
Setelah itu jadilah sekarang kami berada di tengah kerumunan masyarakat yang hiruk pikuk. Pangeran Zio hanya membawa sebuah tas besar yang tentu saja isinya kosong selain uang, sedangkan aku memegang daftar bahan-bahan makanan yang ingin dibeli Elissa.
Aku menghela nafas kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Pangeran Zio sendiri sedang mencari bahan-bahan yang kami perlukan.
"Aku tidak menyangka Elissa bisa sangat menyeramkan kalau marah," gerutuku sambil mendengus kesal.
"Selanjutnya apa lagi yang kita cari?" Tanya Pangeran Zio yang barusan datang ke arahku.
"Roti..." Kataku tak bersemangat.
"Kalau tidak salah toko roti itu tempatnya agak jauh dari sini, kita tidak akan bisa cepat menemukannya jika hanya jalan kaki memutar,"
"Terus... ada cara lain?"
"Ya, kita harus menyebrangi toko besar itu," kata Pangeran Zio sambil menunjuk butik baju yang sangat tinggi dan besar.
Aku menggelengkan kepalaku, bagaimana bisa menyebrangi tempat itu, sedangkan di sisi-sisi rumahnya tidak ada celah.
"Kita lompat, bersiaplah," kata Pangeran Zio langsung menggendongku tanpa persetujuan terlebih dahulu dariku.
"Tu-tunggu Pangeran serius?" Tanyaku panik.
"Iya, kita harus melewati tempat itu agar kita sampai dengan cara terbang, kurasa aku bisa melakukannya dengan mana yang ku punya sekarang, berpeganganlah yang erat..." Ucapnya dengan wajah yang serius. Aku jadi tidak ingin membantah dan mengikuti saja arahannya.
Tapi kalau disuruh memeluknya aku jadi enggan, akupun hanya memejamkan mataku saat dia lompat hingga dia berhenti di suatu tempat yang ternyata adalah atap gedung itu. Dia sengaja menurunkanku di sana, untuk membuatku melihat pemandangan kota Frost yang indah, dipenuhi bunga-bunga dan pohon sakura yang baru merekah di musim semi.
"Woaah baguss sekali!!!" Decakku kagum.
"Aku tidak percaya ini kau bisa lompat ke gedung setinggi ini," pujiku sambil memutar pandanganku ke seluruh penjuru kota, aku kagum melihat jejeran kota yang tertata begitu rapi dan cantik ini.
"Baguslah kalau kau suka," ucapnya sambil tersenyum simpul.
Saking bahagianya aku jadi ingin melihat orang-orang di bawah gedung ini.
"Hati-hati, jangan terlalu dekat karena tidak ada pembatas," kata Pangeran Zio lagi.
"Tenang saja, aku akan berhati-hati..."
Setelah mengatakan itu, aku terdiam. Memang, aku berhasil melihat pemandangan yang kuinginkan, tapi aku malah merasakan ketakutan yang luar biasa, tanganku tiba-tiba dingin dan kepalaku pusing, hingga rasanya mau muntah. Cemas dan panik bercampur menjadi satu di pikiranku.
Dag dag dag... Aku merasa tempat ini sangat tinggi dan menyeramkan...
Kalau aku jatuh aku akan mati... Sebaiknya aku harus mundur, batinku gusar.
Saat aku bangkit untuk memundurkan tubuhku sayangnya kakiku terasa sangat lemas hingga salahsatu kakiku tergelincir.
"AAAAA!!" Teriakku sambil pasrah karena terjun bebas dari ketinggian.
Aku pasti akan mati sekarang!!
"Tidak! Alexa!!!" Teriak Pangeran Zio yang mencoba menggapai tanganku namun gagal.
Sejenak aku dapat melihat wajah cemas dan khawatir dari pangeran Zio.
Tidak apa-apa, itu bukan salahnya... Harusnya dia tidak perlu menunjukkan wajah menderita seperti itu.
HAP!!
BRUKK!!
Aku jatuh tanpa rasa sakit yang berarti, tetapi ini mustahil, siapa dan apa yang menyelamatkanku?.
Ku buka mataku yang sempat terpejam kemudian melihat sosok laki-laki asing yang ku timpa. Sontak aku langsung menatap tingkahnya yang tengah meringis kesakitan.
"Aghh sakitnya..." Lirihnya sambil memegangi keningnya yang berdarah.
Sebelah tangannya masih dengan erat memeluk tubuhku kemudian dia langsung terpejam dengan tubuh yang lemas.
"Yaampun dia pingsan?!!" Teriakku panik.
Aku segera bangkit lalu menyibak rambut hitamnya dan melihat begitu banyak darah yang keluar dari kepalanya.
Aku menggigit jariku sendiri karena panik. "Haduhh gimana nih..."
Beberapa orang lainnya malah sibuk mengerumuni kami dan tidak berniat untuk menolong.
"Kasiannya pria itu..."
"Ku lihat tadi pria itu menyelamatkan dia yang terjatuh dari atap,"
"Iyaa sepertinya dia mau bunuh diri,"
Bisik-bisik mereka yang berada di sana.
"Kau tidak apa-apa Leca?" Tanya Pangeran Zio yang sudah berada di bawah.
Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban bahwa aku tidak baik-baik saja, masih dengan perasaan cemas aku melirik ke arah pria itu.
"Dia tidak mati, mungkin hanya pingsan saja," kata Pangeran Zio usai memeriksa denyut nadinya.
"Bentar aku akan panggilkan dokter, pastikan dia tetap dalam posisi seperti itu," kata Pangeran Zio lalu pergi, aku hanya mengangguk sambil meraih tangan laki-laki itu yang terasa sangat hangat.
Aku menghela nafasku, "Untung saja dia tidak mati," gumamku.
Tiba-tiba sesuatu mengejutkanku, tangannya langsung menggenggamku erat, dan dia langsung membuka matanya yang sempat terpejam.
Aku membelalakkan mataku karena terkejut lalu dia tersenyum tipis dan dengan santainya beralih posisi dari tidur menjadi duduk.
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Nona," katanya lembut.
Aku mengangguk singkat sambil menatapnya penuh heran, kok bisa dia langsung duduk begitu saja?! Padahal dia barusaja terluka.
"Yaampun Pangeran apa yang barusaja kau lakukan! Kenapa kepalamu penuh dengan luka, sepertinya kau melakukan hal yang ceroboh lagi ya Pangeran, rasain kan!" Teriak seseorang yang barusaja datang tanpa wajah khawatir.
Aku langsung menatap laki-laki itu dengan tatapan mematikan, yang benar saja! Masa orang yang barusan menyelamatkanku itu diperlakukan seperti itu.
"Seenaknya saja kau menyebutnya ceroboh! Dia barusaja menyelamatkan hidupku!"
__ADS_1
"Hooh begitu, serius banget sih kau Nona, aku kan hanya bercanda," cibirnya.
Orang itu tersentak ketika melihat tangan kami tertaut kemudian melakukan hal yang paling memalukan dihadapan orang banyak.
Dia tiba-tiba memelukku dan membuatku tertegun, karena kaget akupun tidak dapat menolak tindakannya.
"Astaga apa lagi ini!" Kesal temannya jengkel.
"Ternyata itu kamu, Leca," bisikknya di telingaku.
Setelah mendengar perkataan itu aku malah terdiam, kenapa? Kenapa dia tahu namaku, nama panggilanku lagii!!
"Aku merindukanmu, akhirnya kita bertemu," katanya sambil melepaskan pelukannya lalu menatap ku.
"Eh... siapa yah anda?" Tanyaku heran sambil memiringkan kepalaku untuk melihat ekspresinya.
Dia tersenyum tipis dengan wajahnya yang sudah merona, mata birunya lautnya sangat menenangkan siapapun yang memandangnya.
"Aku Shun Errent," jawabnya pelan.
Sontak aku terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya, sepertinya telingaku bermasalah. Aku harus memeriksakannya nanti, yang lebih penting aku seharusnya menampar diriku sendiri kan?.
Plakkk
"Aww," pekikku kesakitan, artinya ini tidak bermimpi.
Aku menahan nafasku untuk menekan detak jantungku yang tiba-tiba berpacu dengan cepat. Kemudian aku tersenyum sumringah sambil memeluk balas Pangeran Shun.
"Selamat datang Pangeran!!" Kataku sambil memeluknya erat, sangat sangat erat, kali ini aku tidak akan melepaskannya meskipun hanya sebentar saja. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi...
Lalu pria yang disana pastilah Erdwan si babunya Pangeran Shun yang setia, aku yakin itu.
"Alexa jangan terlalu erat memelukku," kata Pangeran Shun dengan wajah yang tersipu malu.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena... Nafasku sesak," katanya lalu memalingkan wajahnya dariku.
"Ohh ayolah kau pasti merasakan itu," celoteh Erdwan membuat wajah Pangeran Shun lebih merah lagi.
"Itu??" Tanyaku heran.
"Yasudah lah ayo kita pergi dari sini," ajak pangeran Shun lalu menarikku menjauh dari sana.
Kerumunan orang-orang tadi yang heboh pun mulai bubar untuk melakukan kesibukannya masing-masing.
"Aku tidak ikut deh, nanti jadi nyamuk," kata Erdwan sambil melambaikan tangannya.
Dengan senang hati aku mengikuti ajakan Pangeran Shun, aku merasa senang berada di dekatnya, walaupun masih tidak percaya dengan apa yang kulihat sekarang aku tetap merasa sangat bahagia.
Aku hanya bisa tersenyum sambil berjalan di belakangnya. Dia menghentikan langkahnya di samping tempat air mancur yang besar kemudian berbalik menghadapku.
"Aku ingin mencuci wajahku sebentar, maukah kau menunggunya?," Tanya Pangeran Shun sambil menunjuk darah yang masih tertera di kepalanya.
Aku mengangguk singkat sambil cengengesan, yaampun dia tetep tampan walaupun wajahnya dihiasi warna merah seperti itu.
"Kita mau kemana?" Tanyaku heran.
"Kemana yah, aku juga bingung heheh..lagian dengan sosokmu yang sudah menjadi seorang gadis, jujur aku agak sedikit kikuk,"
Aku menggembungkan pipiku kesal, "Kalau begitu anggap saja aku anak kecil, yang bisa kau bawa kemanapun kau mau,"
"Tidak bisa Nona Alexa, itu sudah tidak bisa aku lakukan, bahkan untuk menyentuhmu saja rasanya..."
"Rasanya??"
"Rasanya aku mau mati," katanya sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Aku tertawa kecil mendengar jawaban itu, ternyata wajah Pangeran Shun sekarang mudah merona, ayolah siapapun gadisnya tidak akan ada yang tidak meleleh jika berada di samping matahari yang sangat menyilaukan seperti dia.
"Kalau begitu sebaiknya kita berdua mengunjungi suatu tempat yang ingin aku datangi saja, Pangeran Shun tidak keberatan kan?"
"Tentu tidak, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan untukmu Alexa..."
Tahan Alexa... kumohon tahan... Jangan Meleeleeehh sekarang!!!!! Ucapku dalam hati.
"Baiklah kita akan mengunjungi tempat ramalan cinta hehe,"
"Haa?"
"Itu adalah suatu tempat yang katanya bisa meramalkan takdir sepasang kekasih atau menebak keberuntungan kisah asmaramu, aku sangat menantikannya untuk ketempat itu denganmu Pangeran," jawabku antusias.
"Tapi apakah kita sudah menjadi sepasang kekasih?" Tanya Pangeran Shun heran.
Seketika aku dibuat mematung, huaa dia benar! sejak kapan aku dan pangeran Shun menjadi sepasang kekasih!! Sepertinya aku hanya terlalu sering bermimpi.
"Hahaha iya juga, yaudah deh tidak jadi, jadi kita akan ke...kemana yah,"
"Tidak perlu malu-malu nona Alexa, ayo kita datang saja ke tempat itu, aku juga ingin mengetahui tentang kisah asmaraku nanti" jawabnya malah lebih terlihat bersemangat daripada aku tadi.
Aku menundukkan kepalaku, melihat tingkah Pangeran Shun yang seperti itu sepertinya dia mengincar seseorang selain aku, entah kenapa itu membuatku sedikit merasa kesal.
"Tenang saja Leca, tentu saja aku penasaran dengan kelanjutan kisa berdua nanti," jawab Pangeran Shun sambil mengacak-acak rambutku.
Tiba-tiba aku terperanjat sambil mendelik kearahnya, "Eehhhhhhhhhh?!!!"
"Ayok," katanya sambil menggenggam lagi tanganku.
Badump badump badump....
Gawat!! Sepertinya aku tidak akan tahan lagi jika berlama-lama dengan pangeran Shun. Pikirku sambil menundukkan kepalaku dalam-dalam.
"Berhenti Pangeran, di sini," kataku sambil menunjuk sebuah tempat yang cukup ramai dikunjungi oleh orang lain.
Tempat itu terlihat seperti kuil dan terdapat beberapa orang lainnya yang berjaga disana untuk melayani pelanggannya yang berada di sana.
"Apakah kalian berdua adalah pasangan?" Tanya seorang wanita yang bergaun serba putih menyambut kami.
__ADS_1
"...."
Baik aku ataupun Pangeran Shun sama-sama tertegun mendengar pertanyaan ambigu itu.
"Ya," jawabku berbohong. Jujur aku malu banget pas bilang seperti itu, karena disampingku ada orang yang kusukai.
"Baiklah lewat sini jika kalian adalah pasangan," katanya sambil mempersilahkan kami berjalan ke sebelah kiri.
Aku berjalan didepan Pangeran Shun mengikuti langkah seorang pemandu wanita yang membawa kami ke sebuah tempat yang terlihat seperti taman.
"Silahkan pilih satu gulung kertas yang kalian berdua mau," ucap wanita itu.
Saat aku hendak mengambil sebuah gulungan berpita ungu Pangeran Shun mencegahku, dia menahan tanganku sambil tersenyum simpul.
"Aku suka pita biru, bukan ungu, jadi kita harus memilih biru" ucap Pangeran Shun lalu mengambil sebuah gulungan dengan aksen biru.
Wajahku beruba pias, "ishhh katanya kalau pilih biru itu sering yang dapet sial-sial loh,"
"Masa sih..." Katanya ragu.
"Iyaa jadi kita harus memilih unguuu," kataku mengambil dengan aksen ungu.
"Tapi aku maunya biru, Lecaa,"
Aku menggelengkan kepalaku cepat, "Pokoknya ungu!"
"Yaudah deh," kata Pangeran Shun mengalah.
Karena kasian, aku lalu merampas gulungan yang berpita biru dari tangannya lalu membukanya.
Pasangan yang beruntung! Kalian saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Aku membacanya dalam hati, ohh berarti biru itu warna sial ternyata hanya opiniku saja. Tidak selamanya biru itu berarti penuh haru dan kesedihan.
"Apa tulisannya?" Tanya Pangeran Shun yang sudah penasaran.
"Rahasia!" Jawabku cepat.
"Hmmm mencurigakan," katanya lalu mengambil paksa gulungan itu dari tanganku menggunakan sihir miliknya.
"Hei curang Pangeran! Kau menggunakan sihir untuk mengambilnya dariku!"
"Habisnya aku penasaran Lec--" katanya lalu tersentak melihat tulisannya.
"Woahh, aku tidak percaya ini!" decaknya kagum.
"Yayaya aku juga tidak percaya," balasku lagi sambil membusungkan dada karena bangga.
Wanita pemandu tadi hanya tersenyum melihat kami, "Kalian bisa berjalan-jalan disini untuk berkencan bebas tuan Pangeran dan putri Alexa," ujarnya sambil tersenyum.
"Baiklah!" jawabku senang.
Aku dan pangeran Shun berjalan menuju sungai kecil yang mengalir di dekat tempat itu, kemudian dia menghentikan langkahnya dibawah pohon sakura yang terlihat berbunga sangat lebat.
Dia menatap pohon itu takjub, itu dapat terlihat dari sorot matanya yang tampak berseri-seri saat melihat bunga sakura.
"Kau menyukai bunga sakura Pangeran?"
"Ya, guruku juga menyukainya, dulu kami sering berteduh dibawah pohon ini sebelum dia meninggal,"
Aku tersenyum sumringah, "Aku juga menyukainya, karena pada saat musim semi disaat bunga ini bermekaran, aku pertama kalinya bertemu dengan seorang pangeran berwajah rupawan," kataku sambil menyibak rambutku kesamping karena menghalangi sebagian wajahku.
Pangeran Shun tertegun melihatku, mungkinkah dia terpesona? Atau terharu dengan apa yang kukatakan barusan? Tapi aku merasa tidak melakukan apa-apa yang membuatnya bisa menunjukkan ekspresi terkejutnya itu.
Pangeran Shun tersenyum tipis sambil memetik bunga itu dan langsung menyembunyikannya di belakang dengan tangan kanannya, "Kau membuatku gemas Leca," gumamnya sambil menarik tanganku menggunakan tangan kiri untuk membuatku mendekat kearahnya.
"Tutuplah matamu,"
"Hee kenapa?"
"Ada 'kejutan' pokoknya,"
"Tapi aku udah penasaran duluan kalau kamu bilangnya seperti itu,"
"Jadi... Ini tuh kejutan, yang namanya kejutan gak seru kalau kamunya tahu Nona,"
Aku mendengus sebal kemudian memejamkan mataku, "Jangan lama-lama!! Aku udah gak sabaran!" Protesku.
"Iya-iya ini lagi kupersiapkan, sabar yah,"
Aihh aku sudah gak sabaran! Yaampun aku pengen tahu!. Kejutan? Yang benar saja! Aku penasaran banget setengah mati! Apa dia mau memberiku hadiah, seperti perhiasan atau yang lainnya, tapi benda apapun akan kuterima dengan senang hati kok, asalkan itu darinya.
Pangeran Shun menghela nafas panjang bersamaan dengan detak jantungku yang berpacu dan rasa penasaranku yang sudah diambang batas.
Cup
Sontak aku membelalakkan mataku tidak percaya, Pangeran Shun barusaja mengecup bibirku? Sangat singkat namun jelas terasa... Tapi aku tetap tidak percaya dengan kejadian itu, mungkin saja aku barusaja mengkhayal yang tidak-tidak.
"Itu kejutannya... mulai sekarang dan seterusnya... kau adalah milikku" bisikknya lembut di telingaku.
Aku menarik nafasku lalu menahannya di perut dan setelah itu aku tidak bisa ingat apa-apa lagi, semua pikiranku benar-benar kacau karena saking senangnya.
"Alexa.. Leca Leca, kau tidak apa-apa?! Sadarlah Leca!!"
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...