
Semua itu diawali dengan kehadiran seorang wanita yang bernama Illona, dia datang dengan membawa anak di sisinya. Dia mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya dengan Duke, mendengar itu membuatku merasa sakit hati.
Tidak kusangka ternyata Duke Claoudie melakukan hal itu di belakangku, padahal aku adalah istri sahnya. Tapi mengingat dia tidak mencintaiku aku cukup sadar diri.
Setiap kali aku melihat anak itu, aku merasa terus tersakiti tapi aku tetap memperlakukannya seperti anakku sendiri.
Dia anak yang malang, tumbuh di lingkungan yang keras selama bersama ibunya, dari ceritanya aku sedikit mengerti dengan perasaan yang dimilikinya.
Setiap ibunya melakukan pekerjaan dia di taruh di dalam peti atau disembunyikan agar tidak mengganggunya.
Mulai dari itu aku terus memberikan kasih sayangku sebagai ibu kepadanya, dia juga anak yang baik, sangat patuh dan penurut.
Sedangkan Illona yang tinggal di dalam mansion Duke Kethzie tidak banyak menggangguku tapi terkadang aku berdebat dengannya soal Lavender yang terus dia abaikan. Aku tidak bisa mengurus Lavender sepenuhnya karena aku memili seorang anak yang harus ku rawat dengan benar.
Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk anak itu, aku ingin memberinya kasih sayang layaknya seorang ibu, memberinya apa yang dia mau, seperti makanan yang dia sukai ataupun hadiah saat ulang tahunnya. Tapi semua itu hanyalah mimpi, ternyata aku tidak bisa mewujudkan mimpiku itu.
Claire menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafas pelan.
Aku sangat mencintai anak itu karena dia adalah anak Duke Claoudie juga. Mungkin dia tidak sadar karena aku melakukan sesuatu yang buruk padanya ketika itu sehingga dia tidak mengakui mu.
Selain itu aku membuat perjanjian dengan Dewi bulan untuk menjadikanmu Magise, aku sangat egois mengorbankanmu untuk kepentingan banyak orang dan juga untuk membantu Duke Claoudie dalam pekerjaannya mengurus sebagian rakyat Frost tanpa menyadari bahwa yang mungkin saja mengintai mu. Untung saja Dummy mau menyegel kekuatanmu, dan suatu hari nanti dia yang akan melepaskannya.
Maafkan aku, seharusnya aku berbicara baik-baik dengannya tapi aku tidak bisa, tiap kali aku ingin berkata tentangmu semua hanya berakhir dengan pertengkaran karena aku dekat dengan Dummy.
Dummy sendiri adalah penjagaku, bisa dibilang dia adalah pengawal sekaligus temanku yang biasa bekerja di bawah keluargaku. Aku tidak menyangka selama ini dia memiliki perasaan terhadapku.
Aku menyadarinya ketika dia memberitahuku saat aku menangis sore itu. Aku terus mengurung diriku di kamar tapi dia memperhatikanku dan terus memperlakukanku dengan baik. Dia bahkan bertingkah seperti anjing yang ingin dimanja oleh majikannya tapi dia sedikit memberontak, dan saat itu juga Duka datang tanpa mengetuk pintu.
Namun dia kembali menutupnya dengan kasar, dan itu membuatku semakin bersedih karena aku makin dibenci olehnya.
Kau tahu Leca? Aku sangat mencintainya, aku melakukan berbagai cara untuk menarik perhatiannya tapi dia terus mengabaikanku. Dia bahkan tidak menganggap ku ada, dia bahkan tidak melirikku sebagai wanita sama sekali.
Tapi aku merasa senang saat dia berkata satu kali ketika itu, "Aku mulai sedikit tertarik kepadamu," itu yang dia katakan saat kami usai bertengkar.
Tapi yang membuatku merasa jatuh, adalah saat dimana Illona datang seperti yang aku katakan, setiap hari aku hanya bisa menangis tanpa banyak berkata-kata.
Aku paham perasaan Dummy yang juga merasa kesal, dia berencana untuk membawaku kabur bersamanya tapi aku menolak. Tidak kusangka ternyata dia menculikku dari sana, dia sudah merencanakan hal itu dari jauh-jauh hari.
Aku tidak bisa melawan karena orang itu adalah Dummy, dia adalah orang yang selalu perhatian kepadaku meski seluruh dunia ini membenciku.
Satu hal lagi yang aku sukai, Saat itu ayahmu datang untuk menolongku dia ingin membawaku kembali kesisinya. Tapi... Dummy menolak, dia ingin aku bahagia bersamanya dan mereka berdua bertengkar karena memperebutkanku.
Ayahmu terluka parah, begitu juga dengan Dummy, saat itu Duke Claoudie ingin membunuhnya dengan menggunakan sisa tenaganya tapi aku menghentikannya.
Tanpa sadar aku sudah pergi dari sissi mereka berdua, takdir ini menyedihkan. Tapi aku tidak pernah membenci takdir. Aku menyukainya karena membuatku memiliki seseorang yang kucintai walaupun tidak pernah merasa dicintai.
Aku tidak tahu perasaan ayahmu padaku seperti apa, tapi yang jelas sampai sekarang aku tetap menyukainya.
Mungkin kalau ditanya, apa keinginanku aku akan menjawab aku ingin dia menciumku dengan benar, karena sebelumnya dia melakukan itu dengan sangat buruk.
Aku ingin dia mengatakan aku mencintaimu meskipun itu terdengar mustahil tapi aku tetap berharap karena sangat menginginkannya.
Dan aku ingin segera dikubur dan tidak menjadi gentayangan, karena jujur ini membuatku terus teringat olehnya dan ini merepotkan ku.
Claire menghela nafas lalu tersenyum, tapi sejurus kemudian dia terdiam karena melihatku sudah banjir air mata.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanyanya heran.
"Aku terharu oleh kebaikanmu, ibundaku terlalu kuat menghadapi iblis seperti dia," kataku jujur.
Claire tersenyum, "Dia bukanlah iblis karena dia masih punya hati kok, kau masih hidup sekarang karena dia membiarkanmu, harusnya kau senang itu,"
"Ta-tapi ayah bahkan mengusirku, dia mengatakan aku anak j*lang dan itu membuatku merasa tersiksa setiap hari," jelasku.
"Ahh kalau bisa aku ingin memukul pantatnya karena telah menyiksa anakku," kesal Claire sambil menggembungkan pipinya.
Aku heran dengan ayah iblis itu yang bahkan tidak bisa terusik dengan kecantikan dan kebaikan ibunda, menurutku dia benar-benar iblis yang jahat dan aku tidak menyukainya.
"Terimakasih Ibunda, aku harus cepat kembali," pamitku diiringi dengan anggukannya.
Tidak lama setelah itu tubuhnya kembali jatuh dan kami langsung menidurkannya di peri mati.
"Ini sudah terlalu pagi miaw~" kata Shun panik.
Aku juga begitu, aku tidak menyadari bahwa waktu di luar terus bergulir tanpa menunggu kami sebentar saja.
"Baiklah aku akan kembali ke wujut kucingku untuk melihat situasi di depan terlebih dahulu," kata gadis Nekomata itu diiringi oleh anggukanku.
Dalam hitungan detik dia sudah menghilang dari hadapanku karena berlari dengan sangat kencang, aku pun hanya bisa mengejarnya semampuku dan terus berlari dalam lorong ini.
Namun aku terjatuh ketika sebuah cahaya barusaja lewat dihadapan ku secara tiba-tiba dan membutakan pandangan mataku sementara.
"Apa yang barusaja kau lakukan hah?" Tanyanya sambil meraih daguku dan membuatku menatapnya.
Dia adalah Dummy, seseorang yang seharusnya aku hindari.
"Kau sudah bertemu dengannya?" tanyanya.
"Y-ya," jawabku pelan.
"Maka ikutlah aku, kita akan menikah saat ini juga, kau harus bersiap-siap," kata Dummy sedikit kesal lalu tiba-tiba menggendongku.
"Tidak, aku tidak mau," tolakku kasar.
"Diamlah," ucapnya membuat seluruh tubuhku tiba-tiba lemas dan tidak bisa melawan.
"Oow ketahuan kita miaw~" kata Nekohun yang ternyata sudah terikat di batang pohon.
"Lepaskan aku miaw~" kata Shun lagi namun aku tidak bisa membantunya.
BRAKKK
Dummy melemparku di kasur dengan kasar tapi lalu dia terdiam selama beberapa saat untuk menatapku.
"Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan olehnya padamu tetapi mulai sekarang kau hiduplah sebagai Claireku," katanya sambil membelai rambutku pelan.
Aku menepis tangannya, "Kau gila!" Makiku kasar.
"Aku tidak gila seperti ini kalau bukan karenamu, kau pergi meninggalkanku terlebih dahulu, kau curang," lirih Dummy lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
Dia benar-benar seperti tertekan, aku tahu Dummy sangat mencintai ibuku tapi mereka tidak ditakdirkan bersama.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menyusulnya?" tanyaku pelan.
"Karena aku tidak bisa mati sebelum tugasku selesai, itu adalah derita seorang saint, berbeda dengan pangeran Shun itu yang bisa mati kapan saja karena dia adalah saint palsu, meskipun begitu dia akan menjadi saint asli jika aku benar-benar mati kali ini," jelasnya pelan.
Entah kenapa aku merasa kasian padanya lalu aku memeluknya erat, "Kau mencintai ibuku bukan? maka sebaiknya kau melakukan apa yang dia inginkan, jika melihatnya bahagia maka itu akan membuatmu bahagia juga kan,"
Dummy tertegun lalu menatapku dengan tatapan sendu, "Kau tahu apa keinginannya? Aku bahkan tidak pernah diberitahunya,"
"Dia ingin bertemu dengan Duke Claoudie dan dia ingin dikubur dengan tenang,"
"Tidak bisa!" Teriaknya tiba-tiba.
"Claire hanya milikku, dia tidak pantas bertemu dengannya karena dia hanya akan tersakiti lagi dan lagi, selain itu aku benar-benar menyukainya, tanpa dirinya disisiku, aku akan merasa kesepian,"
"Aku tahu, aku juga merasakan hal yang sama, kau membuatku jauh dari pangeran Shun," kesalku lalu beranjak dari sana.
"Kau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya," gumamku pelan tanpa melihat kearahnya.
Dummy memegang bahuku dan memutar kearahnya.
"Apakah aku... menyakiti hatinya?"
"Ya, kau terus melakukannya,"
"Ta-tapi aku hanya ingin melihatnya tersenyum,"
"Karena itu lepaskan aku, dan biarkan dia tenang di kuburan!"
Dummy tertegun lalu menatapku dengan tatapan kosong, "Aku tidak ingin melakukan itu," ujarnya kemudian lalu pergi.
"Aku menunggumu satu jam lagi," katanya membuatku langsung terduduk lemas di lantai.
"Percuma, dia tetap egois karena cintanya membuat dia buta dan gila, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa," lirihku sambil menatap tanganku.
Aku menangis karena pasar juga kesal, namun tiba-tiba sesuatu mengejutkanku, segel ikatan abadi milik pangeran Shun telah hilang. Entah sejak kapan, aku tidak menyadarinya.
Apakah itu artinya dia sudah tidak ada lagi di dunia ini? memikirkan itu membuat air matakuku tanpa sadar makin mengalir dan tangisku makin menjadi. Kuharap ini adalah mimpi, ini tidak nyata, ini semua hanyalah kebohongan.
Tapi aku tidak bisa menangkalnya, ini adalah kenyataan, perasaan kehilangan ini begitu besar, membuatku merasa hancur berkeping-keping.
"Jangan tinggalkan aku sendirian bodoh, aku tidak bisa hidup tanpamu," bisikku pelan sambil memegang sebuah jepit rambut pemberiannya dulu.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...