Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 19 : Rencana Berlatih Pedang


__ADS_3

Normalnya, kebanyakan orang pasti mengira aku akan sedih karena kejadian itu. Namun bagiku tidak, itu adalah sebuah tantangan untuk ku lewati. Aku tidak boleh terlalu larut dalam egoku sendiri. Kalau aku ingin keluar dari masalah ini maka yang harus kulakukan adalah mencari jalan keluarnya.


Selama ini aku terus berusaha mengingat novel yang kubaca dulu. Dan yang berhasil kuingat selama ini tentang Pangeran Zio adalah seorang pangeran yang dingin dan juga merupakan seorang ahli Elementary Es yang handal ketika dia besar. Meskipun demikian sebeku apapun hatinya pasti bisa dilelehkan dengan sesuatu yang hangat, menurut novel itu, orang yang memiliki kehangatan dan berhasil melelehkan hatinya itu adalah Lily Collans. Setelah itu tidak banyak yang kutahu tentang dia karena perannya sebagai figuran ditulis bagaikan angin lewat saja, bahkan informasi nya lebih sedikit daripada Pangeran Shun yang notabene nya adalah saingan ke sekian Pangeran Kenn untuk mendapatkan hati sang Heroine.


TOK TOK TOK..


Suara ketukan pintu dari luar kamar ku pun mengagetkan ku dari lamunan ku.


Seperti nya ini adalah saatnya untuk belajar pikirku kemudian.


"Nona, guru privat anda sudah datang.." teriak Elissa padaku dari luar pintu. Elissa sama sekali tidak dapat menerobos masuk ke dalam ruangan ku karena pintunya telah ku kunci rapat-rapat. Sekarang pasti dia sedang berdiri di balik pintu kamarku sambil menungguku keluar.


Sudah lebih dari seminggu aku tidak kembali ke sekolah kebangsaan itu. Selama ini kakakku memerintahkan ku untuk belajar di rumah saja. Ini sangat membosankan, rasanya seperti aku terisolasi saja dari dunia luar.


"Nonaa.. apakah kau masih tidur?" Tanya Elissa padaku lantaran aku tidak menjawab pertanyaan nya.


"Aku sudah bangun Elissa, aku akan segera kesana" jawab ku.


Setelah itu aku langsung turun dari kursi tempat dimana aku belajar dikamar ku. Aku melangkahkan kakiku menuju pintu dan membuka pintu yang terkunci itu. Memang agak kekusahan sih dengan tubuhku yang masih kecil ini.


"Akhirnya..." Ucapku ketika pintunya berhasil ku buka.


Kemudian aku disambut oleh seorang gadis cantik di depan ku sambil menyunggingkan senyum khasnya yang manis. Dia menuntun ku keruang tengah dan disana terdapat seorang wanita paruh baya yang bernama Adelle. Ya dia adalah guru pembimbing kelas ku. Aku menelan salivaku dengan kasar, ini adalah saat saat yang paling tidak kusuka.


Saat saat dimana aku harus berpikir keras untuk belajar sesuatu yang tidak ku mengerti. Etiket lah atau apapun itu aku sama sekali tidak menyukai nya, lebih tepatnya aku tidak menyukai semua pelajaran sejak selama aku masih hidup di dunia ku berada sebagai Lala.


Tapi aku terpaksa melakukan nya karena sekali lagi ini adalah kehendak kakakku, dia sama sekali tidak ingin aku menjadi seorang yang bodoh dan tidak berpengetahuan tentang kebangsawanan. Namun anehnya saat aku bilang aku malas untuk bersekolah dia malah menjawab " Terserah kau saja leca, Biarpun kau ingin untuk tidak sekolah, aku tidak akan memaksamu"


"Ananda Alexa, silahkan anda duduk di depan saya" ucap wanita itu sambil tersenyum. Aku hanya menurut dan tidak menatap wajah karena senyum nya sangat menyeramkan dimataku.


"Mari kita memulai pelajaran hari ini" ucapnya diiringi dengan anggukan ku.


"Ba_ baiklah Miss" Jawabku reflek.


Kemudian kami melanjutkan pelajaran yang membosankan itu. Miss Adelle segera berceloteh panjang lebar dan memeraktekan sesuatu agar penjelasan nya itu mudah dipahami oleh ku. Setiap kali aku ditanya paham atau tidaknya aku hanya berkata iya ataupun anggukan saja. Aku tidak ingin pelajaran ini waktunya akan terus bertambah dan menyita waktu ku yang berharga.


"Sekian pelajaran hari ini Nona, jika anda masih kurang memahami nya, anda bisa langsung bertanya tanpa sungkan-sungkan.. Karena disini tidak ada murid lainnya"

__ADS_1


"Tidak ada kok Miss... Pelajaran nya dapat dengan mudah kufahami" jawabku segera.


Miss Adelle tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri pelajaran nya. Sepertinya dia mengetahui bahwa aku tidak memahami ucapan yang terus dia lontarkan selama beberapa jam tadi.


"Baiklah.. kalau begitu hari ini cukup sampai disini, saya mohon undur diri Ananda Alexa" pamitnya lalu segera beranjak pergi dari hadapan ku. Aku menyambut kepergian nya dengan senyuman yang lebar di wajahku setelah ia berpaling.


"Yey akhirnya berakhir juga!" Teriakku senang.


"Nona anda pintar sekali" puji Elissa sambil tersenyum dipaksakan yang berarti ucapannya itu memiliki makna sebaliknya. Sementara aku hanya nyengir kuda menanggapi nya.


.


.


.


Ketika hari menjelang siang kakak ku pun pulang dari akademi kerajaan. Aku menyambut kedatangannya dan memeluknya erat. Karena sejujurnya aku senang idola sekaligus kakakku datang menemui ku dan memastikan keadaan ku. Sampai saat ini aku belum menemukan tanda-tanda dia akan menjadi antagonis atau apalah itu. Citranya dimasyarakat bahkan dikenal sangat baik.


Aku bahkan ragu kalau dia adalah seorang antagonis sama seperti yang dikatakan di novel yang kubaca dulu. Yahh wajar saja karena novel itu dibuat berdasarkan sudut pandang pertama dari sang protagonis. Mungkin saja ada kesalah fahaman yang terjadi diantara mereka.


"kenapa kau ingin belajar pedang?" Tanyanya padaku. Ia menghentikan kegiatan tangannya itu lalu menatapku heran.


"Aku ingin menjadi lebih kuat agar bisa melindungi orang-orang yang kucintai" jawabku mantap.


Lavender hanya tersenyum miring melihatku. Dia sejenak memperhatikan gelagat ku sebentar dan kemudian terdiam.


"Kau memiliki tubuh yang lemah, sepertinya untuk bisa berlatih dan terampil dalam pedang serta menjadi seorang yang memiliki daya tahan kuat membutuhkan proses yang lama" tuturnya kepada ku. Bagiku itu bukanlah suatu masalah besar untuk ku hadapi.


"Tidak masalah, berapa lama kah itu?" Tanyaku.


"Tergantung... Paling cepat 5 tahun, tapi jika Leca yang melakukannya... Mungkin 100 tahun tidak akan cukup" Jawabnya santai.


"HAAAAA?!"


Aku terkejut karena itu bukanlah waktu yang sedikit. Bahkan dalam selang waktu segitu Pangeran Shun sudah mati duluan karena terbunuh orang yang ada dihadapan ku kini. Aku berdecak kemudian hanya dapat berdecak kesal.


Lavender menaruh cangkir pelan kemudian beranjak dari tempat duduk itu untuk berdiri dan menjauh beberapa langkah. Dia memperhatikan langit yang tampak cerah kemudian dia mengalihkan pandangannya padaku sambil tersenyum.

__ADS_1


'Ehh tunggu tunggu dia tersenyum padaku?! Apakah aku bermimpi??" Batinku.


"Tapi jangan kawatir dengan itu semua, jika kau memiliki sihir maka kau bisa melindungi orang-orang yang kau cintai dengan sihir tanpa harus melatih kekuatan fisik mu" Ucap nya.


Dia kemudian mempraktekan beberapa sihir tanpa rapalan yang artinya dia sudah menguasai nya dengan baik. Itu juga membuktikan bahwa orang yang berada dihadapan ku kini sangat lah berpotensi menjadi seorang penyihir kerajaan yang hebat. Aku sangat kagum dengan kehebatan nya.


"Lihatlah aku memanggil kupu-kupu ini dengan sihir, membuat boneka tanah ini dengan sihir, memburu burung ini dengan sihir, dan kau juga bisa melakukan hal lainnya menjadi lebih mudah hanya dengan menggunakan sihir" jelasnya.


"Namun perlu digarisbawahi bahwa sihir tidak boleh digunakan seenaknya untuk merebut hak orang lain dan tidak boleh dilakukan untuk kejahatan.. karena sihir itu akan berubah menjadi sihir gelap, jika itu terjadi maka kau tidak akan diakui sebagai orang baik karena kamu pernah berbuat kejahatan"


Ehh tapi bukannya orang yang berada di hadapan ku bahkan sudah membunuh 2 orang? Kenapa ia masih diakui sebagai penyihir yang hebat yaa.. mungkinkah karena dia tidak menggunakan sihir pada saat melakukan? Ya itu pasti!.


"Kalau begitu ajarilah aku sihir ucapku kemudian"


Kakakku itu segera menghampiri ku dan mendekatkan wajahnya padaku kemudian berbicara ditelinga ku dengan suara kecil namun aku berhasil menangkap maksud nya.


"Tidak semudah itu, kau harus melakukan pengujian tes dahulu" ucapnya kemudian memegang bahuku dengan kedua tangannya.


"Semangat yaa.." ucapnya sembari tersenyum misterius hingga tampak jelas mencurigakan di mataku.


Sebenarnya apakah yang ada dalam pikiran orang itu. Tingkah nya sungguh selalu membuat ku heran.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2