu, katakanlah sesuatu ibu jangan diam seperti ini,"


"Ibuu... Kenapa tubuhmu begitu menakutkan." Tangis anak itu sambil mengambil kepalanya yang terpisah.


Anak itu menatap ibunya dengan tatapan mata hampa, "Ibuuuuunda jangan tinggalkan aku!!" Teriak anak itu sambil memeluk tubuh ibunya yang penuh dengan darah.


"Ibu, ibu berjanji akan selalu bersamaku kenapa ibu malah pergi, kenapa tidak menjawab pertanyaan ku ibuuu..." kata anak itu dengan nada melemah.


Aku membulatkan mataku saat melihat Natte mendekati anak kecil tadi. "Natte!!" pekikku kaget saat Natte memeluk anak kecil itu.


Natte melepaskan pelukannya dan tersenyum kecil, "Ibumu... Sudah pergi ke tempat yang lebih baik lagi, dia tidak pernah melupakan janjinya padamu, karena dia selalu ada di sisimu,"


"Disini, dia selalu ada disini bersamamu," ucap Natte sambil menunjuk dada anak itu.


"Di hatimu...." Kata Natte sambil menatap lekat anak kecil itu.


Anak itu malah semakin menangis keras mendengar ucapan Natte. Sedangkan beberapa orang lainnya sibuk dengan ketakutannya sendiri termasuk aku.


Aku menelan salivaku kasar. Ku gigit bibir bawahku lagi kali ini dengan keras. Aku tidak mampu melihat sesuatu yang mengerikan seperti ini. Rasanya aku ingin muntah dan menutup telinga dan mataku sampai tidak melihat dan mendengar apapun.


Karena tidak tahan melihat kepanikan seperti itu aku justru tidak mengikuti arahan beberapa prajurit yang berjaga di sekitar sini. Aku harus melawan mereka yang melenyapkan orang seenaknya tanpa memedulikan nasib orang-orang yang menyayanginya.


"Lecaa!!" Teriak Natte ketika melihatku berlari dari kerumunan.

__ADS_1


Aku harus berlari ke aula istana, mungkin disana banyak orang berkumpul termasuk pangeran dan beberapa putri bangsawan.


TANG!!!


Aku menoleh ke arah belakangku karena mendengar suara pedang yang beradu.


"Ayah?!" Pekikku kaget karena melihat Duke Claoudie Kethzie di belakangku sedang melindungiku dari serangan yang tak terlihat.


"Larilah!" Ucapnya disela-sela pertarungannya.


Aku tidak paham dengan sikap orang itu, dia selalu terlihat sangat menyeramkan dimataku. Terlebih dia juga pernah menyiksaku karena dia mencurigai kalau aku bukan anak kandungnya, tetapi anehnya kali ini dia melindungiku. Aku benar-benar tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi.


"Apa yang kau lihat, cepat pergi atau kau akan terbunuh!" bentaknya reflek membuatku tersadar.


"Ba-baiklah ayah."


Aku berlari lagi, menuju aula istana yang sudah tidak jauh lagi di dekatku. Setelah sampai aku membelalakkan mataku karena sangat kaget melihat pintunya yang terbuka lebar.


"Tidak mungkin..." Kataku sambil menutup mulutku dengan tangan.


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2