
Duke Claoudie Kethzie merasa sangat marah, karena kekesalannya dia pun melimpahkan semua emosinya kepada musuh yang sempat kami lawan tadi.
Dia tanpa berperasaan merobek dan membelah musuhnya yang masih dalam keadaan pingsan didepan kedua putrinya yang masih remaja, kini ruangan itu dipenuhi oleh bercak merah.
Aku hanya dapat menatap ayahku sambil menggigil ketakutan.
Dia melangkahkan kakinya mendekat kearahku... melewatiku hingga tepat berhenti dihadapan Lavender Kethzie...
"Kau lihat kenyataannya?! Sekarang dimana letak dendam yang kau pendam selama ini padaku, apakah itu masih akan ada atau berganti pada seseorang saint yang telah membunuh dan memainkan jasad Ibunda kesayanganmu itu!"
Sontak lavender tersentak dia terlihat seperti tidak menyangka bahwa ayahnya itu mengetahui rahasia terbesarnya yang sangat dia jaga dengan hati-hati.
Kakakku mendongakkan kepalanya berniat membalas tatapan mata ayah yang mengintimidasinya, "Sa-saint... Aku sangat membenci saint..." Jawab Lavender sambil menggertakkan giginya hingga terlihat jelas bahwa dia sangat membenci yang dikatakannya itu.
JEDAAARRRRRT
Habislah sudah harapanku, aku benar-benar merasa tidak akan pernah bisa bersama pangeran Shun yang selalu menyelamatkan dan melindungiku.
Jika saja memang benar Pangeran Shun dalang dari semua ini bahkan aku tidak mampu membencinya, aku tidak akan Setega mereka untuk membenci orang yang sudah berbuat banyak kepadaku.
Pangeran Zio tersadar dari pingsannya kemudian dia langsung mengerjapkan matanya dengan pelan.
"Pa...gi?..." lirihnya pelan seperti bertanya pada diri sendiri.
Sedangkan ayahku mulai mengangkahkan kakinya untuk beranjak pergi dari tempat ini. Dia berhenti sejenak lalu menghadap kerahku.
"Aku sangat membencimu sama seperti aku membenci wanita itu!" tegasnya padaku.
"Uruslah mereka dan aku akan mengurus sisanya,"titahnya lagi kemudian berlalu pergi.
Aku terdiam sesaat, memikirkan semua hal yang tidak kumengerti dalam satu waktu. Kebodohanku, kecerobohanku sudah menjadi ciri khas diriku yang selalu membuat kesalahan dalam pilihan yang kubuat. Pada akhirnya kisah yang aku inginkan berakhir bahagia selalu saja tidak dapat terjadi sesuai harapanku. Bisakah aku menyerah? Dengan begitu banyaknya orang yang tidak mendukungku dan membenciku apakah aku masih bisa untuk bertahan? Apakah aku masih bisa untuk memenuhi tujuanku untuk bisa hidup damai bersama orang yang kucintai...
"Leca, lupakanlah apa yang kau lihat tadi, anggap saja angin berlalu," kata Lavender dengan santainya mengucapkan kalimat itu padahal aku tahu jelas hati dan pikirannya masih tidak luput dari rasa dendam yang semakin membesar.
"Baiklah..."jawabku berbohong.
Aku beranjak dari posisiku dan membantu Pangeran Zio untuk berdiri. Dia terlihat seperti mayat hidup, kulit putihnya begitu dingin dan wajahnya sangat pucat kontras dengan warna merah yang menghiasi beberapa tempat di tubuhnya. Dia menatap hampa ke tempat di mana terdapat mayat yang sudah rusak tak berbentuk.
"Pangeran Felix... Padahal aku baru saja bertemu dengan kakak ketiga... Tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan berakhir secepat ini..." Lirihnya membuatku mendelik ke arah Pangeran Zio.
"Kau sedih atas kematiannya? Bukankah kau sangat membencinya?" Tanyaku heran.
Pangeran Zio menggeleng lemah, "Tidak, aku sama sekali tidak sedih dan aku memang sangat membencinya, tetapi sangat disayangkan karena sebenarnya dia melakukan hal itu demi orang yang sangat disayanginya juga..." Jawab Pangeran Zio.
"Sepertinya... Kalau kita menyayangi seseorang dengan berlebihan itu tidak baik yah..." Gumamku sambil tersenyum kecil.
"Aku juga tidak tahu..." Jawab Pangeran Zio dengan wajahnya yang tak berekspresi sama sekali.
"Teleportasi!" Teriak kakakku dengan keras.
Kakakku yang tiba-tiba melakukan sihir teleportasi membuatku dan Pangeran Zio terlonjak kaget.
"Aku akan memanggil Pangeran Kenn untuk segera kembali, Leca kutitip mereka semua dan segera bawa mereka untuk diobati." Perintah lavender dengan tegas kemudian lavender bersama Adrain yang masih pingsan itu lenyap dari pandangan kami.
Aku menghela nafas berat.
Baiklah tidak apa-apa lagian, hanya aku yang masih lebih baik dari mereka di sini. Batinku pasrah.
"Pik.. apakah Chun datang terlambat?" Tanya Chun yang sudah ada di belakangku.
__ADS_1
"Sangat..." Jawabku kesal, sekesal-kesalnya.
"Sebenarnya Chun datang pas lagi ada orang debat, yaudah Chun tonton aja deh, kan biar seru gitu ada drama pertengkaran rumah tangga ditambah lagi ada harimau ngamuk, Chun jadi gak berani nongol kan," jawab Chun tanpa rasa bersalah.
Mendengar itu sontak jiwa psikopat ku bangkit, membuatku jadi sangat ingin melakukan hal yang dilakukan ayahku. Yaitu mencincang dan memanggang tubuh mungilnya sampai gosong.
"Lecaaaa... Kau tidak berbohong kan, kau benar-benar menyayangiku sama seperti kakakku?" tanya Pangeran Zio tiba-tiba.
"Iyaa, sudah lah, lagian masih ada aku disini, kau tidak perlu bersedih," jawabku sambil tersenyum kecil, tentunya itu adalah senyuman palsu. Bagaimana bisa aku tersenyum di saat seperti ini...
"Tunggulah sebentar, aku akan memanggil beberapa tabib dan dokter istana untuk merawat luka kalian," kataku sambil beranjak pergi.
Dengan cepat aku berlari keluar istana yang sudah dipenuhi oleh salju putih yang menumpuk. Ketika aku melihat kanan-kiri ternyata begitu banyak mayat prajurit yang tumbang di dekatnya.
Mungkin karena tadi malam pandanganku tidak begitu jelas, semuanya menjadi tidak terlihat olehku. Berbeda dengan sekarang yang sudah agak jelas.
"Maaf Chun tidak bisa membantu menyembuhkan mereka karena Chu--"
"Tidak apa-apa," tukasku langsung.
"Yang penting kamu masih ada disisiku itu sudah lebih baik,"kataku lagi sambil tersenyum kecil ke arah Chun.
.
.
.
***
.
.
.
"Aggggghhh sialan siapa yang membiusku dengan sihir aneh! Padahal aku belum menghabiskan mereka semua!" Protes Chaser kesal. Ia tidak terima musuh yang ia lawan dengan susah payah sudah lenyap karena orang lain dan kini justru dia berada di salah satu kamar dalam istana.
"Sudahlah terima saja kekalahanmu Chun tau kok kamu itu lemah," balas Chun.
"Heh cebol, berani sekali kau berkata seperti itu, bukannya dulu pas melawanku kau justru hampir kalah!" Chaser tidak terima.
"E....." Chun tidak dapat membalas.
"E..... itu karena Chun belum makan! Huh!" Ucap Chun lagi.
Sepertinya menyangkal dan tidak ingin memberi tahu yang sebenarnya kepadaku. karena jelas-jelas saat itu segel ditanganku menyala yang artinya terdapat masalah dengan pangeran Shun yang berimbas pada sihirnya.
"Nahh kan tadi aku juga belum makan, karena itu aku butuh daging burung untuk dimakan!"
"Hee awas kau serigala bodoh! Akan kucincang kau!"
"Kebalik kalii!"
"Sudah-sudah.. lagian tadi malam Chaser sudah makan banyak sekali daging..." kataku menengahi.
"Oh iya ngomong-ngomong kau tidak ingin berbicara dengan wanita itu?" Kata Chaser menunjuk Elissa yang juga baru siuman.
Aku menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
"Untuk sekarang tidak, aku hanya ingin bersama kalian,"
"Budak berbohong, kau pasti sebenarnya mau bicara dengan manusia berjenis kelamin wanita itu," timpal Chun.
Aku menghela nafas berat, Chun memang benar, aku sangat ingin sekali berbicara dan bertanya banyak hal kepada Elissa tapi aku urung karena ada rasa kekecewaan yang kurasa untuknya.
Akhirnya aku tetap melangkah mendekati Elissa sambil menundukkan kepalaku.
"Aku..."
"Halah dasar budak Payah," Chun mengejekku.
Elissa tersenyum kecil sambil sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir. "Nona tolong angkat wajahmu, seharusnya akulah yang menundukkan kepalaku,"
Aku mulai melihat kearahnya namun hanya terdiam.
"Kau pasti ingin tahu banyak hal kan? aku tidak bisa menjelaskan semuanya tetapi semua itu ada alasannya, maafkan aku Nona, kau bisa menghukumku dengan hukuman apapun, aku akan menerimanya..."
Aku berhambur memeluk Elissa sambil tersenyum tipis.
"Aku tahu aku nakal dulu, tapi kalau kau kabur dariku sekali lagi maka kamu akan ku pecat Elissa,"
"Baiklah.." Jawab Elissa sambil membalas pelukanku.
"Sekarang katakan alasan terkuatmu untuk pergi dariku dulu?"
"Sebenarnya, Nona Lavender berkata kalau adik laki-lakiku sakit dan sedang sekarat, dia menyuruhku dengan cepat untuk menjenguknya, dan akupun melakukannya, tapi jaraknya cukup jauh dari sini...dan sesampainya aku disana semuanya sudah terlambat... dia sudah tidak bisa lagi berada disisiku..."
"Kau tidak apa-apa kan Elissa?" tanyaku prihatin.
Elissa menggengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa, hal itu sudah berlalu, tetapi aku paling tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena meninggalkan Nona disaat keluarga Nona sedang dalam masalah,"
"Hmmm" aku mengangguk singkat.
"Setelah itu aku tidak berani lagi menunjukkan wajahku didepan Nona karena terus merasa bersalah, akhirnya Nona Lavender menugaskanku untuk menjadi pelayan mata-mata di kediamannya Duke Claoudie, aku melakukannya untuk menghindari Nona, namun pada dasarnya aku merupakan pelayan nona Lavender karena itu aku akan selalu mematuhinya..."
"Baiklah jika begitu kepergianmu selama ini akan kumaafkan, lagian selama ini aku bukan menganggapmu pelayan melainkan temanku jadi aku tidak berhak memerintahmu sebagai majikan tapi aku berhak meminta bantuanmu sebagai seorang teman,"
"Terimakasih Nona tapi saya tidak pantas menerimanya karena selamanya saya adalah seorang pelayan dan tetap akan menjadi pelayan, apa yang diperintahkan majikan aku tetap akan mematuhinya kecuali nona Lavender yang memerintahkan hal itu,"
Aku melipat kedua tanganku kemudian menunjukkan wajah sebal. Apa dia benar-benar mau selama jadi pelayan tulen?.
Elissa terus tersenyum melihatku membuatku jadi bergidik. bukan karena senyumannya yang menyeramkan justru malah sebaliknya dia sangat cantik, hanya saja aku tetap seorang wanita yang tidak betah lama-lama ditatap sesama jenis.
"Baiklah-baiklah terserah kau saja, aku tidak peduli." Kataku kemudian sambil beranjak dari tempat itu.
"Mau kemana nona bisarkan saya ikut!" Ucap Chaser dan Elissa secara bersamaan. Kemudian keduanya saling menoleh heran.
"Jodoh emang gak kemana," gumamku sambil terkekeh.
"Apaan yang jodoh kau tidak ingat umur Chaser berapa ribu tahun? sedangkan Elissa baru 17 tahun, mana mungkin dia mau sama kakek-kakek," Cibir Chun.
"Wahh ternyata kau bisa juga iri, makannya cari burung betina bwahahah!"
Mendengar jawabanku Chun langsung mengoceh tidak jelas dalam bahasa burung.
"Nona ijinkan saya ikut..." Kata mereka barengan, kemudian mereka berdua saling toleh lagi.
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak boleh! Orang yang sakit harus berduaan dikamar upss... maksudnya istrirahat di kamar, lagian aku hanya akan menjenguk Pangeran Zio saja kok," Ucapku sambil membuka kenop pintu kemudian berkedip-kedip ke arah mereka.
__ADS_1
"Istirahat buka istrirahat, sepertinya budak Leca sudah mulai..."
Aku mendelik ke arah Chun kemudian pergi meninggalkannya. Dia benar-benar burung yang suka berprasangka buruk huh!.