
Aku tersenyum sumringah karena melihat dua hewan yang berada dihadapan ku. Lebih tepatnya kuanggap mereka sebagai hewan jadi-jadian. Kelihatannya mereka tidak akan bisa akur untuk kedepannya dan itu akan sangat merepotkan untukku, membayangkannya saja sudah membuat aku geleng-geleng kepala sendiri.
Karena sedikit merasa curiga dengan keadaan tempat ini, aku pun menengadahkan wajahku ke atas. Bagaimana bisa bangunan diatas tidak roboh sama sekali ketika mereka sedang latihan bertarung diatas sana? Atau apakah tempat bawah tanah hanya seluas labirin yang kulewati tadi? Yahh kurasa labirin yang kulewati tadi cukup luas.
Selain itu di tempat ini juga terlihat beberapa tiang besar sebagai pondasi yang cukup menahan beban yang berat, namun bagaimana jika suatu saat roboh maka semuanya akan berakhir ke dalam ruangan gelap ini.
Ku alihkan tatapanku ke arah sebuah panah yang saat ini ku genggam, rasanya aku sedang berada dalam dunia mimpi saja, mendapatkan sebuah benda pusaka seperti ini membuatku merasa seperti menjadi orang yang terpilih dan itu membuat hati kecilku sedikit bangga. Sejenak aku melupakan kenyataan bahwa sebenarnya Heirloom weapon itu cukup banyak digunakan di dunia semacam ini.
Baiklah sekarang aku harus memikirkan tentang bagaimana caraku bisa keluar dari tempat yang sangat menyusahkan. Langkah pertama yang sebaiknya ku lakukan adalah mencari tempat dimana aku terjatuh, siapa tau aku bisa menemukan petunjuk disana.
"Baiklah aku ingin keluar sekarang, soal keanehan ini aku akan menginterogasi mu nanti." Ucapku sambil menunjuk ke arah Chaser.
Chaser hanya melirik ku sekilas kemudian mengangguk. Aku mencoba melangkah ketempat dimana aku jatuh tadi, tempat bawah tanah ini sendiri sudah terlihat agak terang akibat ulah kedua hewan yang sekarang menjadi rekanku. Mereka bercahaya dengan sendirinya atau mungkin karena sihir yang mereka miliki.
"Kita akan kemana?" Tanya Chaser yang mengekoriku dari belakang.
"Kita akan ke tempat ku pertama kali jatuh." Jawabku tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
"Kurasa itu tempat yang lumayan jauh jika ditempuh dengan anak kecil seperti mu,"
"Ohhh aku tahu, tapi aku tidak tahu cara lain untuk kembali,"
"Lagian jika kita kesana, akan ada hewan yang menjijikkan menyambut kedatangan kita." Imbuh Chun yang sedang terbang di hadapanku.
Langkahku seketika terhenti begitu juga mereka yang mengikutiku, aku bisa sampai tersesat disini adalah karena ulah para hewan menjijikkan itu. Entah aku harus berterima kasih atau malah marah karena mereka sempat menyerang ku tadi.
Kalau aku kesana maka akan menambah kesulitan ku saja, tapi jika tidak ada jalan lain, maka yang dapat kulakukan adalah tetap menerobos kumpulan itu.
"Meskipun Chun sudah menghabiskan sebagian besar dari mereka, tapi tetap saja jumlahnya begitu banyak, Chun sendiri tidak habis fikir hewan seperti itu munculnya dari mana." Lanjut Chun lagi.
Chaser segera melangkahkan kakinya mendekatiku. "Aku tau jalan pintas agar cepat keluar." Katanya sambil menunjukkan sebuah dinding yang berada tidak jauh dari tempat kami berpijak.
Aku mencoba untuk menemukan sesuatu disitu dengan memutar pandanganku namun tidak ada apapun yang aneh, seperti pintu atau sesuatu yang dapat ditekan dari dinding itu.
"Tidak ada apapun disini." Ucapku sembari menyenderkan sebagian tubuhku di dinding tanah, aku tidak menyangka tempat ini begitu gelap dan luas, dan aku merasa sedikit lelah karena ulah yang ku perbuat sendiri.
"Perasaanku ada disini deh." Kata Chaser sambil mencari cari sesuatu di tanah dengan menggunakan tangan dan hidungnya.
"Hei kalau kamu mencari dalam wujud manusia dihadapan wanita seperti itu, maka wajah tampan mu akan sia-sia." Kata Chun sambil ikut santai ditanganku.
Chaser mengabaikan perkataan Chun dan tetap melanjutkan kesibukannya. Aku yang merasa tidak dapat membantu pun hanya dapat duduk sambil mengelus bulu Chun, sehingga dia terlihat lebih menikmati berada di tanganku.
"Sepertinya tadi aku berhalusinasi, aku melihat ekormu seperti api biru yang menyala-nyala tapi sekarang tidak yah," kataku sambil mencubit bulu ekornya pelan.
"Ohh itu hanya berlaku kalau aku lagi merasa terancam atau bersiap menggunakan sihir dengan jumlah yang sedang sampai besar, btw jangan menyentuh pantatku seperti itu!!"
"Astaga masa sih, ini kan cuma bulu!" Tukasku sambil tertawa geli.
"Itu celana ku! Kenapa kau membukanya!" Setelah berkata seperti itu dia terbang dan hinggap ke bahu Chaser.
Aku merasa akan jungkir balik sekarang, bulu ekor dibilang celana?!, aku tidak menyangka burung cebol pun memiliki rasa malu, yaampun benar-benar burung aneh yang tidak bisa ku mengerti jalan pikirannya.
"Kumakan kau kalau dekat-dekat!" Kata Chaser sambil menatap tajam kearah Chun seperti hendak menangkap mangsanya. Mendengar itu pun bulu Chun seketika berdiri dan langsung mengepakkan sayapnya.
"Huh serba salah!" Katanya kemudian kembali terbang lagi ke pangkuanku.
Tuh kan! Aku adalah yang terbaik! Batinku senang.
"Ketemu!" Kata Chaser sambil menyingkirkan tanah yang menutupi sebuah lubang kecil dibawah tanah, letaknya tidak jauh dari tempat kami.
Aku dan Chun segera beranjak menghampiri Chaser.
__ADS_1
"Ini pintunya?!" Tanya Chun dengan nada mengejek.
Hah? Bahkan seekor burung pun tidak muat masuk ke didalam lubang sekecil itu.
"Ini gunanya sama seperti gembok, sama-sama membutuhkan kunci untuk bisa terbuka, coba perhatikan.." Jelas Chaser sambil menunjuk benda tersebut.
"Ahh iya ya." jawab Chun langsung.
Benda yang dimaksudkan oleh Chaser sendiri terbuat dari besi baja dan itu menancap pada tanah, memang terlihat sebuah lubang yang cukup besar ditengahnya dan pastinya tidak akan cocok jika hanya dibuka dengan kunci rumah.
"Sepertinya... Ini bisa cocok dengan mata anak panah yang kudapat." Aku mengambil sebuah anak panah yang barusan ku taruh di dekatku kemudian mencocokkannya dengan gembok itu. Benar saja, tidak lama setelah aku memutarnya muncul sebuah guncangan yang cukup keras di sekitar kami.
Tanah yang kami pijak pun bergetar, kemudian dinding dihadapan ku perkataan terbuka lebar. Namun bebatuan yang cukup tajam dengan jumlah banyak, berjatuhan dari langit-langit tempat kami berdiri.
"Berlindung!" Teriak Chun sambil memasang pelindung di sekitar kami.
Namun aku tetap melindungi kepalaku sendiri dengan menggunakan tangan sebagai penghalang, tetapi ternyata benda serupa kerikil yang berjatuhan itu tidak mengenai ku sama sekali.
Aku membelalakkan mataku ketika melihat sebuah tangga dan cahaya dihadapan kami. Rupanya ini yang dimaksud dengan pintu rahasia, aku baru melihat hal semacam ini dan itu membuatku berdecak kagum.
"Apakah kau masih bisa berjalan tuan?" Tanya Chaser padaku karena tangga tersebut terlihat cukup banyak untuk kulalui dengan kaki kecilku yang letih.
"Umm... Kurasa aku tidak akan mampu,"
"Kalau begitu biarkan aku memapah tubuhmu,"
"Yahh kurasa tidak ada salahnya," jawabku langsung membiarkan Chaser membopong ku.
"Aku berjanji akan memakan daging serigala seperti mu! Ucap Chun kemudian pergi lebih dahulu,"
"Kenapa dia?" Tanya Chaser yang langsung kutanggapi dengan gelengan kepala.
Beberapa detik kemudian aku sudah sampai di permukaan, mataku sedikit menyipit karena tiba-tiba merasakan silaunya matahari yang menembus masuk ke dalam pupil mataku.
"Aku merasa.. pusing," kataku sambil memegangi kepalaku, sepertinya aku merasakan sesuatu yang salah dengan pikiranku.
"Lecaaaa!!!" Teriak Natte yang barusaja datang, dia terlihat kaget dengan kondisi gaunku yang dipenuhi oleh bercak darah.
"Natte! Kecha, nona Collans!! Dan siapa?" Ucapku senang sambil berlari pelan ke arah mereka.
"Kamu terlambat, Kami sudah selesai semua latihannya hari ini, tetapi aku merasa aneh ketika aku hendak pulang tiba-tiba bertemu kusirmu yang katanya sedang menunggumu." Ucap Lily sambil mendekatiku.
Ini memang merupakan kesalahan ku dan aku tidak bisa mengelak dengan alasan apapun. "Maaf.." Ucapku sambil malu-malu, karena ini baru pertama kalinya aku meminta maaf seumur hidup kepada teman.
"Aku tahu kau pasti melakukan kecerobohan lagi kan yang membahayakan nyawamu." Natte menatap ku dengan tatapan mengintimidasi.
Glekkk...
Aku mengangguk singkat kemudian mengalihkan pandanganku ke belakang, disitu masih terdapat Chaser yang setia berdiri seperti patung hidup karena dia sama sekali tidak bergeming sedikitpun untuk menyapa atau melakukan gerakan semacam itu.
"Kamu tidak apa-apa kan? Kenapa ditubuhmu terdapat banyak darah? Tapi anehnya aku tidak melihat luka sama sekali," Tanya Lily lagi, sepertinya dia merasa heran dengan kondisi ku yang seperti ini.
Aku menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa menceritakan tentang hal itu, semuanya terjadi begitu cepat dan sangat menegangkan." Jawabku yang langsung membuat mereka menampakkan sorot mata kecewaan.
"Oh Dewa! siapa malaikat yang berada di belakangmu?!" Teriak seseorang histeris, dia seusia dengan Lily, sepertinya itu adalah teman berlatihnya dan kenapa dia baru menyadari hal itu?!
"Saya Ro-"
"Dia saudara jauhku." Tukasku memotong ucapan Chaser.
"Hmmm mencurigakan!" Ucap mereka semua berbarengan.
"Pertama-tama aku heran karena kami merasakan sebuah guncangan aneh seperti gempa kecil, dan itu lebih kurang terjadi sekitar 2 kali." Kata Natte sambil membusungkan dada kemudian melipat kedua tangannya.
__ADS_1
"guncangan yang terakhir terjadi tidak lama sebelum kemunculan mu!"
"Hehehehe,"
"Kok Hehehe"
"Apa kamu melihat temanku seekor burung kecil?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
"Ohh hewan tadi, aku melihatnya lewat tadi," Celetuk teman Lily.
"Kemana?"
"Gak tahu," jawabannya sukses membuat raut wajah ceria ku menjadi kusut seketika.
"Nona! Sebaiknya kita segera pergi dari sini sekarang!" Ucap Chaser tiba-tiba sambil menarik tanganku dari mereka.
Ada apa ini? Aku tidak tahu apa-apa?! Dia mau membawaku kemana?!
"Teman-teman aku akan menjelaskannya pada kalian nanti!" Teriakku sambil terpaksa mengikuti arah kemana Chaser pergi.
Tidak lupa juga dia menggendongku sambil membawa busur dan anak panah yang kudapatkan.
"Kita kemana?"
"Ke tempat tinggal mu"
"Tapi... Chun belum ku beritahu dimana mansionku."
Aku merasa bersalah jika harus meninggalkan Chun sendirian, apalagi dengan keadaannya yang miskin tanpa tempat tinggal dan makanan.
"Kesehatan mu lebih penting sekarang, atau kamu akan langsung diintrogasi dalam keadaan masih letih dan pusing oleh pihak kerajaan," Jelas Chaser sambil tetap berlari dengan kecepatan yang tidak dapat ku prediksi.
"Mereka menyadarinya,...bahwa aku, Chaser, telah jatuh ke tangan seseorang, padahal Archer weapon yang kujaga adalah senjata paling tertua sekaligus terkuat di antara para heirloom lainnya. Raja pertama kerajaan Frost adalah pemilik ku yang terakhir kali," Imbuhnya.
"Sampai." Katanya lagi yang sukses membuat mulutku terbuka lebar.
I-ini adalah kamarku!! Dia baru berbicara sebentar dan langsung sampai?!
"Bagaimana kau bisa tahu kalau ini kamarku?" Tanyaku padanya kemudian mulai masuk ke dalam ruangan melalui jendela yang terbuka.
"Indra penciuman ku tak dapat kau remehkan." jawabnya kemudian berubah menjadi sosok serigala putih kembali. Setelah itu dia melompat ke arah busur yang kugenggam dan langsung menghilang begitu saja dari pandangan mataku.
Ku perhatikan dengan lekat ukiran pada panah tersebut, kemudian aku tersentak saat melihat motif kepala serigala di bagian grip atau tempat pegangan panah.
Setelah itu aku memejamkan kedua mataku sebentar, sepertinya aku tidak bisa lepas dari pemikiran tentang bagaimana nasib kusir setiaku yang tetap menungguku disana dan nasib Chun yang kelaparan tanpa tempat tinggal. Hiks kuharap mereka tidak terlalu memperdulikan ku dan segera pulang.
Aku menghembuskan nafas kasar, sebaiknya aku segera pergi untuk mandi sebelum ketemu dengan seseorang yang menakutkan yang mungkin saja akan melahapku habis setelah tau aku memiliki senjata pusaka.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1