Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 87 : Musuh Bebuyutan


__ADS_3

CRASH


Tiba-tiba ulat itu langsung terbelah dua di hadapanku dan mengeluarkan banyak cairan hijau kental berceceran kemana-mana.


Aku menelan salivaku kasar. Pemandangan itu sangat menjijikkan. Aku baru pertama kali melihat monster seperti itu di dunia ini.


"Leca, sudah kubilang kau jangan terlalu banyak bertingkah, cepat lari!" Titah Pangeran Shun menyuruhku untuk segera lari.


Aku mengangguk lalu segera berlari terlebih dahulu sebelum monster batu itu sampai.


"Hoshh... Hoshh..."


Kami semua kelelahan, tidak ada yang terlihat baik-baik saja disini, semuanya terlihat sangat kacau, untung saja kami sudah berhasil lari dan keluar dari area golem batu itu jadi kami bisa beristirahat di tepi danau saat ini.


"Lukamu baik-baik saja Lily?" Tanya Pangeran Shun pada Lily Collans.


Aku mendengus sebal mendengar dia berkata seperti itu kepada orang lain, "Padahal aku kan tadi juga jatuh, tapi gak ditanyai seperti itu, curang" cibirku kesal.


"Baik kok Pangeran,"


"Baguslah kalau begitu, bisakah kau obati luka gadis ini?" Tanya Pangeran Shun sambil menurunkan seorang gadis yang dari tadi tidak sadarkan diri ke hadapan Lily.


"Baiklah," jawab Lily langsung.


Dari pinggang sebelah kanan gadis itu terdapat luka sayatan yang merobek baju miliknya hingga mengeluarkan banyak darah dan menodai jubah milik Pangeran Shun. Pangeran Shun sediri langsung melepas jubahnya dan memberikan sebagai alas kepala gadis itu.


Lily menaruh kedua telapak tangannya di atas luka gadis itu lalu merapalkan sihir Healing miliknya, tidak lama setelah itu sebuah cahaya putih kehijauan tercipta, dan luka itu tidak ada lagi.


"Sudah, tidak lama lagi dia akan bangun," kata Lily sambil mengusap peluh di wajah manisnya.


"Bagus, ternyata kemampuanmu sudah banyak berkembang yah," puji Pangeran Shun pada Lily.


"Terimakasih Pangeran, ini semua berkatmu saat itu," jawab Lily lagi.


Aku terdiam sambil memegang dadaku yang tiba-tiba saja merasakan perasaan sesak, kesal dan kacau saat melihat mereka.


"Pangeran, habis ini kau pasti berhadapan dengan kekasihmu yang sedang merajuk," bisik Erdwan pada Pangeran Shun.


Pangeran Shun melirik ke arahku yang sudah duduk di pojok paling jauh dari mereka sembari memainkan tanah dengan jari telunjuk.


Pangeran Shun menghampiriku lalu mengembangkan senyum di bibirnya, "Cemburu ya," godanya.


"Gak ih, siapa juga yang cemburu!" Elakku sambil berpaling.


Pangeran Shun menghela nafas panjang lalu meraih tangan kananku, "Leca, aku mencintaimu,"


"Eh?" Kagetku.


"Kok eh?"


"Habisnya kenapa Pangeran bilang gitu tiba-tiba, aku kan jadi... Bingung,"


Pangeran Shun tersenyum tipis, "Ohh itu, aku cuma ingin menenangkan kamu yang lagi cemburu, aku cuma mau bilang kalau aku cuma cinta kamu dan gak ada wanita selain kamu yang aku cintai nonaaa," jawab Pangeran Shun.


Aku gak tahu mau bilang apa yang jelas denger perkataan Pangeran yang seperti ini, membuat ragaku merasa melayang di udara dan hatiku berdesir hebat.


Aku tersenyum sumringah sambil menatapnya haru kemudian mengangguk cepat.


"Aku juga...me--"


"Pangeran! Gadis yang kau selamatkan sudah sadar!" Seru Erdwan yang langsung mengagetkanku.


"Baiklah aku segera kesana," Jawab Pangeran Shun.


"Yok Leca kita harus segera kembali,"


Aku mengangguk lemas kemudian mengekori langkah Pangeran Shun.


Tiba-tiba saja saat aku sampai di sana bola mataku membulat sempurna sampai rasanya hampir loncat dari tempatnya.


"Kau?!" Pekikku tidak percaya.


"Alexa?!"


"Angela!"


Sial, aku tidak terlalu fokus memperhatikan orang itu tadi.

__ADS_1


"Wahh kalian sudah saling mengenal yah," ucap Pangeran Shun sambil terkekeh geli melihat reaksi kami.


Aku terdiam, sejujurnya aku dan Angela tidak pernah sama sekali akrab apalagi jika bertemu maka yang biasa tercipta hanyalah aura tidak mengenakkan. Intinya semenjak dia menghinaku di hari pengetesan bakat, dari dulu sampai sekarang kami itu adalah musuh bebuyutan.


"Hump!" Kata Angela lalu berpaling tidak ingin menatap wajahku.


Aku tersenyum tidak ikhlas kearahnya lalu menatap pangeran Shun meminta penjelasannya.


"Aku melihatnya diserang monster batu sendirian tanpa ada teamnya yang membantu," jelas Pangeran Shun.


"Kemana teammu Angela?" Tanyaku mencoba untuk bertanya baik-baik.


"Tidak tahu, Bodoamat!" Ketusnya.


"Kamu dari team mana?" Tanya Lily pelan.


"Matahari,"


"Hah?!"


Tidak tidak... Aku pasti salah dengar, jangan bilang dia adalah anggota team kami yang masih kurang sebelumnya. Huh menyebalkan.


"Benarkah?" Tanya Pangeran Shun.


"Iya,"


"Berarti team kamu adalah kami," jawab Pangeran Shun.


Dia terdiam, tersirat ekspresi tidak percaya di wajahnya lalu dia pun hanya pasrah.


"Aku tadi bersama teman-temanku, tapi mereka meninggalkanku begitu saja ketika bertemu monster, mereka bilang para monster itu butuh seseorang untuk dikorbankan dan mereka mulai menghianatiku saat itu..." Ucapnya sambil gemetaran. Bibir bawahnya ia gigit keras lalu dia menundukkan kepalanya kesal.


"Tidak apa-apa, lagian mereka bukan teammu kan, team kamu yang sebenarnya ada di sini," jawabku yang merasa simpati.


Angela mendongakkan kepalanya melirikku penuh kebencian, "Tapi alasanku bergabung ke team lain adalah karena aku benci harus seteam dengan orang seperti kamu," jelasnya yang membuatku merasa tertohok.


Aku menelan salivaku kasar lalu mundur perlahan, "Angela, kau masih sama kejamnya seperti dulu," sinisku kemudian beranjak dari tempat itu.


"Lecaa, tunggu," kata Pangeran Shun yang ikut menyusulku.


"Padahal dia itu teman sekelasmu loh,"


"Yaudah deh kalau begitu kita sebrangi danau duluan aja yuk," ajakku pada Pangeran Shun.


Pangeran Shun menghela nafas, kemudian dia hanya tersenyum tipis. Lalu dia membuat dua perahu di tempat itu dengan sihirnya dan salah satu perahunya langsung kami taiki.


"Kita juga akan mencari tempat aman untuk berkemah sebentar disana," kata Pangeran Shun.


Kalau dipikir-pikir tempat ini adalah tempat yang sama saat aku dan pangeran Shun bersama pertama kali setelah kami berpisah sangaaaaat lama, kalau tidak salah malam itu kami membicarakan tentang sang rembulan dan kembarannya di permukaan air. Meskipun begitu sekarang suasanya berbeda, ini siang hari dan danau ini tampak lebih jelas dan indah.


Lama kelamaan aku mulai asik dengan kegiatanku yang melihat ke arah dasar danau yang benar-benar bening itu, sampai ikan-ikannya dapat kulihat dengan jelas. Namun sesuatu yang sangat familiar mengejutkanku tiba-tiba.


"Hah buaya!" Teriakku panik lalu reflek memeluk tubuh Pangeran Shun.


"Mana buayanya...." Kata Pangeran Shun melemah ketika melihat beberapa buaya yang mendekati ke arah perahu kami.


"Huaaa Leca serem, banyak banget!" Pekik Pangeran Shun yang malah lebih panik.


Wajar sih buayanya sangat besar dan jumlahnya sangat banyak, mereka bermunculan sembari mengintai kami setiap saat yang bisa kapan saja untuk menyerang target incarannya.


"Kenapa Pangeran malah takut! Hajar dong buayanya!" Balasku sambil ketakutan.


"Habisnya... Itu banyak banget!"


"Yaudah cepet-cepet dayung ke pinggir!" Panikku melihat buaya itu semakin mendekat ke arah kami.


Dug Dug DUAARR!


Kapal itu langsung dihantam oleh salah satu ekor buaya membuat kami langsung terpental ke tepi danau yang becek.


"Lecaa kau tidak apa-apa?" Tanya Pangeran Shun membantuku berdiri.


Aku menatap pias ke arah laki-laki itu, "Pangeran Shun kau payah, kenapa kekuatanmu tidak kau pakai sa-- akhhhhh"


Aku membulatkan mataku dengan sempurna.


Tiba-tiba aku merasa tertarik ke dasar danau oleh beberapa rumput rambat yang menarik kakiku cepat.

__ADS_1


Tapi Pangeran Shun menahan tanganku lalu memotong tanaman itu dengan pedang miliknya.


GGGGRRRRR...


Salah satu buaya itu muncul ke daratan dan mengejar kami. Sontak jurus kaki seribu pun kami keluarkan begitu saja tanpa aba-aba sebelum buaya itu dapat mengejar kami.


Dengan nafas terengah-engah aku terduduk di sebuah pohon besar.


"Hah... Mengerikan," gumamku sambil menggelengkan kepalaku sekuat tenaga.


"Maafkan aku Leca, kekuatanku tiba-tiba saja sulit untuk ku kendalikan, bahkan saat kuperintahkan mereka tidak muncul dengan semestinya, karena itu aku tidak bisa memakainya saat ini" Pangeran Shun terlihat sangat menyesal karena tidak bisa diandalkan di saat seperti ini.


Emang bener sih, dia tidak bisa diandalkan sama sekali.


"Seharusnya kita tadi berkelompok saja bukan berdua, nyesel bet aku," cibirku.


Pangeran Shun langsung menggandeng tanganku lalu membawaku pergi dari tempat itu melewati jalan setapak yang penuh dengan semak-semak berduri. Ia bermaksud untuk tidak membuang-buang waktu hanya untuk bicara dan mengeluh, jelas terlihat kalau dia sangat ingin segera menemukan tempat tujuannya untuk beristirahat.


"Hati-hati banyak durinya," ujarnya pelan.


Tapi tiba-tiba aku merasa ada bayangan gelap yang tiba-tiba melintas di belakangku, sontak aku mendahului langkah Pangeran Shun karena takut di belakang. Tapi tidak lama kemudian aku menginjak sesuatu.


BRUK


Dalam hitungan detik aku dan pangeran Shun ternyata sudah bergelantungan di atas pohon dalam sebuah jaring perangkap.


Sebelumnya tadi Pangeran Shun reflek memelukku bermaksud untuk melindungiku dari serangan tapi jadinya malah ikutan masuk ke jaring yang sama.


"Yaampun, Leca sudah kubilang hati-hati jadi kita kena pengangkap kan"


"Tapi... Tadi ada sesuatu yang membuntuti kita," Elakku.


"Ah itu, aku juga merasakannya,"


"Lalu kenapa kau terlihat tenang!"


"Karena tidak adanya gunanya terlihat pani--"


"Terserah," tukasku sebal.


"Hmmm Leca, kalau dipikir-pikir kau terlalu dekat, aku tidak bisa bergerak bebas," Ucap Pangeran Shun yang merasa tidak nyaman karena dia merasa kesempitan dan tubuh kami benar-benar bersentuhan.


Aku tersentak baru kemudian tersadar karena perkataan Pangeran Shun, "I-iya,"


"Sampai kapan kita seperti ini?" Tanyaku gagap.


"Sampai mereka datang menyelamatkan kita," jawab Pangeran Shun sambil tersenyum kikuk.


JLEBBB


Sebuah panah mengenai punggung Pangeran Shun, dia membelalakkan matanya karena kaget lalu tiba-tiba saja mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Pangeran! tidak mungkin, siapa yang melakukan ini?!" Gumamku panik sekaligus tidak percaya.


"Uhkk seperti kita tidak bisa menunggu lagi," kata Pangeran Shun meringis kesakitan sambil memelukku, dia meremas tanganku untuk menahan rasa sakit di tubuhnya.


Sementara itu dari bahunya terus mengeluarkan banyak darah tapi aku juga bingung karena sedang terjebak di dalam jaring merepotkan ini. Aku berusaha untuk berfikir dua kali agar segera bisa keluar dari sini dan menyelamatkan Pangeran Shun segera.


"Bertahanlah Pangeran," lirihku sambil berusaha meraih pedang Pangeran Shun yang terletak di belakangku.


Aku harus segera keluar dari jaring ini secepatnya, kalau tidak Pangeran akan kehilangan banyak darah.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2