
"Baiklah Pangeran karena anda sudah sadar dan baik-baik saja saya pamit undur diri," ucap sang dokter istana yang tidak dibalas oleh pangeran.
Baik-baik saja apanya? Batin Elaine rasanya ingin berteriak mengelak.
Elaine tertegun melihat sorot mata dari pangeran Shun yang penuh keputus asa'an. Baru pertama kali dia melihat kejadian seperti ini karena sebelumnya Pangeran Shun selalu terlihat ceria dan lembut dihadapan siapa saja.
Elaine menghela nafas panjang, dalam hatinya dia merasakan perasaan bersalah yang sangat besar, dia jadi merasa iba pada Pangeran Shun yang seharusnya tidak pantas dia kasihani.
Sebuah suara ketukan tiba-tiba mengalihkan fokus mereka.
Tok... Tok...
Mereka semua menoleh ke arah sumber suara dan sudah mendapati seorang prajurit penjaga istana berdiri di ambang pintu kemudian menghadap ke arah Pangeran Shun dan Kenn.
"Maaf mengganggu Pangeran, di luar ada seseorang yang mengaku tunangan Pangeran Kenn dan ingin bertemu dengan anda,"
Pangeran Kenn membelalakkan matanya. Sejak kapan Lavender Kethzie sampai rela ke tempat sejauh ini untuk menemuinya kecuali ada alasan yang sangat penting dan mendesak. Tiba-tiba saja firasatnya menjadi tidak enak.
"Katakan aku akan segera menemuinya," jawab Pangeran Kenn kemudian langsung beranjak.
Dia membalikkan badannya sebentar untuk melihat Pangeran Shun yang terdiam memperhatikannya sambil mengerang memegangi keningnya, dia terlihat begitu kesakitan sampai seperti ini. Pangeran Kenn jadi merasa bersalah karena dulu pernah tidak sengaja malah membuatnya memisahkannya dari Alexa.
Jika saja kebahagiaan dan seseorang yang ingin dilindungi yang dimaksud adalah gadis itu, maka dia akan mendukungnya sebagai teman, kalaupun nanti Pangeran Zio menyukai gadis itu, dia tetep akan mendukung Pangeran Shun.
"Aku ikut!" Kata Pangeran Shun.
"Kau tetap disini saja Shun," kata Pangeran Kenn diikuti oleh anggukan Elissa dan Erdwan.
"Aku ingin mendengar keadaan Alexa dari kakaknya, karena semalam kami sempat sedikit bermasalah," Pangeran Shun bersikukuh.
"Tenang saja aku akan memberitahumu nanti, aku akan menanyakannya untukmu, lagian ini adalah pertemuan aku dan tuanganku setelah sekian lama," tolak Pangeran Kenn sambil tersenyum kikuk.
"Ahh aku mengerti kau pasti ingin itu kan..." goda Erdwan sambil menyeringai diikuti dengan tatapan tajam dari Elaine.
"Hahahaha bisa saja kamu Erdwan,"
"Baiklah..." Kata Pangeran Shun mengalah.
Setelah Pangeran Kenn pergi Pangeran Shun langsung mendapat tatapan mengerikan dari kedua pengawal pribadinya.
"Apa aja yang kemarin kamu lakuin, ceritain dongg..." kata Erdwan sambil menyenggol lengan Pangeran Shun.
"Tidak usah menceritakan kalau emang intim banget," kata Elaine.
"Ehh aku gak bakalan seperti itu," elak Pangeran Shun yang tiba-tiba wajah dan telinganya memerah.
"Hooh jadi bukan seperti itu," kata Elaine sambil memegang dagu Pangeran Shun dan membuat tatapan mereka bertemu.
"Ehh...?" Pangeran Shun heran.
Elaine tersenyum licik, "kau pasti habis melakukan ini kan." Ujarnya sambil mengusap pelan bibir Pangeran Shun dengan jarinya kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Pangeran Shun pun semakin merona, tidak lama setelah itu sebuah pedang panjang kini melekat pada leher Elaine.
"KAUUU!--" Geram Erdwan.
"Hohoho seloww... teman, aku cuma sedikit jahil saja kau sudah mengeluarkan benda ini," kata Elaine tenang.
Diluar dugaan Pangeran Shun malah tidak marah justru terlihat malu-malu.
"Sebenarnya ak-ku hanya memeluknya, tapi hampir saja aku kelepasan karena pakaiannya... Uhmm," kata Pangeran Shun angkat bicara. Dia mulai menggaruk tengkuknya yang terasa gatal sambil tersenyum kikuk.
"HEEEEEE...?" Elaine dan Erdwan dibuat terperanjat.
Elaine berdehem, "Tuh kan bener," kata Elaine terlihat bangga.
"Pangeran Shun sepertinya pikiranmu sudah ternodai, kau tidak lagi poloss huhu aku terharu," kata Erdwan dengan tatapan penuh haru. Seperti telah membesarkan anaknya dan kini telah melihat dia tumbuh dewasa dan merasakan cinta.
"Kok malah seneng? Kamu itu kelainan yah jelas-jelas saja dia sudah tidak polos malah terharu!," kata Elaine sambil mengguncang-guncangkan bahu Erdwan.
"Anak kita sudah besar..."
"Yaampun mana mungkin aku mau punya anak sama kamu, lagian mana ada anak yang seumuran dengan ayahnya begee,"
"Bilang iya kek sekali-kali El," Ucap Erdwan sambil merengut manja.
Pangeran Shun menghela nafas panjang melihat mereka berdua kemudian tersenyum kecil. "Tapi aku tidak bisa mengatakannya, aku tidak bisa mengatakan padanya kalau itu adalah cinta, karena menurut ku itu akan membuat masalah saja,"
"Kenapa?" Tanya mereka berdua.
"Karena pada akhirnya aku akan tetap menghilang dari dunia ini dan meninggalkannya sendirian..."
__ADS_1
"Aku ingin sekali mengatakannya suatu saat nanti, aku ingin dia menemaniku saat mendapat tahta seorang Raja, tapi... aku sadar kalau aku malah hanya akan membebankannnya dan membuat dia menanggungnya sendirian,"
"Aku tidak ingin itu terjadi, aku hanya ingin melihat dia bahagia tersenyum dengan ceria, begitu juga kalian yang selalu mendukung ku, melindungi dan bertarung bersama ku, aku ingin melihat kalian semua bahagia, sungguh egois kan keinginan ku padahal aku hanyalah sebuah alat saja... aku memiliki hidup yang singkat... Dokter istana benar, aku memang tidak bisa melawan takdir sekeras apapun aku berusaha, karena itu aku berkata padanya untuk tidak berharap lebih padaku,"
Erdwan terdiam kemudian mendekat kearah Pangeran Shun dan meninju dada Pangeran Shun keras, membuat Pangeran Shun langsung tersentak kaget.
"Ehh ternyata kau lebih tidak berakhlak dibandingkan aku," cibir Elaine.
Erdwan tidak mempedulikannya namun malah menatap tuannya itu dengan tatapan serius.
"Sejak kapan kau jadi lemah seperti ini ha?! Pangeran Shun yang ku kenal itu sangat ramah dan kuat, dia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya kepada siapapun dan tidak mudah putus asa," kata Erdwan dengan nada tinggi sambil mencengkram erat kerah baju Pangeran Shun.
Pangeran Shun tertegun kemudian membalas ucapan Erdwan dengan nada yang tidak kalah tinggi, " Kamu memang benar, aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu, yang selalu berusaha kuat di depan orang karena tidak ingin mereka merasakan perasaanku, tapi sekarang berbeda... Kalian bukanlah orang asing bagiku, kalian juga berhak untuk tahu, setidaknya aku ingin kita berteman sebelum akhir kehidupanku aku ingin kalian tahu betapa aku mementingkan kalian daripada diriku sendiri!"
"Kau egoiiisss kami tidak minta diperhatikan, kami hanya ingin kau juga bisa bahagia dengan memikirkan dirimu sendiri!"
"DIAMM!!" Teriak Elaine membuat mereka seketika membisu.
"Aku tidak mau melihat tingkah laku kalian yang seperti bocah... aku tahu meskipun perkataan ku mustahil tapi sebaiknya masalah seperti ini jangan terlalu dipikirkan, intinya pikirkan solusinya saja, lagian Erdwan.. kau itu sangat-sangat pintar yah Pangeran baru bangun dari tidurnya malah kau ajak perang mulut," lanjutnya lagi.
Erdwan menatap Pangeran Shun dengan tatapan bersalah. "Maaf aku hanya ingin kau tidak terpuruk Pangeran..."
"Tidak apa-apa," jawab Pangeran Shun sambil tersenyum tipis, tentunya senyuman yang terlihat dipaksakan, kemudian ia menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya dan pura-pura tertidur.
.
.
***
.
.
TAP...TAP...
Suara langkah lavender Kethzie terdengar begitu jelas, dengan tertatih-tatih dia mendekati Pangeran Kenn yang tengah membelalakkan matanya saat menatapnya.
"Pangeran... Aku..." Kata lavender lemah.
Dalam hitungan detik tubuhnya telah kehilangan keseimbangan dan luka diperutnya kembali terbuka lebar.
"Lavender!" Pekik Pangeran Kenn yang langsung menangkap tubuh lavender Kethzie.
Dengan nada yang lemah lavender berbisik kepada pangeran Kenn sebelum kehilangan kesadarannya.
"Keluarga kerajaan... Telah dibantai... mereka semua...ma...ti..."
Mendengar perkataan itu Pangeran Kenn membelalakkan matanya tak percaya, dia sama sekali tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh lavender Kethzie.
Tapi meskipun begitu untuk apa dia datang kesini mencarinya kecuali demi memberitahukan hal yang sangat penting! Buktinya kini sudah ada didepan matanya, tunangannya yang katanya sangat hebat itu bahkan terluka parah. Tapi dia tetap tidak ingin percaya.
Pangeran Kenn tiba-tiba terduduk sambil memeluk erat tubuh lavender Kethzie, bukan karena alasan lain, tetapi dia hanya tidak ingin mengetahui kenyataan pahit itu tapi inilah kenyataannya yang membuatnya sangat kecewa, mendengar kabar kehilangan keluarga yang sangat disayanginya.
"AHHHGGGGG!!!" Teriaknya keras, air matanya pun mulai membanjiri pipinya.
Keadaan yang awalnya sepi kini mulai ramai mendatangi suara teriakan Pangeran Kenn dan semuanya pun terlihat terkejut.
Dengan tangan gemetar Pangeran Kenn mengguncang-guncangkan bahu lavender Kethzie.
"NONA LAVENDER BANGUN! KATAKANLAH KATAKAN PADAKU KALAU ITU TIDAK BENAR! KALAU KELUARGAKU MASIH ADA!! KATAKAN SEKALI SAJA PADAKU KALAU KAU BERBOHONG!!" Teriaknya keras, sedangkan sosok yang ditanya itu hanya diam tak bergeming.
"TOLONG KATAKAN PADAKU KAU BERBOHONG!!! KAU HANYA BERCANDA KAN!! IBUKU,AYAHKU, KAKAK DAN ADIKKU SEMUANYA MASIH ADA MEREKA MASIH MENUNGGU KEPULANGAN KU KAN!!! TOLONG KATAKAN PADAKU!!..."
Pangeran Kenn terdiam dia menggertakkan giginya karena kesal tidak mendapatkan jawaban, dia takut, sangat takut apa yang dikatakan wanita dihadapannya itu benar... kemudian ia menggigit bibirnya keras hingga berdarah, dia tidak peduli dengan semua orang yang memperhatikannya.
"Ada keributan apa ini?" Tanya seorang laki-laki muda yang baru datang, dia adalah pangeran Orion, Pangeran ke tiga kerajaan Arrenthia, usianya setara dengan mereka hanya saja dia lebih tua empat bulan dibandingkan Pangeran Shun.
Orang-orang yang lain hanya dapat memberikan isyarat menunjuk ke arah Pangeran Kenn yang sedang menangis memeluk erat seorang wanita yang tengah bersimbah darah.
Pangeran Orion pun tertegun. Tetapi dengan cepat dia mendatangi Pangeran Kenn.
"Ada apa?? apakah ada pembunuhan??!" Tanyanya panik sambil memegang bahu Pangeran Kenn.
"Kenn?!" Pekikknya kaget.
"Pangeran Orion, aku ingin kau segera memulangkanku sekarang!!! Kumohon..."
Pangeran Orion mengesampingkan permohonan Pangeran Kenn dan terlebih dahulu memeriksa denyut nadi lavender Kethzie yang ternyata masih ada.
"Tenang dulu... Dia masih hidup.."
__ADS_1
Pangeran Kenn menggelengkan kepalanya cepat kemudian menunduk.
"Keluargaku diserang, apakah mereka masih hidup Sekarang? aku hanya ingin tahu..." Lirihnya berhasil membuat Pangeran Orion membulatkan bola matanya lebar.
"Apa maksudmu?" Tanyanya heran.
"Aku tidak ingin menjelaskan justru akulah yang butuh kejelasan!" Balas Pangeran Kenn kemudian beranjak cepat dari sana sambil membawa lavender.
Darah segar terus menetes mengotori lantai istana membuat siapa saja yang melihat Pangeran Kenn menyangka dia sudah kehilangan seluruh kewarasannya.
Pangeran Orion berlari untuk mencegahnya karena melihat arah kemana lelaki itu hendak pergi.
"Pangeran Kenn berhenti! Jangan masuk ke dalam kamar peristirahatan Pangeran Shun! Dia tidak boleh diganggu dengan informasi seperti ini!" Titah Pangeran Orion sambil menahan bahu Pangeran Kenn.
Pangeran Kenn berontak kemudian tetap berjalan dengan langkah sedikit berlari.
"Jangan..." Cegah Pangeran Orion memelas.
Tetapi tekat Pangeran Kenn sudah bulat dia tidak peduli dengan perkataan Pangeran Orion yang melarangnya.
KREEKKK....
Pintu pun terbuka lebar memperlihatkan seisi ruangan tersebut dan penghuninya.
Erdwan dan Elaine langsung tertegun melihat Pangeran Kenn datang dengan membawa tunangannya yang tengah tak sadarkan diri dan penuh dengan noda merah yang menghiasi pakaiannya.
Dia menaruh tubuh lavender Kethzie disampingnya sedangkan dia bersujud kepada pangeran Shun sambil menangis.
"Pangeran Shun kembalikan kami ke kerajaan Frost sekarang juga..." Lirihnya.
Pangeran Shun yang sedang pura-pura tertidur pun langsung menyibak kasar selimutnya. Ia pun langsung tersentak.
"A-ada apa?" Katanya gagap sambil menatap tak percaya ke arah Pangeran Kenn.
Pangeran Orion hanya dapat diam, jauh didalam hatinya dia tidak ingin Pangeran Shun tahu bahkan ikut campur terhadap masalah kerajaan Frost karena kondisinya yang sekarang.
Pangeran Kenn pun menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin mengatakan apa-apa tentang informasi yang baru ia dengar dari lavender karena dia tidak ingin membuat kacau pikiran Pangeran Shun.
"Aku tidak bisa, sihir teleportasi hanya dapat kulakukan 2 kali dalam 1000 jam, kalau itu ku lakukan sekali lagi maka..." Ucapannya terputus. Tentu saja konsekuensinya akan memakan usianya lagi, karena sihir teleportasi bukanlah sihir yang kecil melainkan sihir yang sangat besar yang hanya dapat dilakukan saint dan penyihir yang memiliki bakat terpendam.
Pangeran Kenn pun terlihat ingin mengucapkan sesuatu tetapi dia urung. Tapi pada akhirnya dia tetap angkat bicara, "Ada pembantaian di kerajaan Frost, seluruh keluarga ku katanya telah... termasuk kita nona Alexa Kethzie, kita tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak... Jadi kumohon kembalikanlah aku kesana, aku ingin memastikan kebenarannya,.." Ucap Pangeran Kenn.
Sebenarnya dia tidak ingin Pangeran Shun mengetahuinya tapi dia harus memberikan alasan yang kuat untuk dapat memintanya melakukan sihir teleportasi, perasaan bersalah pun semakin menghampirinya membuat perasaannya semakin campur aduk tetapi ia ingin suatu saat membalas kebaikan temannya.
Pangeran Shun menghela nafas berat, "Baiklah... Akan aku lakukan," jawab Pangeran Shun cepat.
"Pangeran!!" Pekik Erdwan, Elaine dan pangeran Orion.
"Terimakasih, maafkan aku..." ucap Pangeran Kenn dengan penuh penyesalan .
"Holly array...Healing..." gumam Pangeran Shun sambil mengarahkan tangannya ke arah lavender Kethzie.
Dalam sekejap wanita itu sembuh seperti sedia kala, tak ada luka apapun di tubuhnya dan darah tidak lagi keluar dari tubuhnya.
"Teleportasi...!" Teriak Pangeran Shun sambil membuat sebuah lingkaran sihir yang terlihat begitu indah dengan ukuran lumayan besar.
"Kembalilah, dan pastikan kebenarannya," ucap Pangeran Shun sambil tersenyum.
Pangeran Kenn menatap haru ke arah Pangeran Shun dia membalas senyuman itu dengan anggukan.
"Terimakasih Pangeran Shun," ucapnya sekali lagi sebelum lenyap.
Setelah Pangeran Kenn benar-benar menghilang sepenuhnya dari hadapan Pangeran Shun dia hanya dapat mematung sambil terdiam.
Tidak lama setelah itu dia bergumam kecil. "Aku takut..." Ucapnya sambil mengeraskan cengkraman tangannya pada selimutnya.
"Pangeran..." Lirih Pangeran Elaine, entah mengapa hatinya jadi ikut merasakan sakit.
.
.
.
***
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...