Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 26 : Pertikaian


__ADS_3

Aku berjalan pelan menyusuri koridor istana dengan langkah yang sedikit gontai. Setelah beberapa saat pingsan tadi, rasanya pikiran ku semakin membaik, terlebih lagi Pangeran Shun menjenguk ku dan memberikanku kue yang sudah dibeli dengan usahanya sendiri.


Namun kini aku merasakan sedikit aura aneh dan terasa asing di sekitar ku. Saat aku menoleh kesisi kiri dan kanan dari tempat ku berdiri, tampak beberapa orang melihat ku lalu kemudian berbisik-bisik ria. Terlihat jelas olehku mereka sedang membicarakan diriku, mungkin karena kejadian yang kualami tadi dan itu adalah kali pertama mereka lihat.


Sebenarnya, banyak juga orang yang tidak memiliki kemampuan khusus seperti sihir dan semacamnya, dan hampir setengah dari jumlah seluruh murid di kelasku. Namun kejadian yang menimpaku baru terjadi sekarang, lantaran aku memiliki darah penyihir yang kental melekat dalam diriku, namun aku sama sekali tidak bisa menggunakan sihir apapun.


Padahal ayahku adalah penyihir yang hebat, begitu juga kakakku, mereka berdua disegani dan dihormati oleh banyak orang karena kemampuan sihirnya. Seharusnya jika salah satu saja dari anggota keluarga yang sedarah adalah seorang penyihir, otomatis anaknya juga merupakan seorang penyihir, bukan hanya orang biasa sepertiku.


Aku menghela nafas berat kemudian melangkahkan kaki menuju kelasku, aku sudah merasa cukup beristirahat tadi, jadi kondisi ku sudah merasa cukup baik untuk kembali mengikuti kegiatan di kelas.


Saat aku masuk kedalam kelas, ternyata hanya terdapat beberapa putri bangsawan saja. Sepertinya para putranya sedang latihan berpedang atau semacamnya, sedangkan mereka kaum hawa sibuk belajar menyulam. Kebanyakan dari mereka belajar menyulam sapu tangan dengan motif yang beragam.


Baru saja aku mulai mendudukkan bokongku di sofa yang nyaman tiba-tiba saja suasana kelas menjadi riuh dan tidak nyaman bagiku yang sedang mencari susana tenang.


"Hei lihat lah, bukannya itu Leca, yang benar saja masa dia tidak memiliki sihir"


"Ya, padahal ayahnya adalah seorang yang sangat hebat dan masuk ke dalam buku kerajaan yang paling terkenal itu "


"Aku dengar kakaknya juga sangat hebat, saking hebatnya bahkan membunuh temannya sendiri saat pelatihan sihir pffft"


"Hahaha masa sih, seperti nya Alexa itu adalah anak pungutan dan bukan keluarga asli duke Kethzie"


"Kasihan sekali yaaa, nama baik keluarga Kethzie jadi tercemar oleh keberadaannya"


Perlahan tanganku mengepal dan rahangku mulai mengeras. Aku benar-benar tidak suka tatapan yang di berikan mereka kepadaku dan segala yang mereka bicarakan tentang ku, kemudian mengaitkannya dengan nama baik keluarga ku. Mereka melihat ku dengan tapapan merendahkan, meremehkan, tatapan kasihan, tatapan benci dan tatapan jijik...aku sungguh tidak menyukainya. Lengan ku yang sedari tadi sudah terkepal ingin sekali meninju mereka satu persatu dan menyumpal mulut tak bertulang mereka dengan abu.


Namun, aku tetap berusaha renang dan berfikir positif. Setidaknya aku masih dapat belajar bela diri untuk melindungi diriku sendiri kan?.. tidak perlu dengan yang namanya sihir atau sebagainya.


"Apa apaan kalian! Ucapan kalian sangat tidak sopan kepada Alexa! Apalagi kalian menyinggung soal nama baik keluarga nya! Apakah kalian belum diajarkan tentang etiket haa?! Cepat minta maaf sana!" Natte yang tadi tampak tenang mulai angkat bicara dengan nada tinggi. Peralatan sulam yang tadi dipegangnya pun sengaja ia jatuhkan dengan kasar lantaran merasa kesal.

__ADS_1


Aku tersentak melihat tindakan berani yang dilakukannya, aku tidak menyangka Natte ternyata berani membela ku. Padahal selama ini aku mengira dia tidak menyukai ku karena tingkah nya kepadaku sangat cuek dan sesekali menyinggung perasaan ku.


"Maaf yahh nona tomboy sepertinya anda lebih tidak tahu etiket, anda ke sekolah istana memakai celana? Yang benar saja! Bukannya ada adalah seorang wanita bangsawan!?" Seorang gadis yang bernama Angela Barbara pun membalas. Ia memutar bola matanya malas sambil berkacak pinggang dan berjalan ke arah Natte tengah berdiri.


"Kau-" Ucapan Natte terputus, tenggorokan nya pun tercekat karena merasa bahwa ucapan wanita itu benar.


"Kalian berdua...sudah jangan berkelahi karena hal kecil,itu sungguh tidak sopan" Kecha menengahi sambil tersenyum kikuk.


Angela lalu menatap Kecha dengan tatapan membunuh. "Hal kecil katamu? Anda sok pintar ya nona Florist..."


"Ti_tidak saya cuma_" Kecha menundukkan pandangannya dan tidak berani membalas tatapan Angela.


"Huh sepertinya anda senang sekali cari masalah!" Natte menatap tajam kearah Angela kemudian mendekat dan menekan jari telunjuknya ke dahi Angela.


Angela merasa perlakuan Natte sangat tidak sopan. Ia kini tampak mulai tidak dapat mengontrol emosinya, sehingga langsung menjambak keras rambut Natte. Sedangkan Kecha berusaha untuk menengahi mereka, tetapi gadis itu malah didorong oleh pendukung Angela dengan kasar hingga tersungkur ke lantai.


"Kecha!" Pekikku dan langsung menghampiri Kecha yang sepertinya terbentur oleh sudut meja yang berada didekatnya. Benar saja, kini dahi Kecha di penuhi darah. Karena merasa terkejut saat melihat nya, aku langsung menutup mulutku yang terperangah tidak percaya terhadap apa yang sekarang berada di hadapan ku.


Akhirnya aku hanya mendudukkan Kecha ke sofanya, sejenak aku dapat mendengar suara Kecha yang meringis menahan sakit di kepalanya. Entah mengapa aku merasa wajahku mulai memanas, dan mataku kini mulai berair dan membuat beberapa embun hingga menutupi pandangan ku. Aku pun segera menyekanya kasar dengan lengan baju yang kupakai.


Saat aku hendak mendekati Natte agar melepaskannya dari jambakan si Angela, tiba-tiba saja tinta pena dilempar kearahku oleh salah seorang dari mereka. Sehingga gaun kesayangan berwarna peach ku kotor. Hal itu membuat ku berdecak kesal dan menatap mereka tajam satu persatu.


Aku merasa kesal dengan semua siswi yang berada dikelas ku yang tidak berani melerai dan malah menonton saja, bahkan tidak ada seorangpun yang berani membantuku dengan melapor kepada Miss Adelle atau guru lain . Cihh, Mereka semua adalah pengecut!... Memangnya siapa Angela?! Kenapa mereka takut terhadap iblis kecil itu!.


Hanya dalam waktu singkat aku berhasil melepaskan jambakan Angela terhadap Natte, tetapi ia malah melayangkan telapak tangannya menyentuh wajahku dengar sangat keras. Bahkan telinga ku langsung terasa berdengung, sedangkan ia terlihat puas dengan hal yang barusaja dilakukannya.


Tanganku pun mulai kembali mengepal dengan keras, namun aku mencoba tetap menenangkan diriku lagi. Tapi...Kalau aku hanya diam saja, aku akan semakin ditindas, kalau begitu ia harus merasakan rasa sakit yang diberikannya padaku tadi! pikirku.


"Plakkkk" aku menamparnya sekeras mungkin sebagai pembalasan. Kemudian menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Angela pun hanya melihat kearahku dengan tubuh yang bergetar ketakutan. Lemah sekali dia, berani nantang tapi gak berani dibales.

__ADS_1


"Benar atau tidaknya bahwa aku putri bangsawan atau bukan, emang apa untungnya bagi kalian? Lagian kalau kalian tidak tahu maka jangan asal bicara! Kalian siapa? berani sekali berbicara tidak benar terhadap ku? Kalian hanyalah segerombolan jangkrik, yang terus berbunyi melakukan omong kosong, dasar tidak berguna! Bahkan kalian tidak bisa dianggap sebagai wanita, tidak ada etika, langsung main keras saja!! Kalian disini semuanya adalah pengecut! tidak berani melerai,tidak berani melapor cihh " gerutu ku kesal pada mereka semua.


Aku sengaja meninggikan nada bicaraku agar mereka semua dapat mendengar luapan emosiku dengan jelas. Setelah mengucapkan nya akupun menatap sinis kerah mereka.


Angela kemudian menangis tersedu-sedu dan terjatuh bersimpuh di lantai, tertapi aku tidak peduli sama sekali terhadapnya, dan mulai menghampiri Kecha yang tampak masih meringis kesakitan.


Untuk beberapa saat suasana menjadi hening dan hanya isakan tangis dari Angela saja yang dapat dengan jelas terdengar. Semua yang berada disana tampak hanya menundukkan kepala tak berani sedikitpun angkat bicara. Seakan akan mulut mereka telah di perban rapat-rapat.


"Kenapa ini?!" Ucap Pangeran Zio memecah keheningan diantara kami, ia baru saja sampai dan tengah berdiri di pintu.


Tidak lama setelah itu, lalu muncul seorang wanita yang seharusnya muncul daritadi.


Seandainya itu terjadi.. pasti Kecha tidak akan sampai terluka seperti ini.


Semua pasang mata pun mulai melirik tajam kearahku sebagai jawaban dari pertanyaan Pangeran Zio, seolah-olah menyalahkanku atas kejadian ini, dan seolah-olah akulah yang menyebabkan keributan ini... Membuat Kecha terluka serta Angela menangis.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2