Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 43 : Penaklukan Roh; Heirloom Weapon


__ADS_3


'Aku..... Tidak mau sakit jika digigit!!'


Aku memejamkan mata lalu menahan nafas berharap tidak akan merasakan sakitnya ketika aku akan digigit nyamuk besar itu.


Ayolah Alexa kamu akan mati dengan tenang tanpa rasa sakit jika kamu menahan nafas.Batinku.


Aura hangat yang menyebar ke seluruh tubuh ku dan tiba-tiba saja kurasa di setiap bagian tubuhku menjadi panas, sangat panas seperti merasakan diriku terbakar oleh api yang berkobar. Ku buka mulut ku untuk mengambil nafas dan menguapkan rasa panas ini keluar.


Sebenarnya apa ini? Apa yang ditanamkan Pangeran Shun pada tanganku, rasanya sangat sakit dan ini sangat menyiksaku.


Namun disaat seperti itu, sebuah suara tiba-tiba membuatku tersentak. Akupun menoleh ke arah suara tersebut begitu juga sang serigala putih, dia terlihat tidak jadi menggigit kepalaku dan mulai mengatupkan mulutnya yang tadi sempat terlihat jelas taring tajamnya.


"Ehhkmm aku tau ini tidak sopan, tapi hentikan kegiatan mesum kalian!" Teriak seorang lebih tepatnya sese-hewan yang bernama Chun itu.


"Hah?!" Pekikku yang masih tidak mengerti dengan ucapannya.


"Kalian berada di dalam ruangan yang gelap dan hanya berduaan dalam posisi seperti itu sebagai lawan jenis, bukankah kalian mau melakukan hal buruk?!"


Aku membulatkan mataku dengan sempurna, memang benar sih yang dikatakannya, tapi yang didepan ku ini hewan loh, hewannnn bukan manusiaaaa!!!! Bahkan aku tidak tahu jenis kelamin hewan ini!!


"Aku..Aku dalam posisi berbahaya dan kamu malah mengacau! Cepat bantu aku!" Protesku yang merasa jengkel.


Aku menghela nafas panjang. Rasa panas yang berada dalam tubuhku perlahan mulai menghilang, mungkin saja hal itu karena Chun sudah datang dan dia mau menyelamatkan ku dari hewan buas ini, sesama hewan pastilah jika dia jantan akan bertarung demi seorang betina, upss maksudku demi seorang perempuan seperti ku.


Chun terlihat tidak mengacuhkan ucapan ku kemudian mengeluarkan api biru dari ekor burungnya, api itu terlihat seperti bola-bola api kecil yang melayang namun benda itu begitu banyak hingga memberikan penerangan keseluruh tempat ini.


Gawat! Jia Chun melakukan itu maka akan membakar ku juga!!!


"Hei cepat lepaskan aku! Aku mau kabur!" Teriakku pada serigala tersebut.


Ggrrrrr


"Aku tidak mengerti ucapanmu! Cepat menyingkir!!" Kataku dengan kasar namun aku tetap tidak bergerak karena tubuh ku ini sedang terluka, bisa gawat kalau aku menyingkirkan paksa tubuhnya maka aku akan digigit.


Ggggrrrrrr!!


Oke sekarang aku merasa mulutku tersumpal batu besar, benar-benar tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun sekarang. Aku hanya dapat diam ketakutan sambil memperhatikan tatapan mengintimidasi dari serigala tersebut.


"Jangan bodoh! Dia itu setan! Dia cuma menyamar dengan wujud hewan itu!"


Aku menoleh lagi ke arah Chun sambil menatapnya dengan tatapan memelas.


"Hmmm! Ternyata seorang tiruan cacat seperti kamu bisa mengetahui wujud asliku."


Aku membelalakkan mataku ketika sadar tidak ada lagi serigala yang berdiri diatas tubuhku, melainkan digantikan dengan seorang pria muda dengan telinga serigala dan rambut berwarna putih serta mata tajamnya yang merah terang sama seperti milik serigala tadi.


Dia membuka mulutnya lalu meraih tangan kananku, keliatannya dia hendak mengoyak tanganku dan melepas segel yang kini berwarna merah kelam seakan menyiratkan kesan kehampaan dan kegelapan dalam hatinya.


"TIDAKKKKK!!"


Aku menarik paksa tanganku sendiri, sebuah luka sudah terbuka dan mengalirkan darah segar dari sana. Aku menelan salivaku kasar. Sekarang nafasku terengah-engah dan merasa sangat lemah.

__ADS_1


Chun meluncurkan serangan pada kami namun serigala tersebut menghindar ke arah samping. Sedangkan aku hanya terbaring lemas sambil menatap kondisi lengan mungil ku yang sedang terluka parah.


Tiba-tiba sesuatunya semacam 'kekkai' tercipta di sekeliling ku, benda itu berwarna biru transparan dan tersusun dari pola segi lima yang berbentuk setengah lingkaran.


Sepertinya Chun tau kalau manusia serigala tersebut mengira bahwa tadi adalah serangan sehingga ia akan reflek menghindarinya. Tetapi sayangnya sihir api yang tadi dia berikan adalah sihir pelindung.


"Jangan berani-berani kau melukai budak Chun!' teriaknya yang terdengar penuh emosi.


Chun pun segera mendekat ke arahku sambil memberikan salahsatu sihir yang serupa api biru itu kemulutku yang tengah terbuka karena menahan rasa sesak.


Sihir itu melayang kearahku lalu berhasil masuk ke tubuh ku dengan begitu mudahnya, anehnya aku sama sekali tidak merasakan rasa panas ketika memakan sihir api tersebut.


Pria itu tersenyum meremehkan sambil mengusap noda merah di sudut bibirnya menggunakan ibu jarinya.


"Cih ternyata benda itu agak merepotkan, segel itu berhasil menggagalkan rencana ku untuk memangsanya berkali-kali!."


Dia menatap lekat ke arah Chun sedang tatapannya yang setajam silet.


"Sepertinya kamu hanya seekor burung imitasi, tunjukan bagaimana sosok mu yang asli dan jangan bersembunyi!"


Aku tersentak, ternyata selama ini ucapan burung cebol itu benar, ada sedikit penyesalan yang tersirat didalam benakku karena telah meragukannya. Akupun menatap ke arah burung itu dengan penuh harap, berharap bahwa dia akan berubah menjadi sosok yang kurindukan seperti ucapan pria itu.


"Tidak bisa,.. aku tidak akan menunjukkan hak itu pada mahkluk rendahan sepertimu!" Jawab Chun dengan nada ketus. Ada sedikit kekecewaan yang kurasakan tapi ini bukan masalah jika itu adalah kemauannya.


"Sadarlah ukuran tubuh mu bahkan lebih rendah dari aku!" Balas manusia serigala tadi dengan lebih ketus.


"Rendah tingginya derajat seseorang tidak tergantung dari tinggi badan!" Chun terlihat jengkel kemudian melemparkan serangan bola-bola apinya bertubi-tubi ke arah orang itu namun dengan gesitnya dia berhasil menghindar.


Aku mencoba untuk berdiri kemudian memutar bola mataku ke segala arah. Tidak mungkin aku membiarkan Chun bertarung sendirian apalagi dengan kondisinya yang sangat cebol, dari ukuran bodynya aja udah jauh tuh. Maksudku manis serigala sama burung itu jauh banget bedanya.


DUAARR!!


Suara itu mengagetkanku dan ternyata Chun terpental jauh dari pandanganku.


"Pangeran!!" Pekikku ketika merasa sesuatu yang salah, segel ditangani bersinar oranye namun kini aku sama sekali tidak dalam kondisi yang bahaya.


Jangan bilang ini adalah yang dimaksud dengan kami berdua saling terikat?! Aku bisa merasakan bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya!


Serigala itu menghilang dari pandanganku, aku tidak tahu apa yang sekarang mereka lakukan. Tetapi yang dapat terlihat jelas hanya sebuah cahaya putih dan biru yang menyatu dalam kegelapan dan suara ledakan yang cukup memekakan pendengaran.


"Tidak mungkin Pangeran selemah ini kan? Pangeran Shun adalah seorang saint! Jangan bilang dia disana juga sedang bertarung melawan seseorang?? Bagaimana dia bisa mengatur mana dan sihir yang dia gunakan nanti..akhh" Aku mengacak-ngacak rambut ku sendiri, pikiranku benar-benar merasa sangat kacau, karena kecemasanku yang berlebihan.


Sebuah cahaya emas seketika menyala terang didekatku, aku tidak mengerti dengan hal yang sebaiknya akan kulakukan dengan benda itu. Akhirnya aku hanya menatap busur panah emas tersebut, benda itu terlihat simpel namun diukir sedemikian rupa sehingga menjadi indah.


"Ini....gak mungkin Herloom weapon kan?" Pekikku tidak percaya sambil menutup mulutku yang terperangah.


Segera ku raih benda itu tanpa pikir panjang, setauku benda seperti ini adalah benda pusaka yang sangat kuat dan dijaga oleh seorang Roh penjaga. Hal yang paling masuk akal saat ini adalah serigala itu merupakan roh penjaga senjata panah ini.


Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia ini namun aku akan melakukan apapun untuk melindungi beberapa orang yang berharga untukku. Karena itu aku mengambil busur panah itu dan mengangkatnya setinggi mungkin, kemudian ku pejamkan mataku sambil berteriak...


"KUMOHON WAHAI ROH PEDANG TUNDUKLAH PADAKU! MULAI SAAT INI AKU ADALAH PEMILIK MU YANG AKAN MENJADI PENJAGAMU DAN KITA AKAN MELANGKAH BERSAMA MENUJU KEBAJIKAN, JUGA BERTARUNG BERSAMA SEBAGAI SEORANG REKAN YANG TAK TERKALAHKAN!"


Aku terdiam tidak bergeming, tidak ada reaksi apapun aku juga tidak melihat ada yang spesial dari ucapan yang baru saja aku katakan. Apa jangan-jangan bukan begitu caranya yah...

__ADS_1


Akupun melirik ke arah mereka yang masih sibuk dengan kegiatannya nun sekarang posisi mereka tidak jauh dari tempatku berdiri. Terlihat jelas cahaya biru milik Chun sudah mulai meredup sedangkan lawannya malah semakin bersinar terang.


"Ti- tidak mungkin!"


Aku melihat ke arah bawahku sebuah cahaya emas dan lingkaran sihir mengelilingi sekitar ku. Sekarang aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


"Berhenti!!" Teriakku reflek saat melihat sihir Chun sudah mulai melemah.


Sesuai ucapan ku, manusia serigala itu berhenti dia mulai menatap kearah ku dan pandangan kami bertemu, dia menggerakkan giginya kesal kemudian berbalik menyerang kearahku. Aku yang sempat panik tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhku masih lemah untuk berlari.


Lelaki itu berlari kemudian mendekat kearahku dan menghancurkan kekkai milik Chun sedangkan aku hanya dapat diam sambil melindungi kepalaku dengan panah yang kugenggam erat.


"KYAAAAAA!!" Teriakku ketika dia sudah berhasil menggenggam tanganku.


"Mulai sekarang kau dapat memanggil ku kapanpun kau butuh, aku tidak tahu namaku namun orang-orang memanggilku dengan sebutan Chaser," Katanya sambil bersimpuh di hadapanku. Kemudian dia langsung mencium punggung tanganku seolah-olah aku ini seorang ratu yang setengah mati dipuja olehnya. Bersamaan dengan itu lingkaran sihir itupun lenyap dari penglihatan ku dan rupa orang itu berubah menjadi sedikit lebih baik.


"EEHHHHHHHHHHHHHH?!!!!!!!!" Ucapku dan Chun bersamaan. Kami masih tidak peka dan tidak percaya terhadap apa yang terjadi disini.


"Ka-kamu siapa?" Tanyaku sambil menarik paksa tanganku.


"Aku Chaser Roh penjaga senjata itu" Dia berbicara sambil menunjuk ke arah senjata yang ku pegang.


"Jadi itu Herloom?" Tanya Chun yang sudah berada di bahuku, untung saja pemulihan nya sangat cepat untuk seekor burung kecil seperti dia, bahkan dia masih bisa untuk terbang lagi kesini. Tanpa sadar kini sebuah lekukan kecil tercipta dibibir mungilku.


Pria itu pun mengangguk sungkan kemudian mulai berdiri, dari sinilah aku dapat melihat jelas sosoknya yang sangat tinggi.


Kalau dilihat-lihat lagi, masa iya ada roh yang berwajah rupawan seperti ini tapi tentu saja aku tidak akan oleng karena Leca adalah seorang perempuan yang setia.


Chaser memicingkan matanya yang tajam sambil menatap dalam kearahku, kemudian ia tersenyum tipis. "Mulai sekarang kamu adalah tuanku dan kamu bisa berbuat apa saja terhadapku."


"Huh?" Aku masih tidak mengerti dengan ucapannya yang tiba-tiba seperti itu. Mungkin bisa saja dia kujadiin pengganti Elissa yang biasa ku perintah membersihkan ini itu dan sebagainya. nyahahah~


"Kenapa kamu menyeringai seperti itu?!" Tanya Chun kepadaku.


"Ti-tidak kok.. jangan kepo deh" Jawabku ketus.


"Hump! Mulai sekarang Kau adalah budaknya dari budak Chun, dan Chun berhak memerintahkan apapun kepadamu!" Kata Chun pada Chaser. Dari nadanya terlihat jelas bahwa Chun sedang kesal, aku pun hanya terkekeh mendengar ucapannya.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2