Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 55 : Malam yang Penuh Warna Biru


__ADS_3

Terlihat pangeran Zio ingin berusaha untuk menenangkan ku, tetapi dia malah mengurungkan niatnya.


"Kalian berdua sedang apa? Saatnya penilaian sekarang, kalian harus berkumpul di sana bersama yang lainnya," ucap Lily yang tiba-tiba datang menghampiri kami.


"Alexa...dia sepertinya sedikit tidak sehat," jawab pangeran Zio lirih.


Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat Lily, sedetik kemudian Lily membelalakkan matanya karena melihat wajahku yang muram.


"Kenapa Leca?"


"Pangeran Shun, dia tadi bersamaku tetapi dia sekarang tidak ada, aku tidak terlalu memperhatikan dia tadi, bagaimana ini Lily..." Tangisku semakin keras sampai merengek-rengek ke pada wanita itu.


Lily Collans tersenyum kikuk.


"Emang tadi ada pangeran Shun? Bukankah dia masih bersama pangeran Kenn di Arrenthia?"


"Emmm iya sih, maksudku Chun, dia burung familiarku yang diberikan oleh pangeran Shun, dia menghilang begitu saja dari ku," jelasku yang tentunya tidak begitu benar, karena dia memanglah pangeran Shun yang asli.


Pangeran Zio menghela nafas lega.


"Tadi aku melihatnya ke arah sana!" Tunjuk Zio menunjuk ke arah belakang ku, disana merupakan hutan yang didominasi oleh pohon Cemara.


"Baiklah aku akan mencarinya, kau saja pangeran yang bertemu raja Dylan, aku benar-benar minta maaf telah menghancurkan boneka salju milik kita berdua, tetapi aku harus melakukan hal yang lebih penting bagiku, kumohon..." Kataku sambil memegang bahu pangeran Zio untuk meyakinkan anak itu.


"Ba-baiklah," jawab pangeran Zio sambil berpaling ke samping, rupanya dia tidak berani menatapku langsung.


Mungkin dia muak karena aku telah banyak melakukan hal yang merepotkan baginya.


"Bisakah aku ikut bersamamu? Aku tidak bisa membiarkan anak kecil seperti mu pergi ke hutan sendirian, meskipun itu hutan dalam wilayah kerajaan tetapi aku tetap tidak bisa membiarkan mu sendirian mencari burung itu," Ujar Lily yang merasa khawatir.


"Tidak apa-apa Lily, kau pikir aku siapa? Aku adalah seorang penakluk sate pastinya tidak akan mudah kalah begitu saja!" Kataku meyakinkan dia.


Lily pun mengangguk ragu.


Aku beranjak dari posisiku yang terduduk lemas tadi. Kemudian aku menatap lekat ke arah mereka berdua yang selama ini menjadi teman-teman ku yang berharga.


"Kalau begitu kita berpisah disini," kataku sambil melambaikan tangan kepada mereka.


"Kalau dalam waktu satu jam kau tidak kembali, aku akan mencarimu," Ucap pangeran Zio dengan wajah datarnya.


"Baiklah.." Kataku sambil tersenyum lebar.


Aku berbalik dan berjalan menjauh dari mereka menuju tempat yang ditunjukkan oleh pangeran Zio.


Semakin aku berjalan menjauh dari sana tempat yang kulalui semakin gelap, karena ini adalah bagian belakang istana yang terdiri dari hutan lebat tanpa keamanan yang tinggi.


Sejujurnya ini menjadi keuntungan besar bagi penyusup yang ingin menyusup masuk ke istana Frost. Hutan ini tidak dibatasi oleh pagar dan terhubung langsung dengan gunung es yang menjadi tempat para senior memanggil familiar nya.


Herannya aku, hingga sekarang bahkan tidak ada penyusup ataupun orang jahat yang berhasil menyusup ke dalam istana itu, sebenarnya ada apa gerangan di dalam hutan es ini.... Memikirkan hal itu justru malah membuat ku jadi merasa takut sendiri.


"Hahhhh..." Aku menghela nafas panjang.


Disini terasa sangat dingin dan gelap, aku tidak bisa melihat apapun. Batinku.


Ku tolehkan pandanganku ke sisi kanan dan kiriku, semuanya benar-benar berwarna temaram menandakan bahwa aku telah berjalan cukup jauh, cahaya bulan purnama pun tertutupi oleh rindangnya pepohonan yang menjulang tinggi.


Suasana disini begitu sepi dan aku bahkan tidak mendengar suara hewan-hewan seperti jangkrik sekalipun.


Kretekkk!


Aku membelalakkan mataku karena terkejut dan ternyata sumber suara itu berasal dari kakiku yang menginjak ranting patah.


"Hufftt bikin kaget aja nih ranting!" Gerutu ku sambil menyingkirkan ranting itu.


Ketika aku membungkuk setetes demi setetes air mata keluar dari pelupuk mataku. Aku tidak tahu ini artinya apa, aku tidak tahu apapun...


Rasa takut kehilangan pangeran Shun dalam diriku semakin tumbuh besar, bahkan aku merasa tidak ragu untuk mengorbankan diriku sendiri demi keselamatannya.


"Sebenarnya.. apa yang aku lakukan, aku sungguh bodoh, pangeran Shun pasti tidak akan meninggalkan ku, pasti dia akan kembali ke sisiku apapun yang terjadi.." Lirihku sambil menyeka air mataku.


Sebuah pantulan cahaya yang bergerak seperti ombak tiba-tiba menarik perhatian ku begitu saja dan aku langsung berlari ke tempat itu.


Ketika sampai di tempat itu aku terkejut karena melihat sebuah danau yang cukup besar dan sangat cantik di tempat seperti itu.


"Aku pernah mendengar Tempat yang tersembunyi yang indah di kerajaan Frost, jangan bilang ini adalah tempat tersebut..." Gumamku sambil takjub, tidak percaya dengan apa yang kulihat.


Aku menatap luas ke hadapanku yang hanya terdapat hamparan air sebening kaca transparan hingga memperlihatkan dasarnya danau yang berwarna hijau tosca kebiru-biruan. Rupanya juga permukaan air yang berada di tepi danau itu terlihat mulai sedikit membeku dan menjadi sesuatu yang indah bila dipandang oleh mata.


Aku melangkah maju untuk mengetahui apakah tepi danau tersebut benar-benar beku dan ternyata sudah dapat menahan beban sepertiku, kemudian aku mencelupkan tanganku ke air yang berada di dekatku karena penasaran sedingin apa suhu airnya.


"Dingin, hingga rasanya tanganku ikut membeku," gumamku sambil cepat-cepat menarik tanganku yang kedinginan.


Setelah itu aku beranjak untuk pergi, sesuai dengan tujuan ku, aku takut kalau Lily dan lainnya akan menghawatirkan ku kalau aku tidak segera kembali.

__ADS_1


Krakktkkktkk........


.


.


.


BYUURRRRR!!!


Ternyata permukaan air yang kupijak retak dan hancur sehingga aku langsung jatuh tercebur ke dalam danau itu.


"AAAAA!"


Aku memekik kencang karena kaget. Untuk saja aku jatuh di tempat yang tidak dalam sehingga dengan mudah aku langsung bisa ke tepi dan menjauh dari danau itu. Tentunya dengan kondisi yang basah kuyup.


"Ahh untung saja aku selamat, bisa mati tenggelam aku kalau berjalan sampai ketengah hanya karena penasaran!"


Karena terus menggigil kedinginan aku merasa tidak sanggup lagi untuk mencari keberadaan pangeran Shun.


"Apa sebaiknya aku kembali saja yah...? Mungkin yang lainnya sudah menunggu kedatangan ku termasuk pangeran Sh-un,"


"Gawat kakiku ke-keram?!!" Panikku yang langsung terduduk selonjor di tanah.


Aku menekuk kakiku dan memeluknnya kemudian aku terdiam dan merasakan tubuhku yang mulai bergetar hebat karena kedinginan.


Meskipun segel ditanganku mulai bercahaya kekuningan namun aku sudah merasa sudah diambang kesadaran.


"Ggggttt.... Gggggtttt... dalam kesendirian ini aku tidak bisa meminta tolong kepada siapapun...." Lirihku lemah dan aku sudah berputus asa bila harus menunggu hingga pangeran Zio mencari ku.


"Apa yang kau lakukan disitu? kedinginan hmm?" Tanya seseorang sambil mendekap ku memberikan kehangatan kepada tubuhku yang sudah mulai membeku.


Aku tersentak. Kemudian menengadahkan kepalaku ke atas.


"Pa-pangeran Shun?" Tanyaku ragu dan disambut dengan senyuman tipis yang sangat menghipnotis.


Aku tidak percaya ini, sangat tidak percaya terhadap apa yang sekarang ada di hadapanku. Tidak mungkin, pangeran Shun begitu berbeda dari apa yang aku bayangkan selama ini.


Dari jarak sedekat ini aku malah masih terpana tidak percaya dengan apa yang ku lihat di tambah lagi wajahnya sangat tampak karena beberapa Rukh berterbangan disekitarnya, dan cahaya rembulan juga warna-warni aurora ikut menerpa wajahnya, memberikan penyinaran yang sangat indah, hal itu membuatku sama sekali tidak berkedip.


Ini berbeda sebelum pangeran Shun datang karena suasana disini begitu temaram dan sunyi mencekam.


"Tubuhmu begitu dingin, apa perlu ku lepas pakaiannya dan kau mengganti pakaianmu menggunakan jubah ku?," Tanya pangeran Shun dengan santai melepaskan pelukannya.


"Ti-tidakk perluuu!" Sergaku ketika dia mulai melepaskan syal yang kupakai.


"Aku hanya melepaskan benda ini saja kok, tidak perlu panik berlebihan," katanya sambil menyeringai.


"Heeee be-begitu ggggttt...," kataku lega namun malah semakin menggigil kedinginan.


"tuh kan Leca kedinginan masih saja ngeyel?"


"Huaaa iya-iya deh aku ganti baju, ehhh?!" Kataku menjawab cepat kemudian bengong sendiri.


Sebenarnya aku bukan ganti baju, tapi lepas baju di hutan seperti ini?!!!


"Gapapa sepi juga kok,"


"Ta-tapikan ada pangeran.."


Pangeran Shun segera bangkit untuk berdiri kemudian berbalik sambil menutupi wajahnya. Aku terdiam sejenak ketika melihat laki-laki di depanku itu memang semakin tinggi saja badannya, membuatku jadi insecure sendiri.


"Nih aku tutup mata, lagian aku juga bukan tukang ngintip gak kayak si Erdwan,"


"Iya iya baguslah kalau pangeran seperti itu," jawabku sambil berjalan ke arah depannya.


Pangeran Shun terkejut ketika mendengar langkah kakiku yang malah berjalan mendekat kearahnya.


"Kok ke depan sih, mau dilihat??"


"Bukan itu! Jubahmu belum kau lepas pangeran..."


"Ohh iya yah.." Katanya sambil menggaruk tengkuknya dan tersenyum kecil.


"Pangeran kau tambah bodoh yah,"


Pangeran Shun tidak memedulikan perkataan ku dan mulai membuka jubah bulu yang tebal itu dengan pelan.


Jujur saja gaya melepas bajunya ups maksudnya.. gaya melepas jubahnya itu sangat keren, tetapi sepertinya itu adalah jubah kesayangannya karena itu dia membukanya pelan-pelan.


Aku terpaku mematung menatap pangeran Shun, namun aku sadar kalau aku masih menggigil kedinginan setengah mati di hadapannya. Huaa sangat memalukan...


"Tidak, sebenarnya aku tambah pintar,kuat dan juga tampan iya kan?" Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Aku langsung menatap tajam kearah pangeran Shun.


"Tidak, kau berbeda jauh dengan expetasiku!" Gerutu kesal karena dia sangat lama.


"Yaudah nih,"


"Te-terimakasih". Kataku gugup.


Setelah itu aku langsung berlari menjauh dari sana dan berhenti di balik sebuah pohon besar yang tidak jauh dari sana.


"Jangan mengintip!!" Teriakku karena was-was saat mengganti pakaianku dengan jubah itu.


Namun tidak ada jawaban apapun dari pangeran Shun. Karena sudah selesai aku pun langsung menghampiri pangeran Shun tetapi tidak apa seseorang pun disana dan itu membuatku merasa panik.


"Pangeran Shun!" Teriakku keras, kenapa sih dia sering sekali meninggalkanku sendirian dan disaat seperti ini aku merasa seperti dipermainkan olehnya.


"BWAAA!".


Aku terlonjak kaget pangeran Shun mengagetkanku dari belakang.


"Pangeran Shun! Kau seperti setan aja sihh, suka menghilang terus datang lagi bikin jantungan aja!" Gerutu sambil memanyunkan bibir karena kesal.


"Aku tadi abis memeriksa sesuatu," katanya dengan wajah seriusnya dan itu membuatku langsung sangat terpana.


Sadarlah Alexa!!, kau harus berpura-pura kalau pangeran Shun itu jelek biar dia gak kepedean. Batinku.


"Sini-sini," kata pangeran Shun menarik tanganku mendekati danau biru, kini di atas danau itu telah dihiasi oleh cahaya aurora yang sangat indah tadi.


Setelah sampai pangeran Shun langsung duduk sambil menekuk kakiku dan memeluknnya. Berbeda dengan ku yang hanya berdiri saja sambil memperhatikannya, sejenak aku berfikir apakah dia tidak kedinginan setelah jubah tebalnya ku ambil?.


Pangeran Shun menunjuk pusat danau dengan jari telunjuknya. "Dari sini kita dapat melihat indahnya dua purnama sekaligus kan? Pertama purnama yang berada di atas cakrawala, kedua purnama yang berada di bawah cakrawala, meskipun yang satunya hanyalah ilusi tetapi mereka sama indahnya bukan?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Tapi sebenarnya ukuran keduanya jauh berbeda, rembulan yang berada dia angkasa itu jauh lebih besar dibandingkan yang dipantulkan di permukaan air itu, lagipula manfaat yang paling banyak berguna dan dikagumi oleh banyak orang adalah rembulan yang sebenarnya,"


"Tetapi aku menganggap dua hal itu sama saja," katanya sambil tersenyum miring.


Aku tersentak melihat sikapnya yang seperti itu. Kenapa? Kenapa aku merasa ada yang berbeda.. tetapi apa..?!


"Sama-sama ada gunanya?" Jawabku, hanya menebak.


"Iyaah haha,"


"Hee jangan bilang kau mengumpamakan dirimu sebagai rembulan jelek itu hmm? tentu saja tidak sama karena kau lebih- ups.."


Aku langsung menutup mulutku.


Hampir aja keceplosan!dasar lidah tidak bertulang!.


"Wah ternyata kau tambah pintar ya ( ╹▽╹ )"


Aku terkekeh melihat ekspresi pangeran Shun yang imut-imut gimana gituu...


Ku pandang lekat netranya yang berwarna biru seperti langit malam yang dihiasi cahaya ribuan bintang, pupil matanya pun semakin membesar dan perlahan tercipta sebuah rona merah di pipinya.


Omaiigeett! Siapapun lihat sekarang mukanya jadi merah!!!


Ketika aku menatapnya lebih lama lagi dia malah berpaling dan tidak membalas tatapan ku, seperti ada sesuatu yang disembunyikan lagi dan lagi dariku, rupanya dia mencoba untuk menutupinya dengan sangat hati-hati.


Jangan bilang dia diam-diam jatuh hati padaku dan tidak ingin memberitahunya? hihihi tidak mungkin!!


"Kau punya masalah pangeran? kau bisa menceritakan padaku kapanpun hehe," Tanyaku sambil tersenyum hambar karena aku sedikit menghawatirkannya.


Bukan sedikit, tetapi hampir setiap saat.😣


"Tidak aku tidak memiliki masalah apapun, kalaupun itu ada, aku akan dengan mudah menyelesaikannya," Jawabnya langsung tanpa beban.


Setelah mendengar jawabannya aku pun bertepuk tangan karena kagum, ternyata pangeran Shun sangat hebat. Tetapi ini aneh... ketika aku melihat kearahnya, dia sama sekali tidak tersenyum dan hanya memandang ke depan, dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti. Ekspresinya yang seperti itu membuatku sedikit heran dan juga sedih.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2