
Pagi hari setelah kejadian duel sebulan yang lalu Pangeran Zio benar-benar menjaga jaraknya dariku. Hal itu membuatku merasa sangat tenang tanpa gangguan sedikitpun.
Tapi sejujurnya aku merasa kasian karena dia terlihat selalu sendirian dan kesepian... Sesekali dia hanya berlatih sihir esnya di pinggir sungai kecil.
Aku menggelengkan kepalaku, "Sekarang bukan saatnya memikirkan orang itu, aku harus menjalankan misiku!" Tekatku lalu segera berjalan cepat menuju tempat Pangeran Shun berlatih pedangnya.
"Pangeran aku bawakan cemilan buatanku lohh!!" Ucapku bangga sambil menunjukan keranjang yang kubawa berisikan cemilan beraneka ragam yang tentunya aku buat sendiri.
"Wahh sepertinya enak!" Ucapnya dengan wajah sumringah.
Erdwan pun langsung membuka penutup keranjang itu lalu dia terperangah melihat isi cemilannya.
"Ini kue? Kok hitam semua bwahahah!" Kata Erdwan sambil tertawa.
Dia langsung mengambil sebuah kue dari keranjang itu lalu memperhatikannya lekat kemudian tertawa begitu saja karena melihat warnanya yang gosong.
"Ishh itu ku buat dengan sepenuh hati tahu!" Ucapku sambil merampas kue kering dari tangan Erdwan.
"Leca mau disuapin?" Tanya Pangeran Shun lembut dengan cepat aku langsung mengangguk.
"Bilang aaa" katanya sambil menyodorkan kue itu ke mulutku.
"Aaa nyam nyam..." Dengan percaya diri langsung aku kunyah, beberapa kemudian ekpresiku langsung berubah.
"Pahiiitt!" Kataku sambil beranjak pergi dari sana lalu memuntahkannya.
"Enak gak? Pasti enak kan... Karena buatnya pake cinta bukan pake gula," Sindir Erdwan saat aku kembali.
"Hiks... Padahal aku hanya ingin bisa memasak enak, tapi hasilnya mengecewakan, ternyata memasak itu gak mudah," Ucapku frustasi.
"Tidak apa-apa, lagian aku tidak akan membuat tangan indahmu menjadi lecet hanya karena belajar keras untuk memasak," ucap Pangeran Shun sambil memiringkan kepalanya untuk menatapku.
"Ughh sepertinya aku bakalan kena demam saat ini juga," gumamku sambil menepuk-nepuk pipiku.
"Sepertinya aku harus mencari pasangan hidup secepatnya," kata Erdwan yang sudah duduk meringkuk di bawah pohon sambil mengorek-ngorek sesuatu di tanah.
"Aku ingin bilang sesuatu Pangeran,"
"Aku ingin mengatakan sesuatu Leca,"
Ucap kami bersamaan. Aku terdiam sambil menatapnya penuh tanda tanya ternyata dia juga begitu.
"Aihh lady first," ucap Pangeran Shun mengalah.
Aku menghela nafas pelan, "Jadi malam ini kau bisa kabur sebentar bersamaku untuk sesuatu yang sangat penting?" Tanyaku langsung.
"Bisa, aku memiliki banyak waktu luang disini," katanya terlihat santai.
"Tapi aku dan pangeran Shun tidak boleh ketahuan kalau nanti malam pergi dari istana," kataku serius.
"Emang mau ngapain keluar berdua malem-malem? kelihatannya penting banget... " Tanya Erdwan yang ikut nimbrung.
"Aku... Aku ingin kita kencan, hanya kita berdua," Ucapku sambil menarik-narik baju bawahnya kemudian langsung nyengir kuda.
Mendengar pernyataanku dia malah menepuk jidatnya sendiri, "Baiklah," jawabnya.
"Kukira kau ingin mengatakan sesuatu yang lebih penting daripada itu," imbuh Pangeran Shun.
"Tapi itu juga penting tauu,"
"Iyaa Leca sayang...😌" Jawab Pangeran Shun sambil membelai pipiku.
Aku tertegun, kemudian tiba-tiba aku merasa tubuhku langsung lunglai dan tidak bertenaga.
"Lecaa!!" Panik Pangeran Shun yang langsung dengan sigap menahan tubuhku.
"Sepertinya... hatiku tidak kuat menerima perlakuanmu Pangeran," kataku berbicara dengan nafas tersengal.
"Baru digituin aja udah lemes, apalagi dicium huuu," ejek Erdwan.
"Ohh Leca pingsan pas aku melakukannya," ujar Pangeran Shun jujur tanpa sensor. Membuatku harus setengah mati menahan malu.
Erdwan terperanjat kaget, "Parah! Kapan?!" Tanya Erdwan.
"Pas pertama kali kami bertemu,"
"Berapa lama?"
"Mungkin 1 detik,"
"Ahh payah kau Pangeran! Harusnya kau bisa melakukan yang lebih dari itu!"
Pangeran Shun menggelengkan kepalanya, "Melakukan sebentar saja sudah membuatku merasa hampir mati,"
"Seharusnya kau melakukannya 5 menit kalau lebih sih baguss,"
"Haaah gila kau yah!" Sergahku sambil meninju wajah Erdwan tapi tidak berhasil karena Erdwan menangkis dengan tangannya.
"Hmm kurasa aku bisa melakukannya lain waktu saja, kau tidak keberatan kan Leca?" Tanya Pangeran Shun.
"Huaaa keberatan banget, sangat keberatan!!"
"Yaudah kalau itu maumu, aku tidak akan melakukannya selama itu," ucap Pangeran Shun sambil menunjukan wajah tersiksanya.
Aku langsung menahan nafasku sambil menggembungkan pipiku kesal. Jangan... Please jangan goyah Leca!...
"Haaah kau pasti tidak kuat iman Nona," cibir Erdwan.
"Siapa bilang?!!"
"Saya, em... aku yang bilang,"
"Baiklah! Baiklah! Aku tidak kuat iman! Pangeran Shun kau boleh melakukan apa saja!!" Teriakku sambil memejamkan mataku erat.
"Ffftt... Emang deh gadis seperti kamu mudah diperdaya," ucap Pangeran Shun sambil tertawa kecil.
"Ya Tuhan, berikanlah saya jodoh jugaa," Gumam Erdwan sambil menggigit jari jempolnya.
Dalam hitungan detik Erdwan langsung berjalan lemas ke bawah pohon terdekat lalu duduk meringkuk di pojokan.
"Hikss kau tega Pangeran, lebih memilih wanita itu daripada aku yang sudah lama menjadi pengawal setiamu🤧," ucapnya melirih sedih meratapi nasibnya.
"Hihihi biarkan saja Erdwan begitu, ayok kita mojok berdua, mumpung nyamuknya lagi sekarat," Ajak Pangeran Shun sambil merangkul bahuku untuk pergi dari sana.
"Fufufu kasiaan deh loo jombloo," ejekku sambil menjulurkan lidahku ke arah Erdwan sedangkan Erdwan hanya membalas dengan ekspresi cemberutnya.
.
.
.
***
.
__ADS_1
.
.
Malam harinya tepat pukul jam 10 malam saat bulan purnama memancarkan sinarnya dengan jelas aku berdiri dihadapan cermin sambil senyam-senyum sendiri.
Saat ini aku akan meminta bantuan Chun untuk membuatku berteleportasi ke kamar Pangeran Shun, setelah itu aku akan langsung ke tempat yang aku rencanakan untuk kencan, huhuhu gak sabaran banget pokoknya!!.🤧💘💘
"Hadehh dasar merepotkan, biaya teleportasi ke kamar Pangeran Shun 1 lusin apel loh, berikan pada Chun besok!" Ucap Chun Chun yang terus mengoceh, tetapi aku tidak terlalu memperdulikannya.
"Baiklah baiklah, ayo antarkan aku kesana!" Titahku menyuruhnya untuk bergegas mengeluarkan sihirnya.
Setelah sihir teleportasi dilancarkan aku langsung berada di sebuah tempat yang cukup aku kenali, asrama laki-laki dan merupakan kamar Pangeran Shun.
Ku hirup udara di kamar mewah ini sambil menunggu Pangeran Shun, tapi Pangeran Shun sama sekali belum muncul di kamarnya, padahal dia harusnya sudah tidur jam segini... Apa mungkin dia lagi keluar? Tapi untuk apa? Padahal kami berjanji malam ini akan kencan huhu... Teganya dirimu melupakannya...
KRiEETTT
Suara pintu terbuka tiba-tiba mengejutkanku yang saat itu tengah duduk santai di sofa panjang, setelah mendengar suara itu aku langsung kelabakan untuk mencari tempat sembunyi.
Ah itu dia! Ucapku lalu segera melompat ke kasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut tebal yang ada si sana.
Kumohon! Siapapun jangan ada orang lain datang kesini! Aku tidak ingin ketahuan huaa! Pasti aku akan langsung dilaporkan gara-gara menyusup ke kamar orang duhh gimana nihh...
Setelah beberapa detik aku tidak mendengar suara dari seseorang sedikitpun dan hanya suara hentakan benda dengan pelan.
Tidak salah lagi mungkin itu adalah pangeran Shun! Huaa aku lega... Batinku.
Sejurus kemudian aku langsung menyibak selimut itu lalu memutar pandanganku ke seluruh ruangan dan berhenti pada satu titik.
Yaaa itu memang Pangeran Shun tapi... Dia barusaja kembali dari kamar mandi?🤧
Ohh tuhan indah sekali tubuhnya, aku tidak ingin menggambarkan bagaimana bentuk kotak-kotaknya, yang jelas... Aku ingin menyentuhnya sekarang jugaa huaa...
Setelah mengusap-usap rambutnya yang basah dia lalu menyampirkan handuknya dan berniat mengambil beberapa baju tapi dia tiba-tiba tertegun saat melihatku di kasur sambil senyam-senyum sendiri.
Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi semerah kepiting rebus kemudian dia langsung menghampiriku dengan cepat.
"Jangan mendekat!" Cegahku.
"Kenapa?"
"Please aku bisa mimisan nanti," ucapku sambil menenggelamkan seluruh wajahku ke selimut.
"Lecaa tatap aku,"
"Tidak bisa, tidak mau, pokoknya enggak!" Tolakku sambil menggelengkan kepalaku cepat.
Pangeran Shun malah menarik paksa selimut itu lalu membuangnya ke sembarang arah, seketika aku membelalakkan mataku karena tiba-tiba aku sudah jatuh ke pelukannya.
Dag Dig Dug...
Jantungku berdegup dengan sangat cepat dan seluruh aliran darahku tiba-tiba memanas, apa ini? Apa artinya ini?! Apa aku sakit jantung?!!!
"Leca, aku tidak tahu niatmu, yang jelas jangan melakukan kecerobohan seperti ini lagi lain kali," Tuturnya lembut sambil membelai surai hitamku.
Aku mengangguk paham.
"Baiklah tutup matamu,"
Aku menggelengkan kepalaku cepat.
Pangeran Shun menyeringai kecil kemudian melakukan sesuatu hal yang tak terduga, dia membuka ikatan pita baju belakangku?!
"Pa-pangeran... Apa yang akan kau lakukan?"
"Jangan... Kumohon jangan sekarang..." Lirihku dengan nada yang sedikit gemetar ketakutan.
"Baiklah... makannya jangan suka nyelinap ke kamarku tiba-tiba," katanya sambil mengulum senyum di bibirnya.
Pangeran Shun pun beranjak dari kasur kemudian mengambil bajunya dan pergi dari hadapanku yang sudah terkena serangan jantung.
Huaaaa dag dig dug bangetttt!! Batinku antara takut sekaligus senang.
"Gak lagi-lagi deh aku kayak begini, ternyata Pangeran Shun itu kayak setan! Nyeremin!" gumam sambil memukul-mukul guling terdekat disitu.
Tidak lama setelah itu Pangeran Shun muncul dengan senyum lebarnya, "Ayoo kita kencan!" Ucapnya semangat.
Haahh... Pangeran Shun sudah kembali normal... Untunglah...
Akupun tidak segan lagi untuk mengajaknya bicara, "Pertama-tama ayo kita ke Restoran," ucapku percaya diri sambil mengedipkan sebelah mataku.
"Reusto?" Tanyanya dengan wajah polos.
"Restoran itu adalah...."
"Restoran....???"
"Aku juga gak tahu sih mueheheh," jelasku sambil menggaruk-garuk kepalaku.
"Aihhh..."
"Pokoknya seperti tempat makan umum yang makanannya beraneka ragam... Mungkin..." Terangku.
"Kenapa kita harus ke tempat makan?"
"Karena... Makan itu asupan penting sebelum kencan, biar semangat hehe🤤"
Pangeran Shun terkekeh kemudian dia langsung meraih tangan kananku, "Kalau begitu... Maukah kau berkencan denganku malam ini tuan putri Alexa?" Tanyanya lembut.
"Mauuuuu bangeet!!" Jawabku langsung.
Beberapa detik kemudian sebuah cahaya warna-warni bak aurora tercipta di sekitar kami, kemudian kami sudah berpindah tempat ke suatu tempat yang sangat asing namun terkesan indah dengan dekorasi bertema bunga sakura dan cukup ramai dikunjungi oleh banyak orang.
"Kira-kira sepertinya ini restorannya?" Tanya Pangeran Shun sambil memijat keningnya terlihat seperti seseorang yang tengah berfikir berat.
"Iyaah!" Jawabku senang.
"Syukurlah ternyata benar," ucap Pangeran Shun sambil tersenyum kecil.
"Pangeran kenapa?" Tanyaku yang khawatir karena kondisinya yang tiba-tiba terlihat pucat.
"Aku tidak apa-apa kok,"
"Beneran?"
"Iyaaaaa..."
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Huaaa enak enakk!! Enak banget... Pengen nangis saking enaknya!!" Celotehku sambil memasukkan beberapa makanan ke mulutku.
Sontak Pangeran Shun langsung menepuk jidatnya, "Leca apa kau tidak malu dilihatin banyak orang?" Bisik Pangeran Shun.
Aku menggelengkan kepalaku, "Buat apa malu?" Tanyaku heran.
"Kau itu seorang putri dari kerajaan terkenal, tapi tingkahmu seperti itu..." Ucap Pangeran Shun terlihat sedih.
"Pangeran malu punya pasangan seperti aku?" Tanyaku lagi, kemudian menelan semua makanan yang kumakan.
"Jelas lah, kamu seperti itu siapa yang tidak malu coba," ucap Pangeran Shun sambil terkekeh.
Aku tahu dia menasihatiku namun dibuatnya seperti bercanda agar membuatku tidak tersinggung, tapi entahlah, aku merasa sedikit tersinggung... Dia berkata malu memiliki seorang pasangan tidak beretiket sepertiku?... Oh ayolah dia benar tapi aku rasa aku kesaalll... Sangat kesal...
"Hump, gak peduli!" Ucapku sambil kembali memakan makanan itu.
Pangeran Shun menghela nafas berat, "Baiklah, terserah kamu saja," ucapnya mengalah.
Mendapatkan jawaban seperti itu aku malah merasa diriku egois, kemudian aku langsung menatap laki-laki itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Heeee kamu kenapa Leca?!"
"Huhuhuhu maaf Leca salah, harusnya aku bertingkah lebih anggun lagi, tapi aku terlalu senang bisa makan bareng denganmu Pangeran..." Ucapku sambil menundukkan kepalaku, aku sangat menyesal dengan tingkahku tadi.
"Jangan terlalu dipikirkan, lakukan saja kegiatan malam ini sesuai kemauan dan rencanamu," ucapnya pelan sambil tersenyum.
"Pangeran tidak ingin melakukan sesuatu juga?" Tanyaku heran.
Pangeran Shun menggelengkan kepalanya.
"yapss selanjutnya... Kita..."
"Kemana?"
"Kehatimuu... Hehe,"
"Lecaaa...."
"Hehe iya iya bentar, biarkan aku berfikir,"
Setelah semenit kemudian Pangeran Shun mulai bertanya, "Sudah berfikirnya?"
"Belum... Dikit lagi... Tadi aku hampir mengingat sesuatu tapi lupa, apa yah..."
"Hadehh sepertinya aku harus super sabar," ujar Pangeran Shun sambil menghela nafas panjang.
"Bagaimana kalau kita naik perahu di danau!" Usulku dengan mata yang berbinar.
"Tapi ini malam, akan gelap kalau kita ke danau, kamu tidak takut?"
"Kan ada Pangeran dan sang rembulan yang menemaniku, jadi aku tidak takut,"
"Okeeh kita akan ke danau yang terletak tidak jauh dari sini, aku juga sengaja memilih tempat ini karena sudah kuduga kau pasti akan ke danau," kata Pangeran Shun percaya diri sambil mengelus-elus dagunya yang tidak berjanggut.
Aku mengangguk singkat, setelah itu Pangeran Shun membayar makanan yang telah kami habiskan dan menggandengku berjalan menuju danau.
"Ngomong-ngomong ini di daerah mana yah, kok aku belum sama sekali melihat tempat ini,"
"Ini di desa Muarabiru masih termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Frost kok, letaknya juga tidak jauh dari ibukota," ujar Pangeran Shun.
Langkah kami berhenti ketika melihat sebuah tempat yang indah walaupun di malam hari, di tempat itu terdapat banyak kunang-kunang yang berterbangan.
Semilir angin malam pun ikut berhembus menggoyang dedaunan, hingga menimbulkan suara lembut yang berirama indah, seolah-olah menyambut kedatangan kami di sana. Cahaya kunang-kunang itu langsung menyerbu menghampiri sosok Pangeran Shun yang berada sisiku.
"Wah beruntung kalian, sekarang lagi bulan purnama dan musim kunang-kunang, waktu yang tepat sekali untuk naik berkencan sambil menaiki perahu," ujar seorang kakek tua yang menjaga perahu itu.
"Satu jam berapa harganya kakek?" Tanya Pangeran Shun sopan.
"Hanya 5 keping perak,"
"Baiklah, ini," ucap Pangeran Shun sambil menyerahkan 5 keping emas.
"Terimakasih nak," jawab kakek itu tanpa tahu apa yang barusaja dia terima. Karena mata tuanya itu mulai agak rabun.
Aku hanya dapat diam sambil takjub memperhatikan cahaya bulan yang dipantulkan oleh permukaan air itu.
"Ayo naik Leca," ajak pangeran Shun sambil menjulurkan tangannya untuk membantuku naik.
"O-oke,"
Pangeran Shun hanya tersenyum tipis sambil menatap ke arahku. Itu membuatku kikuk dan gugup setengah mati. Huaaa jangan tatap aku terus!!.🤧
"Pangeran, coba lihat pemandangannya bagus sekali!" Ucapku untuk mengalihkan pandangannya.
Masih dengan senyum yang sama dan masih dengan netra yang menatapku lekat dia bahkan tidak melirik sedikitpun ke tempat yang ku tunjuk.
Karena merasa terganggu aku langsung menekuk bibirku ke bawah, "Kenapa kau terus melihatku?!"
"Tidak boleh?"
"Boleh sih, tapi sesekali lihatlah bulan yang bersinar terang itu atau air yang memantulkan cahayanya atau kunang-kunang yang mengitarimu itu,"
"Habisnya... Bagiku yang paling indah dan memikat itu adalah kamu, kecantikanmu tidak bisa membuatku berpaling pada keindahan lain walaupun hanya sebentar," jawabnya dengan nada lembut.
😲Masa sih dia Pangeran Shun?! Kok aku gak percaya... Huaa aku rasanya pengen mati aja sekarang... Aku gak percaya ini... Hikss aku terharu...
"Loh Leca kau menangis?!" Kaget Pangeran Shun.
"Iyaa habisnya kamu terus menggombaliku, aku gak tahan,"
"Kamu gak suka yah,"
Aku langsung mengangguk, bisa-bisa nanti kalau aku bilang suka pasti dia akan terus melanjutkannya sampai membuatku jantungan...
"Aihh sialan emang Erdwan! katanya kalau ngegombal itu bisa buat cewek senang, tapi kenyataan mengatakan sebaliknya, awas aja dia bakalan ku cincang," ujar Pangeran Shun jengkel.
Aku tersentak lalu menatap Pangeran Shun sambil menutup mulutku yang terperangah karena syok, "Jadi itu bukan karena maumu Pangeran?"
Pangeran Shun tersenyum kikuk, "Bukan, semua itu karena aku mengikuti arahan dari Erdwan, soalnya aku kurang bisa menghadapi wanita hehe, aku benar-benar gak tahu harus berbuat apa... Untung saja ada catatan itu... Walaupun agak merepotkan karena daftarnya terlalu banyak, tapi itu tidak apa-apa sih," ucap Pangeran Shun terlihat lega.
Aku menggigit bibir bawahku, mencoba untuk tidak kecewa, karena semua tindakannya ternyata bukanlah keinginan dari dirinya... berarti selama ini dia hanya bersandiwara saja untuk menyenangkanku?! Ini tidak adil dan aku sangat tidak suka ini... Kenapa dia tidak mencoba untuk jujur saja.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...